Perpustakaan Jalanan Banjaran Bertahan di Alun-Alun, Menghadapi Prasangka dan Gangguan
Perpustakaan Jalanan Banjaran menjadi ruang literasi di Bandung Selatan, tumbuh di antara keramaian, tantangan, dan kecurigaan terhadap buku.
Penulis Insan Radhiyan Nurrahim, 4 Februari 2026
BandungBergerak - Setiap malam Minggu, tikar digelar di alun-alun Banjaran. Buku-buku disusun rapi di bawah lampu jalan yang temaram. Di tengah lalu-lalang warga dan deru motor, Perpustakaan Jalanan Banjaran membuka ruang kecilnya: tempat membaca, berbincang, dan beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk dan hujan deras di Bandung selatan.
Namun, ruang ini juga pernah hadir dengan ancaman gangguan. Antakara, salah satu pegiat, bercerita tentang situasi yang kerap mereka hadapi.
“Tiba-tiba polres suka datang pakai motor. Terus ada orang random lagi mabuk di sini. Disangkanya teman-teman kita,” ujarnya.
Kehadiran orang-orang di sekitar alun-alun yang tak terlibat dalam kegiatan sering memunculkan stigma, seolah lapakan buku identik dengan keramaian tak terkontrol. Padahal, yang mereka bangun justru ruang aman untuk belajar dan bertukar pikiran.
Di balik aktivitas membaca, komunitas ini juga merintis basis ekonomi mandiri. Salah satunya melalui sablon manual dengan metode cukil kayu. Ide ini lahir dari teman-teman yang aktif di seni grafis.
“Itu buat kebutuhan dana, pemasukan kita,” kata Antakara.
Kaus-kaus dengan motif hasil cukil tangan dijual untuk menopang keberlangsungan kegiatan, tanpa bergantung pada sponsor besar.
Upaya ini tak berhenti di Banjaran. Mereka sempat menggelar beberapa workshop cukil kayu di Taman Sari, Dago Elos, hingga Anyer Dalem, memperluas jejaring sekaligus berbagi pengetahuan kepada komunitas lain. Dari lapak kecil, mereka membangun solidaritas lintas wilayah.
Kehadiran Perpustakaan Jalanan Banjaran berangkat dari kebutuhan geografis. Jarak ke Taman Cikapayang yang merupakan pusat Perpustakaan Jalanan terbilang jauh bagi warga Bandung Selatan.
“Jadi kita bikin aja di sini, di alun-alun Banjaran,” ujar Antakara.
Dari kebutuhan sederhana itulah ruang literasi lokal lahir.
Orang-orang muda perpustakaan jalanan banjaran pernah mendapati pedagang di sekitar alun alun banjaran yang penasaran tentang kehadiran mereka. Pedagang pun pernah ada yang pulang dengan membawa buku karena rasa penasaran mereka melihat lapakan perpustakaan di alun alun tersebut. Begitu juga dengan anak-anak yang melintas dengan rasa penasaran yang sama, mereka bertanya apakah buku ini boleh untuk dibaca atau tidak.
Adapun permasalahan mereka yang kerap terjadi di Alun-alun Banjaran adalah masyarakat dari kalangan tertentu seperti ormas. Di suatu malam mereka pernah mendapatkan perlakuan penagihan uang lapakan karena dikira sedang berjualan buku. Dengan todongan pisau dari orang tidak dikenal mereka terasa tertekan dan tidak bisa melawan, hingga akhirnya beberapa barang seperti buku bacaan raib diambil sekumpulan orang tersebut.
Kendala pun sering menyelimuti ketika hujan deras tiba, mengingat wiayah mereka termasuk daerah rawan banjir. Hamparan plastik biasanya menjadi penyelamat mereka dalam melindungi buku-buku dari hujan.
Perjalanan mereka sempat terhenti. Pada 2022 hingga 2024, komunitas ini vakum karena para anggotanya sibuk dan berpencar. Namun, seperti buku-buku yang kembali dibuka setelah lama tertutup, semangat itu tak benar-benar padam. Mereka perlahan kembali, membentangkan tikar, menyusun halaman, dan membuka ruang dialog.
Perpustakaan Jalanan Banjaran adalah gelaran para bembaca dengan perlawanan sunyi terhadap keterbatasan akses, stigma ruang publik, dan dominasi logika komersial. Di tengah tantangan menyempitnya kebebasan berekspresi, termasuk mengakses buku, mereka memilih bertahan—dengan buku di tangan dan cukil kayu sebagai sandaran basis ekonomi mereka.
Baca Juga: Membaca Sambil Ngobrol ala Perpustakaan Jalanan Bandung
Membaca Buku di Jalanan Bandung, Membuka Ruang Belajar tak Berpagar

Fenomena Literasi yang Menginspirasi
Dalam satu dekade terakhir perpustakaan jalanan menjadi fenomena baru di tengah maraknya perbincangan mengenai rendahnya minat baca di Indonesia. Menurut penelitian Saputra, N. D., Damayani, N. A., & Rahman, A. S. (2017) (Khizanah Al-Hikmah: Jurnal Ilmu Perpustakaan, Informasi, dan Kearsipan), pada akhir tahun 2016, perpustakaan jalanan telah menjadi hal yang lazim ditemukan di berbagai wilayah Indonesia, dari Aceh hingga Malang. Tidak hanya di kota besar, bahkan daerah-daerah seperti Cirebon dan Kediri pun turut mengembangkan perpustakaan jalanan.
Penelitian ini menyebut bahwa perpustakaan jalanan hadir sebagai jawaban atas masalah kurangnya fasilitas membaca yang mudah diakses oleh masyarakat. Dengan menyediakan buku-buku bacaan di tempat-tempat umum seperti taman kota atau alun-alun, perpustakaan jalanan membawa literasi langsung ke tengah keramaian.
Konsep perpustakaan jalanan dinilai sederhana, namun efektif: dengan menggelar lapak di tepi jalan, para pegiat perpustakaan jalanan memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk membaca buku tanpa harus pergi jauh ke perpustakaan umum.
Tidak seperti perpustakaan pada umumnya, perpustakaan jalanan dikelola secara sukarela oleh kelompok atau komunitas yang peduli terhadap dunia literasi. Mereka tidak mencari keuntungan material, melainkan berfokus pada peningkatan minat baca masyarakat yang terbatas oleh waktu, tempat, atau biaya untuk mengakses bahan bacaan.
Para peneliti juga menyoroti rendahnya minat baca di Indonesia. Menurut sebuah survei Central Connecticut State University, Indonesia menempati peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal minat baca. Data ini semakin diperkuat oleh laporan UNESCO yang menunjukkan bahwa dari 1.000 orang Indonesia, hanya satu orang yang memiliki minat untuk membaca buku. Fakta ini mencerminkan adanya masalah baik dari sisi personal maupun institusional dalam dunia literasi Indonesia.
Para peneliti menilai, di sisi personal, banyak masyarakat yang merasa kurang tertarik dengan kegiatan membaca, sementara secara institusional, terbatasnya fasilitas baca yang memadai juga menjadi penyebab utama rendahnya minat baca. Di sinilah perpustakaan jalanan memainkan peran penting.
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp Kami

