• Nusantara
  • Pesan Azyumardi Azra: Demokrasi Mengalami Kemunduran

Pesan Azyumardi Azra: Demokrasi Mengalami Kemunduran

Azyumardi Azra lahir dari keluarga bersahaja di Sumatera Barat. Pernah menjadi jurnalis Panji Masyarakat, dosen filsafat, kemudian dipilih menjadi Ketua Dewan Pers.

Ketua Dewan Pers, Azyumardi Azra, wafat setelah menjalani perawatan di RS Serdang, Selangor, Malaysia, Minggu, 18 September 2022 pukul 12.30 waktu Malaysia. (Foto: Dokumen Dewan Pers)* 

Penulis Iman Herdiana19 September 2022


BandungBergerak.idWafatnya Azyumardi Azra bukan saja kehilangan bagi dunia pers. Lebih dari itu, Azyumardi Azra lama berkiprah di dunia pemikiran khususnya tentang Islam dan demokrasi. Pesan yang disampaikan pada pekan-pekan terakhir hidupnya pun tentang kemunduran demokrasi di negeri ini.

Azyumardi Azra telah wafat, tetapi karya dan pemikirannya tetap hidup, seperti disampaikan FU UINJKT melalui akun Instagramnya, “Alfatihah selamat jalan prof, semoha Allah SWT menempatkan di surganya, namamu abadi dalam karya.”

Azyumardi Azra termasuk tokoh yang sering mengingatkan pentingnya penegakan demokrasi. Ia menyampaikan pesan tidak dengan bahasa yang menggebu-gebu, melainkan dengan kalimat-kalimat logis khas kalangan akademik. Pesan ini misalnya bisa disimak pada Kamis (8/9/2022) pekan lalu ketika Ketua Dewan Pers tersebut memberikan kuliah umum pada proses wisuda di Sekolah Tinggi Hukum Indonesia (STHI) Jentera.

Prof Azra, demikian ia biasa disapa, menilai kualitas demokrasi di Indonesia mengalami penurunan secara bertahap. Kondisi ini bisa mengakibatkan hilangnya kualitas demokrasi sehingga bisa mengarah pada rezim otoriter.

“Saat ini banyak kalangan berpendapat, penegakan hukum tidak mencerminkan keadilan. Ini mengakibatkan demokrasi mengalami kemunduran,” tuturnya, dikutip dari laman Dewan Pers, Senin (19/9/2022). 

Salah satu penyebab mundurnya demokrasi adalah makin lemahnya institusi politik yang menjadi penopang sistem demokrasi. Penurunan kualitas demokrasi itu bisa dilihat dari hajatan pemilu yang tidak kompetitif, pembatasan partisipasi, lemahnya akuntabilitas pejabat publik, penegakan hukum yang tidak adil, dan sebagainya.

Ia menyoroti lemahnya penegakan hukum mulai dari kejaksaan, kepolisian, hingga pengadilan, termasuk mengkritik diskon hukuman besar-besaran yang diberikan kepada 10 narapidana koruptor pada Selasa (6/9/2022) lalu.

“Pemberian diskon hukuman kepada narapidana korupsi menandakan penegakan hukum dan hak asasi manusia (HAM) dari jaksa dan peradilan tengah bermasalah. Saat ini undang-undang tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK sudah lemah. Apalagi ditambah peradilannya juga lemah,” ungkapnya.

Ia juga mempermasalahkan pembatasan dalam mengemukakan pendapat yang sampai sekarang  masih terus terjadi. “Sekarang kita tidak lagi bebas. Ketika kita bergerak sedikit, HP kita dibajak. Akan tetapi, kita tidak tahu persis siapa yang membajak. Setiap kali ada pergerakan dari kelompok masyarakat, selalu ada perundungan,” paparnya.

Penyebaran informasi melalui siniar (podcast) juga tidak lepas dari perundungan. Ia berpandangan, bahwa hal itu merupakan pelanggaran berat dan tidak seharusnya terjadi. Masih ditemukan pula kelompok minoritas yang ditindas.

Menurutnya, penegakkan hukum di negara ini masih memerlukan pembenahan serius. Dia menengarai, dari seluruh gerakan reformasi yang sudah berjalan lebih dari 20 tahun ini, sektor yang belum membuahkan hasil membanggakan adalah sudut penegakan hukumnya.

