• Kampus
  • Mencermati Fenomena Investasi Saham Ramah Lingkungan

Mencermati Fenomena Investasi Saham Ramah Lingkungan

Jika kesuksesan bisnis berkaitan erat dengan kelestarian alam dan tanggung jawab sosial perusahaan, maka IDX ESG Leaders maupun SRI-KEHATI memiliki prospek cerah.

Banjir bandang menyapu di kawasan Kabupaten Bandung, 2 Juni 2021. Bencana banjir bukan hanya disebabkan faktor alami, melainkan ada unsur manusia, di antaranya alih fungsi lahan konservasi menjadi industri atau hunian. (Foto: Prima Mulia)

Penulis Iman Herdiana16 Juli 2021


BandungBergerak.idIklim investasi di pasar modal mencatat fenomena berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, di mana kecenderungan investor semakin teliti dalam memilah instrumen investasi. Investor bertambah peduli terhadap emiten yang memprioritaskan konsep keberlanjutan (hijau) guna berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan di masa depan.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, investasi berbasis lingkungan selama enam tahun terakhir telah mengalami tren peningkatan secara eksponensial. Investasi pada emiten dengan profil unsur lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) juga menjadi fokus para investor milenial, demikian laporan yang dikutip dari laman resmi Universitas Pasundan (Unpas), Bandung, Jumat (16/7/2021).

Di saat yang bersamaan, pertumbuhan investor muda atau kaum milenial sangat signifikan. Dosen Manajemen Bisnis, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unpas, Ardi Gunardi, mengatakan hingga Juni 2021, investor muda di pasar modal Indonesia tercatat sebanyak 9,33 juta.

Jumlah investor ini bertambah dibandingkan akhir tahun 2020 sebanyak 3,87 juta investor atau naik 56 persen dari akhir tahun 2019. investor saham terjadi kenaikan menjadi 2,4 juta. Mayoritas atau 70 persen investor saham adalah kaum milenial.

Investasi saham dewasa ini juga banyak diminati kalangan anak muda, baik milenial maupun generasi Z (gen Z). Peningkatan tersebut makin tinggi selama pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak awal 2020.

Ardi Gunardi memandang generasi milenial mulai menyadari pentingnya investasi saham sejak dini. Selain di bangku kuliah, ada juga investor yang sudah mulai berinvestasi saham ketika tamat SMA/SMK.

Ia menilai prinsip investasi di usia dini tentu baik, karena pada dasarnya investasi saham sebaiknya dilakukan sedini mungkin. Tentunya harus dibarengi dengan peningkatan literasi keuangan.

“Minat masyarakat dewasa ini terhadap investasi khususnya di kalangan anak muda semakin tinggi. Karenanya diperlukan suatu keputusan yang tepat untuk memilih jenis saham yang cocok, aman, dan prospek” ujar Ardi Gunardi.

Generasi muda dapat menjadi pihak yang mendorong implementasi konsep keberlanjutan lebih luas lagi. Caranya, dengan berinvestasi pada perusahaan atau proyek yang berbasis ramah lingkungan.

Baca Juga: Belajar Investasi di Musim Pandemi lewat Film dan Jurnal
Potensi dan Risiko Investasi Crypto

“Berbagai hasil riset menganjurkan jenis investasi ini karena menguntungkan secara finansial dalam jangka panjang. Emiten yang mempraktikkan nilai-nilai ESG mampu mencatatkan kinerja keuangan yang jauh lebih unggul dibanding emiten yang tidak menerapkannya,” lanjutnya.

Para investor muda sekarang lebih mudah untuk memilih instrumen investasi dengan konsep keberlanjutan, karena telah banyak pilihan di pasar modal.

Meningkatnya kesadaran dan wawasan akan ESG di kalangan emiten dan investor pasar modal mendorong BEI meluncurkan indeks baru, IDX ESG Leaders, pada pertengahan Desember silam.

IDX ESG Leaders adalah indeks yang mengukur kinerja harga saham dengan penilaian ESG yang bagus, tidak terlibat kontroversi signifikan, serta memiliki likuiditas transaksi dan kinerja keuangan yang baik.

IDX ESG Leaders bukan satu-satunya indeks saham berbasis lingkungan, sosial, dan tata kelola. Di bursa domestik juga ada indeks SRI-KEHATI (Sustainable and Responsible Investment – Keanekaragaman Hayati) yang diluncurkan pada Juni 2009 atas kerja sama BEI dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati (Kehati).

Jika IDX ESG Leaders berisi 30 saham, maka SRI-Kehati terdiri atas 25 saham. Kedua indeks saham itu berisi emiten unggulan, terdiri dari saham-saham perusahaan yang berkomitmen tinggi untuk menerapkan praktik terkait lingkungan, sosial, dan tata kelola emiten dalam penerapan investasi berkelanjutan di Indonesia.

“Kalau kita mengasumsikan bahwa kesuksesan bisnis berkaitan erat dengan kelestarian alam dan tanggung jawab sosial perusahaan, maka saham-saham dalam IDX ESG Leaders maupun SRI-KEHATI memiliki prospek jangka panjang yang jauh lebih cemerlang,” tambahnya.

Riset pada 2014 menunjukkan, 88 persen pelaku usaha yang menampilkan praktik ESG dengan baik, memiliki kinerja operasional dan keuangan bagus. Selain itu, perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa atau emiten, 80 persen menikmati kenaikan harga saham, karena komitmennya menerapkan konsep ESG yang baik dan benar.

Indeks SRI-KEHATI menghasilkan return sebesar 173,66 persen, lebih tinggi dibandingkan IHSG dan indeks LQ45 yang masing-masing menghasilkan return 148,57 persen dan 103,59 persen periode 30 Desember 2009 hingga 30 Desember 2019.

Bagaimana strategi investasi pada perusahaan ramah lingkungan? Ardi menilustrasikan, bagi pelajar atau mahasiswa yang memandang kesehatan dan kesejahteraan adalah nilai utama, maka salah satu strategi yang mungkin adalah menghindari investasi di perusahaan-perusahaan yang membuat produk yang bertentangan dengan kesehatan.

Sebagai contoh, tidak berinvestasi pada perusahaan minuman beralkohol, dan perusahaan yang merusak lingkungan lainnya.

“Dengan kata lain, menggunakan uang kamu dengan perusahaan yang berusaha membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik,” ujar dosen Mata Kuliah Manajemen Investasi dan Portofolio.

Bagaimanapun juga, saat ini investasi di saham tidak hanya melulu mencari keuntungan semata. Dengan menggabungkan pilihan terhadap Indeks IDX ESG Leaders maupun SRI-KEHATI dengan Value Investing, investor akan mendapatkan emiten berfundamental bagus dengan harga undervalued. Juga mendapatkan emiten yang sadar lingkungan, peduli terhadap sosial, dan memiliki tata kelola perusahaan yang baik (GCG).

Intinya, lanjut Editor-in-Chief Indonesian Journal of Sustainability Accounting and Management (IJSAM) Unpas itu, investasi ESG adalah tentang mempengaruhi perubahan positif dalam masyarakat dengan menjadi investor yang lebih baik.

Editor: Redaksi

COMMENTS