• Opini
  • Di antara Akar Budaya dan Etalase Pertokoan, Bandung yang Terombang-ambing Tren

Di antara Akar Budaya dan Etalase Pertokoan, Bandung yang Terombang-ambing Tren

Bandung tidak perlu menjadi tiruan kota lain untuk diakui. Ia memiliki modal kultural yang kaya, jika mau dirawat dengan kesabaran dan keberanian.

TH Hari Sucahyo

Pegiat pada Laboratorium Kajian Sosial Lingkungan (LKSL) “NODES”

Warga dan wisatawan nonton atraksi tari jaipongan di Jalan Braga, Bandung, saat diberlakukan Braga Free Vehicle, 5 Mei 2024. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak.id)

3 Februari 2026


BandungBergerak.id – Bandung pernah tumbuh dari akar yang dalam, dari tanah Sunda yang lembap oleh sejarah, bahasa, dan kebiasaan yang berlapis. Kota ini dulu bukan sekadar titik di peta, melainkan suasana batin: ritme hidup yang pelan tapi pasti, sapaan yang santun, selera yang terbentuk dari keseharian, bukan dari etalase. Di balik julukan Paris van Java, ada wajah yang lebih intim, kampung-kampung yang menyimpan memori, pasar yang menjadi pusat cerita, dan seni yang lahir bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk dirayakan bersama. Namun waktu bergerak, dan Bandung, seperti banyak kota lain, mulai memandang dirinya lewat cermin yang disodorkan dari luar. Perlahan, yang lokal tampak usang, dan yang datang dari jauh terasa lebih sahih.

Peralihan itu tidak terjadi dengan satu ledakan, melainkan dengan desisan yang nyaris tak terdengar. Dimulai dari cara berpakaian, cara berbicara, hingga cara memaknai kreativitas. Bahasa Sunda yang dulu mengalir alami di ruang publik, kini terselip canggung, seolah hanya pantas muncul di panggung seremonial atau konten nostalgia. Anak muda Bandung semakin fasih menyusun identitasnya dalam bahasa global; bahasa tren, bahasa pasar, bahasa algoritma. Tidak ada yang salah dengan keterbukaan, tetapi ada kegelisahan ketika keterbukaan itu menuntut pengorbanan: menanggalkan yang sendiri agar tampak relevan.

Skena tumbuh subur di kota ini, dan Bandung dikenal sebagai ladang eksperimentasi. Musik, mode, kopi, seni rupa, hingga gaya hidup membentuk ekosistem yang tampak hidup dan dinamis. Namun skena yang semestinya menjadi ruang perlawanan terhadap arus utama, justru sering terjebak menjadi replika arus itu sendiri. Apa yang viral di kota lain segera direproduksi, dengan aksen lokal yang tipis, kadang sekadar tempelan. Kafe-kafe hadir dengan estetika seragam, playlist yang sama, dan menu yang bisa ditemukan di mana saja. Ruang kreatif berubah menjadi panggung pembuktian: siapa paling cepat menangkap tren, siapa paling dulu memotret, siapa paling awal diunggah.

Baca Juga: Ketika Taman Menjadi Rumah Kedua Warga Kota
215 Tahun Bandung: Kota dengan Dua Wajah
Dari Kereta Cepat ke Layar Gawai: Bandung di Persimpangan Kecepatan dan Imajinasi

Kota yang Berlomba dengan Dirinya Sendiri

Di titik ini, ketakutan tertinggal tren menjadi motor penggerak. Kota seolah berlomba dengan dirinya sendiri, memproduksi kebaruan tanpa sempat bertanya untuk apa. Bandung yang dulu dikenal karena keunikan seleranya, kini sering merasa perlu validasi dari luar. Ada kegamangan kolektif yang membuat kita lebih sibuk meniru daripada merawat. Tradisi tidak ditolak secara terang-terangan, tetapi dibiarkan mengering karena dianggap tidak cukup “kekinian”. Padahal, tradisi tidak pernah menolak pembaruan; yang sering terjadi justru sebaliknya, pembaruan menolak ingatan.

