• Cerita
  • Memotret Harapan yang Digariskan Takdir Pagebluk

Memotret Harapan yang Digariskan Takdir Pagebluk

Harapan-harapan orang dari beragam latar belakang kehidupan itu terangkum dalam pameran foto Simpul Karsa bertajuk Amor Fati garapan Mahasiswa Ilmu Komunikasi UPI.

Pameran foto Simpul Karsa bertajuk Amor Fati garapan Mahasiswa Ilmu Komunikasi UPI, Bandung, Selasa (21/6/2022). Pameran ini memotret kehidupan orang dari berbagai latar belakang yang terdampak pagebluk. (Foto: Emi La Palau/BandungBergerak.id)

Penulis Emi La Palau23 Juni 2022


BandungBergerak.idPandemi menjadi satu krisis yang menghantam segala lini kehidupan masyarakat di berbagai sektor kehidupan. Dari aspek ekonomi, aspek sosial, semua harus terus berjalan. Dalam kondisi serba tak baik, kehidupan mesti terus bejalan, harapan mesti terus dikepal. Tak bisa lari, selain menjalani dan mencintai takdir pagebluk yang telah digariskan.

Harapan-harapan akan kehidupan dan semangat itu tertuang dalam pameran foto jurnalistik dengan tema Amor Fati. Sebanyak 95 karya foto, dan satu karya seni daur ulang dari sampah plastik terpajang. Tak hanya itu, karya lainnya ada photobook jurnalistik dan pemuratan film pendek. Semua terangkum dalam acara pameran Simpul Karsa Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Pendidkan Indonesia (UPI).

Dini Putri, mahasiswi jurnalistik angkatan 2021 sekaligus ketua pelaksana pameran, mengungkapkan bahwa lewat karya yang ditampilkan, pihaknya ingin memberikan satu harapan dan semangat untuk mencintai takdir. Dengan memetik nilai dari beragam potret masyarakat dari berbagai perspektif kehidupan.

“Karena kita ini sedang masa peralihan krisis pandemi, banyak orang-orang ada yang dia naik, ada yang dia turun. Gimana si orang ini menampakan bahwa dia mencintai takdir dia walaupun mungkin menyaktikan buat dirinya,” ungkapnya kepada BandungBergerak.id, di lokasi, Selasa (21/6/2022). 

Dini menjelaskan bahwa tema secara foto jurnalistik yang diangkat yakni Amor Fati, yang berarti mencintai kehidupan. Foto-foto yang ditampilkan memotret beragam sendi dan aspek masyarakat, dari anak-anak hingga dewasa. Serangkaian takdir yang disatupadukan dari berbagai perspekti. Harapannya dapat memberi inspirasi kepada para pengungjung tentang satu harapan dan rasa syukur.

Simpul karsa sendiri berarti kehendak yang saling bertaut. Memaknainya sebagai sebuah kehendak antara kehidupan dan kematian, menjadi satu kehendak yang saling bertaut dan mengikat pada manusia.

“Kita mengikut sirklus ada kehidupan ada kematian. Dan di antara kehidupan dan kematian, ada sesuatu, cerita dari masa ke masa. Harapnya tuh mereka bisa lebih bersyukur dan mencintai takdirnya sendiri,” ungkap Wilda Riva, mahasiswi komunikasi angkatan 2021.

Rankaian acara pameran Simpul Karsa ini diselenggarakan di Museum Pendidikan Nasional UPI. Karya yang dipamerkan sebanyak 95 karya jurnalistik dari mahasiswa Jurusan Jurnalistik 2021, Photobook Jurnalistik dari mahasiswa Jurnalistik 2019 dan pemutaran film dalam rangkaian Dies Natalis Ilmu Komunikasi UPI. Pameran diselenggarakan pada 20 hingga 22 Juni 2022.

