• Opini
  • Melupakan Maaf pada Bumi

Melupakan Maaf pada Bumi

Idulfitri bisa dibaca secara berbeda. Ia bisa menjadi momen untuk meredefinisikan tentang hubungan manusia dengan manusia, tetapi juga antara manusia dengan alam.

Salman A Ridwan

Pengajar Sejarah dan Pegiat Literasi di Komunitas Membaca "Mantra Buku"

Ilustrasi. Eksploitasi alam berlebihan akan memperbesar potensi terjadinya bencana. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

9 April 2026


BandungBergerak – Ada kejanggalan yang sering luput dari kesadaran kita setiap merayakan Idulfitri. Kita saling memaafkan, tapi lupa diri untuk sekedar bertanya: kepada siapa lagi kita seharusnya meminta maaf? Kita menyapu dosa dari hubungan antar-manusia, tapi membiarkan jejak dosa yang menumpuk di atas sungai, tanah, dan udara. Dosa yang kita lakukan pada bumi yang kita tinggali.

Dalam imajinasi kita, Idulfitri seperti titik nol. Titik yang menunjukkan bahwa kita sebagai manusia seolah seperti mesin, ia diriset setiap tahunnya–kembali suci dan menghapus riwayat kesalahan. Tetapi, apakah sejarah mampu mengenal kemurnian itu? Bukankah sejak awal kemunculannya, perayaan itu tidak sekadar melingkupi urusan spiritual, melainkan juga urusan sosial–bahkan tentang bagaimana manusia memperlakukan dunia yang ada di sekitarnya.

Pada masa awal Islam, masyarakat saat itu hidup pada batas yang sangat keras, di mana kondisi gurun seolah tidak pernah mampu memberikan banyak tentang pilihan. Kesederhanaan saat itu bukanlah gaya hidup, melainkan suatu kondisi. Maka, pelaksanaan Idulfitri tidak pernah dimaksudkan sebagai perayaan yang berlebihan. Ia lebih mirip seperti jeda–sebuah tarikan napas panjang yang dilakukan setelah kita menahan diri selama bulan Ramadan.

Begitu pun dengan zakat fitrah, ibadah itu bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi cara memaksimalkan bahwa tidak ada orang yang benar-benar tertinggal secara ekonomi. Pelaksanaan ibadah itu menunjukkan sebuah mekanisme sosial, yang jika dilihat dengan kacamata hari ini, hampir terdengar seperti etika berkelanjutan yang sangat dini.

Namun terkadang sejarah memiliki kebiasaan yang buruk. Ia suka membajaknya. Melalui rahim modernitas yang melahirkan kapitalisme, ia telah menemukan jalan untuk masuk ke dalam tradisi, dan semangat Idulfitri secara perlahan mengalami pergeseran makna menjadi sesuatu yang lain.

Idulfitri, menjadi musim belanja. Mengganti pusat perbelanjaan menjadi lebih banyak dikunjungi daripada masjid. Diskon lebih dinanti dari pada khotbah. Dan kita, membeli pakaian baru bukan karena butuh, tetapi karena merasa harus membeli. Kesucian seolah memiliki standar visual: “semakin baru pakaianmu, semakin bersih jiwamu”.

Pada titik seperti ini, kita patut memiliki keberanian untuk mempertanyakan kembali tentang makna kemenangan dalam Idulfitri: apakah kita benar-benar merayakan kemenangan atau menggantikan bentuk kekalahan?

Baca Juga: Menjahit Luka Bumi, Membasuh Air Mata Perempuan
Berhenti Merundung Bumi
Mengapa Sungai Cikapundung Perlu Mendapat Sedekah Bumi?

Keinginan untuk Mengonsumsi

Dalam Deep Ecology (1973), Arne Naess telah mengkritik dengan tegas terhadap modernitas yang menempatkan manusia sebagai pusat dari segalanya. Baginya, kepercayaan antroposentrisme yang diyakini oleh modernitas adalah akar permasalahan dari berbagai kerusakan yang terjadi di bumi.

Tapi, dalam perayaan Idulfitri modern di Indonesia, praktik itu masih sangat kuat didominasi oleh pemahaman antroposentrisme semacam itu. Segalanya masih berkutat  di sekitar manusia–tepatnya, di sekitar keinginan untuk mengonsumsi. Makanan dimasak secara berlebihan, lalu dibuang. Begitu juga perjalanan massal (mudik) menghasilkan jejak karbon yang mungkin tidak pernah kita bayangkan. Semua itu seolah lenyap dalam ucapan satu kalimat: “mohon maaf lahir dan batin”.

