NGABANDUNGAN: Legenda Urban Versi Warga
Mbeling, Majalah Aktuil, dan narasi kota versi legenda urban yang dilahirkan dari perlawanan kultural orang-orang muda Bandung.

Iman Herdiana
Editor BandungBergerak.id, bisa dihubungi melalui email: [email protected].
14 Januari 2026
BandungBergerak - Apa yang terlintas ketika mendengar urban legend Bandung? Mobil ambulans di Jalan Bahureksa, Rumah Kentang, atau kisah mistis Freemason Bandung? Di luar cerita-cerita horor itu, ada banyak versi legenda urban Bandung yang lebih membumi. Ia lahir dari pengalaman, imajinasi, dan narasi kolektif warganya sendiri.
Agar pembahasan lebih fokus, mari kita mulai dari definisi. Ketika ditanya soal legenda urban, AI menjawabnya berikut:
“Urban legend adalah cerita rakyat modern yang tersebar luas, sering kali dianggap benar karena terjadi pada ‘teman dari teman’, memiliki unsur misterius, seram, atau mistis, dan berfungsi untuk menghibur, memperingatkan, atau merefleksikan kecemasan masyarakat. Cerita ini disebarkan secara lisan atau melalui media digital, kerap berangkat dari peristiwa nyata yang dibumbui fiksi, dan menjadi bagian dari budaya populer.”
Definisi ini justru menunjukkan bahwa legenda urban sangat luas. Ia tidak harus mistik atau horor. Hampir setiap narasi kolektif yang hidup, dipercaya, dan diceritakan ulang di ruang kota dapat dibaca sebagai urban legend.
Dalam diskusi bertema Urban Legend di Toko Buku Pelagia, Zen RS menawarkan perspektif sosial: legenda urban sebagai narasi yang bisa, dan perlu, diciptakan warga kota. Menurutnya, Bandung adalah kota yang relatif muda, lahir di era kolonial, berbeda dengan kota-kota seperti Cirebon atau Yogyakarta yang terbentuk jauh sebelumnya.
Karena sejarahnya lebih muda, legenda urban Bandung pun berbeda. Di kota-kota lama, mungkin muncul kisah kereta kencana di malam hari. Di Bandung, narasi semacam itu terasa janggal. Bandung pernah berupa belantara, danau purba, habitat badak dan harimau, sebelum menjadi heurin ku tangtung seperti hari ini. Karena itu, urban legend Bandung yang relevan bukanlah yang mengandalkan romantika feodal atau mistisisme masa lalu, melainkan yang lahir dari pengalaman hidup warganya di kota modern.
Poster diskusi di Toko Buku Pelagia menggambarkan urban legend Bandung sebagai narasi yang “dipengaruhi tata kota dengan pencahayaan minim”, muncul di tengah megahnya situs dan bangunan, menjadi bayang-bayang kota. Masih menurut poster tersebut, kisah urban legend bukan sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan hasil interaksi antara kondisi fisik kota dan resiliensi masyarakat. Ia menjadi cermin cara manusia menafsirkan ruang, sejarah, dan suasana sekitarnya.
Dengan kata lain, legenda urban Bandung yang layak didiskusikan adalah urban legend versi warga. Jika narasi semacam itu belum ada, warga justru perlu menciptakannya, melalui cerita yang dituturkan dari mulut ke mulut, agar kota memiliki ingatan dan imajinasinya sendiri.
Di luar kisah mistik, Indonesia mengenal legenda urban seperti penembakan misterius (petrus), SDSB, NKK/BKK, atau larangan rambut gondrong. Namun Zen memandang narasi-narasi itu bukan lahir dari warga, melainkan diciptakan kekuasaan. Legenda urban versi “resmi” ini justru perlu diimbangi dengan legenda urban versi warga, yang memuat kepentingan dan pengalaman mereka sendiri sebagai bentuk resiliensi di tengah “ruang-ruang gelap” kota.
Salah satu contoh menarik legenda urban Bandung versi warga adalah gerakan mbeling dan Majalah Aktuil.
Baca Juga: NGABANDUNGAN: Membahasakan Maneh
NGABANDUNGAN: Mitos Fesyen Lebaran #1
Aktuil dan Mbeling
Perkembangan seni—terutama musik—tak pernah lepas dari konteks politik dan sosial. Pada 1950-an hingga awal 1960-an, rock and roll lahir di Amerika Serikat sebagai respons generasi muda pascaperang. Di Indonesia, Presiden Sukarno memandang musik Barat sebagai bentuk imperialisme budaya. Pada 1965, Koes Bersaudara dipenjara karena membawakan lagu The Beatles yang dicap ngak-ngik-ngok. Di Bandung, anak-anak muda mengakses musik rock melalui radio amatir tersembunyi demi menghindari sensor negara.
Memasuki akhir 1960-an hingga 1970-an, dunia menyaksikan puncak gerakan hippie dan psychedelic rock, termasuk peristiwa Woodstock 1969 sebagai protes terhadap Perang Vietnam. Di Indonesia, pada periode yang hampir beririsan, Orde Baru di bawah Suharto berkuasa. Meski lebih terbuka pada Barat, rezim Soeharto sangat ketat menjaga ketertiban sosial. Razia rambut gondrong menjadi fenomena nasional karena dianggap merusak moral dan identik dengan kriminalitas.
Dalam konteks inilah subkultur Bandung tumbuh subur melalui Majalah Aktuil. Band seperti The Rollies dan Harry Roesli, melalui Gang of Harry Roesli, memadukan psychedelic rock dengan kritik sosial. Bandung bahkan dijuluki “San Francisco-nya Jawa” karena maraknya gaya hidup hippie dan flower generation.
