MAHASISWA BERSUARA: Tren Olahraga di antara Kebutuhan Hidup Sehat dan Gaya Hidup Anak Muda
Olahraga adalah investasi kesehatan jangka panjang, bukan sekadar panggung pertunjukan di media sosial.

Nadine Vijayanti Citralekha
Mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung
8 September 2026
BandungBergerak – Di dunia yang semakin modern ini muncul olahraga modern yang sedang ramai di kalangan anak muda saat ini seperti padel, hyrox, fun-run, dan pilates. Cabang olahraga ini tidak hanya sekedar untuk menguji kekuatan fisik, tapi juga memiliki nilai estetika sehingga sering kali dijadikan konten media sosial. Olahraga ini digemari juga di lingkup internasional, seperti viralnya pilates di Bandara Changi Singapura. Hal ini menandai bahwa aktivitas kebugaran tak lagi terbatas pada ruang konvensional, melainkan telah meluas ke berbagai pusat interaksi sosial generasi muda.
Saat ini olahraga memiliki daya tarik yang kuat terhadap anak muda, bahkan menjadi bagian dari gaya hidupnya. Olahraga bukan lagi dipandang sekedar urusan mencari keringat, tapi juga sudah menyatu dengan kebutuhan konten media sosial, interaksi sosial, dan bagian dari tren terkini. Didorong oleh rasa takut ketinggalan zaman atau Fear of Missing Out (FOMO), banyak anak muda terdorong untuk mengikuti tren, lalu mengunggahnya di media sosial agar mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar. Pandangan olahraga bagi anak muda saat ini menjadi sarana untuk mengekspresikan diri dan penanda status sosial, fokus utamanya bukan lagi pada fungsi kesehatan tubuh.
Perubahan peran olahraga ini semakin nyata ketika aktivitas fisik terintegrasi secara mendalam ke dalam rutinitas harian dan secara bertahap membentuk bagian dari identitas diri seseorang. Aktivitas fisik tidak lagi berdiri sebagai kegiatan yang terpisah dari keseharian, melainkan menyatu secara utuh dalam kerangka wellness lifestyle yang menyelaraskan latihan fisik, pola makan bernutrisi, kesehatan mental, serta keseimbangan spiritual, sehingga menjadi sarana konkret bagi seseorang untuk mengekspresikan kehidupan dan kesenangannya.
President and Chief Science Officer di American Council on Exercise (ACE), Dr. Cedric X. Bryant, dalam artikel Athletech News berjudul “Wellness Redefined: The Fitness Industry’s New Focus” (2024), menegaskan bahwa fokus utama dunia kebugaran telah meluas secara signifikan dari sekadar pencapaian performa atletik atau estetika fisik belaka menuju pemenuhan kesejahteraan holistik. Beliau menjelaskan bahwa masyarakat kini memaknai rutinitas latihan fisik sebagai bentuk investasi perawatan diri yang sangat esensial, tidak hanya untuk menjaga kebugaran stamina fisik, tetapi juga untuk meredakan beban mental serta memelihara stabilitas emosional secara konsisten dan berkelanjutan.
Pilihan cabang olahraga kini menjadi cerminan nyata dari karakter dan prioritas hidup penggiatnya. Individu yang menginginkan keseimbangan tubuh, kelenturan, dan ketenangan pikiran cenderung memilih Pilates sebagai manifestasi gaya hidup wellness. Sebaliknya, mereka yang menyukai tantangan fisik berintensitas tinggi, daya tahan, dan kebersamaan komunitas lebih tertarik pada tren olahraga seperti Hyrox. Pada akhirnya, jenis olahraga yang dipilih bukan lagi sekadar latihan fisik biasa, melainkan sarana konkret bagi seseorang untuk mengekspresikan jati diri dan memproyeksikan gaya hidupnya kepada publik.
Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Sama-sama Merasa Benar di Jalan Raya
MAHASISWA BERSUARA: QRIS, Pain of Paying, dan Perilaku Konsumtif
MAHASISWA BERSUARA: Nyawa Kedua Barbie yang Membongkar Kebohongan Daur Ulang
Media Sosial dan FOMO yang Mendorong Tren Olahraga
Penyebaran tren olahraga saat ini bergerak jauh lebih cepat akibat peran masif media sosial dan platform digital. Platform berbasis visual seperti Instagram dan TikTok, serta aplikasi kebugaran khusus, telah membentuk budaya baru yang mendorong penggunanya untuk membagikan pencapaian fisik dan rutinitas harian secara terbuka. Di tengah tingginya arus informasi dunia maya saat ini, fenomena Fear of Missing Out (FOMO) bekerja sebagai pemicu psikologis yang kuat, membuat seseorang ikut berpartisipasi dalam aktivitas yang sedang populer agar tetap merasa kekinian dan tidak ketinggalan zaman.
Dampak media sosial terhadap partisipasi olahraga ini sejalan dengan pandangan Dr. Andrew Przybylski dalam jurnal Computers in Human Behavior (2013), seorang profesor psikologi dari Oxford Internet Institute, University of Oxford. Beliau menjelaskan bahwa fenomena FOMO berakar dari kebutuhan mendasar manusia akan keterikatan sosial dan validasi kelompok. Di era digital, sering melihat unggahan positif orang lain membuat dorongan itu semakin kuat. Akibatnya, melihat foto dan video yang menyebar di media sosial memicu banyak orang untuk ikut-ikutan tren olahraga yang sama agar merasa diterima oleh lingkungannya.
