• Berita
  • Virada: Album Tentang Kehilangan, Perubahan, dan Keberanian untuk Melanjutkan

Virada: Album Tentang Kehilangan, Perubahan, dan Keberanian untuk Melanjutkan

UTBBYS merayakan musik instrumental sebagai ruang terbuka: tentang kehilangan, perubahan, dan kebebasan pendengar untuk menemukan ceritanya sendiri.

Showcase album Virada dari Under the Big Bright Yellow Sun (UTBBYS) di Hallway Space, Bandung, Minggu 23 Agustus 2026. (Foto: Insan Radhiyan/BandungBergerak)

Penulis Insan Radhiyan Nurrahim, 16 September 2026


BandungBergerak - Tanpa aba-aba, penonton yang sebelumnya berdiri langsung membentuk barisan yang menghadap langsung ke arah panggung. Di sana Under the Big Bright Yellow Sun (UTBBYS) perlahan menyusun posisinya untuk mengisi showcase album Virada, di Hallway Space, Bandung, Minggu 23 Agustus 2026.

Sebagian penonton menyandarkan tubuh ke tembok, sebagian lagi hanya menganggukkan kepala mengikuti alunan melodi. Jarang sekali yang mengangkat telepon genggam untuk sekadar merekam momen. Perhatian, secara penuh dan utuh, dikembalikan kepada panggung dan bebunyian yang lahir darinya.

Bagi saya, perubahan gerak massa secara kolektif itu terasa janggal sekaligus magis. Tidak ada satu pun instruksi lisan agar penonton duduk. Tidak ada permintaan tertulis untuk menyingkirkan gawai. Namun ketika enam lagu dari album Virada mulai dilantunkan, tubuh-tubuh penonton seolah menemukan konsensusnya sendiri: diam, duduk, mengagguk dan melamun.

Di layar panggung, visual latar belakang menampilkan respons setiap judul lagu. Musik dan gambar berjalan beriringan, membangun pengalaman sensorik yang jauh melampaui sekadar menonton sebuah band live

Fenomena paling menarik justru terjadi di titik-titik transisi antarlagu.

Ketika satu komposisi selesai, secara refleks saya berniat memberikan tepuk tangan. Namun, suara tepuk tangan itu menggema sendirian di udara tak disambut. Tidak ada gelombang riuh sorak-sorai yang lazimnya memecah ruangan setelah sebuah band menyelesaikan lagunya.

Puluhan penonton tetap bergeming, seolah roh mereka masih tertinggal di dalam ruang gema musik yang baru saja berhenti bergaung. Alih-alih segera memuji penampilan band, mereka tetap menatap panggung atau mempertahankan posisi bersila. Kesunyian dan gestur mematung di antara lagu itu perlahan terasa sebagai bagian dari pertunjukan itu sendiri.

Menjawab kejanggalan magis tersebut, Adin Dimyati, sang gitaris, menjelaskan bahwa UTBBYS sama sekali tidak pernah merancang atau menginstruksikan audiens untuk duduk. Pemandangan penonton yang membeku selama showcase Virada murni merupakan respons organik.

Tubuh-tubuh itu secara otonom memutuskan untuk melepaskan diri dari hiruk-pikuk ekspektasi pertunjukan musik konvensional, memberi waktu dan ruang agar musik bisa merambat tanpa interupsi eksternal.

Bahkan di sela pergantian lagu tersebut, suara dengung amplifier dan noise sengaja dibiarkan menyala. Bagi telinga yang terbiasa mengartikan jeda sebagai kekosongan, bunyi bising itu mungkin disalahartikan sebagai gangguan teknis. Namun, bagi Adin dan UTBBYS, tidak ada ruang yang benar-benar kosong di atas panggung. Noise dipertahankan dengan sengaja.

Saat instrumen harus disetel ulang, bunyi residual dibiarkan hidup. Membiarkan suara bising tetap mengalir adalah taktik mereka merawat atensi. Konsentrasi emosional yang telah dirajut susah payah selama durasi lagu tidak boleh terputus seketika hanya karena panggung berubah hening total.

Pendekatan ini mengakar kuat pada esensi genre post-rock yang mereka usung. Sebagai sebuah entitas instrumental, post-rock menawarkan metode penceritaan yang radikal karena menanggalkan lirik. Emosi tidak didikte lewat kata-kata, melainkan dikonstruksi perlahan lewat tekstur suara, repetisi nada, dan permainan dinamika crescendo—merambat dari kesederhanaan akustik menuju ledakan klimaks. Gitar, drum, dan efek tidak lagi berfungsi sebagai pengiring, melainkan bertransformasi menjadi perangkat narator.

