Konflik Manusia dengan Monyet Ekor Panjang di Sekitar Kawasan Lembang
Populasi monyet ekor panjang ditenggarai terlalu padat bagi kawasan Tahura Djuanda yang luasnya hanya 528 hektar.

Anna Joestiana
Ketua Relawan Penanggulangan Bencana Lembang
6 September 2026
BandungBergerak – Konflik manusia dengan monyet ekor panjang (MEP) di kawasan Lembang sudah berlangsung lama. Konflik ini merupakan fenomena gunung es, di mana gangguan monyet ke pemukiman lebih banyak yang tidak diberitakan.
Beberapa konflik yang terjadi misalnya di Desa Mekarwangi pada 28 Januari 2019, puluhan monyet memasuki sebuah perumahan sehingga warga menjadi resah karena monyet-monyet mengambil makanan dan mengakibatkan genteng bocor, kabel putus, kanopi penyok dan sebagainya.
Kemudian di Kampung Andir, Desa Gudang Kahuripan pada 18 Juni 2020, sekitar 30-50 ekor monyet memasuki pemukiman. Mereka datang mengambil roti di warung, ambil baju di jemuran, mengacak-acak tempat sampah bahkan genting beberapa rumah rusak. Kawanan monyet berpindah-pindah bahkan sampai ke jalan raya. Munculnya kadang pagi, kadang sore. Menurut warga, dahulu di sekitar pemukiman terdapat hutan dan tebing habitat monyet, kemudian setelah dibangun tempat wisata akhirnya jadi terganggu.
Teror MEP di Kampung Andir terus berulang, pada tanggal 21 Maret 2022 kawanan monyet kembali masuk ke pemukiman. Salah satu upaya warga adalah memberi buah-buahan yang didapat dari donasi pedagang di pasar. Upaya yang sudah dilakukan selama dua tahun tersebut kini tak lagi dapat dijalani karena kesibukan masing-masing, serta kendaraan untuk mengangkut buah pun rusak.
Penyuluh Kehutanan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat Seksi Wilayah IV Taufik Hamzah (2020) mengatakan, kemungkinan monyet ekor panjang yang masuk ke permukiman warga di Kampung Andir berasal dari habitat aslinya antara lain ada di hutan konservasi kawasan Tangkuban Parahu.
Kemudian pada 9 Oktober 2021, kawanan monyet kembali memasuki permukiman warga, kafe, dan restoran di kawasan Jalan Raya Tangkuban Parahu, Lembang. Kedatangan monyet liar kelaparan ini cukup meresahkan karena terjadi beberapa kali. Mereka biasanya keluar dari dalam hutan di sekitar Gunung Tangkuban Parahu di pagi dan siang hari. Monyet-monyet turun dari pohon menuju area parkir. Menurut warga, kawanan monyet itu mencari makanan di tempat sampah atau lahan perkebunan dan sayuran di permukiman. Diduga cadangan makanan di hutan sudah habis sehingga terpaksa turun ke permukiman. Kawanan monyet liar itu bertambah banyak dan mengganggu warga dan wisatawan.
Selanjutnya pada 27 September 2022, kawanan monyet memasuki permukiman di sekitar objek wisata Curug Cimahi atau Curug Pelangi di Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua. Walaupun belum menyerang manusia, monyet-monyet itu merusak atap rumah dan kerap masuk ke dapur, menjarah makanan. Diduga, kawanan monyet ini kelaparan karena sumber makanan di habitatnya berkurang. Sementara, populasi mereka di kawasan hutan Cisarua terus bertambah.
Selanjutnya pada 10 September 2024, kawanan monyet memasuki pemukiman di Desa Langensari, Kecamatan Lembang. Menurut warga, monyet itu sudah masuk ke pemukiman sejak beberapa hari belakangan. Biasanya mereka datang pada pagi dan sore hari. Jadi sudah beberapa hari muncul di RW 01 dan RW 04. Mereka lapar lalu mengambil roti dari warung. Diduga kawanan ini berasal dari hutan Maribaya. Dikhawatirkan bisa menyerang warga, terutama anak-anak.
BBKSDA Jawa Barat melakukan pemantauan pergerakan monyet sejak tanggal 29 Februari 2024. Ternyata pergerakan monyet ekor panjang juga turun ke Cileunyi. Kemudian ke Panyileukan menuju arah Cibiru Hilir (5 Maret 2024). Informasi lainnya bergerak di Pasar Gedebage dan UIN Soekarno Hatta berdekatan dengan Mapolda Jawa Barat. Kemudian empat ekor monyet ekor panjang terpantau sedang duduk-duduk di salah satu atap rumah warga di kawasan Cisitu Baru, dan Cikutra (7 Maret 2024). Diduga monyet yang berkeliaran tersebut berasal dari Tahura Djuanda. Mereka keluar dari hutan karena persaingan kelompok. Dari arah pergerakannya, monyet diduga mencari wilayah perlindungan baru yang mendukung kehidupan kelompoknya.
Baca Juga: Seruan Perlindungan untuk Monyet Ekor Panjang dan Beruk dari Bandung Menggugat
Meniti Hening Tahura
Menuntut Penetapan Monyet Sebagai Satwa Dilindungi di Tengah Penyusutan Hutan Jawa Barat
Mengapa Monyet Masuk Pemukiman?
Ada beberapa sebab monyet masuk ke pemukiman. Menurut pencinta binatang, Steve Ewon (2024), masuknya monyet ke pemukiman sebagai konsekuensi atas kerusakan alam yang merupakan habitat satwa liar. Kerusakan tersebut kemudian memberikan efek domino berkurangnya makanan yang biasanya disediakan alam. Akhirnya mereka datang ke pemukiman untuk mencari makanan.