Penegakan hukum, kata dia, seharusnya ditujukan untuk meningkatkan ketertiban dan kepastian hukum di masyarakat. “Ini merupakan tugas yang berat. Kita memerlukan sebuah diskusi untuk menjalankan reformasi jilid dua, terutama dalam penegakan hukum. Inilah tantangan dan tugas kita semua supaya terwujud pembaruan hukum yang berkembang di negeri kita,” kata dia.

Baca Juga: Musikus Balada Bandung, Mukti Mukti Wafat
Ahmad Syafii Maarif dan Bandung
Jumat Keliling Terakhir Mang Oded

Biografi Azyumardi Azra

Sebelum terpilih sebagai anggota Dewan Pers 2022-2025 dari unsur tokoh masyarakat dan kemudian didapuk menjadi Ketua Dewan Pers, Azyumardi Azra banyak berperan di bidang pendidikan atau akademik.

Situs Dewan Pers memberitahukan bahwa karier pendidikan tinggi Azyumardi Azra diawali di Fakultas Tarbiyah IAIN Jakarta pada tahun 1982. Setelah memperoleh beasiswa Fullbright, Prof Azra meraih gelar Master of Art (MA) pada Departemen Bahasa dan Budaya Timur Tengah, Columbia University pada 1988. 

Ia juga mendapatkan beasiswa Columbia President Fellowship dari kampus yang sama, tetapi kali ini Azyumardi pindah ke Departemen Sejarah, dan meraih gelar MA keduanya pada 1989.

Pada 1992, ia menambah gelar Master of Philosophy (MPhil) dari Departemen Sejarah, Columbia University tahun 1990, dan Doctor of Philosophy Degree dengan disertasi berjudul "The Transmission of Islamic Reformism to Indonesia: Network of Middle Eastern and Malay-Indonesian ‘Ulama in the Seventeenth and Eighteenth Centuries."

Kembali ke Jakarta, pada tahun 1993 Azyumardi mendirikan sekaligus menjadi Pemimpin Redaksi Studia Islamika, sebuah jurnal Indonesia untuk studi Islam. Sebelumnya, ia pernah menjadi wartawan Panji Masyarakat (1979 - 1985).

Pada tahun 1994-1995, Prof Azra mengunjungi Southeast Asian Studies pada Oxford Centre for Islamic Studies, Oxford University, Inggris, sambil mengajar sebagai dosen pada St. Anthony College. Pakar demokrasi dan Islam ini juga pernah menjadi professor tamu pada Universitas Filipina dan Universitas Malaya, Malaysia, pada tahun 1997.

Prof. Azra juga merupakan anggota Selection Committee of Southeast Asian Regional Exchange Program (SEASREP) yang diorganisir oleh Toyota Foundation dan Japan Center, Tokyo, Jepang antara tahun 1997 dan 1999. Sejak Desember 2006, ia menjabat Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Sebelumnya, sejak tahun 1998 hingga akhir 2006 adalah Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dosen Fakultas Adab dan Fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (1992-sekarang), Guru Besar Sejarah Fakultas Adab IAIN Jakarta, dan Pembantu Rektor I IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (1998).

Prof. Azra merupakan orang Asia Tenggara pertama yang diangkat sebagai Professor Fellow di Universitas Melbourne, Australia (2004 - 2009), dan anggota Dewan Penyantun (Board of Trustees) International Islamic University Islamabad Pakistan (2004 - 2009). Ia juga masih menjadi salah satu anggota Teman Serikat Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan

Lahir dari Keluarga Bersahaja

Situs Dewan Pers hanya menyajikan perjalanan hidup Azyumardi Azra pada fase pendidikan tinggi saja. Meski demikian, fase masa kecil dan keluarganya cukup mudah ditemukan pada perpustakaan daring yang memuat penelitian biografis Azyumardi Azra, diantaranya penelitian N Nabhani yang dimuat repository.uinbanten.ac.id.

N Nabhani memaparkan, Azyumardi Azra lahir di Lubuk Alung, Sumatera Barat tanggal 4 Maret 1955. Arti namanya cukup puitis, yaitu “Permata Hijau”. Dalam keluarga, Azyumardi biasa dipanggil “Edy” atau “Mardi”. Ia adalah anak ketiga dari enam bersaudara dan anak lelaki pertama dari pasangan Azikar dan Ramlah [N. Nabhani, Nabhani (2019) Historiografi Islam Nusantara dalam Perspektif Azyumardi, UIN SMH Banten].

