Bertaruh Nyawa Menembus Seluk-beluk Bandung: Realitas Kelam Pengemudi Ojek Online Perempuan
Seorang driver ojol perempuan harus siap menerima tumpukan diskriminasi dan kerawanan sosial yang berlapis-lapis setiap harinya.

Acep Saepulloh
Penulis lepas. Warga Bandung.
13 Oktober 2026
BandungBergerak – Jumlah perempuan yang menggantungkan nasibnya sebagai pengemudi ojek online (ojol) terus melonjak dari tahun ke tahun. Berdasarkan data dari aplikasi Grab mencatat, sepanjang tahun 2025 saja ada sekitar 182.500 pengemudi perempuan yang terdaftar dan aktif beroperasi di berbagai sudut kota di Indonesia. Angka yang terbilang fantastis ini tentu akan berlipat ganda jika dikalkulasikan secara menyeluruh dengan mitra pengemudi dari platform lain semisal Gojek, Shopee, Maxim, dll.
Namun, di balik deretan angka statistik tersebut, terdapat sebuah realitas sosial yang amat rapuh di ruang publik kita. Lapangan kerja sektor formal yang makin susah dicari, serta tuntutan himpitan ekonomi yang kian mencekik telah mendesak para ibu tunggal (single parent) harus memutar otak untuk mengambil alih peran sebagai tulang punggung keluarga. Mereka harus berjuang demi memastikan piring nasi di dapur tetap terisi dan biaya sekolah anak-anak mereka tidak terputus di tengah jalan.
Sebagai sesama pengemudi ojol yang masih sering ngaspal di jalanan, menghirup kepulan asap knalpot, dan membelah padatnya kemacetan Kota Bandung, saya selalu menyimpan rasa hormat yang setinggi-tingginya setiap kali berpapasan dengan para Srikandi jalanan ini. Kami bernasib sama, bertaruh nyawa di atas roda dua demi membawa pulang lembaran rupiah ke rumah. Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir jalan, tempat para pengemudi ojol biasa beristirahat meluruskan punggung di sela jeda menanti orderan masuk, saya sempat duduk di dekat ojol perempuan random dan saya sempat bertanya-tanya tentang keluh kesah perempuan yang menjadi driver ojek online.
Baca Juga: Ketika Harga Oli Membebani Ojol di Bandung: Jam Kerja Bertambah, Perawatan Motor Berubah
Ojol Dapat 92 Persen: Skema Baru, Trik Lama?
Setelah Era ‘Bakar Duit’ Usai, ke Mana Nasib Pengemudi Ojol Berlabuh?
Pahit Kisah Driver Ojol Perempuan
Sebut saja Ami (34 tahun), bukan nama sebenarnya. Ibu tunggal dengan dua anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar ini bersedia membagikan kisah hidupnya. Ia menjadi driver ojol karena ditinggal suaminya yang telah tiada, dari bibir Ami, meluncur cerita tentang pahit manis bertaruh nasib di ranah pekerjaan yang selama ini sangat didominasi oleh kaum laki-laki. Penuturan jujur dari Ami menyibak fakta kelam bahwa bagi seorang perempuan, menyalakan aplikasi di atas setang kemudi berarti harus siap menerima tumpukan diskriminasi dan kerawanan sosial yang berlapis-lapis setiap harinya.
Ujian pertama yang kerap menyapa para pengemudi perempuan ini justru datang dari persepsi publik yang masih terkungkung prasangka negatif pada perempuan. Ami mengungkapkan betapa stigma bahwa perempuan adalah pengendara motor yang lambat, ragu-ragu, tidak cekatan di jalan raya saat bermanuver, dan rawan kecelakaan masih mengakar begitu kuat di benak masyarakat. Akibat pandangan miring tersebut, tidak jarang ia sering menyaksikan pesanan yang sudah masuk tiba-tiba dibatalkan secara sepihak (cancel) oleh calon pemesan hanya beberapa detik setelah tahu foto profil pengemudinya muncul di layar ponsel.
