Pangan Lokal: Dekat dari Rumah, Jauh dari Piring Kita
Pangan lokal hari ini masih terjebak dalam stereotipe sebagai praktik yang lekat dengan kemiskinan.

Yuliana Wuwur
Pekerja ritel, gemar membaca dan tulis tangan, serta suka menulis esai-esai opini satir konsumsi pribadi.
13 September 2026
BandungBergerak – Pada suatu pagi di tahun 2024, saya menyisipkan potongan-potongan ubi kayu goreng yang sudah dibumbui ala kadarnya di kotak bekal keponakan saya. Keponakan saya yang saat itu duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar setiap hari diwajibkan membawa bekal makanan karena akan mengikuti bimbingan belajar setelah jam sekolah. Bapak saya termasuk petani perorangan yang cukup berhasil pada hasil panen ubi kayu, jagung, serta ubi jalar aneka varian. Di antara bergelimangnya hasil panen tersebut alangkah baiknya tak serta merta dipasarkan atau hanya bertengger di meja makan rumah, bolehlah ia melantai ke luar rumah sebagai bekal makan siang, misalnya. Oleh karena itu, sajiannya perlu sedikit diakali agar lebih adaptif di lambung generasi pencinta rasa gurih umami.
Waktu itu saya tengah bergelut dengan kampanye penyadartahuan terkait konservasi Sumber Daya Alam (SDA), climate change, dan kebertaliannya dengan pangan lokal sebagai superfood yang menjadi bagian dari program kerja magang saya. Dari sana dan analisa sekadarnya, lalu menyimpulkan untuk menu pokok bekal makan keponakan saya siang itu ali-alih nasi malah ubi kayu goreng. Beruntung ia tidak gengsian sebagai anak usia remaja awal. Di momen itu bila dipikir-pikir, rasanya saya telah menjadi pendidik di dalam rumah yang cukup baik.
Alhasil sepulang sekolah, keponakan saya itu menceritakan momen santap bekal ketika gurunya menyuruh murid sekelas untuk mengumpulkan sedikit porsi bekal milik mereka untuk dibagikan kepadanya. Ia bercerita melihat ekspresi iba sang guru padanya karena hanya membawa bekal utama ubi kayu.
Sejatinya, kesigapan guru menginstruksikan murid untuk berbagi bekal merupakan hal yang mulia untuk membina moral peserta didik. Namun kurang rasanya bila tidak dibarengi dengan upaya memperkenalkan manfaat pangan lokal yang sarat gizi dibandingkan makanan ultraproses kemasan dan malah memvalidasi stereotip pada makanan olahan pangan lokal yang dianggap lekat degan kemiskinan.
Ruangnya tepat, momennya dapat. Guru dapat mengasah moral siswa melalui empati berbagi, sekaligus menyemai ilmu yang jarang timbul di lembaga pendidikan formal: pangan lokal. Jika saja itu yang terjadi, mungkin keponakan saya akan membawa pulang cerita yang lebih variatif–sevariatif pangan lokal nusantara.
Misalnya nostalgia di zaman dulu yang hanya mengkonsumsi pangan lokal sebagai makanan pokok, sebelum beras dan makanan instan memonopoli atau gagasan menetapkan hari bekal dengan menu sederhana bersumber pangan lokal.
Baca Juga: Sistem Pangan Lokal, Alternatif Melawan Dominasi Sistem Pangan Global
Pangan Centils: Merawat Kembali Hubungan dengan Pangan di Tengah Kota
Memanfaatkan Ragam Pangan dan Kuliner Tradisional dari Umbi-umbian Menghadapi Krisis Iklim
Dari Esensi hingga Emosi
Memilih pangan lokal atau sesekali menghidangkannya di meja makan terkesan mewah karena ia tak hadir setiap harinya. Hal ini hendaknya dibaca sebagai ikhtiar sederhana untuk merdeka pangan dari kecanduan pangan impor seperti tepung gandum. Pilihan hidup remeh-temeh ini juga bernada perlawanan, absen menyumbang profit untuk oligarki, atau mungkin sebagai amal karena mengurangi satu inci deforestasi hutan dengan slogan swasembada pangan itu.
Selain itu, pangan lokal mendukung prinsip berkelanjutan. Ditanam sendiri atau diperoleh dari petani lokal sehingga tidak berjejak karbon. Ia adalah replika kearifan lokal yang tumbuh sesuai kondisi lingkungan suatu wilayah. Contohnya sorgum dari keluarga serelia yang dapat tumbuh di lahan kering sekalipun, umbi-umbian seperti ubi kayu dan ubi hutan juga sangat minim mengonsumsi air. Sehingga memilih pangan lokal di sela-sela konsumsi tepung, semacam sumbangsih bagi bumi. Kita tetap kenyang tanpa mengekstraksi sumber air.
