• Narasi
  • Dari Dendam Kesumat Hingga Terciptanya Lingkaran Setan

Dari Dendam Kesumat Hingga Terciptanya Lingkaran Setan

Satu pelajaran yang pernah saya dapatkan dari buku Animal Farm karya George Orwell ialah: jangan pernah berhenti suuzan pada para pejabat.

Ali Azhar

Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam UIN Bandung. Gemar baca dan beli buku, menulis dan nonton film, serta mendengarkan musik.

Ilustrasi. Kekuasaan cenderung korup jika tidak diawasi. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

25 Februari 2025


BandungBergerak.id – Sebagai anak muda, menyaksikan pemerintahan Indonesia sama saja seperti menyaksikan sebuah bom waktu. Kita tahu kapan saja bisa meledak. Timbul perasaan jengkel dan lelah, tak yakin untuk tinggal di negeri ini untuk beberapa tahun ke depan. Lima tahun sekali pemerintahan berganti, silih berganti pula pejabat pemerintahnya, namun tak ada yang berubah. Tetaplah rakyat yang sengsara, sedangkan pejabat mandi harta sambil menyaksikan mahakarya terbesarnya: membuat rakyat bodoh.

Sudah menjadi makanan sehari-hari melihat pemerintah membuat kebijakan seenaknya. Dibanding bagusnya, lebih banyak aturan yang dibuat untuk menyengsarakan rakyat kecil. Masuk ke lingkungan pemerintahan sama seperti masuk ke kolam lumpur bau, seketika mengubah orang terhormat menjadi orang yang tak punya rasa malu. Bahkan ketika pejabat yang berasal dari rakyat kecil, yang membawa visi misi mulia, seketika berubah menjadi siluman ular berhati dingin.

Entah apa yang terjadi, seorang pejabat idealisme sekalipun akan berubah menjadi pejabat yang sangat oportunisme. Fenomena ini seperti bukan terjadi dengan begitu saja. Kuatnya efek yang diberikan, menandakan adanya pola budaya yang sudah tertancap lama dan dirawat secara bersama. Bahkan terkadang tak disadari hal itu merupakan hal yang buruk.

Baca Juga: Politik Baperan: Personalisasi Politik dan Warisan Feodalisme
Drama “Cherry Blossom” dalam Kelindan Sejarah dan Politik, Sebuah Catatan Perjalanan
Dulu Partai Politik Bertarung Secara Ideologis, Sekarang Menggunakan Segala Macam Cara

Perilaku Buruk Para Pejabat

Para pejabat seharusnya menjadi teladan akan etos kerja, pelayanan, kepedulian serta kejujuran, tetapi kenyataannya sebaliknya. Kekuasaan membuat mereka mabuk. Menghantam siapapun yang menghalanginya, menyikut siapa pun yang menyenggolnya. Memang politik adalah jalan menuju kekuasaan, tapi bukan kekuasaan absolut sehingga berperilaku semaunya. Justru: “dengan kekuatan besar, datang tanggung jawab yang besar” (kutipan dari paman Ben, Spiderman).

Perilaku buruk para pejabat banyak tercermin dalam berbagai hal. Tapi, kita semua sepakat yang terburuk adalah korupsi. Entah siapa yang memulai dan mengajarkan perilaku buruk ini. Perilaku buruk seperti inilah yang menyebabkan kepincangan dalam segala aspek kerja pejabat. Berbarengan dengan korupsi, tak jarang penyalahgunaan kekuasaan juga marak dilalukan oleh para pejabat. Seolah menjadi senjata pemungkas untuk memuluskan tujuan pribadinya.

Hedonisme juga menjadi tren di kalangan pejabat. Pamer kekayaan seakan menjadi validasi atas jabatan yang mereka emban. Hedonisme yang berlebihan, sekaligus disaksikan masyarakat yang semakin tercekik setiap harinya, bisa menyulut amarah rakyat yang bisa berujung pada apa yang pernah dialami oleh Marie Antoniette, di Prancis.

Hukumannya Main-main

Naga, pocong, genderuwo semuanya adalah mitos, begitu pula hukuman mati untuk pejabat di Indonesia. Tak pernah terdengar seorang pelaku korupsi divonis hukuman mati dan beneran dieksekusi. Semua berakhir dengan pengajuan banding dan pengurangan vonis yang tidak masuk akal. Hanya menyisakan senyuman getir rakyat kecil yang menyaksikannya.

Paling menjijikkan ialah pengurangan vonis karena berkelakuan baik. Memang seharusnya kita tidak boleh suuzan pada seseorang. Tapi, kali ini, jelas ada yang dimanjakan dengan segepok uang. Satu pelajaran yang pernah saya dapatkan dari buku Animal Farm karya George Orwell ialah: jangan pernah berhenti suuzan pada para pejabat. Mereka kebanyakan hanya manusia berhati dingin yang bersembunyi dibalik topeng ramah-tamah.  Lagi pula rakyat sudah paham pola yang seperti ini.

Tentu akan ada aliran dana ke sana kemari, karena bila tidak, kena satu maka kena semuanya. Hanya dengan uang seseorang tidak akan takut pada hukuman dan penjara, bahkan tuhan sekalipun.

