RITUS-RITUS YANG MENYELAMATKAN: Bhaktimantha Purnamakala dan Ruwatan Ageung Gunung Manglayang ke-7
Ritus Bhaktimantha Purnamakala dan Ruwatan Ageung Gunung Manglayang dilakukan untuk mengingatkan dan mengembalikan manusia pada kedudukannya mengurus alam.

Topik Mulyana
Dosen dan peneliti Lembaga Pengembangan Humaniora, Pusat Studi Nitiganda, Fakultas Filsafat Unpar, Ketua Padepokan Bumi Ageung Saketi
9 Februari 2026
BandungBergerak.id – Berbagai musibah, yang kadung disebut “bencana alam”, adalah peristiwa-peristiwa yang sebenarnya sederhana, namun menjadi begitu kompleks di mata manusia. Memang penyebabnya tidak tunggal, tapi bukan berarti tak bisa ditelusuri. Secara kronologis, penyebab-penyebab itu paling tidak terbagi dua: langsung dan tak langsung. Secara aktus, juga terbagi dua: alam itu sendiri dan manusia. Kemajemukan faktor penyebab inilah yang membuat kita akhir-akhir ini berdebat tanpa henti tentang apa atau siapa penyebab musibah. Saling klaim dan saling bantah menyebabkan kita tak kunjung beroleh solusi dan aksi untuk memperbaiki kerusakan.
Pada saat seperti inilah kita mestinya merenung dan berkaca. Para leluhur kita menyadari bahwa kita hidup di daerah riskan gempa bumi, letusan gunung berapi, luapan sungai, tanah longsor dan sebagainya. Beratus, bahkan mungkin beribu, tahun lamanya mereka hidup dengan kondisi alam seperti itu. Maka, sistem pengetahuan berikut produk budaya yang memungkinkan mereka hidup dengan aman dan nyaman sudah lama terbentuk.
Penataan wilayah di Tatar Sunda, seperti hutan larangan/tutupan-titipan-garapan atau menjaga sungai agar mengalir secara alamiah sesungguhnya hasil pembelajaran berabad-abad tentang bagaimana kita hidup selaras kondisi alam yang demikian. Tak kalah penting, produk budaya takbenda yang berupa norma sosial juga berperan besar dalam menjaga keseimbangan alam dan keberlangsungan hidup. Filosofi cukup, atau dalam istilah naskah Sanghyang Siksakandang Karesian: “ulah urang kajongjonan” (jangan kita berlebihan), menjadi penyelamat dalam hidup yang kerap kali dirusak oleh perilaku manusia itu sendiri.
Sayangnya, sistem pengetahuan modern yang terlalu menekankan pada rasio, menihilkan dan cepat atau lambat menggerusnya; menggerus sistem pengetahuan lama yang dengan itu juga menggerus alam. Alam hanya dilihat dari nilai guna, sebagai komoditas. Dunia kehilangan warna, hanya deretan angka, kata pelukis Jeihan Sukmantoro. Pemerintah, dengan dalih perkembangan dan percepatan ekonomi, menjadi aktor utama yang mengeksploitasi alam. Akibatnya, tanah adat digusur, hutan disulap sawit, gunung dilebur tambang, laut ditimbun pasir; alam dirusak dan rakyat banyak menderita. Benarlah apa yang dikatakan Prabu Darmasiksa kepada putranya, Sang Lumahing Taman, lima abad lampau: salah paké urang ménak, beuki awor-awur tanpa wastu ikang bwana (jika para petinggi negara salah bertindak, makin semrawutlah dunia ini). Seyogianya, banjir yang menenggelamkan Sumatra dan longsor yang menimpa Bandung Barat menjadi cermin bagi kita untuk melihat kembali siapa kita dan apa yang telah kita lakukan.

