• Budaya
  • Festival Monolog se-Jawa Barat: Ketika Seniman harus Akrab dengan Youtube

Festival Monolog se-Jawa Barat: Ketika Seniman harus Akrab dengan Youtube

Ia melantunkan tentang adat dan sopan santun yang rumit, kemerdekaan manusia, persamaan derajat, dan sikap-sikap feodal yang mencengkeram perempuan.

Aktor peserta Festival Monolog ke -2 se-Jawa Barat yang digelar DKKC dan Masyarakat Teater Cimahi (Masteci), 10 – 30 Juni 2021. (Dok DKKC)

Penulis Iman Herdiana19 Juni 2021


BandungBergerak.idDi atas panggung berpenerangan redup, pagar bambu, dan layar yang menampilkan gambar bola mata, Nadya berdiri mematung. Ketika musik mengalun, barulah ia berbicara soal nasib perempuan masa kini. Ia menjelma sebagai Kartini.

“Mereka merayakan hari kelahirkanku tapi mengecilkan arti perjuanganku,” katanya, dengan nada monoton yang diiringi musik akustik.

Nadya mengenakan kebaya warna gelap dan kain batik putih bermotif garis-garis hitam. Sanggulnya terlihat kebesaran dibandingkan tubuhnya yang kecil, mengingat ia masih pelajar. Ia terus bermonolog secara musikal, membawakan naskah Emansipasi karya M.J.Widjaya, yang tayang di Youtube Dewan Kubudayaan Kota Cimahi (DKKC), seperti diakses BandungBergerak, Sabtu (19/6/2021).

Monolog musikal yang ia perankan tak selalu memakai nada monoton. Kadang tinggi, rendah, dan pada satu adegan terdengar seperti kawih.  Ia berbicara, atau melantunkan, tentang adat dan sopan santun yang rumit, kemerdekaan manusia, persamaan derajat, dan sikap-sikap feodal yang mencengkeram perempuan di masa lalu.

Namun kini, ia pun melihat kenyataan bahwa derajat manusia harus diukur dengan uang. “Siapa yang banyak uang berhak mengatur keadilan,” tukasnya. Di era modern, bahkan ada yang menyebut post-modern, menurutnya muncul keningratan-keningratan baru yang barangkali sudah terpikirkan juga oleh Kartini. Bahwa di zaman digital yang bebas ini terjadi perbedaan mencolok antara si kaya dan si miskin.

Dengan nada getir, Nadya menyampaikan bahwa hari ini orang kaya semakin kaya, orang miskin semakin miskin. Ironisnya, di tengah kesenjangan itu, sebagian orang—mungkin kebanyakan—memuja harta.

Nadya merupakan seorang dari sekian peserta Festival Monolog ke-2 se-Jawa Barat yang mengirimkan video monolognya kepada tim kurator. Festival monolog yang digelar DKKC bersama Masyarakat Teater Cimahi (Masteci) itu, diikuti pelajar, mahasiswa dan umum.

Festival berlangsung 10 – 30 Juni 2021 melalui tayangan Youtube DKKC. Hasilnya, ada 3 peserta yang masuk final. Mereka dari Kota Bogor, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Bandung.

Panggung virtual menjadi pengganti festival langsung yang tak mungkin digelar di saat kasus Covid-19 sedang tinggi-tingginya. Agar tetap berkarya di tengah pagebluk, mau tidak mau para seniman harus akrab dengan media baru, salah satunya Youtube.

Penguasaan perangkat media baru itu ditekankan Yoyo C. Durahman, ketua dewan kurator/juri Festival Monolog ke-2 DKKC yang juga dosen di ISBI Bandung. Menurut Yoyo, di era festival virtual, setiap aktor selain harus menguasai perangkat keaktoran seperti mengolah tubuh, mengolah imajinasi, mengolah emosi, dan memiliki pengetahun menganalisa tokoh atau naskah yang dimainkan, juga mesti memahami perangkat audio dan video.

Sebab, pertunjukan teater langsung berbeda dengan pertunjukan melalui media daring seperti Youtube. Yoyo mengatakan, pandemi Covid-19 mendorong para seniman untuk bisa beradaptasi pada media baru, seperti internet dan media sosial.

Media baru tersebut sebagai media alternatif dalam berkarya di saat pertunjukan seni langsung sangat dibatasi pagebluk. Maka ketika para aktor mengunakan perangkat video sebagai perekam seperti pertunjukan monolog mesti memperhatikan pencahayaan, audio, dan sudut pandang kamera.

