• Opini
  • Dari Lidah Turun ke Kibor

Dari Lidah Turun ke Kibor

Teknologi membawa tantangan baru. Bukan hanya soal kapasitas, tapi juga keabadian, aksesibilitas, dan etika. Siapa yang mengontrol pengetahuan?

Mang Sawal

Praktisi komunikasi dan pembelajar pada Program Doktoral Unisba dengan fokus pada komunikasi sains. Aktif di berbagai kegiatan edukasi publik.

Ilustrasi. Aktivitas manusia dengan gawainya di era teknologi digital. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

23 Februari 2026


BandungBergerak.id – Sebagai penggemar nonton film, saya tiba-tiba teringat akan sebuah film animasi. Ceritanya begini. Alkisah pada suatu waktu di jaman purba hiduplah sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu, 3 orang anak dan seorang Nenek. Mereka tinggal di sebuah gua yang penuh coretan arang di dindingnya. Ketika malam tiba, mereka tidur secara bertumpuk. Seperti tumpukan jemuran kering yang hendak disetrika. Sang ayah, tiap hari bercerita tentang kisah hidup keluarga mereka, menggunakan coretan di dinding. Tentang cara berburu, tentang bahaya di luar gua, dan lain-lain. Judul film animasi itu The Croods rilis tahun 2013.

Sekuel kedua dari film ini rilis tahun 2020, masih menggambarkan dengan lucu bagaimana manusia purba belajar menyimpan pengetahuan lewat cerita dan perilaku yang diwariskan. Setiap penemuan baru, cara tidur yang aman, mengolah makanan, menghindari bahaya, navigasi, disimpan dalam ingatan kolektif dan diturunkan lewat contoh langsung. Lalu, lambat laun, mereka mulai bereksperimen untuk menjawab tantangan baru.

Tanpa terasa film ini mengajak kita memahami bagaimana pengetahuan adalah sesuatu yang begitu penting dalam kehidupan manusia. Seperti pendapat Yulianti, dkk. (2023) dalam makalah di jurnal Al Ma’arif, pengetahuan bukan sekadar kumpulan fakta. Pengetahuan adalah warisan kecerdasan kolektif manusia dan cara kita menyimpannya akan menentukan apakah pengetahuan itu bertahan, hilang, atau berkembang. Ya, benar. Ada banyak pengetahuan yang hilang, tapi ada juga yang bertahan ribuan tahun. Contohnya, pacul.

Di era digital seperti sekarang, kita sering merasa segala sesuatu aman tersimpan di internet (cloud storage). Tapi sejarah mengajarkan bahkan tempat penyimpanan yang terlihat kokoh pun bisa lenyap. Perpustakaan Alexandria mengalami serangkaian peristiwa destruktif selama beberapa abad, dari kebakaran masa Julius Caesar (48 SM) hingga penghancuran Serapeum pada 391 M, yang mengakibatkan hilangnya ribuan hingga ratusan ribu gulungan naskah kuno (Canfora, 1990, The Vanished Library: A Wonder of the Ancient World. University of California Press).

Artinya, pengetahuan tidak selalu hilang karena bencana, namun bisa dihilangkan paksa, atau secara perlahan ketika generasi tua wafat tanpa mewariskan cerita mereka, atau ketika media penyimpanan data tidak lagi bisa dibuka oleh cara baru.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak kita mengingat bagaimana pengetahuan bisa bertahan sampai hari ini, dengan mundur sejenak ke masa ketika tulisan belum ditemukan kemudian beranjak ke masa kini.

Baca Juga: Teror Pertanyaan Kapan Nikah Menjelang Lebaran
Masih Adakah Pers Indonesia
Pilih Bayar atau yang Gratis?

Tradisi Lisan yang Hidup

Sebelum ada tulisan, semua pengetahuan hidup dalam bentuk nyanyian, mantra dan dongeng legenda yang dihafal lalu diulang dari generasi ke generasi. Ini disebut tradisi lisan.