Kritik Jangkrik di Malam Hari

Rakyat dalam demokrasi berhak mengkritik, tetapi apakah kritik itu benar-benar diperhatikan? Di Indonesia, kritik hanya didengar jika sudah viral. Sebelum itu, seperti suara jangkrik di malam hari–diabaikan. Hanya di saat terang orang akan mencari asal suara jangkrik yang mengganggu itu.

Seperti itulah cara kerja kritik di Indonesia belakangan ini. Pemerintah sering bertindak hanya ketika sudah terpojok oleh opini publik. Mereka baru bereaksi saat warganet bersatu membuat tuntutan menjadi tren di media sosial. Jika tidak, kritik hanya berakhir sebagai angin lalu. Ini membuktikan bahwa suara rakyat hanya didengar saat mengancam citra pejabat.

Dendam Kesumat dan Lingkaran Setan.

Perilaku buruk, hukuman ringan dan sikap anti kritik merupakan rangkaian jejak buruk pemerintah yang  terekam dalam benak rakyat secara sadar atau tidak. Menjadikan memori kuat yang pada akhirnya menciptaan budaya yang sama buruknya.

Rakyat juga melakukan korupsi, namun dalam bentuk yang lebih sederhana. Mungkin kalian pernah mengalami: adanya penagihan iuran untuk Agustusan, namun RAB tidak jelas. Semua dilebihkan agar beberapa orang mendapat bagian lebih, “Itung-itung bayar jasa,” katanya. Penyalahgunaan kekuasaan juga sering terjadi di kalangan rakyat kecil. Begitu pula dengan tindakan buruk lainnya. Rasa ingin pamer juga sering ditunjukkan oleh rakyat kecil ke sesama rakyat kecil.

Saya melihat adanya peran, apa yang saya sebut sebagai, dendam kesumat. Masyarakat yang pernah tertindas oleh perilaku buruk para pejabat akhirnya menanamkan rasa dendam. Balas dendam ini akan terlampiaskan bila ada kesempatannya. Dendam kesumat ini dijadikan landasan pembenaran atas tindakan-tindakan buruk yang dilakukan oleh para pejabat: “toh menteri sebelumnya juga melakukan”, “ah, anggota dewan kemarin juga pake mobil dinas buat jalan-jalan”.

Dari sini muncullah generasi yang sama buruknya. Perpaduan antara pemerintah yang berperilaku buruk dan masyarakat yang abai, akhirnya melahirkan generasi yang mewajarkan kesalahan lewat pembenaran dendam kesumat tadi. Para generasi ini akan membawa dendam mereka ke pangku pemerintahan dan akhirnya terciptalah suatu lingkaran setan dengan siklus di mana generasi baru mengulang kesalahan generasi sebelumnya. Menjadikan ketidakjujuran dan ketidakbertanggungjawaban sebagai norma.

Dari sikap tidak jujur dan tidak bertanggung jawab segalanya akan buruk. Para pendendam ini, saat di pemerintahan, akan berusaha semaksimal mungkin mempertahankan atau menaikkan posisinya. Demi melanggengkan balas dendam yang ia lakukan. Kalau begitu pemerintah hanya akan diisi oleh orang-orang yang tidak kompeten, hanya menguntungkan kelompok tertentu, terjadinya politik balas budi dan lain sebagainya.

Masyarakat hanya akan dibodohi. Dibiarkan terpuruk dalam dendam kesumatnya, menunggu kesempatan balas dendamnya. Dendam kesumat dan lingkaran setan ini tumbuh menjadi parasit di tubuh Indonesia yang semakin hari semakin kompleks bahkan menuju kronis. Membuat Indonesia selalu terpincang-pincang hanya untuk berjalan, terengah-engah hanya untuk bernafas, hanya terdiam saat dunia punya arah jelas setiap harinya.

Kesimpulan

Tidak semua rakyat dan tidak semua pejabat pemerintah adalah pelaku yang sangat patuh akan dendam kesumatnya. Masih banyak orang-orang di laur sana yang mengikuti kata hatinya untuk selalu hidup jujur dan penuh tanggung jawab. Namun, selagi pemerintahan dipegang oleh orang-orang pendendam ini, maka selama itu pula orang-orang yang jujur akan tenggelam dan tergerus.

Kita semua perlu merenung. Saya menulis ini bukan sebagai solusi instan, tetapi sebagai refleksi. Kita butuh sebanyak mungkin individu yang sadar untuk memutus rantai lingkaran setan ini. Kejujuran dan tanggung jawab adalah salah satu jalan keluar yang paling dekat. Jika tidak, kita hanya akan terus mewarisi kemunafikan yang sama, semakin dekat untuk melihat negri ini meledak dan hancur berserakan.

“Hanya dengan kejujuran dan rasa tanggung jawab semua kemunafikan dari rasa dendam yang gelap dan dingin akan hancur berkeping-keping, demi melihat esok hari dengan sinar mentari yang menghangatkan.”

*Kawan-kawan dapat membaca artikel-artikel menarik tentang politik

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//