Mentransformasikan Luka Menjadi Kekuatan di Pesta Literasi Nusantara Dharma Book Festival 7.0
NDBF 7.0 merangkul berbagai komunitas literasi dan kemanusiaan, seniman, serta akademisi untuk berbagi pengetahuan seputar literasi, aktivisme sosial, dan seni.

Iqa Kinanti Nandakasih
Seorang junior writer dan alumnus Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran (Unpad).
3 September 2026
BandungBergerak – “Kita sudah terbiasa akan luka dan kalah. Yang kini bisa kita pikirkan dan lakukan adalah bagaimana mentransformasikan luka-luka kolektif itu menjadi kekuatan dan cahaya bagi sekitar untuk melanjutkan perjuangan.” –Cholil Mahmud, Efek Rumah Kaca
Di tahun ketujuhnya, pesta literasi Nusantara Dharma Book Festival (NDBF) yang diinisiasi oleh Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara (Lamrimnesia) untuk pertama kalinya diselenggarakan di Kota Bandung. Pesta literasi ini berlangsung di Nara Park pada 12-16 Agustus 2026.
Kita tengah berada di ambang kehancuran–konflik geopolitik, krisis kemanusiaan, krisis pangan, dan ketidakpastian global. Berangkat dari keresahan itu, NDBF 7.0 hadir mengusung tema “Pelita di Kalantara: Menjadi Cahaya di Zaman Peralihan”. “Kalantara” sendiri merupakan kata rekaan, tersusun dari “kala” yang berarti waktu dan “antara” yang berarti ruang. Di kalantara, siklus zaman lama sudah mendekati akhir, sementara zaman baru belum sepenuhnya lahir.
Untuk membangun kembali solidaritas dan minat literasi masyarakat di zaman peralihan, NDBF 7.0 merangkul berbagai komunitas literasi dan kemanusiaan di wilayah Bandung, seniman, serta akademisi untuk berbagi pengetahuan seputar literasi, aktivisme sosial, dan seni. Rangkaian acara pesta literasi ini diisi dengan beragam acara mulai dari bazar buku, bedah buku, talkshow, workshop, hingga penampilan seni.

Baca Juga: Teater, Tanah, Air: Komunitas Celah Celah Langit Bandung dan Karya Sastra Perjuangan
Ketika Galeri Ponsel Lebih Banyak Menyimpan Kenangan daripada Pikiran Kita
Melanjutkan Jejak Tak Tuntas: Dari Soewalan ke Sualan
Meramu Pangan Lokal, Membaca Sejarah, dan Memerdekakan Tubuh
“Ketahanan pangan bukan hanya tentang bertahan secara fisik, tetapi juga spiritualitas. Spiritualitas mewujud dalam welas asih, empati. Di kalantara, kita menjadi menghadapi segala ketidakpastian dengan solidaritas.” –Fajar, Founder Lab Pangan
Pesta literasi pada 15 Agustus 2026 itu dibuka dengan workshop Lab Pangan dan Gelanggang Olah Rasa bertajuk “Dapur Akhir Zaman: Hadapi Apokalips dengan Senyuman”. Di sini, peserta diajak berpikir kreatif bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga cara menanam dan meramban bahan pangan liar yang ada di sekitar untuk ketahanan pangan.
Lab Pangan berdiri tahun 2020 di masa Covid-19. Sang founder, Fajar, menuturkan bahwa Lab Pangan bermula dari obrolannya bersama kawannya yang merasa kala itu tak berdaya dan tak bisa melakukan banyak aktivitas selain memasak. Kecintaan Fajar pada dunia memasak lantas menggerakkannya untuk menggalang donasi, memasak, dan mengantarkan makanan langsung ke rumah kawan-kawan yang sedang menjalani isolasi mandiri. Menariknya, nama Lab Pangan sebenarnya hanyalah sebuah plesetan jenaka dari kata “lapangan”—mengingat meja makan pertama mereka dulunya adalah meja tenis meja yang diletakkan persis di sebuah lapangan. Lokasi studio dapur ini terletak di samping Tahura (Taman Hutan Raya), Bandung.

