• Narasi
  • Toponimi Batureok dan Pertemuan Dua Segmen Sesar Lembang

Toponimi Batureok dan Pertemuan Dua Segmen Sesar Lembang

Kampung Batureok, Lembang, merupakan wilayah pertemuan dua segmen sesar Lembang bagian barat dan timur. Di sana pergerakan kedua segmen terhenti atau terkunci.

Anna Joestiana

Ketua Relawan Penanggulangan Bencana Lembang

Kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Kawasan ini dilintasi Sesar Lembang, sebuah patahan gempa bumi, 10 kilometer dari Kota Bandung. (Foto: Iman Herdiana)

25 September 2026


BandungBergerak – Batureok adalah nama sebuah kampung yang terletak di Desa Gudangkahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Asal-usul nama Batureok berasal dari bahasa Sunda, yaitu gabungan kata "batu" (batu) dan "reok" atau "reak" (pecah, retak). Batureok merujuk pada kondisi geografis atau bentuk permukaan tanah setempat yang dulunya banyak ditemukan batuan dalam kondisi pecah-pecah, retak, atau berserakan di area tersebut.

T. Bachtiar (2024) mengatakan bahwa bila tebing batu bergerak longsor, menimbulkan bunyi yang keras dan panjang, oleh orang Sunda terdengar “reok”. Maka kampung yang berada di sekitar tempat itu dinamailah Kampung Batureok, seperti di Desa Gudangkahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, dan Kampung Batureok di Desa Cipinang, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung.

Berdasarkan peta Geologische kaart van Java, Blad 36, tahun 1934, kampung Batureok merupakan bagian dari bentang alam perbukitan Gunung Lembang yang letaknya di kaki gunung sebelah barat. Di sekeliling kaki-kaki gunung tersebut terdapat beberapa nama tempat/kampung. Di sebelah timur terdapat Pasirhandap, Propelat, Pasirluyu, Pencut (Pentjoet); di sebelah selatan terdapat Areng, Legokpicung, BMKG, Teropong, Pangjebolan, Sinapeul, Babakan Laksana; disebelah utara terdapat Baru Atjak, SOS Kinderdorf, Jalan 5; dan di sebelah barat terdapat Batureok, dan Pasirjati. Dan tepat di puncaknya berdiri sebuah bangunan Observatorium Bosscha.

Dalam peta Jalur Sesar Aktif Lembang (Mudrik R. Daryono, dkk, 2017), Gunung Lembang dilintasi oleh garis sesar Lembang di kilometer 15. Garis retakannya bukan garis tunggal, namun dua garis retakan yang memanjang dari barat ke timur.

Garis pertama memanjang mulai dari perkebunan Baru Atjak, Jalan 5, jalan depan SDN Pancasila, lapangan Sinapeul, Kp. Batureok menyeberangi jalan raya Lembang Bandung, RM Nikmat, berakhir di Sungai Cihideung. Garis kedua mulai dari Pengkolan Pencut, SOS Kinderdorf, Observatorium Bosscha, SMPN 6, SDN Merdeka, Kp. Batureok, Tiara Hotel, Kp. Pasirjati, dan berakhir di Sungai Cihideung. Ada lagi satu garis retakan sepanjang kurang lebih 300 meter yang memanjang dari arah utara ke selatan tepatnya di sebelah timur jalan raya Bandung-Lembang (KOWAD) sampai bagian utara kampung Babakan Laksana.

Baca Juga: Lagu Goong Renteng Embah Bandong dan Sejarah Sesar Lembang
Menakar Bahaya Potensi Pergerakan Tanah dan Penurunan Muka Tanah di Kawasan Lembang
Menelusuri Toponimi Koridor 250 Meter Sesar Lembang

Tempat Pertemuan Dua Segmen Sesar

Berdasarkan data sejarah terbentuknya Sesar Lembang, ternyata Kampung Batureok merupakan wilayah tempat pertemuan dua segmen sesar Lembang bagian barat dan sesar Lembang bagian timur. Di tempat pertemuan ini, pergerakan kedua segmen terhenti atau terkunci.

