• Kolom
  • GUNUNG-GUNUNG DI BANDUNG RAYA (5): Gunung Pabeasan Arjasari, dari Kerimbunan Hutan hingga Batu Ampar yang Menawan

GUNUNG-GUNUNG DI BANDUNG RAYA (5): Gunung Pabeasan Arjasari, dari Kerimbunan Hutan hingga Batu Ampar yang Menawan

Gunung Pabeasan memberikan pengalaman mendaki yang unik: bunga, Batu Ampar, kebun kopi, dan hutan pinus. Jangan lewatkan juga comro dan kicimpring bikinan warga.

Gan Gan Jatnika

Pegiat Komunitas Pendaki Gunung Bandung (KPGB), bisa dihubungi via Fb Gan-Gan Jatnika R dan instagram @Gan_gan_jatnika

Batu Pabeasan dilihat dari arah barat daya menggunakan drone pada November 2020. Pemandangan unik yang menawan ini merupakan salah satu keunggulan dan daya tarik kawasan Gunung Pabeasan. ( Sumber foto : Komunitas Jarambers Bandung)

8 Oktober 2021


BandungBergerak.id - Pagi yang cerah, dengan matahari bersinar hangat-hangatnya, cocok untuk berjemur dan menikmati suasana pagi. Semburat cahaya kuning keemasan sang surya menerpa bongkah batu berukuran besar yang indah terhampar di lereng sebuah gunung. Masyarakat sekitar menyebutnya sebagai “Batu Ampar Pabeasan” atau “Batu Pabeasan” saja.

Lokasi batu ini terletak di kaki Gunung Pabeasan. Jika diamati, kita akan mengetahui bahwa batu tersebut termasuk dalam kategori batuan beku jenis intrusi, atau batuan yang membeku terlebih dahulu di dalam tanah sebelum akhirnya muncul ke permukaan. Sementara itu, material yang menutupinya, baik berupa tanah, pasir, atau kerikil, telah tergerus lebih dahulu melalui proses alami yang berlangsung selama ribuan tahun.

Kerimbunan Hutan

Menarik sekali membicarakan Gunung Pabeasan dan Batu Ampar-nya. Banyak orang tidak akan menyangka bahwa di Kecamatan Baleendah dan Kecamatan Arjasari, yang mulai padat permukimannya, serta tidak begitu jauh jaraknya dari Kota Bandung, ternyata masih terdapat gunung yang memiliki kerimbunan hutan nan sejuk, serta pemandangan yang begitu menawan.

Jika ada waktu luang, cobalah untuk datang ke tempat ini. Menyusuri jalan setapak dari kaki gunung sampai puncaknya, kita akan menemukan beragam tumbuhan.

Pada awal perjalanan, kita akan disuguhi bunga-bunga cantik, seperti kembang sepatu yang sudah jarang kita lihat di perkotaan, lalu rumpun pohon bambu yang lebat dengan pucuk-pucuknya yang tinggi, menjuntai membentuk semacam gapura. Kata sebagian orang, ketika melewati rumpun bambu ini, kita seperti berada di Negeri Matahari Terbit, alias Jepang.

Di tengah perjalanan, kita bisa menikmati perkebunan kopi milik warga setempat, selain tumbuhan semak dengan bunga-bunga indah khas pegunungan. Kita jumpai di sana, bunga Wedelia kuning kecil, bunga Taiwan Beauty yang merambat di permukaan tanah, dan juga bunga Pecut Kuda berwarna ungu.

Perjalanan mencapai puncak Gunung Pabeasan tidak terlalu sulit, dan tidak memakan waktu lama. Dari parkiran menuju Batu Pabeasan butuh sekitar 15-20 menit saja. Sedangkan dari Batu Pabeasan ke puncak sekitar 30-45 menit.

Puncak gunung ini memang ada dua, tetapi jarak antara puncak pertama dan kedua tidak berjauhan, hanya sekitar 5-10 menit perjalanan. Di puncak kedua, atau puncak utama, terdapat sebuah batu cukup besar. Batu ini bisa kita duduki sebagai tempat beristirahat, atau kita jadikan alas berdiri untuk melihat pemandangan indah yang terhampar di sekelilingnya.

Dari puncak Gunung Pabeasan, tampak Gunung Geulis di sebelah utara, serta Gunung Pipisan dan Gunung Nini di timur. Sedangkan di sebelah selatan, terlihat Gunung Malabar berdiri membentang.

Kerimbunan hutan pinus di Gunung Pabeasan Arjasari yang masih tersisa, dipotret pada November 2020, menjadi pemandangan indah yang bisa dinikmati oleh para pendaki menjelang puncak. (Foto: Gan Gan Jatnika)
Kerimbunan hutan pinus di Gunung Pabeasan Arjasari yang masih tersisa, dipotret pada November 2020, menjadi pemandangan indah yang bisa dinikmati oleh para pendaki menjelang puncak. (Foto: Gan Gan Jatnika)

Lokasi dan Akses

Gunung Pabeasan atau dahulunya lebih dikenal dengan nama Pasir Pabeasan, secara administratif berada di Kampung Cibingbin, Desa Arjasari, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung. Nama Kampung Cibingbin konon berasal dari banyaknya pohon “Bingbin”, sejenis pohon pisang yang dahulu banyak tumbuh di sana. Sedangkan nama Arjasari berasal dari kata Sunda “arja” yang berarti “bagus” atau raharja.

Ketinggian Gunung Pabeasan menurut peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) yang diterbitkan oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) edisi I-2000 lembar 1208-634, skala 1:25.000 adalah 1.104 Mdpl (Meter di atas permukaan laut).