Disebutkan bahwa Azyumardi dibesarkan oleh orangtua yang sadar pentingnya pendidikan. Meski kondisi keluarganya sulit, ayahnya berkemauan keras agar anak-anak bisa sekolah. Ayahnya bercita-cita agar semua anaknya sekolah. Padahal, ekonomi keluarganya tidak memungkinkan untuk membiayai pendidikan.

“Profesi yang dijalani ayahnya pun hanya sebagai tukang kayu, pedagang kopra, dan cengkih. Dari gaji ibunya mengajar sebagai guru agama,” tulis N Nabhani.

Pada 1963, lanjut N Nabhani, Azyumardi masuk sekolah dasar yang berada dekat dengan rumahnya, yaitu SD Negeri 01 Lubuk Alung. Di masa SD ini, Azyumardi memulai kecintaannya pada buku. Azyumardi kerap meminjam buku di perpustakaan sekolah dan membawanya pulang ke rumah.

Buku kesukaan Azyumardi antara lain; Salah Asuhan karya Abdoel Moeis, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, karya Hamka. Dan juga buku cerita klasik seperti Sekali Tepuk Tujuh Nyawa, Musang Berjanggut, dan karya-karya Taguan Marjo.

Tahun 1969 ia melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Padang. Di sekolah menengah ini, bakat Azyumardi sebagai seorang pelajar yang cukup cerdas sudah terlihat, terutama di bidang pelajaran Matematika.  Karena kemahirannya di bidang pelajaran tersebut, Azyumardi mendapatkan gelar “Pak Karmiyus”.  Pak Karmiyus adalah guru Aljabar dan Ilmu Ukur (sekarang Matematika).

“Apabila Pak Karmiyus tidak hadir, teman-temannya sering meminta bantuan Azyumardi untuk menjelaskan mata pelajaran yang sama di depan kelas,” tulis N Nabhani.

Di luar sekolah, dalam bidang sosial keagamaan, Azyumardi banyak bersentuhan dengan nilai-nilai Islam modernis, kendati ia juga merasa dekat dengan tradisi Islam tradisional.

Azyumardi memilih melanjutkan kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Semasa kuliah, Azyumardi menjadi ketua umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang ciputat, yakni pada tahun 1981 sampai dengan 1982. Ia pernah mengorganisasi kawan-kawan mahasiswa untuk melakukan demo terhadap pemerintahan Suharto dalam sidang umum MPR tahun 1978. Hingga pada tahun 1982, Azyumardi berhasil menyelesaikan kuliahnya.

Pekerjaan yang pernah digeluti Azyumardi di antaranya, menjadi wartawan Panji Masyarakat (1978-1986) bersama kawannya, Fachry Ali. Panji Masyarakat merupakan media cetak di bawah pimpinan Buya Hamka pada tahun 1978.

Antara 1982-1983, Azyumardi bekerja di Lembaga Riset Kebudayaan Nasional (LRKN) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), namun ia masih tetap sebagai wartawan di Panji Masyarakat.

Rektor IAIN Jakarta Harun Nasution kemudian menarik Azyumardi menjadi dosen (1985-1986) di Fakultas Tarbiyah untuk mengajar mata kuliah filsafat barat. Di sinilah Azyumardi memulai karier akademiknya. Salah satu capaiannya, pada tahun 1998, tepat dalam usia 43 tahun, ia dilantik menjadi Rektor IAIN Jakarta.

Peraih penghargaan the Commander of the British Empire (CBE Award) dari Ratu Inggris, Elizabeth II, ini banyak melahirkan karya baik dalam bentuk tulisan artikel dan esai yang dimuat di berbagai media massa maupun sejumlah buku yang diterbitkannya. Bukunya antara lain; Jaringan Ulama Timur Tengah & Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII (Bandung: Mizan, 1994), Pergolakan Politik Islam (Jakarta: Paramadina, 1996). 

Perjalanan hidup Azyumardi Azra berakhir Minggu, 18 September 2022 pukul 12.30 waktu Malaysia. Azyumardi wafat saat menjalani perawatan di RS Serdang, Selangor, Malaysia.

Editor: Redaksi

COMMENTS