• Berita
  • Orang Tua di Bandung Berhadapan dengan Abu Vulkanik: Sekolah Tetap Tatap Muka, PJJ Pun Tak Mudah

Orang Tua di Bandung Berhadapan dengan Abu Vulkanik: Sekolah Tetap Tatap Muka, PJJ Pun Tak Mudah

Sebagian anak di Bandung masih belajar tatap muka dengan masker, sementara keluarga lain berharap PJJ diterapkan.

Anak-anak memakai masker pelindung saat berkegiatan di luar ruang di SDN 034 Patrakomala, di tengah deteksi abu vulkanik di Bandung, Senin, 7 September 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Penulis Muhammad Akmal Firmansyah8 September 2026


BandungBergerak - Masker menjadi perlengkapan wajib bagi anak-anak yang masih berangkat ke sekolah di tengah sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK). Bagi sebagian orang tua, masker memberi sedikit rasa aman. Namun bagi yang lain merasa anak harus belajar dari rumah, dengan konsekuensi orang tua harus mencari cara mendampingi anak di tengah jam kerja.

Latifah, 31 tahun, masih mengantar anaknya yang duduk di kelas tiga sekolah dasar ke sekolah swasta. Pembelajaran berlangsung seperti biasa, dengan kewajiban bagi siswa untuk menggunakan masker.

Situasi berbeda dihadapi Serli Erlianti, 36 tahun. Ia menyetujui jika anaknya sementara belajar dari rumah untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik. Namun, keputusan tersebut tidak otomatis mudah dijalankan oleh keluarga.

“Kalau sebenarnya untuk kesehatan, betul, anak lebih baik dirumahkan dan pembelajarannya di-PJJ-kan. Namun, untuk sebagian orang tua yang bekerja agak kesulitan karena anak di rumah, sedangkan kita bekerja. Harus Zoom terus, tugas-tugas juga dikirim dan dikerjakan pada pagi dan siang hari,” kata Serli kepada BandungBergerak, Senin, 7 September 2026.

Bagi orang tua yang bekerja, PJJ memindahkan ruang belajar anak ke rumah, tetapi tidak memindahkan tanggung jawab pendampingannya. Serli mengatakan, ia dan orang tua lain yang bekerja umumnya baru memiliki waktu untuk mendampingi anak mengerjakan tugas pada sore atau malam hari.

Karena itu, ia berharap sekolah tidak sekadar memindahkan pembelajaran dari ruang kelas ke layar gawai. Beban tugas dan waktu pengerjaan, menurutnya, perlu disesuaikan dengan kondisi orang tua yang tetap harus bekerja.

Serli juga memikirkan situasi ketika anak kembali ke sekolah. Ia berharap sekolah memperketat perlindungan terhadap siswa, terutama dengan mewajibkan penggunaan masker dan mengurangi aktivitas anak di luar ruangan.

“Untuk sekolah mungkin kedisiplinan di dalam sekolah. Kalau misalkan dimulai, selain anak-anak memakai masker, kalau bisa saat jam istirahat anak-anak diarahkan. Kalau tidak, jam istirahatnya dihilangkan atau waktu pengajarannya dimajukan lagi supaya pulangnya lebih cepat,” ujarnya.

Kekhawatiran serupa mendorong Septian Dewi, 34 tahun, mengurangi aktivitas anaknya di luar rumah untuk sementara. Anak Septian masih mengikuti pembelajaran tatap muka seperti biasa dengan menggunakan masker.

Namun, upaya melindungi anak tidak selalu mudah. Septian mengaku kesulitan mendapatkan masker untuk anak di Bandung. Ketika tersedia melalui penjualan daring, harganya disebut meningkat tajam.

“Sekarang justru mencari masker untuk anak di Bandung cukup sulit. Kalaupun tersedia secara online, harganya naik cukup signifikan, bahkan bisa sampai tiga kali lipat,” ujarnya.

Masker pun tidak serta-merta menghapus kekhawatiran. Septian tetap cemas anaknya beraktivitas di sekolah ketika abu vulkanik masih menyebar. Menurutnya, pembelajaran daring untuk sementara waktu dapat menjadi pilihan yang lebih aman.

Di tengah situasi itu, para orang tua juga membutuhkan kepastian informasi. Septian berharap sekolah dan pemerintah memberikan sosialisasi yang jelas mengenai apa yang harus dilakukan ketika kondisi memburuk, termasuk menyampaikan informasi dan peringatan dini kepada orang tua.