Dari Kota Bandung, kita bisa mencapai Gunung Pabeasan dengan melakukan perjalanan ke arah Banjaran, kemudian berbelok ke arah kiri (timur) menuju Arjasari sebelum sampai di pertigaan Banjaran.

Dari tempat berbelok itu, kita menyusuri jalan yang sudah relatif bagus sampai tiba di Puskesmas Arjasari. Dari Puskesmas Arjasari, kita bisa bertanya ke masyarakat setempat karena letaknya sudah dekat.

Sebagai tempat parkir, yang berukuran cukup luas, digunakan sebuah bukit kecil yang juga merupakan tempat wisata. Sesekali di tempat parkir ini tampak pengguna motor trail sedang berlatih. Bukit kecil yang dijadikan tempat parkir ini dikenal dengan nama Gunung Pasirsalam.

Di Pasirsalam sudah terdapat warung. Jika kita kekurangan perbekalan, jangan khawatir karena kita bisa berbelanja di warung ini. Sedangkan untuk buang air kecil atau keperluan lain di toilet, kita bisa meminta izin menumpang ke pemilik warung.

Baca Juga: GUNUNG-GUNUNG DI BANDUNG RAYA (4): Gunung Pacet Menyingkap Misteri Keberadaan Danau Manglayang
GUNUNG-GUNUNG DI BANDUNG RAYA (3): Gunung Putri Lembang, Mitos Dayang Sumbi dan Sejarah Benteng Belanda
GUNUNG-GUNUNG DI BANDUNG RAYA (2): Gunung Geulis Manggahang, Puncak Tertinggi Bukit Barisan Baleendah di Pantai Danau Bandung Purba

Asal Nama

Nama Gunung Pabeasan erat kaitannya dengan nama Pasirsalam dan gunung-gunung di sekitarnya. Gunung ini konon terbentuk dari tempat menyimpan beras, yang dalam bahasa Sunda disebut “pabeasan”, yang dibawa oleh seorang pemuda untuk melamar seorang putri cantik. Namun karena lamarannya ditolak, ditendanglah tempat beras tersebut dan berubah menjadi sebuah gunung.

Dalam versi lain, tempat beras itu tidak sampai ditendang, tapi hanya dibiarkan begitu saja. Yang terjadi kemudian, sang pemuda yang gagal melamar itu berubah menjadi sebuah gunung (Gunung Bukitcula), dan demikian pula sang putri (Gunung Geulis). Kedua gunung ini tidak jauh lokasinya dari Gunung Pabeasan.

Pasirsalam, menurut cerita, juga terbentuk dari perbekalan rombongan sang pemuda, yaitu daun salam sebagai bagian dari bumbu penyedap masakan. Setelah penolakan lamaran, akhirnya lembar-lembar daun salam itu pun berubah menjadi sebuah gunung kecil, atau dalam bahasa Sunda disebut sebagai pasir.

Selain Pasirsalam, di sebelah timur Gunung Pabeasan ada sebuah gunung kecil yang disebut sebagai Gunung Pasirjampana. Sama halnya dengan gunung-gunung lain di kawasan tersebut, gunung ini juga dikisahkan terbentuk dari bekal yang dibawa oleh sang pemuda. Jampana dalam bahasa Sunda artinya kursi megah tempat duduk orang penting, semisal raja, yang dibawa dengan cara digotong atau ditandu. (Kamus Basa Sunda R.A.Danadibrata, hal. 281).

Sebelum dikenal sebagai tempat wisata, Batu Pabeasan dahulunya digunakan untuk acara “ruwatan”. Acara ruwatan ini biasanya dilakukan pada bulan Mulud. Para sesepuh, baik jawara ataupun tokoh adat, membawa benda pusaka dan membersihkannya dengan bunga 7 warna serta wewangian dari minyak wangi.

Kicimpring merupakan salah satu penganan tradisional hasil olahan singkong yang di tanam warga di kaki Gunung Pabeasan. Singkong di kawasan ini terkenal enak rasanya. (Foto: Gan Gan Jatnika)
Kicimpring merupakan salah satu penganan tradisional hasil olahan singkong yang di tanam warga di kaki Gunung Pabeasan. Singkong di kawasan ini terkenal enak rasanya. (Foto: Gan Gan Jatnika)

Potensi Ekonomi dan Wisata

Gunung Pabeasan yang terbentuk akibat aktivitas vulkanologi di kawasan Baleendah jutaan tahun yang lalu, memiliki beragam potensi yang bisa dimanfaatkan warga sekitarnya. Keindahan hutan pinus dan keunikan batu amparnya jelas merupakan kekhasan yang tak terbantahkan.

Warga sudah memiliki Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) yang mungkin membutuhkan penguatan perihal penyediaan sarana dan promosi. Kondisi tanah kawasan tersebut yang subur juga memungkinkan warga mengelolanya sebagai perkebunan kopi.

Yang tak kalah istimewa adalah hasil kebun berupa singkong atau “sampeu”. Singkong dari daerah ini sangat enak rasanya. Tekstur yang empuk, rasa yang gurih, dan pengolahannya yang mudah menjadikannya cocok untuk dijadikan aneka ragam makanan ringan. Contohnya, comro (oncom di jero), gorengan renyah dari bahan singkong dengan sambal oncom di dalamnya. Singkong juga bisa diolah jadi “kicimpring”, semacam keripik yang diolah dengan rempah-rempah.

Jadi, cocok betul! Ketika berkunjung ke kawasan Gunung Pabeasan, kita bisa menikmati pemandangan alam yang menawan sambil menyantap comro atau kicimpring, dan menyeruput secangkir kopi hangat dari kebun hasil petani setempat. Pastilah sebuah pengalaman yang sangat menyenangkan!

Editor: Redaksi

COMMENTS