Mengutip R. P. Koesoemadinata (1981), bahwa pada saat terjadi peristiwa runtuhnya Gunung Sunda Purba dan pembentukan kaldera pada sekitar 100–200 ribu tahun yang lalu. Terjadilah peristiwa “penyesaran kesatu”, yaitu terbentuknya sesar Lembang bagian timur di sekitar Palintang-Desa Cipanjalu (Gunung Kasur) sampai ke Batureok-Desa Gudangkahuripan (Gunung Lembang).

Pendapat tersebut diperkuat oleh Rasmid (2014), dan Daryono dkk. (2019), bahwa Sesar Lembang terbagi menjadi dua segmen yaitu segmen barat dan segmen timur. Kedua segmen tersebut bertemu di wilayah bagian tengah tepatnya di perbukitan sekitar Gunung Batu hingga Bosscha (Gunung Lembang). Kedua segmen ini tidak tepat segaris, tetapi membentuk offset sekitar 200–300 meter.

Menurut BMKG (2026), zona pertemuan dua segmen sesar ini sangat krusial dalam geologi dan kebencanaan karena sering kali bertindak sebagai pembatas perambatan gempa (earthquake rupture barrier) atau justru menjadi titik konsentrasi tegangan tektonik tinggi yang memicu gempa bumi. Karakteristik fisik di pertemuan dua segmen yaitu: 1) Akumulasi energi tinggi karena batuan di area pertemuan segmen cenderung tidak rata atau terkunci, wilayah ini menjadi tempat menumpuknya gaya gesek dan tegangan tektonik. 2) Sebagai penghalang (barrier) karena terkadang mampu menghentikan pergerakan sesar sehingga gempa hanya melanda satu segmen (magnitudo lebih kecil). 3) Sebagai pemicu lompatan (Multi-segment Rupture) jika tegangan yang menumpuk sudah terlalu besar, robekan dari satu segmen dapat melompat melewati batas pertemuan dan mengaktifkan segmen di sebelahnya secara bersamaan, memicu gempa berskala masif (seperti yang terjadi pada Sesar Sumatra atau Sesar Palu-Koro).

Hari ini tidak terdengar lagi bunyi “reok”, dikarenakan beberapa lahan kosong sudah mulai dipadati oleh pemukiman, kemudian banyaknya kendaraan yang lewat, dan banyaknya aktivitas masyarakat di sekitar lapangan Sinapeul. Meskipun demikian masyarakat harus tetap waspada dikarenakan masih menyimpan potensi bencana pergerakan tanah dan longsor.

Misalnya pada tanggal 2 November 2021, di wilayah sekitar kampung Batureok dan kampung Sinapeul sempat mengalami beberapa kali laporan keretakan atau longsor kecil serta pohon tumbang akibat curah hujan tinggi. Kemudian pada tanggal 23 Mei 2025 sekira Pukul 15.30 Wib di Kp. Babakan Laksana RT 3 RW 07 telah terjadi bencana alam pergeseran tebing tanah/longsor yang menimpa bangunan rumah. Selanjutnya di Kp. Pencut, Lembang, terjadi bencana longsor pada 23 Mei 2025 akibat tingginya intensitas hujan. Sebanyak enam rumah rusak ringan hingga berat.

Menurut Ahmad Idhan Rifaldi (2018), Kecamatan Lembang sendiri termasuk ke dalam salah satu dari tujuh kecamatan di Kabupaten Bandung Barat yang kerentanannya tinggi. Kemudian hasil kajian Husein Nashrullah dkk. (2022) menyebutkan beberapa desa yang memiliki risiko tinggi terjadinya pergerakan tanah dan potensi longsor tinggi, yaitu Suntenjaya (1.577,31 Ha), Gudangkahuripan (353,81 Ha) dan Lembang (197,36 Ha).

