• Opini
  • Karhutla Kalimantan Menjadi Tonggak Mindfulness Bahwa Kita Emang Dipaksa Mati Pelan-pelan

Karhutla Kalimantan Menjadi Tonggak Mindfulness Bahwa Kita Emang Dipaksa Mati Pelan-pelan

Sejarah karhutla sudah dimulai sejak tahun 1997 dan sayangnya hingga tahun 2026 masih terjadi.

Ica Wulansari

Pengkaji studi sosial-ekologi lulusan Unpad, Dosen Hubungan Internasional Universitas Paramadina

Lahan hutan jati produksi di kawasan Tomo, Sumedang, mengalami kebakaran di beberapa blok selama kemarau tahun 2026, baik yang terbakar akibat cuaca panas ekstrem maupun yang sengaja dibakar. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

18 September 2026


BandungBergerak – Gara-gara misuh-misuh Netizen mengenai Mindfulness artis Maudy Ayunda, saya pun jadi mindfulness dengan Karhutla Kalimantan yang sudah terjadi sejak Juli lalu.

Mindfulness jadi kata kunci yang nge-trend saat ini ketika pesohor Maudy Ayunda lewat kontennya menyampaikan pesan perlu untuk diet konsumsi berita untuk menjaga kesehatan mental di tengah bertubi-tubinya berita buruk tiap hari di Republik ini. Netizen pun memberikan kritik dan mengatai Maudy dengan “tone deaf“ alias tidak memiliki kepekaan dan tidak menunjukkan empati bagi warga yang sebenarnya mengalami langsung peristiwa yang dimaksudnya sebagai berita buruk.

Saya tidak akan menuliskan persepsi atau komen saya mengenai isu tersebut. Saya hanya ingin menulis luapan emosi terkait Karhutla Kalimantan yang selama ini saya pendam hingga berakhir menjadi kentut dan semoga tidak menjadi bisul sebagai output rakyat jelata yang enggak bisa ngapa-ngapain. Sejak Juli lalu, Karhutla Kalimantan terjadi dan hingga saat ini masih belum padam apinya. Saya paham kenapa netizen marah dengan komentar pesohor tersebut, kita merasa lelah dan merasa tidak berdaya melihat warga yang lain harus menderita akibat kebakaran hutan dan lahan yang disingkat karhutla ini. Beberapa isu terkait MBG tetap harus didistribusikan di tengah udara tidak sehat yang harus dihirup warga, bagaimana pengelola negara ini berupaya mendorong riset tepung untuk memadamkan api hingga video viral pemadaman api menggunakan semprotan yang debit airnya “setetes” di tengah kobaran api di lahan. Tentu, hal-hal tersebut membuat kewarasan kita menjadi terusik. Sementara itu, kita memosisikan diri sebagai warga yang terdampak karhutla apabila harus mendengar dan melihat upaya-upaya tersebut tentulah akan semakin menambah penderitaan.

Baca Juga: Jawa Barat Siaga Darurat Kekeringan, Krisis Air Bersih, dan Kebakaran Hutan
Kebakaran Tempat Pembuangan Brangkal di Ciumbuleuit Menandakan Mendesaknya Payung Hukum untuk Melindungi Kawasan Bandung Utara
Di Balik Asap Karhutla, Ada Beban Berlapis Perempuan yang Kerap Terpinggirkan

Bertahan dengan Kabut Asap

Saya teringat pada tahun 2016 mengunjungi wilayah di Pulang Pisau, Kalimantan Tengah pasca terjadinya karhutla tahun 2015. Saat melewati Pulang Pisau yang gersang terbakar dan menyisakan banyak batang pohon yang menghitam karena terbakar, perasaan saya seperti patah hati. Saat itu, saya membayangkan gimana warga bertahan dengan kabut asap yang pekat dalam waktu berbulan-bulan dan bagaimana pula nasib satwa yang terperangkap di lahan tersebut. Seorang ibu bercerita bahwa sejak dirinya mengandung hingga saat itu anaknya bersekolah di Sekolah Dasar, sang Anak sepanjang hidupnya harus menghadapi kabut asap. Hal tersebut menyebabkan tumbuh kembang anaknya bermasalah dan mengalami masalah pernafasan. Itu baru satu contoh kasus saja, pastinya cerita getir karhutla sangat beragam. Sejarah Karhutla sudah dimulai sejak tahun 1997 dan sayangnya hingga tahun 2026 masih terjadi.

