• Opini
  • MAHASISWA BERSUARA: Mengapa Diskusi di Warung Kopi Lebih Kritis Dibanding Diskusi dalam Seminar-seminar Kampus?

MAHASISWA BERSUARA: Mengapa Diskusi di Warung Kopi Lebih Kritis Dibanding Diskusi dalam Seminar-seminar Kampus?

Jika melihat sejarah, Revolusi Prancis juga dimulai dari obrolan-obrolan warung kopi. Dampak dari diskusi di warung kopi itu bisa meningkatkan kesadaran politik.

Khanan Saputra

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Diskusi Sebelum Sabtu Sore, Jumat, 14 Februari 2025 di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, membahas permasalahan kejomloan. (Foto: Fitri Amanda/BandungBergerak

5 April 2025


BandungBergerak.id – Diskusi adalah salah satu aktivitas yang bisa memperdalam pemahaman dan memperluas pengetahuan. Diskusi sendiri bisa dilihat dari unsurnya yang saling menukarkan pengetahuan, di mana seseorang menukarkan pikirannya dengan orang lain. Dari diskusi, seseorang dapat bertambah pengetahuannya akibat pertukaran pengetahuan tersebut.

Sepanjang saya menjalani kehidupan di dunia kampus, saya juga selalu bergelut dengan aktivitas diskusi. Diskusi ini baik melalui warung-warung kopi bersama teman ataupun di seminar-seminar yang diadakan kampus. Dari seringnya diskusi yang saya jalani, saya menjadi berpikir adanya perbedaan diskusi di warung-warung kopi dengan diskusi di seminar-seminar yang diadakan oleh kampus. Perbedaan itu mulai dari metodenya, proses pertukaran pengetahuannya, hingga bagaimana diskusi itu bisa menjajaki pengetahuan yang lebih mendalam.

Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Tugas Pemimpin itu Menyelesaikan Masalah Struktural, Bukan Sekadar Pencitraan Seremonial!
MAHASISWA BERSUARA: Mengapa Negara harus Belajar dari Masyarakat Adat?
MAHASISWA BERSUARA: Indonesia dalam Bayang-bayang Ekspansi Kapitalis

Diskusi Seminar Kampus dengan Diskusi Warung Kopi

Sudah 4 tahun saya hidup di kampus, karena menjadi mahasiswa. Kehidupan di menara gading ini bagi banyak orang mungkin terlihat dengan kegiatan yang bergelut dengan aktivitas berpikir yang dalam. Terlebih, kampus-kampus juga sering mengadakan seminar-seminar. Tema seminar yang diangkat selalu terasa keren sebab penggunaan diksinya yang diksi tersebut jarang digunakan oleh masyarakat pada umumnya. Bagi orang yang tidak hidup di kampus, melihat tema seminar saja mungkin bisa berpikir “wah berat banget ini bahasannya”. Tapi, di balik tema yang terlihat keren itu, di dalamnya menurut saya sangat biasa saja.

Tak jarang, saya juga turut menghadiri seminar-seminar tersebut, entah itu karena kewajiban untuk datang sebagai mahasiswa yang terkadang untuk memenuhi prasyarat mata kuliah, ataupun dengan sukarela untuk datang. Dalam proses diskusi yang berjalan, memang diskusi di seminar-seminar kampus beberapa kali yang saya ikuti seperti terdengar pembaharuan-pembaharuan pengetahuan. Tapi, bagi saya sendiri, pembaharuan tersebut kurang terlalu dalam untuk menembus palung pengetahuan.

Saya akan katakan diskusi tersebut kurang terlalu dalam karena bagi saya mungkin ada dua hal. Yang pertama ialah ketakutan para akademisi untuk mengatakan secara mendalam. Saya berkeyakinan, banyak sebenarnya akademisi yang tahu akan kondisi realitas sosial, tapi untuk bersuara pada saat seminar? Mungkin akan berpikir dua kali. Ketakutan ini muncul seperti akan ditakutkan apa yang dikatakan bisa menimbulkan kontroversial publik, lebih ekstrem lagi apa yang dikatakan bisa membahayakan posisinya. Misalnya ketika akademisi akan mengkritik pemerintah di dalam seminar, maka akan berpikir dua kali kritik tersebut akan berdampak bagi posisinya atau tidak, paling mentok melontarkan kritik yang sebatas di dasar saja, tak terlalu dalam kritiknya. Yang kedua, akademisi-akademisi ini memang tak terlalu peduli dengan realitas sosial. Yang penting dirinya bisa berbicara keren di seminar, tanpa pengetahuannya itu bisa memapaki realitas sosial. Hal yang kedua ini biasanya jika saya lihat-lihat memang teruntuk akademisi yang mengejar branding intelektualnya, yang ingin diakui sebagai intelektual sejati dengan balutan pembicara yang ndakik-ndakik. Dengan begitu, apa yang diharapkan dari diskusi di seminar-seminar kampus? Ingin melontarkan gagasanmu yang radikal? Mungkin sehabis itu kau akan dibuntuti intel.