Dari sini terlihat bahwa seni dan politik saling mempengaruhi, bukan dalam hubungan yang mesra, melainkan dalam ketegangan dan perlawanan. Keduanya bergerak di jalur berbeda: politik dengan kewenangan legal, seni dengan jalur kultural. Meski rezim politik silih berganti dan meninggalkan boroknya, seni cenderung lebih abadi. Lagu-lagu The Beatles masih dinyanyikan hingga kini, bahkan oleh generasi Z. Karya Harry Roesli seperti Malaria masih mudah ditemukan. Sementara pemujaan terhadap rezim politik kerap dilakukan tanpa nada dan irama.
Secara teknis, Majalah Aktuil telah lama almarhum. Namun secara kultural, ia tetap hidup. Majalah ini lahir di Jalan Lengkong Kecil Nomor 41 Bandung pada 1967, dengan cetakan awal sekitar 5.000 eksemplar. Pada 1973–1974, sirkulasinya mencapai 126.000 eksemplar, bahkan melampaui majalah Tempo hingga tiga kali lipat (Imam Arifin, 2023).
Bergabungnya Remy Sylado membuat Aktuil bukan hanya menonjol di musik, tetapi juga sastra melalui aliran mbeling. Di tengah keterbatasan informasi—tanpa internet, media sosial, apalagi AI—Aktuil rutin memuat cerbung, cerpen, puisi, karikatur, dan visual. Di rubrik sastra inilah mbeling menemukan gaungnya.
Menurut laman Salihara, puisi mbeling berkembang menjadi gerakan. Remy Sylado secara tak langsung mengajak orang muda menulis dan menunjukkan bahwa sastra tidak harus “berat”. Ratusan sajak mbeling masuk ke meja redaksi. Penulis seperti Seno Gumira Ajidarma, Noorca M. Massardi, dan Yudhistira A. N. M. Massardi pernah mengirim karya mereka ke Aktuil.
Salah satu contoh puisi mbeling dimuat dalam Aktuil Edisi 153 Oktober 1974 yang salah satunya memuat puisi karya M. Gunawan Alif, dengan atribut "Aku takbisa terlampau ber-pura2 lugu". Puisinya berjudul Sang Waktu dengan penggalan sebagai berikut: ... waktu kecil aku ingin jadi dokter / setelah remaja aku ingin jadi seniman // Tapi terakhir aku jadi tentara / karena tentara punya hak dwi fungsi.
Remy menjelaskan mbeling sebagai “projek kemanusiaan” yang mendorong kaum muda berpikir kritis dan kreatif, serta membebaskan puisi dari beban estetika yang kaku.
Dalam cerbung Orexas—yang kemudian dibukukan dan dijadikan album lagu—Remy melontarkan kritik tajam terhadap kaum tua. Judul Orexas sendiri, menurut Yogi Esa Sukma Nugraha, bukan berasal dari mitologi Yunani, melainkan akronim organisasi seks bebas.
Soleh Solihun bahkan menyebut Remy “sangat membenci kaum tua”, sebagaimana tercermin dalam orasi provokatif di lagu Orexas. Selain buku, Orexas menjadi judul album lagu. Baik novel maupun lagu, isinya sama-sama memuat kritik sosial kaum tua. “Remy Sylado sangat membenci kaum tua,” kata Soleh Solihun, komedian yang mantan wartawan, di blognya.
Untuk menggambarkan betapa geregetannya Remy pada kaum tua, Soleh Solihun mengutip orasi di lagu Orexas:
“Heh, mari kita panjatkan doa kita, semoga orang-orang tua kita cepat dilanda malapetaka. Biar mampus dengan segala kemunafikan mereka. Satu…dua…tiga! Semoga orang-orang tua kita cepat dilanda malapetaka. Malapetaka penyakit gula. Malapetaka penyakit pes. Malapetaka penyakit darah tinggi. Malapetaka penyakit cacing pita. Idi Aamiiin. Hahahaha.”
Namun “orang tua” dalam kritik Remy bukanlah orang tua biologis. Ia merujuk pada mentalitas kolot: penguasa kolot, atau bahkan penguasa muda dengan pikiran kolot. Kekolotan inilah yang melahirkan larangan, sensor, dan hukuman atas nama moral dan ketertiban. Padahal generasi muda merasa memiliki jalur kulturalnya sendiri—tanpa perlu diatur rambutnya, bacaannya, atau pakaiannya, misanya harus memakai baju putih dan dilarang memakai baju hitam.
Karena itu, jalan yang ditempuh generasi Aktuil adalah jalan mbeling: melawan kemapanan dan narasi resmi yang dipaksakan. Bagi Remy, mbeling bukan sekadar sikap urakan, melainkan strategi kultural untuk membongkar kemapanan melalui kritik, kelakar, dan sindiran dengan bahasa sehari-hari.
Perlawanan mbeling ini merambah berbagai ranah: sastra, teater, musik, hingga gaya hidup. Dengan perspektif mbeling, generasi muda berhak menulis cerita dan sejarahnya sendiri—termasuk menciptakan legenda urban mereka sendiri.
Dalam konteks ini, gerakan mbeling dan Majalah Aktuil dapat dibaca sebagai legenda urban Bandung versi warga: narasi kolektif yang lahir dari pengalaman, perlawanan, dan resiliensi di ruang kota. Ia bukan legenda mistik, melainkan ingatan hidup yang membentuk identitas kultural Bandung.
Legenda urban jenis inilah yang layak diarsipkan, diceritakan ulang, bahkan diciptakan kembali. Bukan legenda urban versi resmi atau diresmi-resmikan, melainkan legenda urban yang tumbuh dari bawah, dari warga, dan beredar dari mulut ke mulut. Sebab dari sanalah kota bukan hanya diingat, tetapi juga terus dihidupkan.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

