CERITA GURU: Menelusuri Sejarah Keluarga
Secara spesifik, arsip keluarga juga bisa diolah dan dimanfaatkan sebagai bahan penulisan sejarah.

Yogi Esa Sukma Nugraha
Warga biasa yang gemar menulis isu-isu sosial dan sejarah
2 April 2025
BandungBergerak - "Ternyata selama ini saya salah, Pak," kata seorang siswa bernama Shaddam. Pengakuan tersebut dibeberkannya setelah melakukan upaya penelusuran mengenai asal-usul leluhur. Ia kadung meyakini bahwa kakeknya berasal dari Provinsi Bengkulu. Itu merujuk pada keterangan yang tertera di tempat peristirahatan terakhir. Namun nyatanya bukan. Ia keliru.
Setelah sekian lama, tepatnya usai menemukan sejumlah dokumen yang berkaitan dengan asal-usul keluarga, akhirnya terkuak fakta yang sebenarnya: bahwa sang kakek, yang memutuskan merantau karena satu dan lain hal, bukanlah dari Sumatra, melainkan Garut. Kira-kira begitulah.
Di sini kita melihat betapa pentingnya arsip keluarga. Sesuatu yang sekilas tampak sederhana. Namun ternyata menyimpan segudang makna dan punya kegunaan bagi sebagian orang. Secara spesifik, arsip keluarga juga bisa diolah dan dimanfaatkan sebagai bahan penulisan sejarah.
Awal Mula
Pada awalnya sederhana. Beberapa waktu lalu saya terkesima oleh uraian yang terangkum di dalam buku Mutiara Kisah Masa Lalu. Sebuah buku yang ditulis Ibu Mia Bustam, dan diterbitkan Ultimus pada akhir tahun 2024. Ia mengajak kita mengetahui lebih rinci tentang pernik-pernik kehidupan yang terhampar pada masa Hindia Belanda.
Yang mengagumkan, buku ini ditulis oleh seorang yang telah menginjak usia senja. Bahkan perjalanan hidupnya tak biasa, sebab separuh umurnya dinistakan oleh pemerintah Orde Baru. Saya merasa itu merupakan sesuatu yang berharga.
"Pengalaman hidup, apalagi yang penuh emosi, akan memiliki daya tarik alami," kata AS Laksana, seorang penulis ciamik.
Begitu pula pengalaman yang ditulis Ibu Mia Bustam. Memberi sebuah inspirasi untuk mengetahui lebih banyak asal-usul keluarga masing-masing, yang kelak bisa membuat kita menjadi manusia lebih bijaksana dan menghargai apa-apa yang telah berlalu. Karenanya saya punya keinginan membagi hasil refleksi Ibu Mia Bustam pada siswa-siswi di sekolah. Saya memutuskan untuk memberi penugasan "menulis sejarah keluarga" buat kelas XII.
Saya memberi mereka waktu kurang lebih dua bulan untuk memenuhi masa tenggat pengumpulan tugas penulisan. Untuk kesiapan menulis, mereka lebih dulu ditantang mengasah kemampuan kritis dalam membaca literatur sejarah. Saya juga sudah lebih dulu mengajarkan teknik pengutipan.
Apakah sudah menggunakan metode yang tepat? Bagaimana mencari bahan yang diperlukan?
Itulah pertanyaan yang disodorkan, dan nantinya dicari jawabannya. Saat mengerjakan, mereka mencoba mengembangkan penggalian lebih dalam berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada orang terdekat, atau narasumber yang relevan. Mereka mencatat, bertanya, dan masing-masing menyajikan tulisan dengan gaya yang khas.
Mengenal Metode
Banyak sekali hal menarik yang ditemukan selama proses mengerjakan tugas penulisan sejarah. Bisa diduga dan dibayangkan sekilas oleh pembaca sekalian. Ada yang mengobrak-abrik (dalam tanda petik) rak kayu yang menampung tumpukan foto-foto lama leluhur mereka masing-masing, ada yang menukil keranjang kecil yang berisi dokumen atau surat-surat penting, yang mungkin sudah dianggap sebagai sampah.
Sebagaimana disebutkan di awal, ada siswa yang baru tersadar dari kekeliruan yang diyakininya selama ini. Bahkan ada beberapa yang sebelumnya memang sama sekali tidak mengetahui asal-usul leluhurnya.