Hal yang ironis adalah penolakan semacam ini tidak cuma dilontarkan oleh calon penumpang laki-laki yang merasa gengsi atau ragu, melainkan kerap pula dilakukan oleh sesama perempuan yang merasa tidak yakin akan keselamatan mereka jika dibonceng oleh driver perempuan. Ketidakpercayaan publik yang hadir tanpa dasar objektif ini jelas melukai harga diri mereka sebagai pekerja keras, sekaligus secara langsung memotong potensi pendapatan harian yang sudah susah payah mereka incar sejak pagi hari.
Kalaupun Ami berhasil mendapatkan penumpang laki-laki yang tidak keberatan naik di jok belakang motor yang ditungganginya, perjalanan tersebut tidak lantas membuat dadanya bernapas lega. Momen mengantar penumpang justru kerap berubah menjadi ruang ketegangan dan bahaya yang mengintai. Di atas roda dua, ia harus memendam rasa risi dan amarah karena sering ada saja celotehan bernada menggoda (catcalling), pertanyaan-pertanyaan bersifat pribadi yang melompati batas sopan santun, hingga gerak-gerik kontak fisik yang sengaja menyenggol atau memegang tubuhnya dengan dalih takut terjatuh dari motor.
Untuk menyiasati dan membentengi diri dari ancaman pelecehan seksual semacam itu, Ami selalu menyiagakan sebuah tas punggung yang digendongnya di bagian belakang. Tas tersebut sengaja difungsikan sebagai barikade atau penyekat fisik agar tubuh penumpang laki-laki tidak menyentuh atau menempel langsung pada punggungnya selama perjalanan berlangsung.
Tantangan bagi para Srikandi jalanan ini menjadi kian ekstrem sewaktu malam tiba. Demi menggelembungkan pundi-pundi rupiah guna mencukupi kebutuhan harian serta membelikan kebutuhan sekolah sang buah hati, Ami dan banyak pengemudi perempuan lainnya sering terpaksa melintasi malam hingga larut. Namun, atmosfer jalanan kota di kala gelap bukanlah ruang yang ramah apalagi aman bagi perempuan. Di sudut-sudut jalanan Bandung yang minim penerangan dan banyak jalan berlubang, ancaman pembegalan, hingga kejahatan jalanan lainnya menjadi bayang-bayang menakutkan yang senantiasa mengintai keselamatan jiwa mereka.
Tidak berhenti di ruang lalu lintas dan jalan raya, perlakuan tidak adil yang dialami oleh Ami pengemudi ojol perempuan rupanya juga merembet hingga ke ruang-ruang perawatan kendaraan. Saat menyambangi bengkel untuk sekadar melakukan servis berkala, mengganti oli mesin, atau memperbaiki komponen motor yang aus akibat dipakai beroperasi seharian, Ami dipandang sebelah mata. Asumsi umum para mekanik bahwa perempuan adalah sosok yang awam dan tidak paham sedikit pun soal seluk-beluk mesin kendaraan sering kali dimanfaatkan oleh oknum bengkel nakal untuk mengambil keuntungan dengan mark-up harga dan banyak komponen kendaraan yang harus diganti. Mereka kerap memberikan pelayanan yang mengada-ada kerusakan komponen yang sebenarnya masih layak pakai, hingga mematok harga suku cadang dan ongkos jasa perbaikan di atas tarif kewajaran.
Pada akhirnya, setiap ratusan hingga ribuan kilometer roda motor yang ditempuh oleh Ami dan ribuan pengemudi ojol lainnya, bukan soal mengantar penumpang atau mengantarkan paket ke alamat tujuan. Tapi, setiap jarak yang mereka tempuh adalah bentuk perlawanan yang nyata terhadap keterbatasan ekonomi, kemalangan nasib, dan ketidakadilan struktur sosial di Indonesia. Para Srikandi jalanan ini mengajarkan kita bahwa keberanian tidak selalu beralas dada yang busung, melainkan ketabahan yang sunyi. Kesabaran untuk terus memutar roda dua demi sang buah hati, walau prasangka terus menghadang dan nurani kerap berbisik ingin berhenti.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