Dalam workshop bertajuk “Dapur Akhir Zaman” di NDBF 7.0, Lab Pangan berbagi pengetahuan mengenai berbagai bahan pangan liar, cara meramban, dan resep mengolah bumbu yang tahan lama. Peserta diajak bereksperimen langsung meramu dan mencicipi asinan apocalypse “Segar di Saat Genting”, urap sebagai menu makanan besar yang bahan utamanya berasal dari daun pakis dan jantung pisang, dipadukan dengan kacang hijau sebagai sumber tenaga. Selain itu, berbagai resep lainnya juga diberikan seperti cara membuat cuka dari batang cabai, sambal terasi bubuk, dan basa genep (bumbu dasar) kering.
Diskusi seputar ketahanan pangan tersebut berlanjut ke sesi berikutnya, Ngerujak “Ngerumpi Bijak”: Gotong Royong di Zaman Peralihan” bagian I yang mengupas kedaulatan pangan dari perspektif masyarakat adat dan akademisi. Di awal, seluruh peserta diajak untuk bersama-sama membaca artikel berjudul “Di Bawah Pohon Sukun” karya jurnalis Kompas sekaligus penulis buku “Masyarakat Adat dan Ketahanan Pangan”, Ahmad Arif. Sesi diskusi ini juga menghadirkan Lab Pangan, Wahu Waste Hub, serta Kang Triyana dari Kampung Adat Cireundeu.
Dalam perspektif masyarakat adat, Kampung Adat Cireundeu, misalnya, punya pengetahuan dari leluhur yang hingga kini tetap lestari mengenai ketahanan pangan. Mereka bisa mengubah tanaman beracun menjadi obat, seperti yang terdapat dalam singkong, serta tidak menjadikan nasi sebagai makanan pokok.
Ahmad Arif memaparkan bahwa ketergantungan kita pada beras adalah warisan kolonial untuk mendegradasi pangan lokal seperti singkong, talas, dan sukun sebagai makanan kelas rendah; sebuah fenomena yang disebut gastrokolonialisme. Menghadapi ancaman krisis pangan di masa depan, dekolonialisasi pola makan dan menjaga keseimbangan alam menjadi kunci utama. Jika kita menjaga alam, maka alam pun akan menjaga kita.

Sesi selanjutnya beralih pada bedah buku “Indonesia di Mata India” bersama Guru Besar ITB Iwan Pranoto dan Irfan Pradana Putra dari Komunitas Aleut. Diskusi ini menyoroti lawatan Rabindranath Tagore ke Hindia-Belanda dan pertemuannya secara diam-diam dengan Soekarno. Iwan menekankan bahwa Tagore menolak gagasan India Raya yang menempatkan Indonesia sebagai “adik India” yang inferior. Sebaliknya, Tagore mengibaratkan Indonesia sebagai pohon beringin yang tumbuh besar dari benih India dengan karakter sendiri.
Setelah itu, ada workshop Gerak Tari bersama Hot Mamah Dance Club. Dibentuk tiga tahun lalu dengan latar belakang anggota yang beragam, kelompok ini hadir untuk mendobrak konstruksi sosial yang menuntut perempuan untuk selalu tampil sempurna. Kegiatan diawali dengan diskusi yang dipantik oleh gagasan dari buku berjudul “Bebas dari Ketakutan”. Dalam keseharian, tanpa sadar tubuh kerap terbelenggu oleh aturan-aturan sosial, sementara ada banyak kualitas welas asih dalam diri yang tidak digunakan. Seperti Arya Tara yang merupakan representasi welas asih dan keberanian, Hot Mamah Dance Club menjadi wujud nyata bagi kualitas tersebut; akan selalu ada teman yang bisa memberikan pengetahuan dan tidak lagi peduli akan kesempurnaan, apalagi sampai takut karena tidak bisa mencapainya.
Sementara sesi gerak tari berlangsung, para peserta diajak bergerak bersama untuk memerdekakan tubuh dan menemukan kembali cahaya kekuatan kolektif bahwa sendirian kita rapuh, tetapi bersama-sama kita menjadi kuat.
Di malam hari, acara diisi dengan workshop “Jala Suara: Eksperimen Meditasi Suara Berbasis Improvisasi dan Partisipatif” bersama Monica Hapsari & Lavenir Choir. “Jala Suara” ada atas pengamatan sang seniman bahwa tidak semua individu punya keberanian yang sama dalam “bersuara” dan suara-suara yang terpendam itu akan menjadi “sumbatan” yang berpengaruh pada fisik dan mental.
Workshop ini merupakan sebuah eksperimen jalinan meditasi suara partisipatif yang menyatukan beragam suara individu melalui olah vokal sederhana, repetitif, dan mengutamakan latihan konsentrasi, bukan berdasarkan keahlian teknik bernyanyi. Berlangsung selama 2 jam, peserta diajak mengambil bagian dalam sebuah komposisi melalui pola napas ritmik sederhana, harmonisasi suara, dan tautan adu rasa. Berbagai suara yang bertemu menjadi satu kolektif itu bertujuan untuk membangkitkan kesadaran bahwa setiap suara adalah esensial dan berarti.
Kemeriahan acara puncak NDBF 7.0 malam pertama ditutup dengan pertunjukan tradisi Reak oleh Bandung Thimoer Art of Reak. Berdiri pada tahun 2022, komunitas ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan melestarikan warisan leluhur, yakni Reak, tanpa kehilangan akar tradisinya. Seni tradisi yang terancam punah tersebut sampai kini masih bisa ditemukan di wilayah Bandung Timur. NDBF 7.0 menghadirkan Reak sebagai bentuk penghormatan akan nilai-nilai tradisi leluhur dan para seniman akar rumput Reak yang terus berupaya melestarikannya.
Hidup di kalantara, Reak menjadi salah satu pengingat manusia untuk kembali kepada tanah dan bumi yang dipijak, kepada nilai-nilai kemanusiaan yang kian hilang ditelan zaman.

