• Kolom
  • BULAN ASIA-AFRIKA #1: Sutan Sjahrir dan Sosialisme Asia yang Terlupakan

BULAN ASIA-AFRIKA #1: Sutan Sjahrir dan Sosialisme Asia yang Terlupakan

Sutan Sjahrir bersama tokoh-tokoh seperti U Nu dan Jayaprakash Narayan, mencoba merumuskan sosialisme Asia yang tidak sekadar meniru model Barat atau Timur.

Abah Omtris

Musisi balada Bandung

Ada orang-orang yang berperan signifikan dalam dinamika zamannya tapi ditinggalkan begitu saja oleh sejarah. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

11 April 2026


BandungBergerak“Dan hanya semangat persahabatan, yang dipikul oleh perasaan keadilan dan kemanusiaan, yang dapat membawa kita maju dalam sejarah dunia.”–Sutan Syahrir

Di tengah dunia yang kembali terpecah oleh kepentingan geopolitik, kita sering lupa bahwa Asia pernah mencoba berbicara dengan suaranya sendiri. Bukan sebagai perpanjangan Barat, bukan juga sebagai bayang-bayang kekuatan Timur, tetapi sebagai kawasan yang berusaha merancang nasibnya sendiri–demokrasi, anti-kolonial, dan berpijak pada kemanusiaan.

Jika kita menoleh ke belakang, ada satu kota yang menjadi simpul penting dari pertemuan gagasan-gagasan itu: Bandung . Sejak masa pergerakan nasional, Bandung tidak hanya tumbuh sebagai kota administratif atau pusat pendidikan kolonial, tetapi menjadi ruang intelektual yang relatif cair. Modernitas yang dibawa oleh kolonialisme–pendidikan Barat, infrastruktur kota, dan kehidupan perkotaan–secara paradoks membuka ruang bagi munculnya kesadaran kritis di kalangan pribumi terdidik.

Bandung menjadi tempat di mana berbagai latar belakang bertemu: mahasiswa, aktivis, kaum terdidik, hingga para pemikir muda yang gelisah melihat ketimpangan kolonial. Di ruang-ruang diskusi, organisasi pergerakan, hingga percakapan sehari-hari, gagasan tentang kebangsaan tidak lahir sebagai doktrin tunggal, melainkan sebagai hasil pergulatan yang intens. Ada perbedaan, ada yang terjadi, ada benturan–tetapi justru dari situ tumbuh tradisi berpikir yang relatif egaliter.

Kota ini, dengan segala evolusinya, menjadi laboratorium sosial. Di satu sisi, ia adalah simbol modernitas kolonial dengan segala ketimpangannya. Di sisi lain, ia melahirkan ruang-ruang di mana hierarki lama mulai diselidiki. Hubungan sosial yang lebih cair memungkinkan munculnya keberanian untuk berpikir berbeda. Dalam konteks inilah, Bandung bukan hanya sekedar tempat, tetapi kondisi-kondisi yang memungkinkan lahirnya generasi yang tidak hanya ingin merdeka, tetapi juga ingin memahami makna kemerdekaan itu sendiri.

Tidak mengherankan jika dari lanskap semacam ini lahir tokoh-tokoh dengan spektrum pemikiran yang luas. Soekarno , dengan retorika yang membakar dan kemampuan mobilisasi massa, menemukan panggungnya di kota ini. Sementara Sutan Sjahrir tumbuh menjadi sosok yang lebih reflektif–seorang intelektual yang percaya bahwa kemerdekaan tidak cukup diperjuangkan dengan emosi, tetapi harus berpikir secara rasional.

Perbedaan ini penting. Ia menunjukkan bahwa sejak awal, nasionalisme Indonesia bukanlah satu suara tunggal, melainkan spektrum gagasan yang saling berinteraksi. Dan dalam spektrum itu, Sjahrir menempati posisi yang unik: ia adalah suara yang mengingatkan bahwa nasionalisme tanpa kemanusiaan dapat berubah menjadi pemikiran baru.

