Bangsa Eldia, Gerakan Kiri Faksi Yeager, Serta Relevansinya Terhadap Indonesia
Bangsa ini seperti kehilangan daya tawar dan martabat, terombang-ambing tak tentu arah di tengah samudra politik dan gejolak sosial yang tak terprediksi.

Farouq Syahrul Huda
Alumni Program Studi Hukum Pidana Islam UIN Surakarta.
26 Maret 2026
BandungBergerak – Sebagai orang Jawa asli, saya cukup akrab dengan budaya dan historisnya termasuk perilaku dan kebiasaan orang-orang Jawa sehari-hari. Tentunya dalam makna yang positif tentang kearifan lokal dan warisan peninggalan arkeologinya yang berkaitan dengan struktur esensial kehidupan masyarakat Jawa. Untuk seukuran dan spektrum yang lebih luas yaitu Nusantara, Pulau Jawa menjadi bagian tak terpisahkan dari urusan politik, ekonomi, bahkan budaya yang menjalar di seluruh wilayah luar Pulau Jawa sebagai sentralisasi yang meluaskan imperiumnya. Tak salah jika dulunya Kerajaan Majapahit mampu menancapkan kekuasaannya di seluruh wilayah nusantara selama ratusan tahun, hingga kini pengaruh historis itu masih terasa hingga sekarang melalui kebijakan politik pemerintahan modern Republik Indonesia yang terlalu sentralistik di Jakarta (Pulau Jawa).
Tentu di sini saya tak akan bercerita dan mengglorifikasi entitas Jawa apalagi dengan cara berpikir yang lebih fatal dengan kepercayaan chauvinistik, tidak sama sekali. Saya ingin lebih merata dalam melihat sebuah fenomena sosial dan politik, meskipun saya bukan seorang sosiolog ataupun pakar ilmu politik. Tulisan ini pastinya mengambil sudut pandang seorang warga sipil biasa yang setiap hari menjalani kehidupan sambil menangkap hal-hal yang terjadi di sekitarnya secara prematur ataupun juga secara kompleks, lalu merenungkannya untuk memahami dan mengakhiri semuanya dengan lebih bijak. Hal-hal yang dimaksud tentunya adalah keadaan akhir-akhir ini, kejadian dan tragedi yang telah berlangsung membuat kita mempunyai imajinasi kehidupan yang baru meskipun kita tahu bahwa hal tersebut mungkin adalah suatu yang utopis.
Meskipun tergolong mustahil tapi waktu terus berjalan dan kita dipaksa oleh alam untuk terus maju mengikuti alur waktu yang detik demi detik tak mungkin ada jeda. Saya berduka atas apa yang terjadi pada kawan-kawan yang ada di luar Pulau Jawa, ada yang kena musibah banjir seperti di Sumatra, hidup dan mati masyarakat lokal di antara eksploitasi besar-besaran tambang nikel di Maluku, serta juga ancaman militerisme dan hilangnya hutan adat warga Papua akibat alih fungsi lahan secara ugal-ugalan. Masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan satu per satu saking banyaknya permasalahan di negeri ini, belum lagi persoalan geopolitik global yang membentuk wajah dan identitas Indonesia di mata dunia ketika diharuskan bergabung dengan Board of Peace (Dewan Perdamaian) bentukan Donald Trump.
Baca Juga: Denialisme Naratif dan Kemerdekaan Palsu
Refleksi Tragedi 1965: Jalan Terjal Rekonsiliasi
Musuh Imajinatif Negara
Bangsa Eldia dan Gerakan Revolusioner
Bangsa yang katanya besar ini seperti kehilangan daya tawar dan martabat, terombang-ambing tak tentu arah di tengah samudra politik dan gejolak sosial yang tak terprediksi. Inkompetensi dan “kejahatan” terselubung penguasa yang dapat membawa Indonesia bubar (hancur) dan memang sudah memenuhi syarat untuk itu. Bahkan untuk standar dalam cerita dunia fiksi pun negara kita mungkin saja masih pada tahap yang memalukan. Bagi penikmat serial anime Attack on Titan kita tahu bahwa bangsa Eldia di Pulau Paradis telah melakukan sebaik-baiknya perlawanan meskipun diakhiri dengan ending yang membuat saya tertawa konyol. “Raja yang tak bisa melindungi rakyatnya, tak pantas disebut raja,” kata Eren Kruger, pejuang Eldia yang menyusup ke negara Marley, kepada Grisha Yeager, anggota restorasi Eldia, atas tanggapannya terhadap sikap pengecut raja yang kabur dari masalahnya dan berprinsip “sumpah antiperang” meskipun wilayahnya diserang musuh.
Jebolnya tembok Distrik Shiganshina menjadikan konflik lama Kekaisaran Eldia di Paradis terulang kembali dan menimbulkan perpecahan di kubu militer Pasukan Pengintai. Layaknya di dunia nyata, kubu ini terpecah menjadi dua yaitu kelompok revolusioner dan konservatif. Faksi Yeager atau Yeagerist adalah kubu militer revolusioner yang cukup ekstrem–pendukung Yeager bersaudara yaitu Eren Yeager dan Zeke Yeager yang dipimpin oleh Floch Forster–yang menginginkan kemerdekaan dan kebebasan penuh kaum Eldia di tengah ancaman invasi pasukan sekutu dunia yang akan menyerang Pulau Paradis. Meskipun dianggap sebagai gerakan yang cukup radikal dan kontroversial, tetapi faksi tersebut didukung mayoritas oleh warga sipil Paradis yang ingin menyelamatkan masa depan kaum Eldia melalui rencana Rumbling (guncangan tanah) dengan menggunakan jutaan Titan Kolosal yang akan menginjak-injak permukaan bumi di seluruh dunia.