Di Indonesia, suku-suku Nusantara seperti suku Baduy, Orang Rimba, Hongana Mayawa, Polahi, Kombai, Mentawai, Dayak Punan, dan lain-lain, memiliki cerita leluhur yang masih diwariskan secara lisan (Asrawijaya, 2024). Tradisi lisan ini bukan berisi isapan jempol atau khayalan. Mereka bercerita lewat dongeng, nyanyian, pepatah-petitih, rangkaian upacara, tarian, yang mengandung pengetahuan tentang pengobatan, pertanian, hingga tata kelola sosial seperti adat dan aturan (Frieda, 2015). Sejumlah riset menunjukkan tradisi lisan masih memainkan peran penting dalam melestarikan memori kolektif (Yulianti, dkk., 2023).

Contoh lain adalah tradisi Śruti di India. Teks-teks Veda berhasil ditransmisikan secara oral selama ribuan tahun melalui teknik pengulangan dan metode hafalan yang sangat ketat sehingga struktur dan kata-katanya tetap terjaga. Para pendeta menggunakan sistem menghafal yang rumit dengan menghafal teks secara terbalik dan dalam pola tertentu untuk memastikan tidak ada satu kata pun yang berubah (Mark, 2020).

Tradisi lisan lain punya kekuatan unik terutama dalam menjamin keaslian teks, seperti kitab suci. Namun demikian manusia tetap mengembangkan cara lain untuk menyimpan informasi yaitu melalui tulisan. Terutama setelah menemukan cara membuat kertas dan tinta, penemuan ini mengubah hampir semua aspek hidup manusia (Tsien, 1985, Paper and Printing. In Needham (ed.). Science and Civilisation in China, Vol. 5. Part 1, Cambridge University Press).

Revolusi Pertama: Huruf

Sekitar 5.500 tahun yang lalu, terjadi lompatan besar dalam sejarah manusia yaitu pengembangan simbol huruf. Di Mesopotamia, manusia mulai menggunakan sistem cuneiform (huruf paku) pada tablet tanah liat (lihat gambar). Di Mesir kuno, muncul hieroglif yang ditorehkan pada papirus (The Archaeologist.org, 2025).

Tulisan membawa perubahan radikal. Pengetahuan tidak lagi hanya ada dalam ingatan, tetapi bisa ditinggalkan dalam bentuk fisik yang dapat dibaca kembali oleh orang lain, bahkan ratusan atau ribuan tahun kemudian. Ini membuka jalan bagi administrasi pemerintah, hukum tertulis, astronomi, matematika, dan karya sastra.

Salah satu contoh terkenalnya adalah Epic of Gilgamesh, karya sastra tertua yang pernah ditemukan. Ada juga Code of Hammurabi (sekitar 1754 SM), kitab hukum yang diukir di batu agar bisa dibaca oleh semua orang di kerajaan Babylonia, setidaknya bagi mereka yang bisa membaca (The Avalont Project, 2008).

Berbeda dengan bicara, tidak semua orang bisa membaca dan menulis. Dalam masyarakat Mesir kuno, misalnya, diperkirakan hanya sekitar 1% populasi yang melek huruf, kebanyakan adalah pendeta dan pejabat istana. Pengetahuan pada jaman itu masih menjadi hak istimewa (previllage) kelompok tertentu.

Ketika tulisan mulai berkembang, muncul kebutuhan untuk mengumpulkan dan menyimpan teks dalam jumlah besar. Lahirlah perpustakaan, yang bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan pusat pengetahuan, penelitian, dan diskusi intelektual. Perpustakaan Raja Ashurbanipal di Niniwe (sekarang Iraq) pada abad ke-7 SM menyimpan lebih dari 30.000 tablet tanah liat. Perpustakaan Alexandria di Mesir (abad ke-3 SM) menjadi pusat pengetahuan kuno dunia, konon menyimpan hingga 700.000 gulungan papirus (Britannica, 2026).

Kemudian perpustakaan Baitul Hikmah di Baghdad (abad ke-8 – 10 M) memainkan peran besar dalam menerjemahkan dan menyebarkan ilmu dari Yunani, Persia, dan India. Tanpa upaya penerjemahan ini, banyak teks pengetahuan klasik hilang selamanya (Saepudin, 2013). Para pemikir yang didukung para Sultan saat itu, tidak hanya menerjemahkan, tetapi juga mengembangkan lebih lanjut, seperti Al-Khwarizmi yang mengembangkan aljabar, atau Ibn Sina yang menyusun ensiklopedia medis yang menjadi rujukan di Eropa selama berabad-abad, Al Biruni dengan trigonometri, astronomi, dan geografi.