Substitusi pangan lokal ke asupan harian menjadi alternatif untuk menghindarkan berbagai penyakit kronis yang diidap akibat overkonsumsi makanan ultraproses dalam kalengan dan kemasan plastik yang bersahabat baik dengan diabetes, penyakit ginjal, obesitas dkk.
Bagi Suku Lamaholot di Nusa Tenggara Timur (NTT), pangan lokal juga sarat emosi: lekat dengan cinta. Ia bersumber dari ruang domestik tumbuh berdampingan dengan kehidupan suatu masyarakat lokal. Hal ini mengingatkan saya pada Januari 2024 di Desa Lusilame, di rumah seorang ibu lansia. Di desa punggung kuda itu, saat azan berkumandang jauh dari Teluk Wulandoni, ibu dan tungku apinya yang terus berasap menyajikan ubi hutan rebus sebagai sarapan untuk saya yang tengah menjalankan kampanya program magang. Jenis ubi hutan itu, bahkan di desa saya sudah jarang ditemui. Sehingga setiap gigitan ada nostalgia, ada rasa manis ringan yang tertinggal, dan juga cinta pemilik rumah yang menyajikannya.
Kala itu sudah memasuki musim penghujan, tetapi intensitas hujan bahkan sangat jarang, alhasil benih jagung yang ditanam kebanyakan layu hingga mati karena kekurangan air. Namun diam-diam ada tanaman yang tangguh dari kerasnya iklim: ubi hutan. Di Katakeja kami menyebutnya sura rotan yang artinya ubi hutan.
Pangan lokal yang telah disulap menjadi hidangan lokal menampilkan jati diri dan identitas kolektif suatu masyarakat. Dalam makanan lokal ada nuansa kehangatan hajatan di kampung yang penuh nostalgia. Studi kasus pada masyarakat Lamaholot yang merantau selalu dibekali jagung titi, kadang dicampur kacang tanah (dipanggang di tembikar sama halnya dengan jagung). Rasa khas dari tiap keping pipih jagung titi di tanah rantau punya ruang spesial di memori seperti sebuah reminder aroma ini. Aroma gosong dari api tungku ini serupa pulang ke rumah, menunggu mama menyulap butir demi butir jagung dalam tembikar menjadi sebuah santapan rendah kalori.

Momentum untuk Melihat yang Lebih Dekat
Beberapa waktu terakhir semenjak rupiah suka berjungkat-jungkit, ukuran roti di bakery dan jajanan pasar berbahan dasar tepung terlihat tidak adil untuk mengenyangkan perut manusia. Ukurannya menyusut sesuai arah melemahnya rupiah. Dengan demikian kita perlu menyiasatinya dengan sesuatu yang lebih dekat dan lebih lokal. Jadikan kekecewaan itu sebagai momentum sesekali beralih ke hidangan bersumber pangan lokal misalnya dari serelia (jagung, sorgum, jali-jali, jewawut), aneka umbi (ubi kayu, ubi jalar, talas, ganyong, uwi), aneka buah kaya pati (sukun, pisang, labu kuning), sayuran (rebung, daun kelor, daun pepaya), buah-buahan lokal (salak, durian dkk.), serta berbagai macam jenisnya yang tidak akan muat di tulisan ini. Dan tentunya perlu diakali agar sekali lagi adaptif di lambung para generasi umami, tanpa mengamputasi kadar gizinya.
Tujuan tulisan ini bukan demi memforsir transformasi total selera dan pilihan makanan ke sumber pangan lokal, tetapi hanya ingin mendengungkan bahwa ada yang lebih dekat di sekitar kita yang sarat esensi untuk urusan isi perut. Anggap saja gagasan ini sebagai tindakan kesengajaan agar kita tidak lupa “melihat” pangan lokal sebagai sumber makanan yang tangguh serta sarat manfaat.
Maka, tidaklah keliru jika mengklaim olahan pangan lokal sarat esensi, ia penuh cinta, ada peran domestik, memori nostalgia, serta identitas kolektif suatu masyarakat. Olehnya kita akan terus terjaga dari mana kita tumbuh dan berasal. Semoga pangan lokal yang sejatinya dekat dengan keseharian kita tidak berakhir terasing.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