Karhutla tahun ini beragam cerita yang saya dengar dari teman yang bermukim di Kalimantan, misalnya seorang teman yang tinggal di luar negeri yang berkontak kepada keluarganya kemudian mengatakan asap karhutla bikin pedih mata dan menyulitkan untuk mengantar orang tuanya untuk berobat rutin ke rumah sakit. Kemudian ada lagi cerita seorang teman asal Kalimantan Barat yang sempat tertunda penerbangan dari Jakarta ke Pontianak karena kabut asap menyebabkan dirinya harus memperpanjang waktu tinggal transit untuk menunggu penerbangan berikutnya. Kemudian cerita seorang dosen di Pontianak yang mengkhawatirkan eskalasi konflik warga dengan warga dari negara tetangga yang berbatasan langsung dengan Kalimantan Barat yang terdampak kabut asap. Teman saya itu meminta doa kepada saya agar Kalimantan segera turun hujan karena hanya dengan air hujanlah bisa memadamkan api. Ini cocok dengan pernyataan Menteri Kehutanan. Menhut Raja Juli bilang bahwa agar karhutla padam, maka harus menunggu hujan. Walaupun, kita jangan lupa sambil menunggu hujan turun mari berdoa sambil terus mengingat bahwa Menhut kita pernah kedapatan main domino dan foto bareng dengan pelaku pembalakan liar.

Menunggu hujan turun saat ini memang seperti menunggu sebuah kepastian di tengah ketidakpastian. Kita semua tahu bahwa tahun ini terjadi El Nino Godzilla, di mana intensitas dan durasi waktu kekeringan akan semakin panjang dan ekstrem. Prediksi akan terjadinya El Nino pun sudah ada sejak tahun lalu, maka apabila peran pengelola negara hanya mengandalkan hujan atau sekedar mengatakan kita harus berdoa, ya berarti negara tidak melakukan upaya mitigasi.

Mitigasi yang Terlambat

Upaya mitigasi yang terlambat sudah menyebabkan karhutla ini meluas, telah menewaskan sukarelawan pemadam api serta telah menewaskan berbagai satwa. Baik warga dan spesies satwa menghadapi kerusakan ekosistem. Bagi satwa telah kehilangan rumahnya. Sedangkan warga yang tinggal dan tergantung penghidupannya pada ekosistem tempatan pun akan mengalami kerentanan yang semakin berlapis baik kehilangan sumber ekonomi, kerusakan sistem sosial hingga kehilangan akar budaya yang menjadi identitas warga. Salah satu contoh budaya yang dituduh sebagai penyebab karhutla adalah budaya membakar lahan yang dilakukan masyarakat adat. Seolah semua kegiatan membakar lahan menjadi sama jahatnya, tanpa dipilah membakar untuk kepentingan apa dan siapa, dengan cara apa, namun semua pertanyaan itu akan menguap dengan telunjuk menunjuk kelompok adat hingga warga tempatan sebagai tertuduh. Padahal, pengelolaan lahan tempatan pun tidak terlepas dari adanya kehadiran industri nyawit eh sawit dan kegiatan pertambangan.

Mitigasi untuk melindungi hutan dan lahan dari karhutla telah gagal sehingga menyebabkan kerusakan lingkungan yang maha besar dengan hilangnya keanekaragaman hayati dan mempengaruhi kualitas kesehatan publik, menyebabkan degradasi lingkungan yang serius yang menyebabkan deforestasi, polusi udara, eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam dan bersamaan dengan terjadinya fenomena perubahan iklim. Terus, gimana? Ya, kerusakan lingkungan hidup ini akan diikuti dengan penurunan kualitas hidup warga dan makhluk lainnya yang berperan penting menjaga ekosistem.

Kebetulan saya yang sedang mindfulness dan agak overthinking membaca artikel berjudul Conceptualizing Ecocide: Interdisciplinary Perspectives tentang studi kasus karhutla yang menunjukkan gejala ekosida. Jadi ekosida ini bagaimana ekosistem tempat makhluk hidup baik manusia, satwa hingga organisme yang membangun hubungan dan proses yang kompleks dalam lingkungan hidup mengalami dampak kerusakan lingkungan yang luas dan masif. Ekosida itu sama enggak dengan genosida? Ya berbeda, ekosida kan mati pelan-pelan, sakit-sakit dahulu menghirup polusi, memakan pangan yang terkena zat tercemar, dan meminum air yang sudah terpapar polusi. Tapi tenang, jangan takut, kita mindfulness maka kita ada.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//