Baca Juga: Membedah Van Tricht #1
PEMERINTAHAN PAJAJARAN TENGAH #4: Lembaga Keagamaan
PEMERINTAHAN PAJAJARAN TENGAH #5: Agama Sunda
Purnamaan dan Ruwatan Ageung Gunung Manglayang
Menengok masa lalu, menggali ajaran leluhur, tidak berarti bernostalgia semata, hanya sebagai pelarian diri dari kenyataan yang pahit dan alam yang telah rusak, tetapi untuk menggali dan meraih kembali warisan-warisan berharga yang selama berabad-abad berhasil menciptakan tatanan tanpa mencukur gunung dan menyejahterakan manusia tanpa melubangi bumi. Langkah kecil menuju keinginan yang besar itu dilakukan Padepokan Bumi Ageung Saketi dan Sanggar Seni Reak Tibelat melalui acara Bhaktimantha Purnamakala: Gelar Adat Kabuyutan Ngabungbang (Purnamaan) yang dilakukan secara bulanan dan Ruwatan Ageung Gunung Manglayang secara tahunan.
Keduanya merupakan ritus yang bertujuan menghubungkan sekaligus memosisikan kembali (reconnecting & repositioning) antara Tuhan, manusia, dan alam. Tuhan telah menciptakan alam dan manusia dipercayai sebagai wakil-Nya untuk mengurus alam. Dalam perjalanannya, manusia kerap tergelincir, abai, dan lupa pada amanat besar tersebut, maka ritus dilakukan untuk mengingatkan dan mengembalikan manusia pada kedudukannya sebagai wakil Tuhan, terutama mereka yang diamanati sebagai pemimpin dan pengelola negara. Purnama adalah gejala alam yang, jika dipikirkan dengan saksama, merupakan salah satu penanda kekuasaan Tuhan membangkitkan sikap tunduk sekaligus rasa syukur dalam diri manusia. Demikian juga dengan gunung, salah satu entitas ciptaan Tuhan yang memberikan pengaruh langsung pada kehidupan manusia, khususnya di Tatar Sunda. Banyaknya gunung di Tatar Sunda merupakan penanda kekayaan alam yang melimpah ruah yang jika dikelola dengan baik, akan sejahteralah segenap rakyat, bahkan segenap makhluk, yang dalam ungkapan populer Sunda: gemah ripah loh jinawi.

Purnamaan diselenggarakan pada hari Minggu, 1 Februari 2026, mulai pk. 17.00 WIB hingga selesai, di Padepokan Bumi Ageung Saketi-Sanggar Reak Tibelat, Kp. Jati RT 04, RW 06, Kel. Pasirbiru, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung. Acara berlangsung khidmat. Kharisma Cahayati berlaku sebagai panata calagara (MC) mengumumkan tahapan demi tahapan acara. Acara pun dimulai menyanyikan bersama tembang “Sunda Mekar”, semacam national anthem-nya orang Sunda. kemudian, dilanjutkan dengan sanduk-sanduk, ucapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan perhormatan kepada para leluhur sekaligus permintaan izin hendak melaksanakan acara ini. Sanduk-sanduk dibacakan oleh Bah Enjoem sebagai pupuhu Sanggar Seni Reak Tibelat, diiringi dengan alunan musik tarawangsa oleh Desti Nursyam dan Kharisma Cahayati. Kemudian, Dody Satya Ekagustdiman membacakan rajah sembari memainkan kecapi, disusul dengan lantunan beberapa kidung oleh Khamila Febrianti, mahasiswa ISBI Bandung yang dua kali berturut-turut menjuarai Gita Santi Nusantara. Setelah itu, memasuki acara inti, yakni manekung, berdoa sekhusyuk-khusyuknya yang dilakukan oleh semua hadirin. Acara pun ditutup dengan sawala bebas (diskusi bebas) dan balakecrakan (makan-makan).
Keesokan harinya, Ruwatan Ageung Gunung Manglayang ke-7 dilaksanakan pada hari Senin, 2 Februari 2026, mulai. Pk. 07.00 wib hingga selesai, di lokasi wisata Gunung Manglayang, Kp. Cikoneng, Desa Cibiru Wetan, Kabupaten Bandung. Acara Ruwatan Ageung didukung oleh berbagai pihak, yakni Kecamatan Cibiru, Desa Cibiru Wetan, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), Desa Wisata Edukasi Cibiru Wetan, Perhutani, Disbud Kabupaten Bandung, serta berbagai komunitas budaya dan masyarakat setempat. Acara dimulai di Situs Batu Kuda. Susunan acara mirip dengan purnamaan, namun ditambah dengan pembacaan doa oleh Kuncen Gunung Manglayang, Bah Undang, dan pembacaan “Nancebkeun Pamali” oleh Ketua Desa Wisata Edukasi Cibiru Wetan yang akrab dipanggil Mang Fey. Acara dilanjutkan di area bawah atau camping ground dengan pembacaan sambutan oleh Kepala Desa Cibiru Wetan, Hadian Supriatna, S.P. dilanjutkan dengan pembacaan kembali “Nancebkeun Pamali” didampingi para tokoh masyarakat, pemuda, budayawan, serta akademisi yang berkomitmen menjaga kelestarian alam di sekitar Gunung Manglayang. Setelah itu, berbagai atraksi kesenian tradisional Sunda digelar berbarengan dengan balakecrakan (makan-makan) yang diikuti oleh segenap peserta Ruwatan Ageung dan masyarakat sekitar yang secara sukarela menyumbangkan berbagai makanan.
***
*Kawan-kawan bisa membaca tulisan-tulisan lain Topik Mulyana, atau artikel-artikel menarik lainnya tentang sejarah