Layaknya Explosions in the Sky yang menenun gejolak emosi lewat sahut-sahutan distorsi gitar lewat absennya lirik, sebuah melodi bisa melahirkan tafsir ganda di kepala pendengarnya: bisa menjadi kesedihan yang lara, harapan yang merekah, atau eforia kemenangan yang meledak, tergantung pada kondisi batin siapa yang meresapinya.

Keistimewaan tanpa kata inilah yang terepresentasikan utuh dalam album terbaru mereka, Virada. Terdiri atas enam trek yang didesain bagai sebuah lini masa perjalanan—dari "Pangawit" sebagai awalan, hingga ditutup oleh "Arunika"—album ini merawat satu gagasan tunggal tentang kehidupan, penghidupan, penerimaan, perubahan, dan bagaimana manusia bersiasat untuk terus hidup.

Adin menggarisbawahi, proses kreatif UTBBYS membuat Album Virada tak sebatas bermain instrumen secara jamming saja. Kerangka musik selalu dipantik dari sebuah ide dasar. Kerangka itu kemudian dibawa ke studio, di mana setiap instrumen saling "berbicara" dan merespons satu sama lain.

“Musik itu punya bahasa. Walaupun kita tidak memakai lirik, setiap instrumen tetap mengomunikasikan sesuatu,” ujar Adin.

“Kita sebenarnya enggak pernah mau membatasi orang mau menginterpretasikan seperti apa. Kita punya cerita sendiri, punya gagasan sendiri, tapi pendengar juga punya hak untuk menganalisis, menginterpretasikan, dan merasakan musik itu dari perspektif mereka sendiri.”

Dalam hal ini, 6 judul lagu di album Virada hanyalah sekadar kompas petunjuk, bukan jawaban mutlak yang mengekang pendengar. Bahasa non-verbal tersebut ibarat kanvas putih bersih yang diserahkan kepada penonton.

Kapasitas musik merangkap ganda—sebagai energi kinetik di panggung dan medium kontemplasi di ruang personal adalah sesuatu yang dirayakan oleh UTBBYS. Adin menegaskan, pencipta tak memiliki otoritas untuk memonopoli tafsir. Yang dilepaskan band kepada audiens bukanlah bentuk baku musiknya, melainkan potensi kebebasan maknanya.

Pendengar bebas menarik garis melankolis, melukis lingkaran kecemasan, atau memercikkan warna kebahagiaan di atasnya. Kebebasan inilah yang membuat pengalaman menikmati Virada di panggung dan di kamar tidur menjadi dua entitas yang sepenuhnya berbeda.

Fahri Auliaur Rahman, 21 tahun, salah satu pendengar loyal yang telah membedah Virada dari sesi listening party hingga panggung live, mengakui fenomena tersebut. Saat duduk mematung di showcase, ia membiarkan tubuhnya disetir oleh raungan distorsi dan ambience mengambang yang menyelimuti seluruh ruangan venue. Namun, ketika lagu-lagu yang sama ia putar sendirian di rumah, maknanya bermetamorfosis.

“Kalau dengar langsung, ambience-nya sangat kuat, energinya lebih terasa menembus. Tapi pas di rumah dengerin album Virada, saya lebih bisa berpikir dan menangkap album ini benar-benar sebagai refleksi perjalanan hidup. Ada fase naik-turun dan lika-likunya dari awal sampai akhir,” tutur Fahri, ex drummer Filsummer yang kali ini datang sebagai penonton UTBBYS.

Penonton lainnya, Safarina Sundani, 20 tahun, menimpali bahwa musik tanpa lirik yang ditampilkan UTBBYS tidak masalah.

“Karena enggak ada liriknya akhirnya aku bisa membawa si musik itu ke mana aja ke ranah pikiran dan perasaan sesuai dengan posisi aku di mana aja gitu,” kata Safarina.

Baca Juga: Menolak Lupa Pemberangusan Buku di Bandung Melalui Pameran Arsip, Diskusi, dan Musik

Showcase album Virada dari Under the Big Bright Yellow Sun (UTBBYS) di Hallway Space, Bandung, Minggu 23 Agustus 2026. (Foto: Insan Radhiyan/BandungBergerak)
Showcase album Virada dari Under the Big Bright Yellow Sun (UTBBYS) di Hallway Space, Bandung, Minggu 23 Agustus 2026. (Foto: Insan Radhiyan/BandungBergerak)

Mendefinisikan Ulang Makna Merdeka

Salah satu lagu berjudul “Merdeka” memiliki riwayat tematik yang sentral bagi lahirnya Virada. Sebelum album ini utuh, UTBBYS sempat merilis tembang "Merdeka" di tahun 2025 Agustus lalu.