"Pertama, tuh, mikirnya udah susah karena dari aku pribadi nggak ada keluarga orang tua yang deket," kata siswi Aisha, ketika ditanya tentang bagaimana ia mampu menyelesaikan tugasnya. "Cuma, aku denger-denger cerita dari Bundaku kalau generasi di atas bunda sama kakek tuh punya cerita yang seru."
Seperti anak-anak lainnya, dalam waktu yang telah ditentukan, Aisha menelusuri dan menggali informasi mengenai keluarga. Membuka dokumen yang tersisa dan yang bisa digunakan. Bertanya pada saudara-saudaranya yang masih ada dan yang sekiranya sesuai dengan keperluannya menunaikan tugas sejarah.
Dalam studi berkepala Posisi Arsip dan Sejarah Keluarga dalam Historiografi Indonesia (2020, hlm. 27), Pratika Rizki Dewi dkk. menunjukkan betapa pentingnya sumber lisan untuk menopang, menjaga, dan merawat arsip. Bentuknya bisa apa saja: arsip tertulis, arsip rekaman, atau pun gambar.
Contoh arsip memang beraneka ragam. Ia dapat berbentuk sesuatu hal yang berkaitan dengan identitas diri. Misal KTP, SIM, Kartu Pelajar, Kartu Keluarga, STNK, BPKB, atau juga Kartu Kesehatan. Beruntung jika leluhur punya kebiasaan menulis dalam kehidupan sehari-hari. Ini yang kelak memudahkan pengerjaan.
Selain itu, bentuk arsip bisa juga berupa foto, video, rekaman, lukisan, atau bentuk lainnya yang dapat tertangkap melalui media visual. Umumnya ini dilakukan ketika leluhur doyan mengabadikan momen penting. Perkembangan teknologi membuat kategori arsip pun kian luas.
Kiwari, sejumput catatan yang ada di Facebook, Instagram, Line, WhatsApp, Twitter, dan media sosial lainnya juga mungkin saja dapat dikategorikan arsip. Perkembangan historiografi Indonesia juga menunjukkan bahwa sejarah keluarga kini mulai mendapat perhatian dan tempat yang layak, sebagaimana mestinya.
Baca Juga: CERITA GURU: Ketika Haruki Murakami Membongkar “Neraka” Pendidikan Jepang
CERITA GURU: Mendidik Jiwa
Pentingnya Merawat Arsip
"Saya udah coba tanya kakek, Pak, tapi beliau lupa." Itu adalah salah satu contoh kesulitan yang dialami mayoritas anak-anak ketika mulai mengerjakan tugas sejarah keluarga. Beberapa anak memang belum mengetahui betapa banyak cara yang bisa digunakan untuk memanfaatkan arsip. Padahal, dalam penulisan sejarah, arsip sangat membantu dalam prosesnya.
Ada sejumlah tantangan yang dihadapi dalam upaya pengelolaan arsip. Ia seharusnya menjadi warisan di setiap generasi yang perlu dirawat dan dipelihara agar terhindar dari kerusakan. Namun masih ada yang belum memiliki kesadaran untuk itu.
Faktanya, sebagaimana penjelasan para ahli, arsip keluarga mempunyai peranan sebagai bukti, pelegitimasian yang sah dan terpercaya, serta sumber sejarah. Sebab, tidak ada historiografi tanpa arsip. Begitu pula dalam upaya penulisan sejarah keluarga.
Pratika Rizki Dewi (2020) menjelaskan bahwa sekurang-kurangnya ada dua jenis arsip keluarga: arsip dinamis dan arsip statis. Arsip dinamis ialah arsip yang digunakan dengan frekuensi tinggi, sebagaimana telah disinggung di muka, dapat berupa KTP, KK, Kartu Pelajar, Kartu Kesehatan, SIM, STNK, BPKB, dan Paspor. Sementara arsip statis ialah arsip yang frekuensi penggunaannya tidak tinggi dan bersifat kesejarahan atau memori serta memiliki keterangan permanen. Bisa berupa silsilah keluarga, akta tanah, akta rumah, akta nikah, akta kematian, ijazah, album foto, video, juga rekaman.
Tentu saja arsip tidak bisa digunakan sendiri. Sekilas juga sudah disinggung di atas bahwa ada faktor penunjang lain yang juga diperlukan. Misalnya, sumber lisan dan sumber sekunder yang biasa ditulis pakar. Keduanya memiliki peran sebagai pembanding dan penguat dari arsip. Itulah yang dominan digunakan.
