• Kolom
  • CATATAN DARI MEDIA CETAK LAWAS #9: Harian Abadi, Dua Kali Dibredel di Era Orde Lama dan Orde Baru

CATATAN DARI MEDIA CETAK LAWAS #9: Harian Abadi, Dua Kali Dibredel di Era Orde Lama dan Orde Baru

Kisah Harian Abadi adalah potret tentang betapa mahalnya harga kebebasan pers di Indonesia. Dua kali terbit dan dua kali diberangus

Kin Sanubary

Kolektor Koran dan Media Lawas

Wajah Harian Abadi surat kabar yang turut mengkritisi Orde Lama dan Orde Baru. (Foto: Dokumentasi Kin Sanubary)

30 Agustus 2025


BandungBergerak.id – Di balik dinamika politik Indonesia pada pertengahan abad ke-20, pers tidak sekadar menjadi penyampai berita, melainkan juga arena perjuangan gagasan. Salah satu yang menorehkan jejak penting adalah Harian Abadi, surat kabar yang lahir dari rahim Partai Masyumi. Dengan idealisme yang kerap berseberangan dengan kekuasaan, riwayat Abadi memperlihatkan bagaimana pers bisa menjadi suara perlawanan dan karenanya dua kali dibungkam, baik di masa Orde Lama maupun Orde Baru.

Harian Abadi adalah surat kabar harian yang pernah terbit di Jakarta dan dikenal luas pada masanya sebagai corong Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Dengan moto “Untuk Bangsa, Untuk Negara, Untuk Agama”, media ini konsisten menyuarakan pandangan Masyumi terkait kehidupan kemasyarakatan dan kenegaraan.

Cikal bakal Harian Abadi muncul pada 1947, dua tahun setelah berdirinya Masyumi. Terbit perdana pada 2 Januari 1950, surat kabar ini dipimpin oleh Suardi Tasrif, wartawan dan sastrawan yang juga dikenal sebagai praktisi hukum dan salah satu perumus Kode Etik Jurnalistik tahun 1954.

Kantor redaksi awalnya beralamat di Jalan Blora No. 36-37, lalu pindah ke Jalan Kramat Raya No. 45 Jakarta. Penerbitan dilakukan oleh PT Kramat Empat Lima. Oplah awalnya mencapai 34 ribu eksemplar per hari, tersebar secara nasional melalui agen di berbagai kota, termasuk Jakarta, Solo, Padang, Yogyakarta, Brebes, dan Bali.

Pada 1950-an, Harian Abadi masuk daftar 10 besar surat kabar nasional dengan tiras 20 ribu eksemplar per hari.

Rubrikasinya beragam: Tajuk Rencana, Berita Olahraga, Surat Pembaca, Sejarah, Filsafat, Sastra, Seni, hingga iklan komersial.

Rubrik sastra dipimpin Bahrum Rangkuti, M. Saribi, dan Susanto Dwijodjuwono menjadi wadah bagi karya para pengarang terkemuka. Nilai-nilai Islam menjadi ciri khas muatannya, dengan pembaca utama dari kalangan intelektual Muslim.

Berikut karya-karya yang pernah dimuat Harian Abadi.

Puisi: Sendja (Mansur Amin), Sinar Mangkasara (Bahrum Rangkuti), Menempuh Padang Kenangan (M. Saribi), Rahmat (L. K. Arya), Berdjalan di Atas Bumi, Lautan (Slamet Rahardjo).

Cerpen: Dia yang Kehilangan (Hamzah Zainuddin), Kisah Waktu Liburan (T. HLY. Affandi), Di Suatu Pagi (Zubaidi A. L.), Dua Orang Laki-Laki (Djoko Soebagio).

Cerita bersambung: termasuk terjemahan karya Rudolf Hess oleh Ali Audah.

Adapun kontributor Harian Abadi antara lain Tuty Alawiyah A. S., Taufiq Ismail, Kuslan Budiman, L. K. Ara, Isman Chudori, dan Faisal Ismail.

Box Redaksi Harian Abadi yang terbit dari Jalan Kramat Raya No 45 Jakarta. (Foto: Dokumentasi Kin Sanubary)
Box Redaksi Harian Abadi yang terbit dari Jalan Kramat Raya No 45 Jakarta. (Foto: Dokumentasi Kin Sanubary)

Baca Juga: CATATAN DARI MEDIA CETAK LAWAS #6: El Bahar, Perlawanan Sunyi terhadap Orde Baru
CATATAN DARI MEDIA CETAK LAWAS #7: Harian KAMI, Suara Mahasiswa yang Mengguncang Orde Lama dan Orde Baru
CATATAN DARI MEDIA CETAK LAWAS #8: Harian Empat Lima, Jejak Nasionalisme di Era Orde Baru

Dibredel di Era Soekarno, Terbit lagi di Era Soherto

Harian Abadi pertama kali dibredel pada 13-14 September 1957 karena memuat berita di luar sumber resmi Musyawarah Nasional. Surat kabar ini juga berani mengangkat isu sensitif, seperti: Poligami Presiden Soekarno dengan Hartini, Prostitusi terselubung di Konferensi Asia Afrika (1955), serta Korupsi dan kolusi di birokrasi dan militer (1956).

Larangan kedua terjadi pada September 1960. Meski izin terbit sempat diberikan kembali, pemimpin redaksi H. Sidi Mohammad Syaaf menolak menandatangani syarat negara untuk memperoleh Surat Izin Terbit (SIT). Dalam tajuk rencana bertajuk Pamitan (31 Oktober 1960), redaksi menegaskan mundur karena kebebasan berpendapat di Indonesia “sudah tidak ada lagi.”

Setelah kejatuhan Soekarno, Harian Abadi kembali hadir pada 7 Desember 1968 di bawah pimpinan umum Boerhanoeddin Harahap dengan Soemarso Soemarsono sebagai penanggung jawab. Isu pembangunan menjadi andalan pemberitaan, namun kritik tetap terselip di antara pujian terhadap program Orde Baru. Mulai 2 Agustus 1970, edisi Minggu resmi terbit.

Kiprah kedua ini berakhir pada Januari 1974, ketika Harian Abadi meliput peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari). Pemerintah mencabut izinnya pada 21 dan 23 Januari 1974.

Harian Abadi, Edisi 6 Januari 1970 menampilkan sejumlah isu penting yang tengah menyita perhatian publik Indonesia pada awal tahun itu. Dalam halaman-halamannya, pembaca disuguhi berita tentang Tragedi Kebun Raya Bogor, sebuah peristiwa memilukan yang meninggalkan duka mendalam.

Selain itu, koran ini juga menyoroti kebijakan pemerintah menaikkan gaji pegawai negeri dan anggota ABRI sebesar 50 persen, sebuah langkah yang memicu beragam tanggapan di tengah kondisi ekonomi yang masih rapuh pasca krisis 1960-an.

Di bidang politik, Undang-Undang Pemilu yang baru disahkan menjadi sorotan, karena diharapkan dapat menjadi landasan bagi pelaksanaan demokrasi yang lebih teratur di masa Orde Baru.

Tak kalah menarik, edisi ini juga mengulas soal perayaan Hari Raya Idul Adha, dengan ajakan agar umat Islam dapat merayakannya secara serentak untuk menghindari perbedaan penetapan hari besar keagamaan.

Kumpulan berita ini menggambarkan betapa awal dekade 1970-an merupakan masa penuh dinamika, ketika Indonesia berusaha menata diri antara harapan, tragedi, dan perubahan besar dalam kehidupan sosial-politik.

Penulis memegang Harian Abadi terbitan 55 tahun silam. (Foto: Dokumentasi Kin Sanubary)
Penulis memegang Harian Abadi terbitan 55 tahun silam. (Foto: Dokumentasi Kin Sanubary)

Harian Abadi memperlihatkan wajah Indonesia di awal 1970-an, masa transisi Orde Baru yang masih mencari pijakan stabilitas politik dan ekonomi. Prinsip anggaran berimbang menjadi mantra pembangunan Soeharto untuk mengendalikan inflasi, sementara perhatian terhadap kesejahteraan pegawai negeri mencerminkan upaya memperbaiki kondisi sosial pasca masa penuh gejolak.

Kisah Harian Abadi adalah potret tentang betapa mahalnya harga kebebasan pers di Indonesia. Dua kali terbit dan dua kali diberangus, koran ini tetap dikenang bukan hanya sebagai corong politik, melainkan juga ruang bagi sastra, kritik sosial, dan keberanian intelektual. Dari arsip-arsip yang tersisa, kita belajar bahwa suara pers yang jujur mungkin bisa dipatahkan oleh rezim, tetapi jejak keberaniannya tak pernah benar-benar hilang dari ingatan bangsa.

 

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//