• Narasi
  • Sebelum Kritik Mati: Pertanggungjawaban Juri Sayembara Esai Mahasiswa Bersuara 2025

Sebelum Kritik Mati: Pertanggungjawaban Juri Sayembara Esai Mahasiswa Bersuara 2025

Sayembara Esai Kritis Mahasiswa Bersuara boleh jadi adalah sebuah usaha mungil untuk merawat kritik. Ada 380 naskah esai dari 331 orang mahasiswa di 90 kampus.

Tim Redaksi

Awak Redaksi BandungBergerak.id

Ilustrasi. Kritik menjadi cermin demokrasi yang sehat. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak.id)

20 Februari 2026


BandungBergerak – Dimulai Desember 2025, sayembara esai tahunan BandungBergerak ini bergulir di bawah langit mendung. Pemanggilan dan penangkapan ratusan orang muda buntut aksi demonstrasi Agustus-September masih terjadi di beberapa kota di Indonesia. Sidang bagi mereka yang sudah ditersangkakan digelar maraton. Sambung-menyambung, seolah tak ada putusnya.

Bilik interogasi, ruang sidang, dan sel tahanan menjadi panggung drama penghakiman bagi suara-suara kritis. Lalu bukan hanya ratusan orang muda itu yang terseret. Keluarga dan kerabat mereka juga. Kawan-kawan di lingkaran pertemanan, pergerakan, dan organisasi juga. Kita semua juga. Kita ada di panggung drama penghakiman itu, dan bertanya-tanya dengan lidah kelu: sampai sejauh apa, sampai segelap apa, kita akan diseret atas nama kritik?  

Kita pernah percaya ada yang tidak beres dalam praktik bernegara, dalam laku demokrasi hari ini. Kita pernah percaya ada yang perlu diubah, diperbaiki. Dan kita pernah percaya kritik adalah salah satu cara terbaik untuk melakukannya. Ia adalah hak setiap warga yang harus diluapkan. Kadang lewat teriakan di jalan, kadang lewat kecakapan penulisan.

Ketika sekarang kritik dibungkam secara telanjang, kita dibenturkan pada pertanyaan paling mendasar: masihkah kita memiliki kepercayaan itu? Masihkan kita marah menyaksikan pembiaran terhadap pembabatan hutan demi korporasi, yang kemudian memuntahkan banjir yang menelan ribuan nyawa warga? Masihkan kita marah menyaksikan pemerintah dan dewan berkongkalingkong memuluskan aturan-aturan yang justru mencekik rakyat? Masihkah kita geram melihat ribuan orang murid sekolah keracunan makanan akibat proyek raksasa bersumber dana rakyat yang mengatasnamakan niat mulia perbaikan gizi? Masihkah kita geram melihat uang kuliah yang terus meroket dan kian tak terjangkau oleh orang kebanyakan?

Lalu, masihkah kita berani menyuarakan semua itu? Kita tahu para pemilik kuasa teramat sering menginginkan kritik mati, dan mereka tak segan untuk sungguh-sungguh mengupayakannya. Namun kita juga percaya, nasib kritik ada di tangan kita sendiri. Sejarah mengajarkan bagaimana kritik dibunuh berkali-kali tapi ia tak pernah betah tinggal di liang kubur.

Bertahan hingga tahun ketiga, Sayembara Esai Kritis Mahasiswa Bersuara yang digelar BandungBergerak boleh jadi adalah sebuah usaha mungil untuk merawat kepercayaan itu. Ada 380 naskah esai dari 331 orang mahasiswa di 90 kampus yang dikirimkan. Mereka berasal dari 19 provinsi di Indonesia dan satu kampus di luar negeri.

Isu yang ditanggapi oleh kawan-kawan mahasiswa sangat beragam. Dari pemberian gelar pahlawan bagi Suharto hingga wacana pilkada tidak langsung. Dari banjir Sumatra hingga fenomena greenwashing. Dari uang kuliah yang mahal hingga pelecehan seksual di kampus. Dari lubang-lubang trotoar di Bandung hingga eksploitasi Taman Nasional Komodo di Flores.

Kami, tim juri yang terdiri dari tiga orang, membagi kerja dalam dua alur. Pertama, seluruh esai yang lolos saringan administratif oleh panitia dibagi dalam tiga kelompok untuk dinilai. Masing-masing juri lalu merekomendasikan 10 (sepuluh) esai dengan skor tertinggi untuk kemudian dibahas bersama. Penentuan tiga (3) orang pemenang sayembara ini merupakan buah dari kesepakatan juri. Demikian juga dengan pemilihan 25 esai lain yang akan diterbitkan ke dalam buku.

Baca Juga: KABAR DARI REDAKSI: Sayembara Esai Mahasiswa Bersuara 2025, Menyuarakan Gagasan Kritis Orang Muda
SAYEMBARA ESAI MAHASISWA BERSUARA: Demokrasi Rasa Feodalisme dan Dinasti Politik

Esai Cindy Veronica Rohanauli “Ketika Aksi Demonstrasi Tidak Lagi Cukup: Membaca Negara, Merumuskan Perlawanan Hari Ini”, yang ditetapkan sebagai pemenang pertama sayembara, sejatinya adalah sebuah otokritik yang pedas terhadap gerakan masyarakat sipil, termasuk elemen mahasiswa. Ia memaparkan bagaimana pemilik kuasa sudah semakin maju dalam menjalankan represi, sementara kita para penantangnya tidak kunjung menavigasi ulang metode.

Sebagai pemenang kedua, juri memilih esai Siti Nurjanah “Menggugat Peminggiran Perempuan Korban Morphing AI”. Ditopang dengan sumber-sumber yang kuat, tulisan ini menyasar isu kekinian dengan perspektif keberpihakan yang kuat. Kita diingatkan: di balik gempita teknologi, ada ancaman serius yang menggerus kemanusiaan.

Dalam esai yang ditetapkan sebagai pemenang ketiga “Di Bandung, Menjadi Pengungsi di Rumah yang Dibakar oleh Negara Sendiri”, Raffael Nadhef Mutawwaf menyodorkan aroma lokal yang kuat lewat gaya bertutur yang memikat. Bandung, yang di banyak forum dipuja sebagai kota serba indah nan romantis, dipotret sebagai kubangan masalah. Mungkin Tuhan tersenyum ketika menciptakannya, tapi entah sekarang.  

Selamat untuk ketiga orang pemenang, ke-25 penulis esai terpilih, dan ratusan lain kawan yang sudah menyemarakkan sayembara ini. Juga selamat untuk kita semua yang memilih untuk tetap percaya: di bawah langit mendung, dan bahkan dalam guyuran hujan sekali pun, kita masih bisa menari-nari dan berloncatan sambil terus merekam zaman yang tak melulu indah ini. Kritik belum mati. Kritik tidak akan mati.

Hormat kami,

Tim Juri 

(Maulida Sri Handayani – Ahmad Fikri – Tri Joko Her Riadi)

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//