Baca Juga: Haul Inggit Garnasih, Mengenang Ibu, Teman dan Kekasih
Ketika Bobotoh Menggugat Pengelolaan Klub Kesayangan Mereka
Seni Reak dari Cinunuk akan Pentas di Roskilde Festival, Denmark

Pameran foto Simpul Karsa bertajuk Amor Fati garapan Mahasiswa Ilmu Komunikasi UPI, Bandung, Selasa (21/6/2022). Pameran ini memotret kehidupan orang dari berbagai latar belakang yang terdampak pagebluk. (Foto: Emi La Palau/BandungBergerak.id)
Pameran foto Simpul Karsa bertajuk Amor Fati garapan Mahasiswa Ilmu Komunikasi UPI, Bandung, Selasa (21/6/2022). Pameran ini memotret kehidupan orang dari berbagai latar belakang yang terdampak pagebluk. (Foto: Emi La Palau/BandungBergerak.id)

Keragaman dalam Photobook Philocalist

Selain itu, dalam pameran Photobook Jurnalistik, dipamerkan 5 karya foto jurnalistik dengan beragam tema dirangkum menjadi satu buku karya dengan judul Philocalist. Finan Azka, mahasiswi Jurusan Jurnalistik 2019 ini menjelaskan bahwa Philocalist berarti menghargai keragaman kehidupan manusia.

Terdapat 5 tema berbeda, diawali dengan potret kehidupan para badut-badut di Kota Bandung yang terangkum dalam 18 foto jurnalistik dengan judul Farna Maneka. Dalam karyanya ini, Finan Azka memotret bagaimana kehidupan masyarakat baik perempuan, anak-anak dan pekerja lainnya yang menggantungkan harapan untuk mendapat sepeser rupiah. Untuk bertahan hidup.

Hal menarik ditemukan Finan, ketika memotret para badut. Awalnya ia menemukan kebanyakan pekerja badut adalah laki-laki. Namun, ketika menyelami sudut Kota Bandung lebih jauh, ia menjumpai ada perempuan yang bahkan sambil menggendong anak bekerja mencari uang menggunakan kostum badut.

Ia juga menemukan anak-anak putus sekolah yang terpaksa harus menyambung hidup dengan bekerja sebagai pekerja kostum badut. Lalu, ada anak-anak yang terpaksa harus ikut turun di jalan untuk membantu keluarga, sedikitnya untuk mengganjal isi dapur.

“Ternyata ada anak kecil, ada ibu-ibu yang juga bawa anak, juga ada teteh-teteh. Sebenarnya sebagian dari mereka punya pekerjaan lain, ada juga mereka masih seorang siswa gitu, tapi mereka tergerak sendiri untuk membentuk perekonomian keluarga, karena ada keterbatasan di rumah, entah ayahnya lagi sakit atau ibunya yang harus bekerja sendirian mereka gak tega,” ungkapnya.

Selain karyanya, ada empat karya lain yang terangkum, seperti Sisi Terang Saritem. Sebagai satu lokasi prostitusi terbesar di Kota Bandung, masih ada secercah kebaikan di sana. Di gang sempit Saritem terdapat satu pesantren yang di dalamnya banyak anak-anak dari lokasi prostitusi yang menjalani pendidikan agama.

Ada pula Meraih Cita dengan Kegelapan, tentang potret kehidupan seorang difabel yang benama Jidan. Fotografernya berusaha memotret semangat dan usaha Jidan untuk menjadi guru bagi siswa berkebutuhan khusus.

Karya berikutnya, Rimbun Amal Kakek Sariban. Potret seorang kakek yang mendidkasikan diri mengabdi pada lingkungan. Memotret bagaimana Kakek Sariban warga Cikutra, melakukan aktivitasnya, menjaga kebersihan lingkungan, dan juga mengajak masyarakat untuk peduli dengan lingkungan.

Terkahir, ada foto Para Penduduk Senja. Potret tentang para lansia di Kota Bandung yang masih produktif, tetap bekerja meski telah memasuki usia senja. Meski pekerjaan kasar sekalipun.

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS