CERITA GURU: Dewa Petir
Dunia anak itu memang unik. Imajinasi mereka masih luas tak terbatas. Tapi dari tugas perkembangannya, ia memerlukan benda-benda konkret untuk dimengerti.

Laila Nursaliha
Desainer Kurikulum. Berminat pada Kajian Curriculum Studies, Sains dan Teknologi pendidikan, serta Pendidikan Guru.
18 Februari 2026
BandungBergerak.id – Ken seorang murid laki-laki yang sedang belajar melepaskan keterikatannya dengan pengasuhnya, tidak mau masuk kelas. Sudah beberapa hari, ia hanya duduk di depan kelas sambil mondar-mandir. Anggap saja itu adalah penyesuaian dan dialog dengan dirinya sendiri. Menghadapi kenyataan bahwa tak selamanya ia bisa ditemani.
Hujan deras mendera tanah sejak semalam baru berhenti subuh tadi. Meninggalkan awan yang kelabu di pagi itu. Ken hanya duduk termenung layaknya orang dewasa di antara payung-payung yang terbuka di halaman depan. Pandangannya menerawang entah ke mana hatinya mengikutinya.
Saya menghampirinya, barangkali ia butuh mengobrol seperti sebelum-sebelumnya. Jadi, saya bertanya tentang mengapa ia tak masuk kelas. Namun, alih-alih mendapatkan jawaban, ia malah menunjukkan sesuatu.
“Mi! Lihat itu awannya bergerak!”
Konon, kita harus mempertanyakan segala sesuatu bersama anak kecil. Lalu, kutanya balik
“Kenapa awannya bergerak?”
“Soalnya ada Dewa Petir!”
Jawaban yang di luar prediksi. Di kepala saya sudah tergambar mengenai sains dan pengetahuan tentang benda-benda dan fenomena alam semacam ini. Namun dia membawa arah percakapan ke dalam dunia yang berbeda. Di sinilah Perjalanan yang menantang pikiran itu dimulai. Sekaligus jebakan untuk gurunya yang mencoba memancing anak.
Baca Juga: CERITA GURU: Cara Bell Hooks Menggugat Mekanisasi Pendidikan
CERITA GURU: Pendidikan Karakter yang Teruji di Ruang Nyata
CERITA GURU: Melawan Lupa Lewat Sastra
Gim Zombi dalam Alam Imajinasi Anak
Awan kelabu masih berarak tertiup angin di langit-langit yang jauh itu. Payung-payung basah terbuka di halaman, mengeringkan sisa hujan semalam. Ken dan saya duduk di depan teras, pandangan kami sama-sama tertuju ke langit.
“Kan kalau Dewa Petir itu akan memusnahkan zombi. Tapi dia baik sama manusia. Jadi, aku gak takut sama Dewa Petir.” Sepertinya dia meneruskan ceritanya tentang Dewa Petir.
Menurut Ken, Awan yang bisa bergerak itu adalah ulah dan perbuatan dari Dewa Petir. Awan-awan itulah yang akan menghancurkan zombi-zombi di dunia. Kehadiran Dewa Petir adalah penyelamat dunia yang sudah dihuni oleh zombi-zombi yang membahayakan manusia.
Zombie Minecraft. Itulah dunia yang sedang diceritakan oleh Ken. Ia sudah hafal tentang zombi-zombi yang ada di minecraft. Matanya tiba-tiba berbinar ketika menceritakan tentang zombi-zombi yang ada di dalamnya. Sampai cara mainnya.
Hal ini sudah biasa, sebab Piaget menyebutkan bahwa anak usia 4-7 tahun sedang pada tahap praoperasional. Di masa inilah anak belum sepenuhnya mampu membedakan antara fantasi dan kenyataan. Ken, dengan narasi Dewa Petirnya sedang mengonstruksi pemahaman tentang fenomena alam.
Saya pun penasaran tentang Dewa Petir yang dimaksud Ken di Minecraft. Ternyata memang tak ada. Adanya adalah kekuatan petir ketika terjadi hujan badai. Petir ini digunakan sebagai kekuatan kosmik dari alam untuk mengubah tatanan dunia. Vygotsky, psikolog belajar bahwa anak belajar melalui interaksi dengan budaya sekitar. Jadi, itulah yang terbangun di gim Zombie Minecraft dalam imajinasi Ken.
Abstraksi dan Mengenal Tuhan
Dunia anak itu memang unik. Imajinasi mereka masih luas tak terbatas. Tapi dari tugas perkembangannya, ia memerlukan benda-benda konkret untuk dimengerti. Saya tampaknya memiliki kesempatan bagus untuk berbincang tentang semesta dan ketuhanan melalui fenomena alam. Kebetulan pagi itu hujan.