Kekhawatiran para orang tua ini muncul setelah Pemerintah Provinsi Jawa Barat Pemerintah Provinsi Jawa Barat, menerapkan langkah mitigasi terhadap sebaran abu vulkanik GAK. Melalui Surat Edaran Gubernur Jawa Barat tentang Kesiapsiagaan dan Perlindungan Kesehatan Masyarakat terhadap Dampak Erupsi dan Sebaran Abu Vulkanik GAK yang diterbitkan pada 6 September 2026, PJJ diterapkan di wilayah dengan intensitas sebaran abu tinggi.

Namun di lapangan, penerapan kebijakan itu tidak seragam. Sebagian anak masih berangkat ke sekolah dengan masker, sementara sebagian lainnya belajar dari rumah.

Diketahui, abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) terdeteksi menyebar ke sebagian wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat pada Minggu, 6 September 2026, pukul 09.00 WIB. Informasi tersebut berdasarkan analisis abu vulkanik melalui citra RGB Himawari-9 yang dilakukan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Pada Senin, 7 September 2026, pukul 12.00 WIB, sebaran abu vulkanik GAK masih terdeteksi melalui citra RGB Himawari-9. BMKG mencatat, sebaran abu diperkirakan semakin meluas ke arah barat daya.

Sebaran abu vulkanik berpotensi menurunkan kualitas udara dan jarak pandang. Pada ketinggian tertentu, abu vulkanik juga dapat mengganggu aktivitas penerbangan.

Kepala Stasiun Geofisika Bandung Suaidi Ahadi mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk memastikan informasi yang diterima berasal dari sumber resmi serta terus memperhatikan kondisi kualitas udara dan jarak pandang.

“Abu vulkanik diperkirakan semakin menyebar ke arah barat daya,” kata Suaidi, dikutip dari keterangan resmi, Senin, 7 September 2026.

Ia menyebut, pihaknya terus turut memantau kualitas udara, khususnya PM2,5 dan PM10, serta membersihkan abu di fasilitas umum dan jalan dengan metode yang mencegah abu kembali beterbangan.

Dedi menghimbau agar masyarakat tetap tenang, mengurangi aktivitas luar ruangan, menggunakan masker dan kacamata, dan selalu membasahi abu sebelum dibersihkan.  Ia juga meminta, masyarakat  segera ke fasilitas kesehatan jika mengalami gangguan pernapasan atau gejala kesehatan lainnya.

Baca Juga: Banjir Berulang Bandung Selatan tak Bisa Dianggap Sekadar Bencana Musiman: Dua Orang Meninggal Dunia, Ratusan Jiwa Mengungsi
Krisis Tata Ruang yang Berujung Bencana di Bogor dan Bandung

Orang tua murid memakai masker saat menunggu anak di SDN 034 Patrakomala, di tengah deteksi abu vulkanik di Bandung, Senin, 7 September 2026.  (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Orang tua murid memakai masker saat menunggu anak di SDN 034 Patrakomala, di tengah deteksi abu vulkanik di Bandung, Senin, 7 September 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Dentuman di Bandung, Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau?

Sebelum terjadi sebaran abu vulkanik, warga wilayah Bandung Raya diramaikan dengan  suara dentuman, Sabtu, 5 September 2026. BMKG Stasiun Geofisika Bandung memastikan suara dentuman tersebut bukan disebabkan oleh aktivitas gempa bumi maupun fenomena cuaca lokal.

Suadi menuturkan, dari hasil analisis pemantauan kegempaan BMKG menunjukkan tidak adanya aktivitas seismik di wilayah Bandung dan sekitar pada rentang waktu tersebut.

“Selain parameter kegempaan, BMKG juga memeriksa kondisi atmosfer serta aktivitas kelistrikan udara di wilayah Jawa Barat. Pemantauan Lightning Detector mencatat aktivitas petir di Bandung Raya berada pada intensitas relatif rendah dan tidak signifikan,” kata Suaidi dalam keterangan resmi.

Ia mengatakan, kondisi cuaca secara umum terpantau cerah dan pergerakan angin bertiup secara umum terpantau cerah dengan pergerakan angin bertiup konsisten dari arah Timur ke Barat, mengindikasi tidak adanya fenomena cuaca ekstrem lokal pemicu dentuman.

Menurutnya, meskipun aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau terdeteksi lewat citra satelit dan peningkatan aktivitas petir di sekitarnya, BMKG menilai kecil kemungkinan suara tersebut merambat hingga Bandung. Arah angin yang bertiup dari Timur ke Barat pada saat kejadian memperkecil peluang perambatan gelombang suara erupsi ke arah Bandung Raya, sehingga sumber suara dentuman diduga kuat berasal dari sumber lain yang masih memerlukan kajian mendalam.