Kementerian ESDM menjelaskan bahwa pergerakan tanah/longsor di wilayah Lembang banyak dipengaruhi oleh pergeseran Sesar Lembang, kemiringan lereng, dan aktivitas manusia seperti eksploitasi air tanah dan perubahan tata guna lahan. Selain itu dipengarungi juga oleh struktur geologi, pelapukan tanah, lereng curam, dan jenis tanah.  

Menurut Mudrik R. Daryono (2025), bahwa karakter pergeseran sesar Lembang didominasi oleh geseran mendatar ke arah kiri (left-lateral), yang menyebabkan blok batuan di sisi utara dan selatan sesar bergerak saling berlawanan. Pergeseran ini terjadi secara perlahan, namun dalam kondisi tertentu dapat melepaskan energi secara tiba-tiba dalam bentuk gempa bumi. Secara keseluruhan, pergeseran di Sesar Lembang hampir seluruhnya didominasi oleh pergeseran mendatar, yaitu sekitar 80–100 persen. Sedangkan pergeseran naik-turun hanya sekitar 0–20 persen.

Pergeseran Sungai

Bukti fisiknya sangat nyata di lapangan, bisa dilihat dari adanya pergeseran sungai atau river offset (RO) yang sangat variatif akibat pergerakan sesar. Pergeseran sungai tersebut meliputi Sungai Cihideung (di antara gawir Pasirjati dan gawir Pasirwangi), Sungai Cimahi, Sungai Cimeta dan Sungai Cikapundung. Besarnya pergeseran tergantung umur sungai. Semakin tua sungainya, ia akan merekam pergeseran yang lebih lama.

Sungai Cihideung juga merupakan sungai yang terpancung atau beheaded river (BR). Sungai terpancung yaitu sungai yang terletak di sebelah utara sesar terpotong (patahan) sehingga masuk ke sungai lain sedangkan potongan sungai yang terletak di sebelah selatan sesar menjadi sungai mati. Penampakan sungai yang mati ini dapat dilihat di sebelah timur jalan raya Bandung-Lembang (KOWAD) atau di bagian utara kampung Babakan Laksana. Meminjam istilah dari T Bachtiar, sungai mati ini sering disebut juga dengan nama “Nambo”.

Dahulu, salah satu upaya leluhur dalam memitigasi pergerakan tanah/batuan dan longsor yaitu dengan menanam beberapa pohon besar seperti pohon Beringin dan pohon Kiara agar akarnya dapat mengikat batu sehingga batunya tetap melekat dibalut akar-akar pohon tersebut. Dalam istilah Sunda upaya tersebut dikenal dengan sebutan “sina napeul”, sehingga muncullah sebuah nama Kampung Sinapeul di sebelah Kampung Batureok.

Dua pohon Beringin terakhir yang berusia puluhan tahun yang terletak di SDN Merdeka akhirnya tumbang juga pada 30 November 2017 sekitar pukul 09.00 WIB menimpa gedung sekolah saat siswa sedang melangsungkan Ujian Akhir Sekolah.

Selanjutnya masyarakat dan pemerintah dapat melakukan upaya mitigasi pergerakan tanah atau longsor dengan cara: 1) Menutup retakan-retakan tanah, agar air hujan tidak masuk dan memicu kejenuhan air. 2) Membuat terasering pada lereng terjal serta drainase yang baik. 3) Menanam jenis tanaman berakar dalam di wilayah curam untuk mengikat struktur tanah. 4) Tidak mendirikan bangunan di bawah tebing atau di tepian sungai yang rawan erosi. 5) Memantau kondisi lingkungan secara rutin terhadap tanda-tanda awal seperti kemiringan bangunan/tiang listrik, retakan jalan dan dinding, atau mata air yang tiba-tiba keruh.  

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//