Whoosh: Bukti Pertumbuhan Ekonomi dan Konektivitas Bukan Soal Kecepatan
Negara harus berhenti menganggap kecepatan sebagai faktor pendukung pertumbuhan ekonomi

Sandewa Jopanda
Penulis dan Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran (Unpad).
19 Maret 2026
BandungBergerak – "Bile awak tibe kat sini?" tanya saya pada seorang akademisi dari Universiti Kebangsaan Malaysia sewaktu dalam Simposium Kebudayaan Indonesia-Malaysia yang diadakan Universitas Padjajaran, bersempena dengan 40 Tahun kerja sama dua universitas terkemuka itu.
"Semalam, setiba kat Jakarta, kami cube Whoosh, bolehlah kami cepat sampai," jawabnya menerangkan perjalanannya.
Memang, whoosh menjadi primadona bagi turis mancanegara terutama yang berasal dari Asia Tenggara seperti Malaysia. Tentu saja alasannya karena kecepatan dan satu-satunya di Asia Tenggara. Toh ini jadi semacam special value saat pembangunan kereta cepat itu diluncurkan, menjadi yang pertama dan satu-satunya di ASEAN, paling tidak untuk sementara waktu. Alasan kedua agar konektivitas kedua wilayah itu semakin erat dan pertumbuhan ekonomi bisa semakin akseleratif.
Tampaknya bagian pertama masihlah dapat dimaklumi (jika kita enggan mengatakan dapat dibenarkan). Sayangnya alasan pertama itu pun masih menyisakan tanda tanya. Sebab citra positif Whoosh sebagai kereta cepat ternodai dengan jarak pendek Jakarta-Bandung yang cuma 150 km itu, sia-sia rasanya menikmati kecepatan 300 km/jam sementara yang ditempuh bahkan hanya setengahnya. Jika penumpangnya tidak mengerti geografi, ia akan bertepuk tangan dan mengakui kecepatan Whoosh padahal kecepatan itu kurang optimal, kurang dapat dinikmati, kira-kira seperti "baru duduk sudah berdiri".
Sementara yang kedua, dalih ekonomi dan konektivitas itu amat dapat diperdebatkan. Apakah ekonomi yang dimaksud hanya pendapatan BUMN semata? Sampai hari ini pembelian tiket Whoosh langsung masuk ke pendapatan KAI, dan tentu itu membantu betul ketahanan ekonomi negara. Namun masalahnya utang Whoosh juga membebani. Lebih lanjut, konektivitas bagaimana yang ingin dicapai?
Baca Juga: Membandingkan Tarif Kereta Cepat Jakarta Bandung dengan Ongkos Kereta Api dan Kendaraan Pribadi
Sebelum Whoosh, Ada Eendaagsche Express sebagai Kereta Cepat era Hindia Belanda
Dari Kereta Cepat ke Layar Gawai: Bandung di Persimpangan Kecepatan dan Imajinasi
Konektivitas Whoosh
Beberapa bulan sebelumnya saat inisiasi tulisan ini ketika “kasus Whoosh” marak dibicarakan di nasional, saya berdiskusi dengan dua orang. Satu akademisi dan satunya lagi sopir shuttle bus Bandung-Jakarta. Wawancara terpisah itu bisa dibilang tidak sengaja. Akademisi yang juga seorang guru besar di Universitas Padjadjaran itu menyebutkan “Whoosh itu katanya tenaga listrik, tapi kita tahu listrik itu sumbernya dari batu bara, jadi toh, dalil ramah lingkungannya terbantahkan. Lagi pula, saya harus ke Padalarang dulu baru bisa naik Whoosh. Bandung ke Padalarang kira-kira lebih 30 menit kalau tidak macet, sementara sampai di Jakarta saya harus keluar lagi dari Halim. Wasting time!” Pada intinya, Whoosh sebagai bagian integral dari usaha percepatan konektivitas dan pemicu pertumbuhan ekonomi sama sekali tidak mengarah ke tujuan itu.
Pendapat guru besar itu tampaknya membenarkan banyak kritik terhadap Whoosh. Apalagi soal kecepatan yang disinggung, teknologi berkecepatan tinggi itu mengabaikan pemahaman geografis terhadap titik keberangkatan dan kedatangan. Ketidakstrategisan itu dibantah dengan menyiapkan pendukung moda transportasi seperti kereta feeder di Bandung menuju Padalarang dan LRT Halim yang waktunya disesuaikan dengan kedatangan dan keberangatan Whoosh. Integrasi dan penyesuaian ini meski dianggap solusi tidak mencerminkan kecepatan itu sendiri. Faktanya orang harus mengatur waktu, dan gerak mereka agar benar-benar efisien dan presisi.