Namun dalam analisis lanjutan yang dirilis pada 6 September 2026, BMKG menyebut suara dentuman yang terdengar di Bandung Raya kemungkinan besar berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Kesimpulan tersebut diperoleh setelah tim Direktorat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu, Pusat Standardisasi Instrumen MKG, serta Stasiun Geofisika Bandung menganalisis sejumlah data, mulai dari aktivitas erupsi, petir vulkanik, medan magnet bumi, hingga kondisi atmosfer.

Laporan mengenai dentuman diterima BMKG pada 5 September 2026 sekitar pukul 00.30 hingga 05.00 WIB. Untuk menelusuri sumbernya, BMKG membandingkan data dari sejumlah stasiun pemantauan di Lampung Selatan, Serang, Sukabumi, dan Tretes.

Hasil analisis menunjukkan adanya gangguan pada rekaman medan magnet bumi yang waktunya bertepatan dengan aktivitas erupsi GAK. Gangguan tersebut juga terdeteksi di sejumlah stasiun yang berada cukup jauh dari Krakatau.

“Hal ini menegaskan bahwa aktivitas erupsi vulkanik menghasilkan gelombang elektromagnetik berfrekuensi rendah yang mampu terekam dari jarak jauh,” tulis tim analisis BMKG dalam keterangan resmi.

Tim juga menemukan peningkatan sambaran petir vulkanik di sekitar GAK yang berlangsung bersamaan dengan gangguan medan magnet pada sekitar pukul 23.30 WIB hingga 01.00 WIB.

Menurutnya,  letusan gunung api dapat menghasilkan gelombang suara dan gelombang kejut yang merambat melalui atmosfer. Arah angin serta perubahan suhu di berbagai ketinggian dapat memengaruhi jalur rambatan gelombang tersebut.

“Propagasi gelombang ini memungkinkan munculnya gelombang kinetik kejut yang menjalar ke segala arah, dan berpotensi menjadi energi plasma yang terlepas sebagai dentuman di langit (Skyquake) apabila kondisi atmosfer mendukung,” tulis tim analisis BMKG.

Kondisi atmosfer saat kejadian diduga membuat sebagian gelombang bergerak ke atas sebelum kembali turun di wilayah yang lebih jauh. Kondisi tersebut dinilai dapat menjelaskan mengapa dentuman terdengar cukup jelas di Bandung Raya, meski wilayah yang lebih dekat dengan sumber erupsi belum tentu mendengar suara dengan intensitas serupa.

Sementara itu, pemantauan terhadap aktivitas GAK akan terus dilakukan selama erupsi berlangsung, disertai koordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan informasi perkembangan aktivitas gunung segera diterima pemerintah daerah dan masyarakat.

Analisis berbeda disampaikan pakar vulkanologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Mirzam Abdurrachman mengingatkan bahwa kesamaan waktu antara dua peristiwa belum cukup untuk memastikan hubungan sebab-akibat.

“Belum tentu. Perlu kajian lebih lanjut untuk memastikan sumbernya,” kata Mirzam dikutip dari keterangan resmi, Senin, 7 September 2026.

Ia menjelaskan, dari laporan Badan Geologi, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus disertai suara gemuruh sejak Jumat malam. Aktivitas tersebut berlangsung selama beberapa jam dan disertai semburan menyerupai air mancur lava. Badan Geologi menduga dentuman yang dilaporkan di Jawa Barat, Banten, dan Lampung berkaitan dengan aktivitas tersebut.

Mirzam menjelaskan, salah satu kemungkinan yang perlu dikaji adalah acoustic shadow zone, yakni kondisi ketika gelombang suara tidak langsung mencapai permukaan karena dipengaruhi suhu serta arah dan kecepatan angin di atmosfer.

Gelombang suara dapat membelok ke atas, kemudian sebagian energinya menyebar atau kembali mencapai permukaan di wilayah yang lebih jauh. Menurutnya, suara bisa saja terdengar lemah di wilayah yang dekat dengan sumber, tetapi terdengar lebih jelas di daerah yang lebih jauh.

Ia menegaskan, hipotesis tersebut belum membuktikan sumber dentuman berasal dari Gunung Anak Krakatau. Diperlukan pencocokan waktu erupsi dan kedatangan suara, kondisi atmosfer, karakteristik sinyal, serta data dari berbagai lokasi.

“(Dentuman) masih menjadi sebuah pertanyaan menarik—bukan sebuah kesimpulan,” jelasnya.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//