Revolusi Kedua: Mesin Cetak

Revolusi berikutnya terjadi setelah penemuan yang benar-benar mengubah dunia, yaitu mesin cetak oleh Johannes Gutenberg pada abad ke-15. Sebelumnya, buku dibuat satu per satu dengan tangan oleh para juru tulis, sehingga prosesnya lambat, mahal, dan jangkauan terbatas.

Dengan mesin cetak, buku bisa diproduksi massal dengan cepat dan murah. Akibatnya, buku menjadi lebih terjangkau dan tidak lagi eksklusif untuk kaum bangsawan atau pendeta. Pengetahuan tersebar lebih luas, literasi masyarakat meningkat, sekolah dan universitas berkembang. Ide-ide baru bisa menyebar lebih cepat, memicu gerakan sosial dan perubahan politik karena masyarakat lebih cerdas.

Mesin cetak membuat pengetahuan menjadi milik publik, bukan lagi monopoli segelintir orang (CRF-USA, 2024). Martin Luther bisa menyebarkan 95 tesisnya ke seluruh Eropa dalam hitungan minggu, memicu Reformasi Protestan. Ilmuwan seperti Copernicus dan Galileo bisa mempublikasikan teori mereka yang kontroversial. Pengetahuan tidak lagi bisa dikendalikan oleh otoritas tunggal (World History Encyclopedia, 2022).

Revolusi Ketiga: Cloud Storage

Setelah berabad-abad bergantung pada kertas dan mesin cetak, manusia kembali melakukan lompatan besar di akhir abad ke-20, yaitu mesin komputer. Penemuan ini mengubah hidup manusia jauh lebih cepat dari dua revolusi sebelumnya.

Mesin komputer menggunakan media elektronik dan digital untuk menyimpan data. Dari pita seluloid, mikrofilm, disket, dan hard drive. Yang tadinya disimpan terpisah-pisah oleh masing-masing pengelola data, kini terintegrasi melalui penyimpanan online (cloud storage) ke dalam hard drive berkapasitas sangat besar (Conway, 2010).  

Digitalisasi membawa beberapa perubahan besar, yaitu akses terhadap pengetahuan menjadi instan. Siapa saja dengan koneksi internet bisa mengakses jurnal ilmiah, buku, atau arsip sejarah dari mana saja. Informasi yang semula tersimpan di rak gedung perpustakaan, kini bisa dicari dengan beberapa klik. Namun, tantangan baru juga muncul, karena format file digital bisa usang akibat perkembangan software. Kini tidak ada lagi yang dapat membuka file yang tersimpan pada disket. File data bisa korup atau hilang karena kegagalan teknologi. Fisik hard disk rusak, server down, atau bahkan perusahaan penyedia cloud bangkrut. Ketergantungan pada teknologi membuat penyimpanan digital tidak sepenuhnya abadi. Tanpa listrik, tanpa komputer, data digital tidak bisa diakses.

Selain itu, akses mudah terhadap informasi menjadi potensi terjadinya banjir informasi (information overload) dengan dampak penurunan kualitas pengambilan keputusan, berkurangnya produktivitas, kelelahan kognitif, serta kecenderungan membaca cepat (shallow reading) daripada membaca mendalam (deep reading). Istilah ini pertama dipopulerkan Alvin Toffler dalam Future Shock (1970) dan kini didukung oleh banyak penelitian neurosains kognitif (Kayode & Lateef, 2024).

Memori Kolektif dan Tantangan Zaman

Setiap perubahan media penyimpanan tidak hanya mengubah cara kita menyimpan pengetahuan, tapi juga cara kita berpikir. McLuhan (1964) dalam buku Understanding Media: The Extensions of Man berpendapat media yang digunakan dalam komunikasi membentuk cara kita memahami dunia.

