• Berita
  • RESENSI BUKU: Perempuan Melawan Arus Tradisi Kawin Tangkap

RESENSI BUKU: Perempuan Melawan Arus Tradisi Kawin Tangkap

Novel Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam menceritakan korban tradisi kawin tangkap. Ia memberontak melawan kekerasan dan stigma.

Jilid buku Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam karya Dian Purnomo (Penerbit: Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2021). (Foto: Selsha Septifanie Gunawan/BandungBergerak)

Penulis Selsha Septifanie Gunawan30 November 2025


BandungBergerak - Magi Diela, seorang perempuan Sumba, Nusa Tenggara Timur yang berprofesi sebagai tenaga kerja honorer di Dinas Pertanian Waikabubak, dipaksa menerima kenyataan pahit menjadi korban tradisi kawin tangkap (yappa mawine). Dalam tradisi ini, perempuan dapat “ditangkap” dan dinikahkan tanpa persetujuannya serta menjadi “barang” yang dapat di tukar dengan hewan ternak untuk keluarganya.

Lika-liku kehidupan Magi dan tradisinya diceritakan dalam novel Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam karya Dian Purnomo, seorang penulis perempuan yang memiliki perhatian terhadap isu sosial, perempuan dan perlindungan anak. Dalam novel terbitan Gramedia Pustaka Utama ini Dian mengangkat ketidakadilan yang dihadapi oleh perempuan di tengah masyarakat patriarkal, juga membuka diskusi tentang perlindungan hak-hak perempuan.

Melalui tokoh Magi Diela, Dian Purnomo merepresentasikan simbol perempuan yang melawan ketidakadilan tradisi kawin tangkap yang masih mengikat di beberapa daerah di Sumba. Pada umumnya tradisi kawin tangkap telah disetujui oleh keluarga kedua mempelai untuk menempuh jalan tersebut. Akan tetapi, kawin tangkap yang Magi alami melenceng dari nilai-nilai luhur. Ia ditangkap secara sepihak dan penuh dengan kekerasan.

Dalam salah satu adegan dikisahkan, Magi Diela tengah mengendarai sepeda motor sendiri menuju rumahnya setelah melakukan penugasan. Salah satu lelaki kemudian mengatakan bahwa resleting tasnya terbuka. Sesaat Magi berhenti untuk mengecek keadaan resleting tasnya. Tiba-tiba sebuah mobil pick-up dengan segerombol laki-laki datang. Magi diseret ke dalam mobil. Ia diculik.

Penculikan ini didalangi oleh Leba Ali, seorang pria paruh baya berpengaruh di desanya yang menginginkan Magi sebagai istrinya.

Baca Juga:RESENSI BUKU: Saman, Kali ini Pertaruhan Milik Kita!
RESENSI BUKU: Setelah Boombox, Musik sebagai Hiburan dan Perlawanan
RESENSI BUKU: Paul Scholten, Arsitek Pendidikan Hukum di Hindia Belanda

Perlawanan Magi Melawan Stigma Masyarakat dan Tradisi Kawin Tangkap

Yang membuat cerita ini begitu kuat adalah bagaimana Magi berusaha keras menentang nasib dirinya yang terbelenggu sistem patriarki yang tidak adil pada perempuan. Ia juga menghadapi pandangan umum bahwa di mata masyarakat, ia sedang menjalani proses ‘diminta menjadi istri’, bukan sedang dirampas hidupnya. Tidak ada satu orang pun yang berpihak kepada dirinya, bahkan orang tuanya sendiri yang dahulu mendukung penuh impiannya untuk memajukan desa.

Di mata masyarakat, ia telah dirampas keperawanannya oleh Leba Ali. Ini memicu stigma bahwa Magi mau tidak mau menerima Leba Ali. Mereka berpikir bahwa tidak akan ada yang mau lagi dengan Magi yang sudah hilang keperawanannya.

Magi dengan berani menolak dirinya untuk dikawinkan dengan Leba Ali. Sejak awal ia diculik dan diseret paksa untuk dikawinkan, ia berteriak, meronta, menendang. Di rumah Leba Ali, ia dikurung dan diperlakukan seperti binatang. Ia dipaksa untuk melayani dan memuaskan nafsu Leba Ali, diisolasi dan dikurung dari dunia. Meskipun begitu, ia tetap teguh pada pendiriannya untuk memberontak, ia menolak makan, menolak berbicara, mencoba melarikan diri meski terus gagal. Sampai akhirnya ia memilih untuk mati dengan melukai tangannya, daripada tunduk pada sistem yang melenceng.

Usaha Magi membuahkan hasil. Ia dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan insentif. Dari situlah ia melarikan diri dengan bantuan sahabatnya, Dangu Toda. Magi kabur dari rumah Leba Ali dan pergi ke Kupang.

Dukungan dan Tempat Aman dari Sesama Perempuan

Sesampainya ia di Kupang, ia tinggal di rumah aman milik Gema Perempuan, organisasi yang menangani korban kekerasan. Untuk pertama kalinya ia tidak merasa sendiri, ia bertemu dengan perempuan-perempuan lain yang terluka, dan menyadari bahwa bukan hanya dia yang dibungkam oleh adat, keluarga maupun masyarakat. Di sana, ia tidak hanya mendapat tempat tinggal, tetapi diberi kekuatan untuk bangkit kembali.

Ia dibantu oleh perempuan-perempuan hebat: Mbak Rambu, seorang pengelola rumah aman Gema Perempuan sekaligus sosok Ibu yang lembut namun tegas. Mbak Sinta, relawan hukum Gema Perempuan yang mendampingi Magi dalam proses pelaporan dan upaya hukum terhadap pelaku kawin tangkap. Dan yang terpenting, perempuan-perempuan yang juga di bawah perlindungan rumah aman yang menjadi korban kekerasan, baik kekerasan dalam rumah tangga, pernikahan paksa, atau eksploitasi, menjadi lingkaran yang saling mendukung dan menyemangati.

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp Kami

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//