• Kolom
  • Ingatan Masa Kecil 1965-1970 (28): Rasa Makanan yang Lekat dalam Ingatan

Ingatan Masa Kecil 1965-1970 (28): Rasa Makanan yang Lekat dalam Ingatan

Inilah bubur lemu paling enak sedunia. Tidak ada lagi tandingannya, karena di tempat lain tak ada bubur lemu dengan pemanis entén cair.

T. Bachtiar

Geografiwan Indonesia, bisa dihubungi via ig: @tbachtiargeo

Peta lokasi penjual bubur lemu dan kupat tahu di luas pasar Pameungpeuk, Garut. Kedua makanan inilah yang selalu ditunggu-tunggu setiap kali Ema pergi ke pasar di pagi hari. (Gambar peta: T Bachtiar)

13 Oktober 2021


BandungBergerak.id - Ada rasa makanan yang terus melekat dalam ingatan. Makanan itu bukan hanya enak, tapi juga menyimpan kenangan. Dalam tulisan ini dipilih empat jenis makanan, dua makanan yang dibuat oleh Ema di rumah, yaitu nasi ketan berkacang merah dan tumpeng, serta dua makanan yang dibeli di pasar, yaitu bubur lemu dan kupat tahu. 

Nasi Ketan Berkacang Merah

Hari Jumat terasa lebih istimewa karena setiap saya pulang Jumatan di kaum, masjid paling besar di Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Ema sudah menyediakan nasi ketan yang dicampur dengan kacang merah di rumah. Rasanya gurih dan wangi santan. Siang hari makan nasi ketan sangat menyenangkan karena di hari lain tak disediakan.

Kebiasaan makan di kampung kami saat itu hanya dua kali sehari. Pertama makan pagi atau sarapan, dan kedua nanti petang hari sekitar pukul 16.00. Ini makan besar. Ada sambal, lalap, ikan asin, atau ikan dari kolam, goreng jengkol atau rebus petai, dan sepiring goreng suuk, kacang tanah, dengang taburan sedikit garam.

Makan menjadi ritual yang selalu saya nantikan setiap hari. Saya tak pernah disuruh untuk makan. Bermain pun saya hentikan kalau sudah tiba waktu makan. Saya akan bergegas pulang ke rumah, lalu duduk bersila menanti makanan disajikan. Segalanya masih benar-benar panas. Inilah momen paling istimewa. Sejenak waktu bermain membeku. Semua perhatian tertuju pada makanan yang akan disantap.  

Tumpeng

Di kampung, selalu saja ada acara selamatan atau syukuran. Dan kalau selamatan atau syukuran, nasinya pasti tumpeng, nasi berbumbu santan dan rempah-rempah. Nasinya berwarna kuning karena dicampur dengan air dari kuning atau kunyit.

Tumpeng tidak ada setiap waktu, hanya dibuat kalau ada acara syukuran atau selamatan. Semua teman nasinya ada di dalam tumpeng, seperti butiran telur yang sudah bersih dari kulitnya, potongan daging ayam, dan butiran kumeli atau kentang. Biasanya lebih banyak butiran kentangnya dibandingkan dengan butiran telurnya. Telurnya hanya ada beberapa butir saja, di bagian paling atas tumpeng, dan sisanya 3-4 butir tersembunyi di tengah-tengah tumpeng.

Mengambil tumpeng itu tidak boleh diacak hanya untuk mencari potongan ayam atau telurnya. Harus sekali sodok jadi, tidak boleh diulang berkali-kali. Di dalam satu sodokan itu tidak selamanya sesuai dengan harapan. Berharap ada potongan daging ayam atau sebutir telur, misalnya, yang ada malah butiran kentang. Ya, itulah yang harus disyukuri.     

Baca Juga: Ingatan Masa Kecil 1965-1970 (27): Kegembiraan di Gulita Malam
Ingatan Masa Kecil 1965-1970 (26): Kegembiraan di Malam Purnama
Ingatan Masa Kecil 1965-1970 (25): Helikopter Herkules Mendarat di Lapangan Darmabakti

Bubur Lemu

Ada dua jenis makanan yang sangat saya tunggu kalau pagi-pagi Ema pergi ke pasar. Pertama, bubur lemu dan kedua, kupat tahu.

Letak pasar hanya beberapa puluh meter saja dari alun-alun, setelah melintasi jembatan. Pasar sudah dibuka sejak pukul 03.30 sampai pukul 10.30. Setelah itu pembelinya berkurang, dan sebelum tengah hari semua jongko sudah tutup.

Tidak semua yang berjualan berada di dalam pasar, seperti penjual bubur lemu dan penjual kupat tahu. Mereka berjualan di seberang (utara) pintu masuk pasar sisi barat, yang dipisahkan oleh jalan raya.

Di dekat tempat berjualannya, ada pohon cemara laut yang rindang. Di bawah pohon itu ada penjual bako, tembakau, mulai tembakau yang hambar tak berasa sampai tembakau yang banget, yang keras. Tembakau untuk isi padud, cangklong Abah, Ema membeli tembakau terbaik beberapa potong.

Gunting penjual bako itu ukurannya besar dan sangat tajam. Katanya gunting solingen buatan Jerman. Hanya sekali tekan, lempengan tembakau langsung putus. Jago sekali mengguntingnya. Besaran keratannya sama, hasil guntingannya lurus dan rapih.

Kalau ke pasar, Ema membawa kantong dari kain bergambar bunga-bunga buatan Abah, dengan pegangan berbentuk lingkaran dari alumunium dengan diameter 10 centimeter. Bila kantong kainnya sudah lusuh, Abah akan segera mengganti kainnya.

Bubur lemu dibuat dari tepung beras dengan aroma daun suji dan pandan, sekaligus menjadi pewarna hijau alami. Walau namanya bubur, bubur lemu khas Pameungpeuk itu wujudnya lebih kental, sehingga bisa dikerat dengan pisau yang tajam dan tipis. Potongannya berbentuk persegi atau jajaran genjang. Lebarnya seukuran dua jari orang dewasa, dengan panjang dua setengah ruas jari.

Bubur lemu dipotong-potong sesuai pesanan, kemudian disusun dalam daun pisang manggala yang lebar dan kuat. Bumbu pemanisnya seperti enten, perpaduan gula merah dan parudan kelapa muda yang dimasak sampai tercampur dengan baik, tapi lebih encer.

Inilah bubur lemu paling enak sedunia. Tidak ada lagi tandingannya, karena di tempat lain tak ada bubur lemu dengan pemanis entén cair.

Kupat Tahu

Kalau tidak membeli bubur lemu, dapat dipastikan Ema akan membeli kupat tahu Bi Mae. Bumbu kacang tanahnya melimpah. Kupat tahu khas Pameungpeuk itu isinya benar-benar hanya kupat dan goreng tahu.

Bumbu utamanya memakai goreng kacang tanah yang sudah ditumbuk halus. Kerupuknya pun tidak disimpan utuh, tapi diremukkan di atas potongan kupat dan tahu yang sudah diguyur bumbu dan diberi kecap.

Cekatan sekali Bi Mae membungkus kupat tahu dengan daun pisang manggala, lalu disemat dengan lidi yang kedua ujungnya sudah diruncingkan.

Kupat tahu Bi Mae enak sekali. Saya selalu berharap, ketika pulang dari pasar, Ema akan membawa kupat tahu di dalam jinjingan kainnya.

Editor: Redaksi

COMMENTS