• Kolom
  • BANDUNG DARI PINGGIR: Menyebar Biji di Tembok Berduri

BANDUNG DARI PINGGIR: Menyebar Biji di Tembok Berduri

Bandung sedang menikmati musim semi literasi. Perpustakaan dan toko buku independen bermunculan.

Tri Joko Her Riadi

Pemimpin Redaksi BandungBergerak.id

Zine pemberangusan buku karya Deni Rachman. (Foto: Tri Joko Her Riadi/BandungBergerak)

27 Januari 2026


BandungBergerak.id  – Kamis, 13 November 2025 siang, 20-an orang murid sebuah sekolah alam di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, datang ke Perpustakaan Bunga di Tembok untuk merayakan sebuah kegiatan internal yang agak tidak biasa di kebanyakan sekolah tapi sudah menjadi rutin di antara mereka: bedah buku. Menyewa angkot (angkutan kota), mereka menempuh jarak hampir 20 kilometer selama lebih dari satu jam. Guru-guru, yang kebanyakan orang muda, menyertai.

Di ruang bar yang segera sesak oleh kehadiran mereka, dua orang murid bergiliran menceritakan pengalaman membaca buku, lalu kawan-kawan yang lain dipersilakan memberikan tanggapan atau melontarkan pertanyaan. Murid pertama membagikan kisah tentang “hubungan orang tua dan anak” dalam novel yang sangat populer Dompet Ayah Sepatu Ibu karya J. S. Khairen. Salah seorang kawannya, seorang bocah perempuan yang duduk di barisan paling depan, bertanya: kenapa orang tua sering menyembunyikan pengorbanan yang mereka lakukan ke anak mereka ya?

Dan begitulah diskusi berlangsung selama lebih dari dua jam. Ada hening penuh makna, ada tawa riuh, ada tepuk tangan panjang. Buku menghadirkan pertemuan, cerita melahirkan imajinasi, kalimat menghidupkan percakapan. Literasi menjadi kerja merawat nyala.

Setelah bedah buku usai, para murid ramai-ramai masuk ke Ruang Baca Komunitas dan selama beberapa menit menikmati buku koleksi. Termasuk buku-buku koleksi belasan komunitas dan individu yang  bergabung dalam gerakan Sewa Rak 50 ribu rupiah per bulan. Saya turun dari lantai dua dan dari jendela kaca selalu saja terpikat menyaksikan orang-orang dengan mata terpaku pada halaman-halaman buku. Duduk di kursi, bersandar di sofa, selonjor di lantai, berdiri di samping rak. Takzim. Tak satu pun bising sanggup merenggut perhatian mereka. Dunia berputar dengan sang pembaca sebagai pusatnya.

Seorang bocah mendekati bar dan dengan polosnya menyampaikan niat membeli minuman: uang “hanya” 10 ribu rupiah dapat apa? Harga secangkir espreso yang paling pas, tapi tentu kopi itu akan terlalu berlebihan bagi anak seusianya. Bila, pengelola perpustakaan, balik bertanya minuman apa yang dia inginkan. Matcha dingin, tentu saja. Minuman berbahan bubuk teh hijau ini menjadi salah satu yang paling laris di sini. Khusus untuk bocah pembaca buku dari Lembang, harga normal 18 ribu rupiah per gelas tidak berlaku.

Saya membayangkan bocah itu dengan penuh sukacita kembali masuk ke Ruang Baca lalu tekun membaca buku dengan segelas matcha dingin yang menemani di atas meja. Cerita menari-nari di kepalanya.

Baca Juga: BUNGA DI TEMBOK: Sum Kuning, Korban Pemerkosaan yang Dituduh Menyebarkan Kabar Bohong
BANDUNG DARI PINGGIR: Tentang Tamansari, Gaza, Musik, dan Hari-hari Ini

Merayakan Pertemuan, Menemukan Irisan

Perpustakaan Bunga di Tembok, sejak dibuka untuk publik pada November 2024 lalu, diniatkan sebagai bukan sekadar tempat membaca buku; ia terlebih adalah tempat bertemu, bertukar kabar, berbagi gagasan.

