Misteri Masyarakat Buni dari Batujaya
Peninggalan masyarakat Buni di Batujaya Karawang menyimpan sejarah terjadinya akulturasi budaya Jawa dan India di milenium pertama sejarah manusia di Jawa Barat.
Johan Arif
Peneliti Geoarkeologi & Lingkungan di ITB, Anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung.
14 Juni 2024
BandungBergerak.id – Masyarakat Buni adalah kumpulan manusia yang hidup pada zaman logam awal (paleo-metalik) antara 200 SM hingga 1000 M di pantai utara Jawa Barat. Mereka mempunyai budaya yang dikenal sebagai "Buni Pottery Complex (BPC)".
Menurut Soejono (1976), manusia-manusia yang hidup pada zaman Logam Awal (paleo-metalik) di Indonesia dikenal sebagai masyarakat undagi (skilled communities) karena sudah muncul berbagai keahlian manusia seperti pandai besi, keahlian membuat gerabah dll. Di Pulau Jawa dan Bali situs Logam Awal umumnya tersebar di sepanjang pantai utara Laut Jawa antara lain di Anyer (Jawa Barat), Puger (Jawa Timur), Lasem dan Gilimanuk (Bali).
Budaya BPC dicirikan oleh adanya penguburan jenazah manusia dalam posisi terlentang yang disertai bermacam bekal kubur yang terbuat dari perunggu dan besi yang dibawa oleh pedagang dari daratan Asia seperti Cina dan Vietnam. Hal yang menarik lagi dari budaya BPC ini adalah mengandung keterangan mula terjadinya akulturasi antara budaya Jawa dengan budaya India yang masuk sejak 0-1000 M terutama pada kerajaan-kerajaan yang ada pada masa itu. Pada saat mereka hidup kondisi iklim relatif lebih panas dari pada sekarang. Situs-situs yang termasuk BPC ini banyak tersebar di sekitar pantai utara Jawa Barat antara lain di Buni, Kobak, Kendal, Cibutak, Cibango, dan Batujaya.
Baca Juga: Menyelisik Situs Megalitik Gunung Padang di Cianjur
Menyusuri Fosil-fosil Manusia dari Kawasan Asia
Perubahan Iklim dan Hancurnya Kerajaan Akkadia
Situs BPC di Batujaya
Tahun 1984 jejak budaya BPC ditemukan di Batujaya, Karawang; yang berada sekitar 60 kilometer sebelah timur-laut Jakarta. Secara geologi, lokasi Batujaya ini terletak di Dataran Aluvial Laut Jawa Utara yang umumnya terdiri dari endapan alluvial dan lahar (Bemmelen 1949).
Di Situs Batujaya banyak ditemukan gundukan tanah, yang oleh orang tempatan disebut unur, tersebar di persawahan. Unur-unur ini diduga merupakan runtuhan candi dan hingga kini sudah ada tiga unur yang diteliti dan direnovasi yaitu unur Jiwa, unur Serut dan unur Blandongan.
Tahun 2003, 2008 dan 2010, ditemukan beberapa rangka manusia di sekitar candi Blandongan. Lokasi rangka manusia yang ditemukan tahun 2003 dan 2008 tidak jauh dari tangga candi, sedangkan lokasi rangka manusia yang ditemukan tahun 2010 berada sekitar 30 m dari dinding tenggara candi. Dari artefak yang tersebar di sekitar rangka manusia yang ditemukan tahun 2010 –lebih kurang sepuluh individu, termasuk rangka anak-anak- diperkirakan mereka berbudaya BPC.
Arif & Arifina-Istiqamah (2012) melakukan penelitian terhadap gigi-gigi temuan tahun 2010. Mereka mengatakan gigi Blandongan 2010 relatif lebih kecil daripada gigi-gigi dari komunitas Mesolitik (Wajak dan Sampung dari Jawa Timur) dan Neolitik (Pawon dari Jawa Barat, Hoekgrot dan Jimbe keduanya dari Jawa Timur).
Menurut Tjia Hong Djin (1987), diduga penyebabnya adalah adanya perubahan iklim yang ditandai dengan turunnya muka laut pada zaman Holosen. Kemungkinan yang lain –menurut Sheet & Gavan (1977)– disebabkan oleh adanya evolusi budaya peralatan/teknologi di mana teknologi/peralatan manusia yang datang setelah Mesolitik dan Neolitik lebih bervariasi/lebih modern dibandingkan teknologi pada masa Mesolitik dan Neolitik. Hal ini menyebabkan gigi-gigi manusia dari zaman yang lebih muda daripada zaman Mesolitik dan Neolitik berfungsi lebih ringan (antara lain makanan mereka lebih lembut).
Selain itu, temuan-temuan rangka manusia tahun 2010 dari Batujaya ini mereka usulkan digunakan untuk merekonstruksi sejarah populasi di Asia Tenggara. Berdasarkan data morfologi (non-metrik), gigi ras penduduk asli Indonesia lebih mirip dengan ras Austromelanesian dibandingkan dengan ras Mongoloid seperti orang Jepang, Indian Amerika dan Eskimo.
Transisi Budaya dari Pemburu-Pemungut ke Pertanian
Kajian ke depan, mungkin temuan rangka-rangka dari sekitar Candi Blandongan Batujaya bisa di pakai untuk melihat transisi perubahan dari budaya dari pemburu-pemungut (hunter-gatherer) ke pertanian. Perubahan cara hidup manusia dari pemburu-pemungut (hunter-gatherer) ke pertanian diperkirakan tidak serta- merta terjadi, tetapi perubahannya terjadi secara bertahap. Transisi dari cara bidup (atau budaya) hunter-gatherer ke pertanian merupakan periode yang penting dalam mengkaji kehidupan manusia prasejarah, antara lain bagaimana kesehatan mereka.
Manusia yang sudah beralih ke budaya pertanian, di asumsikan mereka menggantungkan kehidupannya kepada tanaman pokok yang kaya akan unsur karbohidrat, seperti jagung, gandum, beras, dan umbi-umbian (talas & ubi). Dulu, para peneliti geoarkeolog yang mengkaji masalah kesehatan manusia-manusia prasejarah bergantung kepada bukti-bukti yang tidak langsung (indirect) seperti sisa-sisa perkakas pertanian (alat batu dll.), tetapi sekarang mereka menggunakan bukti langsung (direct) yaitu sisa-sisa makanan yang mereka tinggalkan yang terekam pada gigi.
Sisa-sisa makanan itu dapat berupa calculus dan penyakit gigi seperti dental caries. Calculus (dental plaque) adalah lapisan inorganic (mineral) yang menempel pada gigi yang biasanya (pada orang yang masih hidup) lapisan inorganic tersebut diselimuti oleh lapisan organic (bakteri) yang bisa menyebabkan penyakit pada gigi (antaralain dental caries).
Pada gigi orang yang sudah mati kumpulan mineral ini akan terawetkan berupa suatu lapisan yang keras, dan ini berguna sebagai sumber informasi untuk mengetahui pola makanan dan penyakit gigi yang diderita oleh orang tersebut ketika masih hidup. Dental Caries adalah penyakit pada gigi yang disebabkan oleh bakteri, virus, protozoa dll. Kenampakannya berupa lubang pada enamel atau akar gigi.
*Kawan-kawan bisa membaca artikel-artikel lain tentang Situs Geologi