Jurnalisme dan Gerakan Rakyat, Seharusnya Berjalan Bersama
Kebebasan pers yang saat ini masih kita pegang harus kita rawat dan diperkuat. Bukan malah dilemahkan.

Iqbal T Lazuardi Siregar
Ketua AJI Bandung. Kontributor Tempo di Bandung.
27 Maret 2025
BandungBergerak.id – “A free press can be good or bad, but, most certainly, without freedom, a press will never be anything but bad.” Albert Camus
Mengkritik media yang berpihak pada penguasa itu sebuah keharusan. Menolak framing yang melemahkan gerakan juga itu wajib. Tetapi menyerukan narasi untuk menyerang jurnalis, menghancurkan kamera, dan menggeneralisasi semua pekerja media sebagai musuh? Itu adalah kekeliruan yang bisa merugikan gerakan itu sendiri.
Jurnalisme dan kebebasan pers sejatinya adalah penyangga demokrasi. Ia adalah alat perlawanan untuk mengawasi dan membongkar kelakuan negara yang menyengsarakan rakyat. Meski pada kenyataannya, untuk mendefinisikan kebebasan pers saat ini cukup sulit dan runyam.
Kebebasan pers yang saat ini masih kita pegang harus kita rawat dan diperkuat. Bukan malah dilemahkan. Cukup negara yang menjadi musuh kebebasan pers. Gerakan rakyat seharusnya berada di samping perjuangan teman-teman jurnalis yang memiliki cita-cita yang sama: kehidupan bernegara dan sosial yang lebih baik dan demokratis.
Kasus terbaru yang menimpa Tempo menjadi salah satu contoh bagaimana tekanan terhadap media bisa datang dari banyak arah. Pengiriman kepala babi dan enam ekor bangkai tikus ke kantor redaksi Tempo bukan sekadar aksi teror; itu adalah pesan bahwa ada pihak yang tidak nyaman dengan independensi jurnalisme.
Dan perlu diingat, jurnalis menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terkena represifitas aparat saat demonstrasi berlangsung. Dalam catatan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dari 73 kasus kekerasan terhadap jurnalis dan media sepanjang tahun 2024, sebagian besar dilakukan oleh aparat saat bertugas di aksi demonstrasi.
Baca Juga: Mengawal Implementasi Perpers Publisher Right untuk Upah Layak Jurnalis dan Jurnalisme Berkualitas
Pengeroyokan Jurnalis Kompas dan Teror Bangkai Tikus ke Redaksi Tempo Menambah Suram Kebebasan Pers di Indonesia
Jurnalis Foto Memotret itu Tidak Sebatas Liputan
Siapa Sebenarnya yang Takut dengan Kamera?
Sepanjang gelombang protes penolakan RUU TNI di berbagai daerah di Indonesia, demonstran menghadapi represi brutal dari aparat. Bentrokan pecah, gas air mata ditembakkan, dan tindakan represif aparat negara kembali diperlihatkan. Dalam situasi seperti ini, siapa yang bisa merekam dan membuktikan kebenaran jika bukan jurnalis dan dokumentator independen?
Maka pertanyaannya adalah: siapa yang sebenarnya paling takut pada kamera?
Jawabannya jelas: mereka yang tidak ingin kebenaran terbuka. Aparat yang brutal ingin aksinya tetap dalam bayang-bayang. Penguasa yang otoriter ingin wajahnya tetap terlihat bersih. Dan media yang tunduk pada kepentingan elite ingin narasinya tetap dominan.
Karena itu, alih-alih menghancurkan kamera, yang perlu dihancurkan adalah sistem yang membuat media tunduk pada kepentingan elite. Yang perlu dilawan adalah framing yang memutarbalikkan realitas, bukan lensa yang berusaha merekam realitas.
Jika gerakan rakyat ingin benar-benar berdaulat, mereka tidak bisa melawan sendiri. Mereka membutuhkan media yang berpihak, jurnalis yang berani, dan dokumentasi yang bisa melawan lupa.
Jika tidak, sejarah hanya akan ditulis oleh kombatan media sosial bayaran yang sama-sama kita benci!
*Kawan-kawan dapat membaca artikel-artikel lain tentang Jurnalisme atau tentang Kebebasan Pers