Tradisi lisan menekankan narasi, memori komunitas, dan penyampaian yang emosional. Tulisan menekankan ketepatan, analisis, dan dokumentasi yang permanen. Pengetahuan menjadi lebih objektif dan bisa dikritisi secara logis. Media digital menekankan akses cepat, pencarian berbasis kata kunci, dan informasi yang tersebar luas. Meski digitalisasi juga mengubah cara kita mendefinisikan pengetahuan. Tradisi lisan dianggap kurang dapat diverifikasi, meski metode ini telah menyimpan pengetahuan penting dalam banyak budaya selama ribuan tahun. Kini kita cenderung percaya hasil googling, kepada video viral, kepada AI, daripada kepada ahlinya (Wineburg & McGrew, 2019).

Di Minangkabau, pengetahuan tradisional seperti pepatah-petitih, kaba (cerita epik), dan pantun yang selama ini disampaikan secara lisan kini mulai didokumentasikan melalui digitalisasi audio-visual dan metadata di perpustakaan universitas. Ini bukan sekadar menyimpan file digital, tetapi juga melestarikan konteks budaya dan nilai yang terkandung di dalamnya. Misalnya, cara seorang tukang kaba menyampaikan cerita dengan intonasi tertentu, gerak tubuh, dan interaksi dengan penonton, semua itu adalah bagian dari pengetahuan yang perlu diselamatkan (Amini & Zalmi, 2025)

Di Jawa Barat, ada gerakan yang menarik bernama Sunda Digi. Ini adalah platform digitalisasi kolaboratif untuk mendokumentasikan dan melestarikan naskah kuno Sunda, cerita rakyat, seni tradisional, hingga rekaman audio bahasa dan dialek Sunda yang mulai jarang digunakan. Sunda Digi adalah kerja sama berbagai pihak, kampus Universitas Padjadjaran, penerbit Pustaka Jaya, komunitas budaya, perorangan. Sunda Digi membuat database terbuka yang bisa diakses oleh peneliti, pelajar, atau siapa saja yang ingin belajar tentang budaya Sunda. Juga ada chat bot edukasi yang mengajarkan aksara Sunda dan bahasa Sunda kepada generasi muda (SundaDigi.com). Karena menurut seorang guru besar linguistik di Universitas Nasional Australia, Nicholas Evans, dalam bukunya Dying Words: Endangered Languages and What They Have to Tell Us (2010), sudah 6.000 lebih bahasa yang punah di dunia karena tidak digunakan dan akibatnya pengetahuan yang tersimpan dalam bahasa itu juga menjadi sulit dipahami.

Penyimpanan digital bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, menyelamatkan warisan yang hampir punah sambil membuatnya relevan bagi generasi digital saat ini. Generasi muda yang mungkin tidak tertarik membaca naskah kuno bisa tertarik kalau dikemas dalam bentuk aplikasi interaktif atau gim edukatif.

Pengetahuan Hidup Tidak Disimpan

Perjalanan panjang cara manusia menyimpan pengetahuan, dari coretan di dinding gua hingga cloud storage mencerminkan perubahan teknologi, budaya, dan cara kita berinteraksi dengan informasi.

Teknologi membawa tantangan baru. Bukan hanya soal kapasitas, tapi juga keabadian, aksesibilitas, dan etika. Siapa yang mengontrol pengetahuan? Siapa yang punya akses? Bagaimana memastikan pengetahuan tidak hilang ketika teknologi berubah? Untuk siapa pengetahuan dimanfaatkan?

Kenangan kolektif bisa hilang. Jika tidak didokumentasikan secara terus-menerus dan adaptif terhadap media penyimpanan baru. Sebuah bangsa bisa kehilangan ingatan kolektifnya dan bangsa yang tidak tahu jati dirinya akan mudah terombang-ambing oleh hiruk pikuk agenda yang tersembunyi.

Pelestarian pengetahuan adalah tanggung jawab bersama. Setiap orang bisa berperan merekam cerita kakek-nenek, mendokumentasikan tradisi lokal, atau sekadar membagikan pengetahuan yang dimiliki. Terutama di era digital, ketika setiap orang dapat menjadi kreator konten. Menjadi pencerita. Karena pada akhirnya, pengetahuan yang tidak diwariskan adalah pengetahuan yang mati.

Yuk kita mulai, bisa posting di sosmed tentang kisah dari nenek tentang resep masakan, tentang pantangan-pantangan yang pernah ada, tentang cara mengobati luka, atau bahkan cerita horor sekalipun. Itu misi kita sekarang.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//