• Opini
  • Sastra Bandung Hari ini: Apa Kabar Yonko Sastra?

Sastra Bandung Hari ini: Apa Kabar Yonko Sastra?

Sastra Bandung hari ini sedang mengalami krisis identitas yang akut. Kita sedang berada di fase komedi sekaligus tragedi: sebuah kekosongan kekuasaan yang menganga.

Beni Anwar Z

Pegiat Bandung Berpuisi

Keberanian untuk mulai membaca dan menyebarkan pengetahuannya. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

9 September 2026


BandungBertgerak – Bandung malam hari, terang bulan dan segelas kopi saset yang mulai mendingin di trotoar Dago. Kombinasi klise yang sebenarnya agak mual kalau terus-terusan diromantisasi. Tapi sialnya, kota ini memang punya magnet melankolis yang susah ditolak. Bagi saya yang hobi nongkrong sambil menenteng buku puisi atau zine indie, Bandung itu bukan sekadar kota administratif bagi “bapa aing” Gubernur KDM. Kota ini adalah lautan lepas yang liar, berisik, dan penuh intrik kreatif. Singkatnya, Bandung adalah New World dalam semesta One Piece, tempat para bajak laut bersenjatakan kata-kata berlayar demi berburu takhta eksistensi.

Secara historis, peta sastra Bandung itu ngeri-ngeri sedap. Kita punya barisan "nakhoda" berkharisma yang kalau bikin karya atau diskusi, efeknya bisa bikin ombak besar sampai ke penjuru negeri. Skena sastra di sini selalu punya daya tawar yang eksentrik, bergerak di antara menara gading kampus yang necis sampai pergerakan bawah tanah yang berlumur jelantah dan bau asap kretek ceban-an.

Baca Juga: Merayakan Puisi Setiap Hari
Untung Wardojo: Sesosok Puisi yang Keluyuran di Kota Bandung
https://bandungbergerak.id/article/detail/1546036578/untung-wardojo-sesosok-puisi-yang-keluyuran-di-kota-bandung

Lautan yang Hambar dan Galangan Kapal yang Mandul

Namun, coba lihat lautan kita hari ini. Agak sepi dan hambar, bukan? Anginnya berembus malas, dan ombaknya cuma riak-riak kecil yang sibuk memuji diri sendiri di takarir Instagram. Sastra Bandung hari ini sepertinya sedang mengalami krisis identitas yang akut. Kita sedang berada di fase komedi sekaligus tragedi: sebuah kekosongan kekuasaan yang menganga. Sadar atau tidak, para "Yonko" poros-poros raksasa yang dulu menguasai samudra sastra kota ini kian melandai, menua, dan meninggalkan takhta tertinggi dalam keadaan kosong melompong.

Tragedi ini makin parah karena "galangan kapal" bernama kampus yang dulunya rajin menempa calon-calon sastrawan tangguh kini ikut-ikutan kehilangan fungsi. Kampus sastra masa kini tak lagi sibuk memproduksi pujangga gila atau kritikus berdarah dingin. Kampus hari ini lebih mirip pabrik administrasi yang sibuk mengejar akreditasi dan skor jurnal bereputasi. Mahasiswanya Pun dididik bukan untuk membedah kedalaman jiwa tulisan, melainkan dilatih menjadi budak korporat yang patuh pada pasar.

Di satu sisi, ini adalah kabar baik bagi mereka yang lapar akan kebebasan. Takhta yang kosong artinya tak ada lagi diktator estetika. Tidak ada lagi tetua adat yang berhak memegang stempel "ini sastra, ini sampah”. Samudra ini bebas merdeka. Tapi di sisi lain, kebebasan tanpa taring ini justru melahirkan generasi bajak laut yang penakut. Kebanyakan dari kita hari ini sibuk mendayung di perairan dangkal, berswafoto dengan latar belakang kedai kopi kalcer, lalu saling melempar pujian manis di kolom komentar. Ombaknya dijinakkan oleh algoritma dan nyali kritisnya disublimasikan menjadi estetika visual yang serba instagenik.

Log Pose Menuju Pulau Selanjutnya

Sastra Bandung hari ini terancam sekadar menjadi aksesori lifestyle. Puisi tidak lagi lahir dari benturan gagasan yang berdarah-darah di ruang diskusi remang-remang, melainkan dari proses kurasi citra agar cocok dengan tone warna foto OOTD. Kita mahir memetik metafora-metafora melankolis, tapi gagap ketika harus menguliti realitas sosial yang makin bajingan. Kata-kata yang dulunya adalah meriam, kini cuma ledakan mercon korek. Padahal, New World bukan tempat untuk pelaut yang cuma ingin terlihat keren dengan mantel kaptennya saja.

Kekosongan takhta ini tidak mesti diratapi dengan nada nostalgia yang cengeng, melainkan dilihat sebagai Log Pose menuju pulau selanjutnya. Jika para "Yonko" tua memang sudah lelah atau kenyang, maka kapal-kapal kecil yang berlayar dari gang-gang senggol Bandung harus berani menaikkan bendera tengkoraknya sendiri. Tidak untuk meniru jejak langkah para pendahulu, mereka harus membakar peta lama yang sudah lapuk. Sastra Bandung butuh badai baru: tulisan yang tidak peduli apakah ia akan disukai oleh kurator bertopi fedora atau disukai algoritma platform. Tulisan yang kembali bau asap rokok ceban, yang berani membakar zaman, dan kembali menjadikan kata-kata sebagai ancaman bagi tiran.

27 Agustus 2026

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//