Di sisi lain, kelompok militer kubu konservatif yang dipimpin komandan Pasukan Pengintai Hange Zoe menolaknya gagasan tersebut karena sama saja dengan melakukan tindakan genosida di seluruh negara. Namun, kubu konservatif juga tak punya solusi untuk menyelamatkan kaum Eldia setelah tawaran damai dan kerja sama diplomatik ditolak oleh berbagai perwakilan negara-negara di dunia. Ini yang membuat Eren Yeager memutuskan untuk memusnahkan dunia, Rumbling pun akhirnya terlaksana tetapi rencana ini tentu saja tak berjalan mulus. Atas dasar kemanusiaan yang naif, kelompok militer konservatif Hange Zoe berkhianat terhadap Eldia Paradis dengan bekerja sama dengan musuh yaitu militer dari negara Marley–bangsa yang sebelumnya memulai kekacauan di Pulau Paradis–dan membantai seluruh anggota Faksi Yeager yang revolusioner.
Sebagai pengikut setia serial ini saya agak jengkel dengan sikap kubu militer konservatif ini yang tega berkhianat terhadap bangsanya sendiri dan membunuh semua anggota militer dari Faksi Yeager termasuk sang pimpinan Floch Forster, demi menyelamatkan populasi musuh atas dasar kemanusiaan yang naif. Rencana Rumbling Eren Yeager hanya berhasil memusnahkan 80 persen populasi manusia di muka bumi setelah ia dibunuh oleh Mikasa Ackerman–sahabat dekat Eren Yeager–yang lebih memihak kubu militer konservatif. Kaum Eldia di Pulau Paradis semenjak itu aman dari ancaman serangan dari negara-negara musuh, tetapi kedamaian itu tidak berlangsung lama, bertahun-tahun kemudian pasca Rumbling, perang terjadi lagi dan Pulau Paradis menjadi medan pertempuran. Peperangan ini menjadi konflik abadi antarnegara dan menciptakan dendam baru dari generasi ke generasi baru yang tak pernah usai.
Pembantaian terhadap Faksi Yeager tersebut mengingatkan saya pada pembunuhan massal kelompok kiri di Indonesia yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1965-1966. Kelompok sayap kiri revolusioner di seluruh dunia selalu dihadapkan pada kelompok-kelompok sayap kanan yang. Dari segi visi dan ideologis, Faksi Yeager memang sedikit mirip dengan gerilyawan kiri ekstrem di negara Filipina pada tahun 1980-an yaitu Sparrow Units atau biasa dikenal dengan sebutan kelompok ‘Unit Burung Gereja’. Mereka (Burung Gereja), menyebar teror di daerah perkotaan khususnya di Manila dengan target pembunuhan yaitu institusi militer/tentara dan polisi yang pro pemerintah. Hampir semuanya disebabkan oleh ketidakpuasan terhadap otoritas tertinggi yang menindas dan tidak pro rakyat.
Dalam konteks Indonesia, konflik internal di tubuh kaum Eldia akan memperumit masalah yang sudah ada sebelumnya di tengah ancaman serangan negara-negara musuh. Akhirnya sebagai sebuah bangsa, Kekaisaran Eldia hancur secara perlahan. Tak hanya dari kisah kehancuran Eldia, Indonesia harus mengambil pelajaran penting dari berbagai kisah sejarah yang menyimpulkan kehancuran sebuah bangsa. Dengan langkah diplomatik yang saat ini cukup kacau dengan menjadi anggota Dewan Perdamaian bentukan Donald Trump sebagai pemimpin imperialis Amerika Serikat, Indonesia kehilangan posisi sebagai negara yang independen dan tidak didikte oleh pihak asing. Alih-alih evaluasi diri, Presiden Prabowo Subianto menuduh pengkritiknya sebagai antek asing. Rela menjadi bagian dari perkumpulan imperialis yang menjajah Palestina demi kesepakatan tarif dagang yang tak menguntungkan itu.
Akhir Yang Memilukan
Sikap setiap orang memang berbeda-beda, layaknya dalam dunia fiksi seperti cerita di Attack on Titan. Tindakan Eren Yeager untuk memusnahkan umat manusia di luar Pulau Paradis memang salah, tetapi itu ia lakukan setelah usaha negosiasi panjang yang melelahkan tersebut tidak berhasil dan negara-negara dunia tetap mengutuk kaum Eldia sebagai keturunan iblis akibat dosa masa lampau para leluhurnya.
Genosida oleh Eren Yeager adalah tindakan balasan setelah kedamaian selama seratus tahun di dalam tembok hancur seketika oleh serangan militer Marley melalui kekuatan Titan, satu-satunya pilihan adalah Rumbling untuk mendahului invasi yang akan dilancarkan oleh negara-negara sekutu dunia dalam misi pelenyapan ras Eldia. Zeke Yeager menawarkan solusi untuk mengakhiri penderitaan kaum Eldia yaitu dengan membuat subjek Ymir–orang Eldia yang dapat berubah menjadi Titan–menjadi mandul atau kehilangan kemampuan bereproduksi sehingga kaum Eldia akan musnah dengan sendirinya secara alami. Opsi ini dinilainya paling manusiawi meskipun orang Eldia harus masih merasakan penderitaan panjang menjelang kepunahannya. Eren Yeager menolaknya dan memengaruhi Ymir “sang perintis” untuk melakukan pembunuhan massal umat manusia di seluruh dunia. Ia ingin mengakhiri penderitaan kaum Eldia dan menciptakan kedamaian di dalam Pulau Paradis. Namun di akhir cerita, kaum Eldia tak bisa menghindari ajalnya menuju kepunahan. Apakah Indonesia akan bernasib sama seperti bangsa Eldia?
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