Sehari sebelum rombongan anak sekolah dari Lembang datang, digelar diskusi membahas pengelolaan sampah di Bandung. Wali kota Muhammad Farhan dihadirkan, duduk bareng warga dan komunitas. Yang menyatukan mereka adalah keresahan atas kebijakan dua kaki pemerintah dalam mengurus sampah: mendorong warga memilah tapi pada saat bersamaan menggulirkan program pembakaran lewat insinerator. Dalam diskusi itu, wali kota  “dipaksa” untuk menegaskan larangan penggunaan insinerator atau tungku bakar ukuran  kecil yang rentan membahayakan warga sekitar dan mencemari lingkungan.

Sepekan lebih awal, di tempat yang sama, dilangsungkan diskusi membahas perkara perundungan yang kian marak terutama di lingkungan sekolah kita. Dua pekan lebih awal, ada pemutaran dan diskusi film yang menjadi rangkaian Palestine Cinema Days. Ini adalah kegiatan ke sekian di perpustakaan ini yang mengusung isu Palestina. Pernah ada diskusi yang secara khusus membahas politik media dan kiprah jurnalis di medan pembantaian itu.

Masih di November 2025, dua hari sesudah kunjungan dari Lembang, Perpustakaan Bunga di Tembok juga menjadi tuan rumah Rapat Redaksi Terbuka media alternatif BandungBergerak. Itulah waktunya komunitas dan audiens memperoleh laporan kinerja media lalu bisa menyampaikan kritik serta usulan secara langsung. Seminggu kemudian, giliran dilangsungkan peluncuran buku dokumenter penting Rock Sound: Musik Rock Bandung Bawah Tanah 1990-2020 karya Ojel Sansan Arisandi.

Pertemuan-pertemuan di perpustakaan pada bulan November belum selesai. Pada Selasa, 25 November 2025 ada sepasang calon pengantin, entah bagaimana ceritanya, yang memakai Bunga di Tembok sebagai lokasi foto pre-wedding. Betapa ajaib! Dua hari kemudian, digelar diskusi dengan topik panas terkait pengesahan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Perdata (KUHAP) dan imbasnya pada pemenuhan hak warga negara. Lalu selang sehari, ada obrolan bertajuk “Perempuan dalam Krisis Ekologis”. Menutup pekan, pada Sabtu, 29 Desember 2025 bukan diskusi diadakan, tapi kerja tangan merajut marka buku.

Dirunut lebih jauh ke belakang, daftar pertemuan bisa amat panjang. Topik yang dibahas juga sangat beragam. Ada diskusi yang mempertanyakan stigma terhadap para jomlo, ada obrolan yang menggugat perampasan lahan di Papua. Ada percakapan hangat yang menggunjingkan penetapan mantan presiden Republik Indonesia Soeharto sebagai pahlawan nasional, ada pertukaran pikiran yang intens tentang kegagalan aksi-aksi massa kita melawan rezim. Dalam catatan Bila, ada 116 kegiatan berlangsung di perpustakaan ini dalam satu tahun pertama umurnya.

Jangan lupakan Kembang Kata, klab baca buku berisi orang-orang muda yang bermarkas di Bunga di Tembok. Sudah lebih dari 30 pertemuan mereka adakan, sebagian besar pada Jumat petang. Perlahan-lahan, kawan-kawan muda ini tumbuh bersama sebagai komunitas yang hidup, dinamis, inklusif, sekaligus kritis. Mereka, lewat konsep piknik literasi yang unik, bergabung dalam barisan komunitas yang berkampanye mengkritik pengesahan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) sepanjang tahun 2025 ini. Hobi yang personal menemukan irisan dengan urusan warga negara yang kebanyakan.