Dari Ruang Sunyi, Kedukaan, hingga Jaringan Solidaritas Warga
Hari kedua dibuka dengan SACCA (Sahabat Baca), yaitu kegiatan baca senyap bersama. Kali ini, para peserta diajak membaca bersama komunitas Baca di Bandung yang rutin mengadakan kegiatan baca bersama di tempat umum di kota Bandung.
Acara berlanjut dengan bedah buku “Storied Companions” bersama Yulita Anggelia selaku psikolog dan Mira, profesional dan caregiver yang memiliki pengalaman langsung mendampingi suaminya yang berjuang melawan kanker hati. Dari sudut pandang psikologi, Yulita memaparkan bahwa kedukaan adalah proses bertahap yang memerlukan ruang untuk dirasakan, bukan ditekan. Di tengah rasa ketidakberdayaan, harapan adalah lampu yang harus dinyalakan agar individu bisa beradaptasi dan terus bergerak maju.
Berikutnya ada talkshow “Dari Buku Menjadi Bunyi: ‘Matilah Kau Mati’ & Seni Menyalakan Cahaya di Zaman Peralihan”, yang menghadirkan Cholil Mahmud, Knogg, dan Monica Hapsari. Diskusi tersebut fokus pada proses kreatif penggarapan karya sastra yang diterjemahkan menjadi musik seperti “Matilah Kau Mati” oleh Efek Rumah Kaca, soundtrack film yang diadaptasi dari novel Leila S. Chudori berjudul “Laut Bercerita”. Cholil, bersama putranya Angan Senja, mengangkat narasi penculikan aktivis 1998 dalam novel Leila Chudori menjadi komposisi musik. Lagu ini menjadi refleksi atas luka dan penantian yang ditransformasikan menjadi kekuatan.
Sesi sore menghadirkan workshop “Meditation in Motion” yang dipandu oleh Marintan Sirait. Marintan adalah seorang seniman performans dan perupa yang artistiknya berfokus pada relasi tubuh, ruang, alam, dan kesadaran melalui pendekatan somatik.
Di tengah bisingnya zaman, manusia kerap terasing dari raga dan lingkungan sekitar. Berpijak dari buku “Latihan Batin Laksana Sinar Mentari” karya Namkha Pel yang membahas praktik latihan welas asih warisan Nusantara, workshop ini mengajak peserta untuk kembali terhubung dengan napas, tanah, diri sendiri, serta menumbuhkan keberanian untuk berwelas asih.