Ketika ia terus berbicara mengenai Dewa Petir, saya menyadari bahwa ia sudah memiliki konsep bahwa dunia dan alam itu ada sesuatu yang menciptakan. Setidaknya, konsep itulah yang bisa saya tarik dalam mengenal konsep Tuhan. Secara teori, saya tinggal menyuguhkan bukti dan menarik hubungan-hubungan itu tentang ketuhanan.
“Tadi kamu berbicara terus tentang Dewa Petir. Sekarang aku mau tanya, Kamu tahu Allah?”
“Mm, gak tau”
“Tuhan kita?”
“Gak tau juga, belum pernah ketemu.”
“Emang sama Dewa Petir pernah bertemu?”
“Iya, aku pernah ketemu.”
Jawaban Ken membuat saya terdiam. Bagaimana mungkin ia mengklaim pernah bertemu Dewa Petir namun tidak mengenal Allah? Di sinilah dilema pedagogis itu muncul.
Saya teringat pada Fowler (1981) yang bicara tentang tahapan perkembangan iman. Menurutnya, anak seusia Ken sedang berada di fase Intuitive-Projective Faith–fase di mana mereka memahami hal-hal spiritual melalui imajinasi dan cerita yang mereka dengar. Mereka butuh sesuatu yang konkret untuk memahami yang abstrak.
Dan di situlah letak persoalannya.
Dewa Petir itu konkret bagi Ken. Ia bisa "dilihat" lewat kilatan petir dan awan yang bergerak. Sementara Allah, Yang Maha Gaib, masih terlalu abstrak untuk dipahaminya.
Rizzuto (1979) dalam bukunya The Birth of the Living God menjelaskan sesuatu yang menarik: konsep Tuhan pada anak dibentuk lewat pengalaman relasional–lewat orang tua, pengasuh, dan figur-figur yang dekat dengan mereka. Anak-anak memproyeksikan karakteristik orang-orang terdekatnya kepada gambaran tentang Tuhan.
Bagi Ken, mungkin belum ada pengalaman atau narasi yang cukup kuat untuk membantunya membangun konsep tentang Allah. Sementara Dewa Petir? Ia sudah punya cerita, sudah punya pengalaman–meski hanya lewat layar gim.
Hari itu, Ken mengajarkan saya tentang bagaimana anak-anak berpikir. Jauh dari apa yang sudah ada dalam skenario di kepala diharapkan. Meskipun Ken suka menyendiri di luar kelas, tapi ia merupakan pengamat yang baik. Selain awan-awan dan petir yang ada dalam bayangannya, ia juga mengomentari detail bangunan, perilaku orang sekitarnya, dan keinginan-keinginan kecilnya yang belum tersampaikan kepada orang dewasa.
Dialog dengan anak menjadi sesuatu yang penting. Selain untuk mengonstruksi pengetahuannya, kita sebagai orang dewasa menjadi paham mengenai alur berpikir anak. Meskipun memang di luar kemampuan orang dewasa, anak memang memiliki hak untuk diarahkan. Ia hanya perlu didengarkan dan memerlukan teman duduk layaknya orang dewasa.
Ketika anak merasa didengarkan, ia akan memiliki rasa aman. Kemudian anak merasa dihormati pikirannya. Bukan hanya interaksi transaksional untuk membangun pengetahuan tetapi juga upaya dalam membangun kesadaran diri. Seperti apa yang dikatakan oleh Paulo Freire bahwa pendidikan adalah proses dialogis yang setara bukan indoktrinasi sepihak.
Percakapan hari itu membuka perhatianku bahwa ada bagian manusia yang memiliki kesadaran tentang ketuhanan. Seperti hubungan sebab akibat tentang alam ini. Ia juga memiliki kekuatan besar dari dirinya yang mengerjakan dan membuat alam semesta bekerja. Dewa Petir adalah jembatan mengenai pemahamannya saja
Duduk bersama Ken membuka sisi rapuh terhadap diri saya sendiri sebagai manusia. Ketika guru mengungkapkan ketidaktahuan, mengajak dengan lebih menyenangkan, dan belajar melihat dunia dari mata mereka.
Hari semakin siang, meskipun kelabu namun udara dingin mulai memudar meskipun belum beranjak pergi. Obrolan pun sudah mentok, sepertinya kita sudah berbincang panjang sekali. Kami terdiam masing-masing.
“Ken, masuk kelas yuk? Dingin,” kataku
“Iya, ayo!” jawabnya
Tanpa berlama-lama lagi, ia mau masuk kelas dan mengikuti kegiatan. Apakah mungkin saya harus meladeni pertanyaannya terlebih dahulu? Dia mau diajak ke dalam kelas setelah tahu kalau gurunya tak bisa lagi menimpali percakapannya.
***
*Kawan-kawan dapat menikmati tulisan-tulisan lain Laila Nursaliha, atau membaca artikel-artikel lain tentang Cerita Guru