“Sebagai contoh, pencahayaan berlebihan menyebabkan ekspresi tubuh aktor di video tidak kelihatan jelas, begitu pula jika jarak objek terlampau jauh. Artinya, aktor monolog dan tim videografi harus memahami kelebihan dan kekurangan perangkat yang digunakan, sehingga dapat memaksimalkan ekspresi tubuh dan dapat dilihat penonton dengan jelas,” ujarnya.

Meski demikian, pada ajang festival virtual, seperti festival monolog, teknik pengambilan video tidak mesti seperti membuat film. Paktik festival monolog hanya memindahkan tempat pertunjukan teater dari panggung ke dalam bentuk video. Sehingga nuansa panggungnya terasa karena didukung teknik videografi.

Karena itulah, seniman masa kini harus berteman dengan media baru. “Media baru seperti halnya media sosial di antanya Youtube jangan dianggap sebagai penghancur seni pertunjukan yang biasa dilakukan secara langsung diapresiasi,” katanya.

Ia menegaskan, Youtube dan sejenisnya merupakan media alternatif yang bisa dimemanfaatkan untuk berkarya. Pemanggungan secara langsung masih bisa terus berjalan, terutama jika pandemi usai. Namun pemanggungan virtual menjadi panggung kedua. “Setidaknya panggung virtual sangat bermanfaat untuk mensosialisasikan karya ke publik yang lebih luas,” tandas Yoyo.

Baca Juga: Melawan Pandemi dengan Festival Virtual
Pelaku Seni Jawa Barat sama dengan UMKM Perlu Stimulus Ekonomi

Festival di Tempat Masing-masing

Festival monolog tersebut diawali dengan pembuatan video monolog oleh masing-masing peserta di tempatnya masing-masing. Dari 30 perserta yang daftar, sebanyak 24 peserta mengirim video untuk dipilih oleh tim kurator di kanal Youtube DKKC.

Karya peserta lalu mengalami kurasi dari tanggal 10-15 Juni 2021, untuk dipilih 6 perserta pertunjukan monolog terbaik. Selanjutnya, sebanyak 6 perseta monolog yang lolos melakukan pertunjukan ulang dan disaksikan langsung oleh 3 orang Juri/kurator dengan lokasi di Cimahi, serta ditayangkan langsung melalui kanal Yotube DKKC

Berikutnya, dewan juri memilih 3 peserta terbaik. Sedangkan penentuan pertunjukan monolog terfavorit ditentukan oleh jumlah penonton dan tanda suka di Youtube DKKC sampai tanggal 30 Juni 2021.

“Sebagai sitimulan, semua pemenang mendapatkan hadiah uang pembinaan dari DKKC, piala dan sertifikat,” kata Ketua Masteci juga Sekretaris Komite Teater dan Pedalangan DKKC, Ricky Angga Maulana, Sabtu (19/6/2021). Mereka yang masuk final diwajibkan mengulang pertunjukan monolog secara langsung di hadapan para juri tanggal 1 Juli 2021. 

Ketua DKKC Hemana HMT menyatakan, Festival Monolog ke-2 DKKC tingkat Jawa Barat ini rencana awal siap digelar dan bisa disaksikan secara langsung digedung Technopoark Kota Cimahi. Namun wabah Covid-19 belum mereda, kegiatan berlangsung secara daring seperti halnya festival monolog tahun 2020 kemarin karena menghindari kerumunan dan dan menjaga kesehatan dari penularan virus Covid-19.

“Walau demikain, untuk penilaian 6 perserta yang masuk pada babak final, kami berusaha agar dewan juri bisa menyaksikan pertunjukan monolog secara langsung, namun tanpa penonton dan bagi masyarakat yang ingin mengapresiasi bisa menyaksikan melalui penanyangan secara langsung di Youtube DKKC,” ungkap Hermana.

Hermana menambahkan, kegiatan festival monolog sepenuhnya didukung Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disbidparpora) Kota Cimahi dengan anggaran belanja hibah DKKC tahun 2021.

Digelarnya Festival Monolog ke -2 se-Jawa Barat ini diharapkan dapat merangsang minat dan mengembangkat bakat pelaku budaya khususnya pelaku seni teater di Kota Cimahi. Ia berharap ke depan kegiatan ini bisa terus berlangsung tiap tahun, diikuti dengan makin meningkatnya mutu dan jumlah dan cakupan pesertanya.

“Festival Monolog ke-1, peserta berasal dari Bandung Raya, sekarang tingkat Jawa Barat, dan tahun berikutnya diharapkan bisa melakukan Festival Monolog dengan peserta pelaku teater dari seluruh Provinsi di Indonesia,” harap Hermana.

Editor: Redaksi

COMMENTS