Fenomena seperti itu tentu bukan sebuah kesan, tetapi juga telah tercermin dalam angka. Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofi, memberikan catatan bahwa timbulan sampah pada masa lebaran tahun lalu (2025) telah mencapai 72.300 ton hanya dalam waktu sepuluh hari (Kompas, 21/03/2026). Sebagian besar dari sampah itu tentu tidak jauh dari sampah plastik sekali pakai, kemasan makanan, serta limbah makanan (food waste) yang meningkat akibat pola konsumsi berlebihan selama perayaan Idulfitri.

Tanpa disadari, semua itu terjadi di atas kebahagiaan kita. Sebuah ironi yang sangat sulit dihindari. Yakni, puasa yang seharusnya melatih pengendalian diri, justru berakhir dengan ledakan konsumsi. Seolah tubuh–dan juga bumi–harus membayar hutang yang besar atas kesabaran kita.

Jika kita tarik kembali pada gagasan manusia sebagai khilafah, sebagai pengelola bumi, maka situasinya sangat memprihatinkan. Saat ini, kita bukan hanya berhasil mengelola, tetapi kita juga merayakan kegagalan itu. Kita menyebutnya sebagai tradisi, padahal itu hanya kebiasaan yang tidak pernah kita kritisi.

Dalam bukunya yang terkenal berjudul Masyarakat Konsumsi (2011), Jean Baudrillard telah menyindir bahwa konsumsi yang dilakukan oleh masyarakat modern bukan lagi soal kebutuhan, melainkan sebagai tanda. Dalam konteks Idulfitri, tanda itu jelas: kita mengonsumsi karena ingin terlihat layak, berhasil, dan pantas dirayakan. Tapi sebagus apa pun tanda-tanda itu ditampilkan, semua itu tidak kita bayar secara langsung. Ia dibayar oleh sungai yang tercemar, oleh udara yang semakin berat oleh polusi karbon, dan oleh tanah yang kehilangan kesuburannya.

Dan peliknya, kita jarang memasukkan semua itu ke dalam dosa-dosa kita. Masalahnya tentu bukan pada Idulfitri sendiri, melainkan pada cara kita membacanya. Kita memaafkan individu, tetapi tidak pernah meminta maaf kepada dunia yang kita rusak secara bersama-sama. Mungkin, kemenangan itu tidak lagi perlu ditandai oleh apa yang berhasil kita kenakan atau kita hidangkan, tetapi apa yang telah kita kurangi: jejak karbon, limbah, dan hasrat keinginan yang berlebihan.

Padahal, jika berani untuk jujur, Idulfitri bisa dibaca secara berbeda. Ia bisa menjadi momen untuk meredefinisikan tentang hubungan: bukan hanya manusia dengan manusia, tetapi juga antara manusia dengan alam. Puasa mengajarkan kita tentang batas–dan batas adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam krisis ekologis. Zakat pun mengajarkan tentang distribusi–dan distribusi adalah inti dari tegaknya keadilan, termasuk keadilan lingkungan.

Tapi untuk mencapai ke sana, kita pun harus berani untuk meninggalkan ilusi. Kesalahan persepsi yang menganggap bahwa kebahagiaan itu selalu berarti kemewahan. Atau yang paling berbahaya: bahwa apa yang kita lakukan setiap tahunnya dalam pemborosan dan gengsi gaya hidup dianggap benar jika dilakukan secara bersama-sama.

Memaknai Kembali Idulfitri

Mungkin, Idulfitri yang lebih jujur adalah Idulfitri yang membuat pikiran kita selalu terganggu. Yang membuat kita untuk berani bertanya, daripada sekadar merayakan. Yang memaksa kita untuk bersikap saat melihat tumpukan sampah setelah pesta, bukan hanya hidangan di atas meja. Dan yang menyadarkan bahwa menjadi “kembali suci” itu tidak cukup jika lingkungan kita justru semakin kotor.

Pada akhirnya, saya hanya bisa bertanya dengan cara yang sederhana: jika Idulfitri adalah tentang kembali, kita sebenarnya telah kembali ke mana?

Jika jawabannya telah kembali kepada diri sendiri, tidakkah makna itu masih terbilang sempit? Namun jika kita memberanikan diri untuk memaknainya dengan lebih luas, dalam arti kembali kepada sesama, kepada alam, dan masa depan–maka makna Idulfitri bisa menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar perayaan tahunan.

Dari makna itu kita bisa membaca Idulfitri sebagai pengingat: bahwa ada dosa-dosa yang tidak selesai hanya dengan mengucapkan maaf, selagi bumi terus menanggung penderitaan dari apa yang kita lakukan kepadanya. Mari kita mulai ukur kemenangan ini dari jejak yang kita kurangi, bukan yang kita tambah–apalagi secara berlebihan.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//