Terus bagaimana dengan diskusi di warung kopi? Bersama teman-teman, baik itu yang pelajar bahkan pengangguran, saya sering kali berdiskusi. Diskusi ini sangat berbeda dari seminar-seminar kampus. Di warung kopi, saya bisa berdiskusi dengan lebih santai, tak terlalu formal dan terikat aturan seperti di seminar-seminar kampus. Kegiatan yang non formal ini akan lebih memberikan keluwesan bagi siapa pun untuk berbicara, terlebih diskusi di warung kopi tak terikat pendeknya waktu, berbeda dengan seminar yang diburu-buru waktu. Sejauh pengalaman saya, diskusi di warung kopi lebih banyak memberikan pengetahuan yang lebih mendalam dibanding dengan diskusi di seminar-seminar kampus. Pertukaran pengetahuan dan penyampaian gagasannya lebih tajam, tak takut untuk bicara yang bahkan radikal. Diskusi yang radikal ini sebenarnya lebih memberikan pengetahuan yang lebih tajam, lebih memapaki realitas sosial. Tak tanggung-tanggung, saya yakin diskusi di warung kopi mana pun juga terkadang sampai di pembahasan bagaimana menggulingkan sebuah rezim! Ini sungguh luar biasa, apa yang terjadi benar-benar pertukaran pengetahuan yang tajam. Sifatnya yang non formal tersebut, membuat diskusi di warung kopi lebih dalam bahasanya, bahkan tak takut untuk membicarakan sebuah kasus secara gamblang. Kalau di seminar-seminar kampus? Mungkin sedikit kemungkinan akan membicarakan sebuah kasus jika kasus tersebut belum meledak. Sedangkan di warung kopi, kasus belum meledak saja sudah dibincangkan untuk diterka-terka. Pembicaraan yang mengarah lebih dalam di warung kopi bisa terjadi sebab satu sama lain merasa memiliki ruang aman untuk berpendapat, tanpa diintai oleh intel. Beda dengan mengutarakan pendapat di seminar-seminar kampus yang takut mendapatkan intervensi dari pihak yang lain.

Diskusi di Warung Kopi hanya Ngalor Ngidul tanpa Arah?

Mungkin masih banyak yang beranggapan jika diskusi di Warung Kopi hanya diskusi atau debat kusir saja, dan berhenti ketika kopi sudah diseruput habis tak tersisa. Tapi sebenarnya hal tersebut tak terlalu benar. Jika melihat sejarah, Revolusi Prancis juga dimulai dari obrolan-obrolan warung kopi. Di situ kita bisa melihat, dampak dari diskusi di warung kopi itu bisa meningkatkan kesadaran politik. Akan sangat bahaya, jika kesadaran politik seseorang naik dibersamai dengan teori yang mumpuni, konsekuensinya pasti akan menuju ke praktik-praktik revolusioner.

Sedangkan, diskusi di seminar-seminar kampus, bagi saya kurang terlalu efektif untuk meningkatkan kesadaran politik seseorang. Sifatnya yang formal dan kaku tak jarang juga membuat audiens tak terlalu mendengarkan materi yang dibawa, jika audiens mendengarkan dan bertanya, itu saja hanya sebatas dijawab oleh pemateri setelah itu mandek, tak terlihat interaksi antara audiens dengan pemateri. Terlebih, materi-materi yang disampaikan di seminar-seminar kampus sudah tentu kurang revolusioner, mengarah ke hal-hal yang aman, kurang berani untuk berpendapat secara gamblang, sehingga diskusi yang ada di seminar-seminar kampus hanya sebatas berhenti di kegiatan keren-kerenan.

Dengan demikian, apa artinya diskusi jika tak bisa menyentuh realitas sosial? Orang kelaparan di desa-desa tak mungkin bisa kenyang dengan mendengarkan ceramah-ceramah seminar. Orang-orang kelaparan lebih membutuhkan praktik revolusioner yang konkret. Dan praktik revolusioner yang konkret timbul dari konsekuensi meningkatnya kesadaran politik seseorang, bukan dari branding keren-kerenan dengan berbicara yang ndakik-ndakik.

*Kawan-kawan dapat membaca artikel-artikel menarik lain Mahasiswa Bersuara

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//