Apabila kata “Merdeka” dalam realitas sosial-politik Indonesia diartikan sebagai perlawanan. Seperti warga Dago Elos yang menerjemahkan kemerdekaan sebagai hak dasar atas ruang hidup dari cengkeraman ketidakadilan hukum dan kekerasan aparat terhadap warga. Terakhir, mereka mengadakan acara bertajuk kita belum merdeka dalam memperingati 14 Agustus 2023 yang mengingat kembali kekerasan aparat kepolisian terhadap warga.

Atau kemerdekaan pendidikan yang melawan ketimpangan dan komersialisasi kesejahteraan kelas bawah, menolak selebrasi kemerdekaan yang seringkali sekadar gaung tanpa isi di perayaan seremonial bulan Agustus. Setiawan Maulani dalam esainya mengkritik prioritas penggunaan anggaran negara, khususnya MBG dan KDMP, dianggap lebih urgent dibanding persoalan mendasar seperti sekolah rusak, sulitnya akses pendidikan di daerah, pemulihan pascabencana, serta rendahnya kesejahteraan guru.

“Merdeka” salah satu lagu dari album terbaru UTBBYS menepi ke lanskap pergulatan personal. Bagi Adin dan kawan-kawan, lagu tersebut bermula dari turbulensi kolektif usai ditinggal salah seorang personel inti mereka. Kehilangan itu menorehkan kelesuan moral, dan memaksa sisa formasi untuk menyiasati kegetiran realita agar roda band tak berhenti berputar.

"Merdeka" diciptakan sebagai perwujudan katarsis. Ia adalah titik penerimaan untuk berani melepas sauh dari memori masa lampau yang membebani, agar sanggup berjalan kembali. Dalam lingkup Dago Elos nampaknya merdeka adalah melepaskan diri dari opresi dan penidasan sosial hukum; dalam album Virada, merdeka bermakna melepaskan beban emosional untuk memeluk keadaan baru yang tak lagi sama.

Pertanyaan tentang “bagaimana cara kita terus melanjutkan hidup ketika semua tak lagi sama?” inilah yang lantas mengendap dan bermuara menjadi fondasi enam lagu Virada. Kata virada itu sendiri adalah simbolisasi titik balik dan perubahan.

Berjalan menembus fase transisi selama lebih dari dua dekade, Adin tak ambil pusing soal pelabelan eksistensial. Sempat disematkan julukan “Explosions in the Sky-nya Indonesia” di tahun-tahun awal berdiri tak membuat UTBBYS terbuai dogma identitas absolut.

“Identitas itu bukan hal yang selesai. Kami terus berproses dan mencari identitas. Apa yang kami gubah sekarang jelas terpapar pengaruh musik di masa lalu, tapi disajikan utuh dengan rasa kami sendiri,” jelasnya.

Perjalanan perubahan itu mengantarkan Virada menyeberang hingga merambah daratan China lewat tur mereka belum lama ini. Di sana, mereka dikejutkan oleh respons pendengar kultural dan ekosistem post-rock yang terawat dengan sangat baik, bahkan bisa dibilang memiliki lebih banyak fanbase dibandingkan di Indonesia.

Ekosistem penikmat post rock tersebut menyadarkan mereka pada satu esensi krusial: tantangannya bukan lagi sebatas merekam karya, melainkan bagaimana memastikan scene post rock di Indonesia itu menemukan rongga ekosistem agar sanggup bernapas panjang.

Virada, karenanya, jauh lebih besar dari sekadar format rilisan album. Ia adalah sebentuk dokumentasi tentang kerentanan kolektif—bagaimana menghadapi perpisahan kawan seiring, bagaimana band berevolusi merombak bebunyiannya, dan memvalidasi keindahan saat musik tersebut dipinjam lalu dihidupi oleh orang lain.

Makna Virada tidak berhenti pada musik yang dimainkan, tetapi pada ruang refleksi yang muncul setelah musik berakhir—ketika pendengar bebas mencerna, mengingat, menafsirkan, atau sekadar menikmati perasaan yang tersisa.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp Kami

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//