Mayoritas siswa mewawancarai beberapa orang terdekat yang dianggap otoritatif. Selanjutnya, penggunaan arsip-arsip keluarga dan sumber lisan yang mendampinginya membutuhkan verifikasi. Verifikasi atau yang biasa disebut kritik sumber, juga penting. Ia membutuhkan watak skeptis atau rasa ingin tahu yang tinggi.
Saya tidak terlalu membebani mereka dengan persoalan ini. Namun tentu memberikan penjelasan mengenai hal tersebut: kritik internal dan eksternal. Misal, ketika menemukan sebuah dokumen, apakah informasi itu benar? Kebenaran ini kelak bisa dilihat melalui jiwa zaman. Apakah benar, misalnya, informasi yang disampaikan surat keterangan tersebut terjadi pada tahun itu?
Saya lalu memutuskan untuk membantu memberikan beberapa sumber sekunder yang valid. Jika kelak itu benar, salah satu bentuk kritik sudah berhasil dilakukan. Setelah itu, mereka lalu mempraktikkan metode kritik yang lain: eksternal.
Menghargai Keluarga
Keluarga merupakan aspek penting dalam kehidupan masyarakat. Keberadaan dan peran individu di dalamnya direkam oleh arsip. Setiap anggota keluarga memerlukan arsip untuk beragam kepentingan.
Pratika Rizki Dewi dkk. (2020, hlm. 33) mencatat bahwa umumnya arsip diperlukan untuk mengurusi kepentingan rumah tangga. Misalnya, urusan kantor, sekolah, kampus, bank, pajak, asuransi, litigasi, aktivitas sosial, dan lain-lain. Dalam konteks penulisan tugas, betapa banyak kegunaan yang telah dibuktikan.
"Aku jadi tahu lebih banyak sejarah keluarga yang aku gak nyangka bisa kejadian di keluargaku sendiri," kata Aisha.
Alifa, siswi yang lain, membagikan kesaksian berbeda. Ia tautkan sejarah keluarga dengan lintasan sejarah yang lebih besar.
"Menulis esai ini memberiku wawasan baru tentang bagaimana kebijakan Orde Baru membentuk kehidupan di generasi keluargaku," ucapnya.
Beberapa siswa merasa senang bisa menyelami secara utuh dan terperinci cerita keluarga masing-masing. Memahami tantangan yang dihadapi, dan melihat bagaimana ketangguhan, juga cara mereka melakukan adaptasi untuk bisa melewati setiap persoalan. Pengalaman ini membuat mereka semakin menghargai sejarah, dan banyak pelajaran yang bisa diambil darinya.
Syafiq, salah satu siswa yang mampu menulis secara detail dan jitu, mengatakan bahwa penugasan esai sejarah Indonesia melalui perspektif keluarga memberi sejumlah pengalaman dan wawasan baru. Proses ini juga menjadikannya momen untuk bersilaturahmi dengan keluarga. Selama wawancara, banyak pula dari mereka yang mengalami momen mengejutkan ketika menemui fakta yang tidak diketahui selama ini.
Ada satu cerita menarik yang mungkin luput dari bingkai narasi sejarah yang dominan. Salah seorang siswa menuliskan cerita mengenai korban Petrus (Penembak Misterius) yang dieksekusi di kawasan Bandung Utara. Ironis jika mengingat fakta betapa pilunya kenyataan aktual yang terjadi hari ini, ketika perangai represif ala Orde Baru diwartakan kembali eksis.
Itulah kenapa sejarah keluarga, terutama yang mengalami periode Orba, menjadi penting ditulis. Tidak mungkin kesaksian-kesaksian semacam itu dijelaskan secara rinci di buku teks pelajaran. Melihat kebrutalan aparat dalam menanggapi kritik masyarakat progresif belakangan ini juga membuat perjalanan yang telah dilalui keluarga masing-masing menjadi relevan untuk dicatat. Menukil penggalan puisi Wiji Thukul: “Ceritakan kepada siapapun, sebab itu cerita belum tamat”.
*Kawan-kawan dapat membaca tulisan-tulisan lain Yogi Esa Sukma Nugraha atau artikel-artikel lain tentang Pendidikan