• Narasi
  • Tradisi Permainan Lodong di Bulan Ramadan yang Tergerus Zaman

Tradisi Permainan Lodong di Bulan Ramadan yang Tergerus Zaman

Permainan lodong yang biasa meramaikan bulan Ramadan sekarang tinggal kenangan. Hanya sedikit pemuda yang masih mau menjaga kelestarian permainan lodong.

Melvin Levina

Mahasiswa asal Bandung yang tengah berkuliah di Kota Padang

Persiapan tradisi ngadu bedil kawung di Desa Cibitung, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (20/4/2023). (Foto: Muhammad Akmal Firmansyah/BandungBergerak.id)

3 April 2025


BandungBergerak.id – “Bong!” Suara ledakan bergema di pematang sawah dan disusul dengan sorakan anak-anak .

Ledakan tersebut berasal dari lodong. Lodong merupakan permainan tradisional yang sudah jarang ditemui pada masa sekarang. Permainan tersebut berupa meriam bambu yang dimainkan dengan cara menyundut lubang di belakang lodong dengan api. Penggunaan lodong sama seperti penggunaan meriam sebab permainan ini memang terinspirasi oleh meriam yang digunakan oleh bangsa Portugis pada abad ke-16.

Jika meriam menggunakan rangka besi, maka lodong menggunakan rangka bambu sehingga disebut dengan nama lodong awi sebab bentuknya sama dengan lodong sebagai tabung bambu untuk menyimpan air. Cara pembuatannya cukup mudah yaitu mencari kayu bambu yang kokoh. Kayu bambu tersebut dipotong sekitar 1-1,5 meter untuk lodong berukuran sedang. Lodong yang berukuran besar membutuhkan bambu sepanjang 3-5 meter. Ujung kayu bambu dipotong secara diagonal sedangkan pada bagian belakang bambu dibuat satu lubang untuk selanjutnya disundut oleh api. Bambu yang secara sederhana telah dipotong kemudian diisi oleh karbit untuk memicu ledakan.

Ledakan yang dihasilkan lodong tergantung dari material dan besar bambu. Semakin tua kayu bambu yang digunakan dan semakin besar diameter yang digunakan maka semakin nyaring dan keras suara ledakan yang dihasilkan. Kenyaringan tersebut dipengaruhi oleh karbit yang meledak dan merambat ke tubuh bambu. “Bong! Bong! Bong!” Ketika lodong diledakkan, anak-anak secara bersamaan bersorak ramai-ramai. Telinga yang mendengar tidak hanya pekak karena suara lodong, tetapi juga pekak karena suara anak-anak. Ada anak-anak yang merasa takut dekat-dekat dengan lodong dan ada juga anak-anak yang punya nyali dengan berdiri tepat di sebelah lodong. Akan tetapi, hati-hati jika berdekatan dengan lodong sebab jika terkena moncongnya akan merasa panas dan perih akibat penggunaan karbit.

Pembuatan lodong yang membutuhkan tenaga besar biasanya dilakukan oleh orang-orang dewasa. Orang-orang dewasa juga turut mendampingi anak-anak memainkan lodong. Sore hari menjelang pukul 4 pada Bulan Ramadan, baik orang dewasa dan anak-anak sudah bersiap memikul lodong dari pemukiman menuju persawahan. Sawah dipilih karena tidak ada rumah yang berdiri dan ledakan lodong di sawah akan menghasilkan gaung yang besar. Sedangkan di sawah, anak-anak sudah ramai menunggu lodong tersebut. Sawah tidak hanya digunakan untuk menyalakan lodong, ada juga anak-anak yang bermain layang-layang dan sepak bola.

