NGABANDUNGAN: Tas Sekolah Kecil
Setiap pagi, anak kecil bertas mungil itu mengarungi kemacetan Ciwastra, tanpa tahu bahwa sebagian masa kecilnya perlahan habis di jalan.

Iman Herdiana
Editor BandungBergerak.id, bisa dihubungi melalui email: [email protected].
17 Oktober 2026
BandungBergerak - Di pagi yang gerah Jalan Ciwastra, lalu lintas bukan sibuk lagi, nyaris kacau. Anak-anak dibonceng orang tua atau ojek menuju sekolah. Itu pemandangan biasa bagi saya. Tapi yang tak biasa, ukuran tas beberapa anak-anak SMP lebih kecil dibandingkan tas anak SD. Apakah karena mereka mulai merasakan beratnya beban sekolah?
Goenawan Mohamad, dalam Catatan Pinggir 2 menulis, kata "sekolah" berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu scholē, yang berarti waktu senggang atau waktu santai. Jadi, sekolah adalah tempat murid dan guru mengisi waktu senggang. Menyengangkan sekali.
Konon, Indonesia pernah memiliki sekolah yang menggabungkan konsep scholē dan nilai-nilai lokal, yaitu Taman Siswa. Ya, sekolah yang dicetuskan Ki Hajar Dewantara tahun 1922 itu. Dan menjadi menarik jika arti scholē dan Taman Siswa disatukan dalam kalimat: “waktu luang di taman siswa” atau “bersantai di taman siswa”, dan Anda bisa membuat variasi sebanyak mungkin dari kata-kata itu yang maknanya dijamin selalu menyenangkan. Apakah anak-anak yang mengarungi Jalan Ciwastra tadi merasa punya waktu luang atau santai di sekolahnya?
Di kita, sejak Taman Kanak-kanak, saya tidak tahu apakah istilah TK ini punya benang merah dengan Taman Siswa, anak-anak bahkan sudah diajari cara berhitung dan menulis huruf. Alasannya masuk akal: agar lebih mudah beradaptasi jika masuk SD. Sebab, ada SD yang lebih senang menerima murid lulusan TK yang sudah menguasai calistung.
Dan calistung ini, terutama bagian menghitung, adalah momok bagi sebagian siswa, atau mantan siswa yang kini sudah menjadi bapak-bapak dan ibu-ibu. Padahal anak yang baru akan masuk SD ibarat kertas yang masih putih. Di masa inilah ia akan bertemu sosok-sosok asing yang mengisi fase hidupnya.
Kita bayangkan, seorang anak kecil yang baru pertama memasuki gerbang sekolah dasar, diantar atau tidak oleh orang tuanya. Kakinya melangkah ragu, matanya mencuri pandang kiri kanan, sesekali beradu tatap dengan murid SD lainnya yang juga ketakutan atau kebingungan. Ia tidak tahu apakah akan menjadi bintang di kelas atau sebaliknya hiupnya akan meredup. Ia juga tidak tahu apakah ia akan lebih banyak menerima pujian atau justru rundungan yang akan menjadi luka di masa depan.
Setumpuk kurikulum menantinya di atas meja kayu. Kurikulum itu kemudian diringkas dalam tas yang selalu ia gendong. Kadang bobot tasnya terasa lebih besar dari tubuhnya. Beban ini harus ia pikul terus sampai ia masuk SMP dan SMA. Semakin tinggi tingkatan semakin tinggi pula kesulitannya.
Wajah pendidikan pun berubah menjadi lebih serius, makna sekolah bergeser jauh dari arti dasar dalam bahasa Yunani. Bahkan untuk lebih mendisiplinkan murid, ada program yang mengirim mereka ke barak. Sebagian orang tua merasa senang dengan wajah pendidikan yang lebih keras.
Saat akan kuliah, ia harus bekerja keras berkompetisi masuk perguruan tinggi negeri. Di masa kuliah, ia mesti mengejar SKS, skripis, dan lulus lebih cepat. Dalam beberapa cerita, ada mahasiswa yang diminta oleh dosen pembimbing untuk bikin skripsi yang metodeloginya mirip tesis atau disertasi!
Setelah lulus kuliah, kehidupan justru baru separuh dimulai. Ia menghadapi persaingan kerja yang superketat. Ia harus berjuang keras mengirimkan ratusan surat lamaran yang belum tentu berbalas. Bagi yang beruntung diterima kerja, ia akan meneken kontrak setahun dua tahun. Setelah itu, tak ada yang tahu kontrak itu diperpanjang atau tidak. Lalu, di manakah waktu senggang itu?
Dalam dunia pendidikan yang dirancang sejak awal untuk memenuhi kebutuhan industri, sayangnya tidak ada tempat bagi waktu senggang. Yang ada, roda kehidupan berjalan semakin cepat. Semua berkompetisi. Santai sedikit akan digilas sang waktu, seperti konten di Instagram atau TikTok yang tenggelam jauh ke dasar layar sampai tak pernah muncul lagi.
Baca Juga: NGABANDUNGAN: Tertib di Ruang Publik
NGABANDUNGAN: Legenda Urban Versi Warga
Namun, di zaman teknologi digital ini masa senggang antara ada dan tiada. Orang-orang yang bersantai mudah kita temukan di depan layar sentuh kita. Anak-anak yang sehari-hari disibukkan dengan kurikulum sekolah justru mengisi waktu santai mereka dengan bias-bias di media sosial itu.
Setelah lelah sekolah, anak-anak melahap realitas palsu media sosial. Hoaks bertebaran, konten settingan membanjir, hingga ‘kegilaan-kegilaan’ lainnya yang tidak ada di zaman orang-orang tua mereka. Masuk akal jika beban Gen Z atau gen-gen era teknologi digital memiliki beban yang lebih berat dibandingkan generasi sebelumnya.
Dalam situasi itu, anak-anak kecil masa kini seperti hidup dalam dua dunia yang saling bertentangan, bertabrakan. Di satu sisi ia terus ditekan kurikulum sekolah. Di sisi lain, ia melihat kehidupan di media sosial yang serba wah.
Kenyataan lain, media sosial juga membawa sesuatu yang sebelumnya tidak pernah muncul di era pramedsos. Di masa lalu, watak jahat dari dunia luar cukup dicegah dengan membuat pagar tinggi-tinggi di sekitar rumah kita. Sekarang, kejahatan itu hadir di ruang-ruang privat anak-anak, di depan layar sentuh mereka.
Beban anak sekolah bertemu dengan kontradiksi dunia digital. Keduanya semakin mengkhawatirkan jika dilihat dari sisi kesehatan mental. Sebuah penelitian menyebut bahwa bunuh diri merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang serius di kalangan remaja. Salah satu faktor yang diduga berkaitan dengan risiko tersebut adalah tuntutan belajar dan pencapaian pendidikan.
Sementara itu, anak SMP dengan tas kecilnya yang setiap pagi mengarungi kemacetan Ciwastra, suatu waktu akan menyadari bahwa sebagian dari hidupnya habis di jalan untuk memikul kurikulum. Ia belum mengerti bahwa beban itu dirancang oleh orang yang mengira bahwa semakin banyak mata pelajaran semakin baik baginya. Ironisnya yang merancang kurikulum adalah orang tua mereka, yang pernah mengalami masa kecil dengan waktu senggang yang lebih banyak tanpa pernah tenggelam di depan layar sentuh.
Anak itu mungkin sengaja meminta dibelikan tas kecil sebagai bentuk protes. Dan belajar protes sejak kecil tidaklah buruk.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


