Sejarah Kereta Api Bandung-Ciwidey dan Masalah Kemacetan Bandung Raya
Kebutuhan akan transportasi massal yang efisien untuk menghubungkan pusat-pusat aktivitas manusia masih relevan hingga hari ini.

Emiral Baharimuflih Ahmad (Emir)
Warga sipil
19 September 2026
BandungBergerak – Setiap hari ribuan kendaraan lalu-lalang melintasi jalur lalu lintas dari Bandung Selatan menuju ke pusat Kota Bandung. Kemacetan sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat yang hendak bepergian menjalankan aktivitas sehari-hari. Satu abad yang lalu, mobilitas di Bandung Selatan telah berjalan dengan cara yang berbeda, yaitu dengan kereta api yang menghubungkan Bandung–Soreang bahkan hingga Ciwidey.
Jalur Bandung–Ciwidey bukanlah proyek yang hadir tanpa alasan. Pada awal abad ke-20, wilayah Bandung Selatan merupakan salah satu pusat komoditas unggulan bumi Priangan, yang meliputi teh, kopi, dan kina. Hasil bumi dari perkebunan di wilayah Rancabali, Ciwidey, dan Pangalengan membutuhkan jalur distribusi untuk dikirim ke wilayah Kota Bandung sebelum disalurkan kembali ke wilayah Batavia. Sebelum terdapat rel kereta api, metode pengangkutan hasil bumi menggunakan jalur pedati yang lambat dan sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca.
Staatspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milk pemerintah kolonial Hindia Belanda, akhirnya memutuskan untuk membangun jalur kereta api dari pusat kota Bandung menuju Ciwidey pada tahun 1917. Diawali dengan pembangunan fase pertama dari Bandung–Dayeuhkolot–Banjaran–Soreang dan diperpanjang dari Soreang hingga Ciwidey pada tahun 1924. Selain berfungsi sebagai angkutan komoditas, kereta api juga melayani mobilitas masyarakat yang semakin meningkat seiring berkembangnya permukiman di wilayah Bandung Selatan.

Baca Juga: Mimpi Menghidupkan Kembali Jalur Kereta Api Mati Bandung Ciwidey
Sebelum Whoosh, Ada Eendaagsche Express sebagai Kereta Cepat era Hindia Belanda
Nasib Pengguna Transportasi Umum, Pejalan Kaki, dan Pesepeda Terpinggirkan di Bandung
Sejarah Perkembangan Kereta
Dalam perspektif sejarah perkembangan transportasi massal, pembangunan jalur kereta api berbanding lurus mengikuti pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. Fakta ini menunjukkan bahwa pembangunan transportasi kereta bukan semata-mata didorong oleh kemajuan teknologi, melainkan oleh kebutuhan mobilitas, baik orang maupun barang yang dapat berjalan secara lebih efektif dan efisien.
Seratus tahun kemudian, landscape Kawasan Bandung Selatan memang mengalami perubahan, tetapi tingkat mobilitasnya justru meningkat berkali-kali lipat. Kawasan perkebunan masih bertahan di beberapa wilayah, namun kini menjamurnya kawasan pemukiman, pusat pendidikan, perdagangan, industri, dan kawasan wisata menjadikan kawasan Bandung Selatan semakin membutuhkan sarana transportasi yang lebih cepat dan memadai. Hal ini dapat terlihat dari lalu lintas yang dipadati ribuan pekerja melakukan perjalanan harian menuju pusat kota, dan para wisatawan memadati jalur jalan raya di setiap akhir pekan.
Ironisnya, koridor yang dahulu dilayani oleh kereta api, saat ini hanya bergantung pada kendaraan pribadi dan angkutan jalan raya. Ketika volume kendaraan meningkat, kapasitas jalan raya tidak dapat mengimbanginya. Hal ini mengakibatkan persoalan kemacetan yang terus menerus berulang.
Jalur kereta api Bandung–Ciwidey sendiri akhirnya ditutup total pada tahun 1982. Dikarenakan saat itu kebijakan pemerintah pusat lebih mengutamakan pengembangan jaringan transportasi berbasis jalan raya dibandingkan berbasis rel. Namun pada saat ini ketika moda transportasi berbasis jalan raya menghadapi keterbatasannya sendiri, jalur rel justru memberikan pelajaran penting. Kemacetan kronis yang dihadapi masyarakat membuat para pemangku kepentingan hendaknya memikirkan jalur rel sebagai solusi untuk mengatasi masalah kemacetan yang semakin kompleks.
Di berbagai negara, bekas jalur kereta api yang sempat ditutup, pada akhirnya dikaji kembali dan akhirnya dibuka ketika pertumbuhan penduduk dan kemacetan membuat kapasitas jalan raya tidak lagi memadai. Upaya reaktivasi jalur Bandung–Ciwidey bukanlah gagasan yang lahir dari romantisme masa lalu semata, tapi hal tersebut menunjukan bahwa jalur ini terbukti mampu mendukung aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat selama beberapa dekade. Pengalaman ini menunjukan bahwa infrastruktur transportasi tidak selalu kehilangan relevansinya hanya karena pernah berhenti beroperasi.
Dibandingkan dengan transportasi berbasis jalan raya, kereta api memiliki keunggulan dalam hal pengangkutan penumpang dalam jumlah besar dengan kapasitas yang lebih jelas terukur dan waktu tempuh perjalan yang lebih konsisten dan pasti karena tidak bergantung pada kepadatan lalu lintas kendaraan. Satu rangkaian kereta dapat menangkut penumpang dalam jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan kendaraan pribadi, sehingga berpotensi mengurangi jumlah kendaraan yang masuk ke pusat kota Bandung maupun ke kawasan pinggiran.