Dan persis seperti itulah semangat yang diusung perpustakaan kecil yang terinspirasi oleh puisi “Bunga dan Tembok” karya Wiji Thukul ini. Segenap pertemuan, dari membaca buku, menonton film dan teater, mendengarkan musik, sampai mendiskusikan isu, kami yakini sebagai kerja menyebar biji. Menekuni literasi berarti merawat kepekaan terhadap apa yang terjadi di kanan-kiri, merawat kepedulian dan empati, merawat pemikiran dan sikap kritis, merawat kehendak menjadi manusiawi. Membangun komunitas dengan demikian bukan lagi perkara mengumpulkan kesamaan-kesamaan, tetapi justru menemukan irisan-irisan. Mereka yang tenggelam dalam buku mulai menengok isu-isu sosial di lingkaran terdekat dalam diskusi, mereka yang jago teriak-teriak di lapangan menekuni lagi lembar-lembar buku di kesunyian, dan banyak lagi model irisan yang lain.

Dalam keyakinan kami, semua yang kami lakukan dalam setahun pertama ini adalah kerja menyebar biji-biji. Dan ini tentu saja kerja pelan. Tidak tergesa, tidak serta-merta. Butuh sekian banyak siang dan malam agar biji-biji itu berkecambah. Butuh  sekian banyak bulan dan bahkan tahun agar biji-biji itu lalu berakar kuat dan berbatang tegak. Dan entah sekian banyak masa lagi  dibutuhkan agar akar-akar itu mencengkeram dan menghancurkan tembok, seperti dinubuatkan sang penyair yang dihilangkan di pusaran Reformasi 1998.

Kita tahu, hari ini tembok-tembok dibangun semakin tebal, semakin kokoh, semakin angkuh. Ditambah lagi: terpasang duri-duri yang siap melukai batang, mematahkan ranting, dan merontokkan kuncup.

Pada Selasa, 16 September 2025, di Markas Kepolisian Daerah Jawa Barat, buku-buku dipamerkan sebagai barang bukti dugaan kejahatan yang menyeret ratusan orang-orang muda dalam aksi unjuk rasa di Bandung pada Agustus-September. Karya-karya hasil pergulatan intelektual diposisikan sebagai pesakitan, dituding sebagai pemicu niat buruk. Alih-alih dirayakan, buku dihukum dengan kejam. Alih-alih menyenangkan, membaca buku menjadi aktivitas membahayakan. Proses interogasi dan persidangan yang panjang terhadap para tersangka adalah proses penghakiman yang berlarut terhadap setiap aktivitas terkait buku.  

Pada Maret 2025, diskusi di Kedai Jante yang menghadirkan Ilham Aidit dibatalkan secara paksa akibat penolakan ormas. Dan ini, kita tahu, bukan kejadian baru. Pelarangan dan pembatasan terus berulang dalam format yang gonta-ganti. Aturan-aturan hukum yang belakangan direvisi dan disahkan menambah amunisi belaka.  

Demikianlah kita terjerembap ke tahun-tahun gelap ketika aktivitas membaca buku dipandang dengan penuh curiga, pertemuan dilihat sebagai ancaman, dan diskusi diawasi agar tak menular. Tembok semakin tebal, semakin berduri.

Pada Sabtu petang, 29 November 2025, dalam sebuah perayaan kecil-kecilan umur satu tahun, Perpustakaan Bunga di Tembok menggelar Musyawarah Buku #1 untuk menandai umur satu tahun. Deni Rachman, pedagang buku cum penulis dan pengarsip andal, dengan salah satu karya terpentingnya, Pohon Buku Bandung (2018), dihadirkan sebagai pemantik diskusi. Baru saja ia menerbitkan zine Pemberangusan Buku yang memuat lini masa pemberangusan buku di Bandung kurun 2001-2025. Beberapa kawan pengelola perpustakaan hadir dan berdiskusi.

“Apa iya kita mau diam saja menyaksikan ini terus berulang? Pemberangusan buku harus dilawan!” kata Deni.