Masih serangkai, sesi tersebut dilanjutkan dengan “Meditative Tea Sharing” oleh SoulFree Herb Tea. Kegiatan ini diisi dengan berbagi ilmu tentang teh dari tanaman herbal untuk membangkitkan kejernihan pikiran, energi, dan meregulasi stres. Karena kandungan dari bahan alami yang baik untuk keseimbangan sistem saraf, aneka produk teh yang diramu SoulFree Herb Tea bisa dikonsumsi sesuai kebutuhan, seperti meditasi, bekerja, pun ketika ingin bersantai bersama teman. Setelah bincang-bincang tentang teh, momen kontemplatif tersebut ditutup dengan meditasi singkat bersama seluruh peserta.
NDBF malam hari kembali mengadakan talkshow Ngerujak “Ngerumpi Bijak”: Gotong Royong di Zaman Peralihan bagian II yang melibatkan BandungBergerak, Growing Sisters, Aksara Rembaka, dan Wilwatikta Foundation. Kegiatan ini merupakan sesi bertukar wawasan antarkomunitas dalam menghadapi krisis global.
Mengamati isu masifnya pembredelan berita, kekerasan HAM, hingga akses pendidikan yang tidak merata, BandungBergerak hadir sebagai media alternatif untuk mewadahi jurnalisme warga yang dipinggirkan. Setiap bulannya, BandungBergerak mengadakan “Kelas Liar” bagi warga dari latar belakang apapun untuk bergabung dalam bedah diskusi menyoal krisis-krisis yang tengah terjadi saat ini. Lahir dari keresahan akan sirkulasi relasi antara lingkungan akademik dan komunitas akar rumput yang tidak terhubung, program tersebut diharapkan dapat menjadi penyambung banyak pihak untuk bisa bersuara, bergerak, dan berbarengan memikirkan cara-cara untuk bertahan di tengah ketidakwarasan rezim dan dunia saat ini.
“Kami tidak ingin berhenti pada sekadar teks berita. Kami juga ingin menjangkau suara kelompok marjinal yang tidak pernah disentuh secara mendalam. Oleh karena itu, tagline kami adalah ‘Bercerita dari pinggir,’” Ujar Nida, Pengelola Program dan Komunitas BandungBergerak
Meski berada pada bidang yang berbeda, Growing Sisters sebagai komunitas yang berfokus pada pemberdayaan perempuan, Aksara Rembaka sebagai komunitas literasi anak dan sosialisasi berkelanjutan, serta Wilwatikta Foundation sebagai yayasan beasiswa pendidikan dan sosial berbasis Buddhis—juga punya tujuan yang selaras, yakni ruang yang memberikan kesempatan bagi setiap individu untuk bisa bertumbuh dan berdaya.

Sesi bincang tersebut membahas bagaimana sistem membuat kita terus merasa kurang dan tidak lagi punya kesadaran untuk bergotong-royong. Jika berkaca pada kondisi sekarang, kita tidak bisa selalu memandang semua persoalan berakar dari diri sendiri. Ada sistem yang berpengaruh besar dalam kehidupan kita. Berbagai persoalan yang kini kita alami terjadi secara sistematis. Sayangnya, kesadaran akan hal itu dihempaskan. Di tengah ketidakterhubungan dunia saat ini dan sistem gagal memperbaiki kualitas hidup rakyat, yang kita butuhkan adalah sekitar. Kita butuh solidaritas untuk bisa bergerak keluar dari krisis, sebab kita tidak bisa pulih dan bergerak secara sendirian.
Rangkaian acara NDBF 7.0 ditutup oleh penampilan musik dari Tigapagi, sebuah kelompok ansambel. Mereka banyak mengeksplorasi musik dengan notasi-notasi musik tradisi seperti Sunda, Jawa, dan Bali. Pada penampilannya malam itu, Tigapagi menyanyikan beberapa lagu dari album “Rukiah’s Suites”. Album “Rukiah’s Suites” sendiri terinspirasi dari “Tandus”, kumpulan puisi sastrawan Sunda, Siti Rukiah Kertapati. Pada masanya, Rukiah aktif dalam pergerakan dekade-dekade awal kemerdekaan hingga ia mengalami persekusi politik setelah peristiwa kelam ‘65. Penampilan Tigapagi sebagai penutup malam itu membangunkan kembali ingatan kita akan sejarah tersebut yang kini kembali terulang.
Menutup seluruh rangkaian NDBF 7.0, ada satu persamaan yang dibawa oleh setiap pembicara: mentransformasikan luka menjadi kekuatan. Di tengah sistem yang tidak adil dan tidak memanusiakan, komunitas adalah benteng pertahanan terakhir sekaligus ruang rawat yang memastikan kita tidak berjalan sendirian dalam gelap.
Perubahan besar bisa dimulai dengan penguatan diri sendiri, kemudian bergerak secara kolektif, saling menyadarkan, dan terus bergotong royong. Di zaman peralihan ini, meramu luka dan gelisah menjadi cahaya, serta menghidupkan harapan lewat aksi nyata adalah tugas yang harus kita emban bersama.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