Baca Juga: Joget di Senayan, Bayang Pemakzulan, dan Bendera Bajak LautJejak Kelam Sang PahlawanPeristiwa Malari, Krisis Imajinasi Pembangunan, dan Sunyi yang Terus Diulang

Gagasan Sosialisme Asia

Sjahrir tidak tertarik pada nasionalisme yang hanya berhenti pada simbol, slogan, atau mobilisasi massa. Ia melihat bahaya dalam nasionalisme yang dibangun di atas sentimen sempit–nasionalisme yang mudah berubah menjadi eksklusif, bahkan represif. Baginya, nasionalisme harus ditopang oleh kesadaran etis: keadilan, kebebasan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Pandangan ini tidak lahir dalam ruang hampa. Ia tumbuh dari pengalaman intelektual yang luas, termasuk interaksinya dengan pemikiran Eropa, tetapi juga dari pengamatannya terhadap dinamika sosial di Indonesia sendiri. Sjahrir melihat bahwa kolonialisme bukan hanya persoalan politik, tetapi juga persoalan mentalitas. Oleh karena itu, kemerdekaan tidak cukup dimaknai sebagai pergantian kekuasaan; ia harus menjadi transformasi cara berpikir.

Pada awal tahun 1950-an, ketika dunia mulai terkunci dalam logika Perang Dingin, Sjahrir membawa warisan pemikiran ini ke dalam percakapan yang lebih luas di tingkat Asia. Dalam forum seperti Asian Socialist Conference (ASC) di Rangoon tahun 1953, ia menjadi bagian dari generasi pemikir yang menolak persetujuan pada pilihan sempit antara kapitalisme Barat dan komunisme Soviet.

Bagi mereka, dua kutub itu sama-sama bermasalah. Kapitalisme global berpotensi melanjutkan dominasi dalam bentuk baru, sementara komunisme otoriter mengancam kebebasan individu. Dalam situasi seperti itu, bangsa-bangsa Asia yang baru merdeka menghadapi dilema: memilih salah satu, atau mencari jalan sendiri.

Sjahrir dan rekan-rekannya memilih yang kedua–walaupun jauh lebih sulit.

Bersama tokoh-tokoh seperti U Nu dan Jayaprakash Narayan, ia mencoba merumuskan sosialisme Asia yang tidak sekadar meniru model Barat atau Timur. Sosialisme yang mereka bayangkan adalah sosialisme yang demokratis, anti-kekerasan, dan dihilangkan berdasarkan pengalaman sejarah masyarakat Asia. Sosialisme yang tidak memusatkan kekuasaan pada negara secara absolut, namun tetap menjamin jaminan sosial bagi rakyat.

Dalam kerangka ini, politik tidak lagi dipahami sebagai sekadar perebutan kekuasaan, tetapi sebagai upaya membangun tatanan yang lebih adil. Nasionalisme tidak lagi menjadi alat penggerak, namun menjadi sarana untuk memastikan bahwa kemerdekaan benar-benar bermakna bagi umat manusia.

Namun sejarah bergerak ke arah lain. Polarisasi global semakin tajam. Kudeta militer terjadi di berbagai negara. Rezim-rezim otoriter muncul dengan dalih stabilitas dan pembangunan. Dalam arus besar ini, gagasan sosialisme demokratis perlahan tersingkir. Terlalu idealis untuk realitas politik yang keras, namun justru karena itu, ia tidak diberi ruang untuk tumbuh.

Konferensi Sosialis Asia mencatat menjadi kaki dalam sejarah. Nama-nama yang pernah menyusunnya menghilang dari narasi utama. Yang tersisa adalah cerita tentang negara, kekuasaan, dan pembangunan–sering kali tanpa ruang bagi kritik dan refleksi.

Namun gagasan tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya menunggu untuk dibaca kembali.

Dan beberapa tahun setelah ASC, semangat yang sama menemukan panggung yang lebih besar–ketika bangsa-bangsa Asia dan Afrika berkumpul di Konferensi Asia-Afrika 1955 . Di kota yang sejak awal menjadi ruang pertemuan gagasan, dunia pascakolonial mencoba berbicara sebagai subjek, bukan objek sejarah.

Bandung, sekali lagi, menjadi titik temu. Bukan hanya geografis, tetapi juga intelektual dan moral.

Pertanyaannya kini menjadi lebih mendesak: apakah kita masih mewarisi keberanian berpikir yang pernah tumbuh di kota ini? Ataukah Semangat Bandung hari ini hanya tinggal simbol–diperingati setiap tahun, tetapi kehilangan daya gugahnya sebagai ruang kritik dan imajinasi?

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//