Sebab lainnya menurut Kantor Dinas Kehuhatan Jawa Barat (2019), kawasan Konservasi Tahura Djuanda mengalami overpopulasi. Akibatnya, kekurangan makanan di habitat aslinya, lalu keluar dan mencari makan ke pemukiman. Populasinya mencapai lebih dari 600 ekor. Jumlah itu terlalu padat bagi kawasan Tahura yang luasnya hanya 528 hektar. Apalagi, kawasan Tahura berbentuk seperti keris yang lurus memanjang sehingga ruang jelajah monyet terbatas.
Terjadinya overpopulasi disebabkan kelahiran monyet yang tidak terkendali. Hewan primata ini memiliki sex ratio yang tinggi. Satu monyet jantan bisa mengawini 25 ekor monyet betina dengan tingkat kelahiran lebih dari 3 ekor per sekali kelahiran.
Dinas Kehutanan Jabar sebagai pengelola Tahura (2019) mengaku belum menemukan cara untuk mengendalikan kelahiran MEP. Hingga kini, belum terpikir untuk melakukan sterilisasi, khususnya pada monyet jantan. Sejauh ini, upaya dengan cara menangkap dan memindahkannya ke kawasan konservasi lain, bekerja sama dengan BBKSDA Jabar.
Pakar Hewan ITB, Achmad Sjarmidi (2019) mengatakan, jangan menyalahkan monyet. Salah satu yang dianggap mengganggu habitat monyet adalah pembangunan pemukiman dan bangunan lainnya di Tahura. Monyet-monyet terpancing turun ke pemukiman bukan karena overpopulasi dan minimnya makanan saja, tapi juga sampah. Hasil penelitian di berbagai lokasi wisata alam, populasi monyet ada hubungannya dengan sampah pengunjung. Monyet belajar memanfaatkan bahan-bahan nonalami yang terkandung dalam makanan kemasan. Ketika pengunjung bertambah, maka monyet pun bertambah. Ketika pengunjung sepi, ditambah musim paceklik, mereka terpaksa masuk pemukiman.
Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Jawa Barat, Epi Kustiawan (2019), menyebutkan di sebelah kiri kanan Tahura telah berdiri banyak bangunan yang tidak saja mengganggu habitat monyet, tapi juga burung. Burung juga terganggu home range-nya, banyak burung yang keluar dari hutan. Komplek perumahan, hotel, restoran, dan tempat wisata terlihat cukup massif dibangun di sekitar Tahura yang juga menjadi bagian dari Kawasan Bandung Utara (KBU). Pada 2015, data dari Bappeda Jabar mencatat pertumbuhan bangunan di KBU meningkat hingga 75 persen.
Tegar Nurrahman Ramadhantio, dkk (2026) dalam Hasil analisis DPSIR menunjukkan bahwa driving force konflik adalah keberlakuan Perda Jawa Barat No. 5 Tahun 2008 terkait pengelolaan wisata di kawasan Tahura. Pressure berasal dari perilaku manusia berupa pemberian pakan kepada monyet, pembuangan sampah sembarangan, serta kedekatan lahan pertanian dengan habitat. Kondisi ini memicu perubahan perilaku MEP yang semakin terbiasa mendekati manusia. Impact yang terjadi adalah masuknya kawanan monyet ke pemukiman sehingga mengganggu kenyamanan masyarakat.
Permasalahan MEP di Tahura memiliki kemiripan dengan permasalahan yang terjadi di kawasan Lembang, terutama dikarenakan rusaknya habitat MEP, overpopulasi dan aktifitas manusia yang membuang sampah di tempat terbuka.
Apa Upaya Selanjutnya?
Berbagai upaya untuk merespons MEP sudah dilakukan, misalnya: 1) Memberikan makanan kepada monyet. 2) Penggunaan alat penghalau seperti “orang-orangan” atau bunyi-bunyian. 3) Penanaman pohon pisang, nangka, jambu, dll. 4) Memperbanyak pohon yang dapat digunakan sebagai pagar seperti bambu. 5) Penjagaan (ronda). Namun perlu dicatat di sini bahwa upaya-upaya tersebut “dapat dianggap gagal”.
Meskipun demikian, ada baiknya mencoba upaya-upaya lainnya dengan melibatkan semua stakeholder. Masyarakat tidak bergerak sendirian, tetapi harus bergerak bersama pemangku kebijakan, pemerintah, dunia usaha, dan media. Di antaranya yaitu : 1) Membentuk forum koordinasi pentahelix. 2) Mengembangkan sistem pendataan populasi yang akuntabel dan partisipatif. 3) Menginisiasi pertemuan-pertemuan yang membahas isu MEP termasuk “good practice” yang berbasis pengetahuan lokal. 4) Pengelolaan sampah terpadu. 5) Penyelesaian konflik secara damai. 6) Mengamankan sumber makanan terbuka dan tidak memprovokasi kawanan monyet agar tidak menjadi agresif.
Tentunya upaya-upaya tersebut harus berpegang kepada : 1) Tujuan SDGs nomor 15 tentang ekosistem daratan yaitu melindungi, merestorasi dan meningkatkan pemanfaatan berkelanjutan ekosistem daratan serta menghentikan kehilangan keanekaragaman hayati. 2) Peraturan Menteri Kehutanan No. P.48/Menhut-II/2008 tentang Pedoman Penanggulangan Konflik Satwa Liar. 3) Peraturan Menteri LHK No. P.106 Tahun 2018 tentang MEP yang tercatat dalam daftar merah IUCN sebagai spesies terancam punah karena tekanan habitat dan perburuan di wilayah lain.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