Konektivitas yang hendak diselesaikan dengan kecepatan malah melupakan sisi sosial manusia. Kritik ini kemudian dijawab dengan KAI memang melakukan pelayanan maksimal, mengarahkan penumpang whoosh dala proses perpindahan moda. Kesiapsiagaan itu adalah pujian tersendiri, tetapi subtansi mengenai konektivitas & kecepatan yang katanya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kabur bahkan sumir. Dibagian mana konektivitas kedua daerah itu, sementara tiket whoosh tidak ramah bagi para penumpang kalangan menengah bawah? Pertumbuhan ekonomi seperti apa yang diidamkan pemerintah itu?
Konektivitas dan kecepatan itu hanya bagi mereka mampu membeli tiket dan menguasai pemahaman terhadap moda transportasi. Pernyataan ini sekaligus membantah pelayanan kepada warga negara dalam bentuk transportasi publik, karena tidak semua orang bisa menikmatinya. Di sisi lain, nyatanya seluruh ekonomi yang berputar seputar Whoosh adalah monopoli. Monopoli ekonomi yang dilakukan pemerintah sendiri. Jelas, komitmen pada pertumbuhan ekonomi & konektivitas yang mengandalkan kecepatan itu seluruhnya masuk ke KAI (BUMN) dan negara lewat pajak. Tidak ada satu pun ekonomi organik dilevel mikro atau meso yang menerimanya. Dari keberangkatan sampai ketibaan, yang menarik keuntungan hanya instansi pemerintah. Tidak ada pedagang, dan pekerja sektor non formal yang merasakannya.
Realitas inilah yang saya tangkap ketika bertemu sopir shuttle bus yang berstatus mitra. Bayarannya dihitung sebanyak perjalanan yang dilakukannya. Kalau tidak menyetir hari itu, maka tidak ada uang yang akan dibawa pulang. Sukarnya, ia bahkan tidak punya BPJS. Namun dalam kondisi terjepit itu, ketika kami berhenti di rest area, dia tetap tertawa, karena pedagang disana menyambutnya. Kami bisa berbelanja kecil kepada pedagang yang ada, memesan kopi, bahkan sholat dulu. Anda bisa melihat berapa banyak uang yang beredar kepada sektor informal lainnya. Mulai dari perusahaan shuttle bus, sampai infak masjid. Di kepala saya, sejak ada tol jalan arteri tentu sepi dan banyak pedagang yang kehilangan pemasukan. Tetapi demi konektivitas kita perlu percepatan, dan tol mungkin menjadi solusi. Rupanya nafsu soal cepat itu mendulang begitu banyak atensi pemerintah. Sayangnya semakin cepat transportasi itu, semakin sedikit pula transaksi pada kalangan kecil dan sektor informal.
Sepanjang perjalanan dengan shuttle bus itu, dia bilang, “...yang diuntungkan oleh kecepatan adalah mereka yang punya perusahaan, para distributor, dan jasa ekspedisi.” Sopir tersebut tentu kecipratan karena dia akan mendapatkan rezeki dari setiap pengantaran, tetapi ia akan menyinggahi rest area, di mana niatnya supaya ada uang yang dibuang di tempat itu diganti dengan penganan, oleh-oleh, dan kopi, dan lain sebagainya.
Pertumbuhan Ekonomi
Whoosh memberi gambaran pada kita, kadang kala kecepatan tidak bersifat integral dengan pertumbuhan ekonomi. Semakin cepat dan semakin eksklusif suatu transportasi (lebih luas pembangunan) hanya memproduksi keuntungan bagi yang memonopolinya. Tentu rakyat kecil dalam sektor informalnya dengan margin yang minim hanya jadi penonton.
Baru-baru ini, jalur tol baru yang konon hendak dibangun dari Parahyangan ke Jakarta (waktu tempuh 45 menit) membuktikan dua hal. Pertama pembangunan Whoosh keliru, kedua, kita masih terjebak pada kecepatan. Jika menginginkan konektivitas dan distribusi yang lancar, yang seharusnya dibangun adalah ekosistem transportasi. Misalnya subsidi pada shuttle bus, micro bus, atau bahkan jasa ekspedisi, supaya penyaluran barang dan bahan makanan menjadi lebih murah dan lalu lalang Jakarta-Bandung menjadi lebih rutin, karena biayanya yang rendah. Subsidi itu pun bisa dipakai oleh para pengusaha transportasi dalam bentuk kewajiban membayar premi BPJS. Perhentian rest area pun seharusnya memberikan privilese bagi pedagang informal dengan biaya sewa rendah dan lapak yang lebar. Negara terus berbisnis pada mereka yang sudah mapan, sementara bagi sektor informal emoh-emohan. Terakhir, negara harus berhenti menganggap kecepatan sebagai faktor pendukung pertumbuhan ekonomi. Whoosh buktinya, kita tidak bertumbuh justru berada dalam tekanan hutang setiap harinya.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