Berjejaring, Bersama-sama

Bunga di Tembok tentu saja tidak sendirian menyebar biji. Bandung sedang menikmati musim semi literasi. Perpustakaan dan toko buku independen bermunculan. Dan lagi-lagi, mereka menyediakan diri sebagai tempat bertemu.

Di utara, ada The Room 19 dan Howl, dua perpustakaan independen yang dikelola oleh orang-orang muda dengan konsep khas pemesanan akses masuk. Ada juga Kopi Poka di kawasan Dago. Aktivitas-aktivitas terkait buku dan literasi hadir di ruang-ruang baru ini. Di jantung kota, ada Toko Buku Pelagia yang amat rajin menggelar diskusi dan beragam kegiatan lain. Di antara keempat nama ini, The Room 19, dengan umur baru dua tahun, menjadi yang tertua.

Sedikit ke timur, di kawasan Jalan Laswi, ada Kedai Jante di kompleks Perpustakaan Ajip Rosidi yang sudah sejak awal tak kendur menggulirkan kegiatan, mulai dari diskusi hingga pasar komunitas. Masih di kompleks yang sama, ada Toko Buku Bandung yang menggelar obrolan tiap Rabu sore.

Agak ke selatan, tidak jauh dari Bunga di Tembok, beberapa ratus meter saja jaraknya, ada perpustakaan Dr. Longbook. Salah satu aktivitas uniknya adalah secara rutin membacakan buku bagi para lansia di panti wreda dengan melibatkan orang-orang muda sebagai sukarelawan. Menyusul yang baru beberapa bulan umurnya, Rin Matcha.

Titik-titik literasi baru menambah kekuatan ruang-ruang yang telah jauh lebih dulu ada dan sanggup bertahan melintas zaman di Bandung. Dari Taman Baca Hendra hingga Pitimoss. Dari Pasar Buku Palasari hingga Gedung Merdeka. Dari Pustakalana hingga Perpustakaan Salman. Dari Rumah Baca Buku Sunda Jeung Sajabana hingga Perpustakaan Agrarian Resource Center (ARC). Dan masih banyak nama yang tidak tersebutkan.

Di luar Kota Bandung, kerja menyebar biji juga terus bergulir. Di Cimahi, ada Toko Buku Imakata Books. Di Kabupaten Bandung, ada Perpustakaan Alam Malabar dan Kawah Sastra Ciwidey. Di Cicalengka, para pengelola Taman Baca Masyarakat berjejaring dan membangun konsolidasi. Di Jatinangor, ada perpustakaan legendaris Batoe Api yang telah meluluskan ribuan orang alumni, kebanyakan para mahasiswa di kampus-kampus di kawasan tersebut.

Jangan lupakan kawan-kawan Perpustakaan Jalanan yang menjadikan trotoar dan taman kota sebagai ruang membaca sekaligus ruang bertemu. Mereka terus berlipat ganda. Bukan melulu di kota, tapi juga di kawasan pinggiran.

Membangun titik literasi adalah merawat ruang bertemu. Dan di masa-masa sulit ketika taman kebebasan kian menyempit seperti sekarang, sekecil apa pun pertemuan niscaya menguatkan perasaan senasib sepenanggungan. Berjejaring, atau bahkan memiliki wadah bersama, akan menentukan. Kelahiran Aliansi Perpustakaan Independen (API) bisa jadi langkah awal yang perlu dipertahankan napasnya. Namun yang lebih penting, setidaknya menurut saya, adalah segera merumuskan kerja-kerja bersama. Dan pengarsipan bisa menjadi prioritas.

Sudah ada sekian banyak pertemuan, sekian banyak diskusi, sekian banyak cerita, sekian banyak kerja menyebar biji, tapi siapa yang mau mencatat dan mengarsipkan semua itu? Siapa yang mau menaruh peduli supaya kerja-kerja itu tidak menjadi kelisanan yang lalu menguap begitu saja di udara sehingga tidak bisa ditengok lagi untuk bercermin dan belajar? Sangat mungkin kita sendiri, bersama-sama. Membuat kronik sederhana yang dikerjakan secara kolektif patut dicoba.  