Baca Juga: Merawat Tradisi Ngadulag, Mengokohkan Harmoni Islam dan Kearifan Lokal
Merawat Tradisi Adu Domba
Jejak Luhur Batik Indonesia, dari Tradisi Hingga Warisan Budaya Bandung

Kenangan Masa Ramadan

Akbar, salah satu penduduk yang tinggal di Batujajar masih mengingat kenangan pada masa Ramadan tersebut. Permainan lodong mencapai puncak pada tahun 1980-an hingga 1990-an. Lodong banyak dimainkan oleh pemuda-pemuda yang tinggal di pinggiran Bandung Raya seperti daerah Cililin, Batujajar, dan Padalarang. Daerah-daerah tersebut memiliki pematang sawah yang luas untuk leluasa bermain lodong. Akbar dan teman-temannya merupakan bagian dari orang-orang yang memainkan lodong sambil ngabuburit. Menurutnya, lodong merupakan permainan yang murah untuk hiburan. Pohon bambu dapat ditemui di sekitar rumah yang memang dilingkupi oleh kebun bambu sedangkan karbit biasanya pemuda-pemuda tersebut meminta ke bengkel-bengkel truk besar.

Meskipun lodong diminati oleh pemuda dan anak-anak, terlebih anak laki-laki. Lodong malah tidak disukai oleh orang-orang tua. Anak-anak yang memainkan lodong malah di cap sebagai anak nakal atau anak bandel. Ledakan lodong yang nyaring membuat telinga para orang tua berdenging. Terkadang, ada satu atau dua orang tua yang datang untuk marah-marah atau bahkan merebut lodong tersebut.

Eneh Tati, orang tua yang rumahnya berada di dekat sawah merupakan salah satu orang tua yang sering menegur pemuda dan anak-anak tersebut. “Garandeng!” (Dalam Bahasa Indonesia: “Berisik!”) teriaknya sambil melempar batu kepada gerombolan pemuda tersebut. Setelahnya, bukannya bubar, mereka malah tertawa-tawa melihat orang tua tersebut marah. Tidak punya adab, kata Eneh Tati. Eneh Tati bukannya tidak senang dengan anak-anak yang bermain di sawah. Hanya saja, ia yang telah tua sering merasa terkejut hingga dadanya terasa nyeri.

Ledakan-ledakan dari lodong baru berhenti menjelang Magrib pada pukul 6 sore seiring dengan suara salawat yang mulai mengalun dari surau dan masjid. Anak-anak kecil sudah mulai dijemput oleh orang tuanya sedangkan yang pemuda terkadang menunggu azan magrib berkumandang baru kembali ke rumah. Mereka menghabiskan waktu sambil berbincang. Sebenarnya, kemeriahan bermain lodong tidak hanya perihal ledakan yang membuat telinga pekak, tetapi juga perbincangan yang terjalin antara pemuda. Jika mereka telah kembali ke rumah, sawah kembali menjadi sepi. Keramaian berpindah ke masjid menjelang ibadah tarawih. Meskipun begitu, masih ada beberapa anak yang ingin memainkan lodong kembali sambil tarawih. Akan tetapi, lebih sering dilarang oleh penduduk sekitar dengan alasan mengganggu jalannya ibadah.

Eksistensi permainan lodong mulai merosot menjelang tahun 2010 karena kegiatan ngabuburit anak-anak beralih dari ladang sawah ke warnet atau warung internet. Maraknya warung internet pada tahun tersebut memang menyerap kegiatan anak-anak ke layar dunia maya. Permainan-permainan online seperti Point Blank, Ayo Dance, dan Dragon Nest yang pada masa tersebut ramai lebih diminati dibandingkan dengan permainan tradisional. Perbincangan antarpemuda turut berubah topiknya. Jika ada satu orang yang tidak ikut memainkan permainan online maka tak jarang akan diolok-olok oleh temannya serta dianggap kuper.

Permainan-permainan tradisional, termasuk permainan lodong mulai ditinggalkan. Permainan lodong sekarang tinggal kenangannya. Hanya sedikit pemuda yang masih mau menjaga kelestarian permainan lodong. Permainan lodong pada masa sekarang hanya ditemui di berbagai kesempatan khusus berupa pawai perayaan 17-an. Lodong biasanya digendong oleh orang-orang berpakaian pahlawan dan dibunyikan selama pawai berlangsung.

*Kawan-kawan dapat membaca artikel-artikel menarik lain tentang tradisi dan Ramadan

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//