Dinamika tersebut tercermin nyata pada melesatnya tren Pilates, komunitas lari, dan klub kebugaran akibat dorongan visual di media sosial. Keterpaparan pada unggahan estetis dan kebersamaan rekan sebaya memicu keinginan individu untuk ikut berpartisipasi. Kehadiran aplikasi seperti Strava kian memperkuat fenomena ini dengan mengubah data aktivitas fisik menjadi sarana interaksi digital, yang tidak hanya memberi kepuasan pribadi tetapi juga mempertegas identitas sosial penggunanya.
Bagi generasi muda yang hidup di perkotaan, olahraga telah bertransformasi dari sekadar aktivitas pembakar kalori menjadi pernyataan gaya hidup (lifestyle statement) dan sarana ekspresi diri. Di tengah kehidupan kota besar yang kerap memicu rasa kesepian, komunitas olahraga hadir sebagai ruang hangat tempat anak muda menemukan teman sefrekuensi yang memvalidasi identitas serta hobi bersama.
Perbedaan karakter gaya hidup ini terlihat nyata pada kepopuleran Pilates dan Hyrox. Pilates menekankan mindfulness, keseimbangan, serta estetika yang tenang. Kepopuleran ini terbukti dengan banyaknya tempat pilates di kota Bandung, seperti Amity Studio, Life Pilates, Sora Studio, dan masih banyak lagi. Sebaliknya, Hyrox menjawab dahaga akan tantangan fisik dan gabungan dari latihan gym, di kota Bandung sendiri sudah terdapat beberapa tempat yang mengadakan fitness test hyrox.
Namun, maraknya tren kebugaran ini membawa konsekuensi finansial yang tidak sedikit. Tren penggunaan mega-gym seperti di kalangan anak muda Bandung menunjukkan bahwa biaya keanggotaan, suplemen, hingga busana athleisure mampu menyerap 15% hingga 25% anggaran bulanan atau mencapai Rp8 juta hingga Rp15 juta per tahun. Hal ini membuktikan bahwa olahraga telah bergeser menjadi komoditas gaya hidup yang mulai menggeser porsi tabungan dan dana darurat
Ketika Olahraga Masuk ke Ruang Publik
Olahraga tidak lagi terkurung di dalam dinding gimnasium tertutup, melainkan meluap secara masif ke ruang publik. Hal ini menandai berjalannya globalisasi gaya hidup sehat, di mana antara ruang privat dan publik melebur. Di Indonesia, transformasi ini terlihat paling nyata dalam perhelatan Car-Free Day Sudirman-Thamrin Jakarta yang rutin memobilisasi lebih dari 100.000 warga setiap pekan, serta pemanfaatan kawasan Gelora Bung Karno dan taman-taman kota di Bandung sebagai tempat aktivitas outdoor. Lanskap kota kini tidak sekadar berfungsi sebagai jalur transportasi, melainkan panggung interaksi sosial dan manifestasi gaya hidup modern.
Globalisasi tren ini di Kota Bandung terlihat nyata melalui menjamurnya budaya running club dan ajang lari seperti Pocari Sweat Run Indonesia yang berpusat di Gedung Sate serta ajang ITB Ultra Marathon, di mana belasan ribu kuota partisipasi selalu habis dalam hitungan menit. Komunitas seperti IndoRunners Bandung, Bandung Explorer, hingga puluhan running crew independen kini rutin memadati kawasan Lapangan Gasibu, GOR Saparua, serta jalur pedestrian Dago hingga Dipatiukur. Antusiasme warga Kota Kembang dipacu oleh acara besar.
Masuknya olahraga ke ruang publik juga membawa dampak sosial dan ekonomi yang konkret. Selain menjadi penyetara sosial dan panggung memamerkan tren athleisure serta wearable tech, hal ini turut menggairahkan industri kreatif nasional melalui pertumbuhan merek lokal seperti league, Mills, dan Specs, hingga menjamurnya usaha komersial berbasis kesehatan.
Maraknya tren olahraga berbasis media sosial, kepopuleran cabang seperti Pilates, Padel dan Hyrox, hingga maraknya aktivitas di ruang publik kota tidak dapat dipungkiri membawa angin segar bagi tingkat kebugaran masyarakat. Fenomena ini berhasil memicu kesadaran kolektif, meruntuhkan pola hidup malas bergerak, dan mentransformasi aktivitas fisik menjadi bagian dari gaya hidup modern yang menarik dan inklusif.
Keberlanjutan tren olahraga sangat bergantung pada motivasi utamanya. Jika partisipasi hanya didorong oleh FOMO, gengsi, atau validasi media sosial, komitmen berolahraga akan cepat pudar saat tren berganti. Padahal, olahraga adalah investasi kesehatan jangka panjang, bukan sekadar panggung pertunjukan di media sosial. Generasi muda perlu memanfaatkan tren sebagai pemicu awal, lalu mengubahnya menjadi disiplin diri, agar olahraga bertransformasi menjadi kebiasaan hidup yang berkelanjutan.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