Seribu Cara Menyebar Biji

Bagaimana menggambarkan peran perpustakaan sebagai penyebar biji? Ada baiknya kita menengok kisah tentang seorang bocah remaja kulit hitam yang masuk ke perpustakaan di Memphis, Amerika Serikat pada 1926 dengan tubuh gemetaran dan mata terus menatap lantai karena kepala-kepala pengunjung melongok penasaran atas sebuah peristiwa ganjil. Berbekal kartu perpustakaan yang dipinjamkan oleh seorang pegawai di perusahaan optik tempatnya bekerja sebagai pengepel lantai, pengelap kacamata, dan penyemir sepatu, sang bocah dapat menenteng buku-buku Dickens, Tolstoy, dan Crane.

Meminta cap di hadapan petugas perpustakaan, bocah bernama Richard itu kembali gemetar. Begini adegan yang menyayat perasaan tersebut dikisahkan.

“Kamu yakin buku-buku ini bukan untukmu?” tanya petugas perpustakaan dengan suara kencang.

Sekali lagi kepala-kepala di dalam perpustakaan melongok dan Richard merasa semua mata orang-orang kulit putih itu sedang memelototinya.

Ia berpikir bahwa kedoknya terbongkar, bahwa ia tidak akan pernah membaca buku-buku yang begitu ingin ia baca. Tapi Richard memberi tahu perempuan petugas perpustakaan itu apa yang ingin dia dengar, apa yang dia percayai tentang semua remaja kulit hitam sepertinya adalah benar.

“Tidak, Bu,” katanya. “Buku-buku ini bukan untuk saya. Membaca saja saya tidak bisa.”   

Petugas perpustakaan tertawa terbahak dan mencap buku-buku itu. Richard mendengar orang-orang lain juga tertawa ketika ia melangkah keluar pintu.

Nama lengkap remaja kulit hitam itu Richard Wright. Buku-buku yang ia bawa dari perpustakaan hari itu adalah buku-buku ‘betulan’ pertama yang ia baca. Sebelumnya, untuk memuaskan rasa laparnya pada cerita, ia terpaksa membaca apa saja yang bisa ia baca, mulai dari label makanan hingga koran-koran bekas. Tidak ada tempat bagi orang kulit hitam di perpustakaan!

Kelak dunia mengenal Richard Wright sebagai jurnalis cum penulis berpengaruh di Amerika, terutama berkat kegigihannya menyoroti isu kesetaraan ras. Salah satu karya besarnya adalah memoar The Black Boy (1945). Pada 1955, Richard datang ke Bandung untuk menghadiri dan menulis tentang Konferensi Asia Afrika dalam reportase yang diterbitkan sebagai buku berjudul Color Curtain (1956). Penggal kisah Richard remaja dengan kartu perpustakaannya ditulis oleh William Miller, dengan ilustrasi yang sangat kuat hasil goresan Gregory Christie, dalam buku Richard Wright and the Library Card.

Dalam cerita hidup Richard, biji disebar lewat cara yang sulit dan bahkan menyakitkan: diskriminasi di ruang perpustakaan. Dalam cerita hidup orang lain, bisa saja biji disebar lewat cara-cara lain yang unik, yang mungkin hangat juga menyenangkan. Di ruangan nyaman berpendingin udara atau di jalanan yang bikin gerah, kerja senyap itu dapat bergulir.  

Demikianlah saya meyakini bocah Lembang yang menikmati segelas matcha dingin seharga 10 ribu rupiah di Bunga di Tembok itu pulang ke utara dengan membawa secuil ingatan indah tentang perpustakaan, tentang buku, tentang cerita, tentang imajinasi. Dan itulah biji yang niscaya akan terus tumbuh, entah di tembok mana, entah sampai seberapa besar dan seberapa tinggi.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//