Kehilangan identitas tidak selalu berarti lenyap total. Ia bisa hadir sebagai pengaburan, sebagai suara yang kalah oleh kebisingan. Identitas Sunda di Bandung masih ada, tetapi sering ditempatkan sebagai latar, bukan sebagai pusat. Ia menjadi ornamen dalam festival, bukan prinsip dalam kebijakan. Ia hadir dalam slogan, bukan dalam laku. Ketika kota menata dirinya untuk pariwisata dan investasi, yang disederhanakan sering kali adalah kebudayaan; diringkas agar mudah dijual, dipoles agar mudah difoto. Yang rumit, yang reflektif, yang membutuhkan waktu untuk dipahami, tersingkir oleh yang instan.

Ironisnya, justru dalam kegelisahan itu, Bandung tetap melahirkan individu-individu yang mencoba bertahan. Seniman yang memilih menggali kembali arsip lokal, musisi yang menyisipkan bahasa ibu di antara distorsi, perupa yang menantang estetika seragam dengan simbol-simbol kampung. Mereka tidak menolak skena, tetapi mengingatkan bahwa skena seharusnya berakar. Bahwa keberanian sejati bukan terletak pada seberapa cepat mengikuti tren, melainkan seberapa jujur menyuarakan pengalaman sendiri. Namun suara-suara ini sering tenggelam, kalah oleh gema popularitas yang diukur dari jumlah, bukan kedalaman.

Media sosial mempercepat siklus lupa. Apa yang hari ini dipuja, besok ditinggalkan. Kota pun ikut terseret, mengatur wajahnya agar selalu tampak baru. Gedung lama diganti mural tematik, gang-gang dipoles menjadi spot foto, sejarah diringkas menjadi caption. Ada keindahan di sana, tetapi juga ada kehilangan. Ketika segalanya harus instagramable, ruang untuk hening dan permenungan menyempit. Bandung menjadi etalase yang sibuk, sementara ruang-ruang intim tempat identitas tumbuh pelan-pelan semakin langka.

Ketakutan Tertinggal Tren

Ketakutan tertinggal tren sebenarnya adalah ketakutan kehilangan perhatian. Dalam ekonomi perhatian, kota bersaing layaknya merek. Bandung dipasarkan sebagai kreatif, muda, dan dinamis. Citra ini membawa manfaat, tetapi juga tekanan. Kreativitas dituntut produktif, kebudayaan dituntut adaptif, dan warga dituntut partisipatif dalam narasi besar. Mereka yang tidak ikut arus, yang memilih jalur sunyi, sering dianggap ketinggalan zaman. Padahal, mungkin merekalah yang sedang menjaga napas kota agar tidak terengah.

Pertanyaan yang perlu diajukan bukan apakah Bandung harus kembali ke masa lalu, melainkan bagaimana ia bisa berdamai dengan asal-usulnya sambil melangkah ke depan. Identitas bukan museum; ia hidup, berubah, dan bernegosiasi. Tetapi perubahan yang sehat membutuhkan kesadaran, bukan sekadar reaksi. Bandung tidak perlu menjadi tiruan kota lain untuk diakui. Ia memiliki modal kultural yang kaya, jika mau dirawat dengan kesabaran dan keberanian. Menghadirkan Sunda bukan sebagai kostum, melainkan sebagai cara pandang: dalam tata kota yang menghormati ruang bersama, dalam pendidikan yang memuliakan bahasa ibu, dalam skena yang memberi tempat pada yang lokal tanpa mengurungnya.

Kegelisahan ini adalah undangan untuk berhenti sejenak. Untuk bertanya siapa kita ketika lampu sorot dimatikan, ketika tren berlalu, ketika validasi menguap. Bandung bisa memilih menjadi kota yang selalu mengejar, atau kota yang percaya diri melangkah dengan iramanya sendiri. Dari Sunda ke skena tidak harus berarti kehilangan; ia bisa menjadi perjalanan yang memperkaya, jika akar tidak diputus. Kota ini masih punya kesempatan untuk mengingat, dan dari ingatan itu, mencipta masa depan yang tidak hanya relevan, tetapi juga bermakna.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//