Alternatif Transportasi Massal
Perluasan jaringan jalan dan pembangunan jalan tol tidak serta merta menyelesaikan persoalan kemacetan. Selain memakan luas tanah yang lebih banyak sehingga menyebabkan maraknya alih fungsi lahan produktif, penambahan kapasitas jalan raya tidak dapat mengimbangi pertumbuhan jumlah kendaraan yang terus meningkat. Persoalan yang lebih mendasar adalah ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi akibat tidak tersedianya infrastruktur transportasi publik yang memadai dan terintegrasi yang mampu menjangkau kawasan permukiman hingga pusat aktivitas.
Selama masyarakat tidak memiliki alternatif transportasi massal yang nyaman, aman, dan terjangkau, pembangunan jalan baru hanya akan menambah ruang bagi kendaraan untuk bergerak tanpa mengubah pola kebiasaan mobilitas masyarakat. Penyelesaian kemacetan Bandung Raya tidak akan cukup dengan hanya menambah kapasitas jalan, tetapi membutuhkan pergeseran paradigma dari rail-oriented transportation menuju sistem transportasi yang memberikan ruang lebih besar bagi moda transportasi rel kereta api dan angkutan umum terintegrasi.
Jalur kereta api Bandung–Ciwidey memang telah lama menghilang, sebagian lintasannya telah banyak berubah menjadi jalan, permukiman, maupun lahan pertanian. Tetapi, persoalan yang melatar belakangi pembangunannya, yaitu kebutuhan akan transportasi massal yang efisien untuk menghubungkan pusat-pusat aktivitas manusia masih relevan hingga hari ini. Oleh karena itu, mempelajari sejarah jalur kereta bukan hanya sekedar mengenang bagian dari masa lalu, melainkan memahami bagaimana manusia di generasi sebelumnya menjawab persoalan mobilitas masyarakat. Di tengah kemacetan yang semakin kompleks dan semrawut, sejarah dapat membantu kita melihat bahwa jawaban atas tantangan masa depan pernah hadir di jalur rel kereta api yang kini telah menghilang.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


