Setelah Era ‘Bakar Duit’ Usai, ke Mana Nasib Pengemudi Ojol Berlabuh?
Perusahaan transportasi online bergeser mengejar profit, sementara pintu pendaftaran driver ojol dibuka selebar-lebar tanpa batasan kuota yang jelas.

Acep Saepulloh
Penulis lepas. Warga Bandung.
22 September 2026
BandungBergerak – Melihat nominal pendapatan driver ojek online generasi awal yang bisa tembus ratusan ribu rupiah dalam sehari, bahkan belasan hingga puluhan juta rupiah per bulan, masyarakat hari ini mungkin menganggapnya cuma isapan jempol belaka. Namun, bagi saya yang sudah hampir satu dekade mengadu nasib di atas aspal jalanan sebagai driver ojol, angka-angka fantastis itu bukan sekadar cerita dongeng. Saya menyaksikannya sendiri, merasakannya sendiri, dan pernah menggenggam masa-masa keemasan itu di telapak tangan saya sendiri.
Jujur saja, sangat wajar kalau pendapatan kami di masa perintis begitu melimpah. Jika diingat-ingat kembali, ada dinamika industri dan ekonomi pasar yang membuat dapur kami begitu ngebul kala itu.
Saya masih ingat betul raut wajah heran sekaligus takjub dari para penumpang saat awal-awal layanan ojol ini muncul. Konsep memesan transportasi hingga delivery makanan hanya lewat beberapa ketukan di layar smartphone adalah hal ajaib yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Permintaan dari masyarakat langsung melonjak drastis, sementara jumlah kami yang berani mendaftar dan mengenakan jaket hijau saat itu masih sangat terbatas.
Di era perintis tersebut, pendapatan kami selaku driver ojol begitu memanjakan. Penawaran (supply) armada yang sedikit tidak sanggup menampung ledakan permintaan (demand) yang begitu besar. Hasilnya, aplikasi di ponsel tak berhenti berbunyi gacor. Kami tak perlu mangkal berjam-jam menanggung jenuh atau berebut orderan. Roda motor terus berputar, dan setiap kilometer yang kami tempuh benar-benar terkonversi menjadi pundi-pundi rupiah yang tebal saat dibawa pulang ke rumah.
Baca Juga: Ketika Harga Oli Membebani Ojol di Bandung: Jam Kerja Bertambah, Perawatan Motor Berubah
Ojol Dapat 92 Persen: Skema Baru, Trik Lama?
Dari Trayek Angkot ke Titik Baca: Ketika Sopir, Komunitas, dan Pegiat Literasi Membicarakan Arah Transportasi Publik Bandung
Angin yang Berubah
Faktor lain yang membuat kami para senang adalah manisnya era burn rate alias promo gila-gilaan dari suntikan dana investor global. Perusahaan penyedia aplikasi sedang membakar uang secara masif demi menguasai pangsa pasar dan membentuk pola perilaku masyarakat baru di Indonesia.
Suasana di jalanan saat itu benar-benar menguntungkan semua pihak. Penumpang tersenyum lebar karena bisa bepergian dengan tarif super murah berkat subsidi promo yang melimpah. Di sisi lain, kami para driver pulang ke rumah dengan kepala tegak. Bonus harian dan insentif pencapaian target saat itu luar biasa menggiurkan. Cukup menutup target beberapa poin, bonus besar langsung cair ke rekening pada keesokan harinya. Selisih tarif murah penumpang dan bonus besar driver sepenuhnya ditanggung oleh dompet tebal perusahaan hasil guyuran dana investor.
Namun itu dulu, mimpi indah tersebut perlahan memudar. Begitu masyarakat sudah terbiasa dan pasar makin matang, arah angin pun berubah drastis. Perusahaan transportasi online bergeser mengejar profit, sementara pintu pendaftaran driver dibuka selebar-lebar tanpa batasan kuota yang jelas.
Data Kementerian Perhubungan menunjukkan bahwa jumlah driver ojek online di Indonesia telah melonjak pesat dari puluhan ribu di era perintis hingga menembus angka lebih dari 4 juta mitra yang terdaftar di berbagai platform aplikasi. Berdasarkan catatan Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) Indonesia, tingkat persaingan yang terlampau padat ini membuat rasio pembagian orderan menurun drastis. Jika dahulu seorang driver bisa mengantongi 15 hingga 20 orderan dengan mudah dalam waktu 8 jam kerja, kini untuk mendapatkan 5 sampai 8 orderan saja seorang driver harus merayap di jalanan hingga 12 sampai 14 jam sehari.
Kondisi ini diperparah oleh tekanan ekonomi makro. Potongan komisi aplikasi yang dulunya 20 persen menjadi 8 persen berdasarkan Keputusan Presiden no. 27 tahun 2026, tapi dalam praktiknya sering kali terasa lebih menekan akibat adanya biaya sewa penggunaan aplikasi dan biaya tambahan lainnya. Di sisi lain, biaya operasional harian seperti BBM, perawatan rutin sepeda motor, hingga suku cadang terus melonjak mengikuti laju inflasi. Pendapatan bersih harian driver veteran yang dulu bisa menyentuh angka Rp 300.000 hingga Rp 500.000 per hari, kini merosot tajam menjadi Rp50.000 hingga Rp100.000 saja setelah dipotong biaya operasional.
Martabat Pekerja Ojol dan Kepastian Hukum
Pada akhirnya, merindukan era keemasan ojol bukanlah bentuk ketidakmampuan kami untuk move on, melainkan cermin dari realitas pahit di atas aspal hari ini. Kami menyadari sepenuhnya bahwa masa-masa "bakar duit" itu tak mungkin terulang kembali dalam skema bisnis yang rasional. Namun, jutaan kepala keluarga yang menggantungkan piring nasinya di kemudi setang motor tetap membutuhkan kepastian dan keadilan.
Sudah saatnya pemerintah dan penyedia layanan duduk bersama melahirkan payung hukum yang kuat dan adil bagi driver ojol. Penetapan status hukum yang jelas, evaluasi batas potongan aplikasi yang transparan, serta pembatasan kuota penerimaan driver baru berdasarkan analisis kebutuhan wilayah adalah langkah krusial. Langkah ini penting agar keringat yang menetes di sepanjang jalanan tidak lagi dihargai murah, dan profesi pengemudi transportasi online tetap memiliki martabat serta jaminan kesejahteraan yang layak bagi masa depan keluarga kami.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


