• Kolom
  • BULAN ASIA-AFRIKA #4: Bandung di antara Warisan dan Ambisi

BULAN ASIA-AFRIKA #4: Bandung di antara Warisan dan Ambisi

Semangat Konferensi Asia-Afrika 1955 tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari kota yang memiliki kesadaran–bahwa ruang bukan hanya tempat, tetapi juga ingatan.

Abah Omtris

Musisi balada Bandung

Seorang warga dalam lindungan payung berjalan kaki menyeberangi Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Sabtu (11/12/2021). Penamaan dan pengubahan nama-nama jalan di Kota Bandung menandai perkembangan kota secara keseluruhan. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak.id)

2 Mei 2026


BandungBergerak“Di masa penuh kebohongan, mengatakan kebenaran adalah tindakan revolusioner.”–George Orwell

Jika Palestina adalah cermin, maka pertanyaan itu tidak berhenti di sana. Ia harus dibawa pulang–ke ruang yang paling dekat dengan kita...

Ke Bandung.

Hari ini, kota yang pernah menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan global, justru muncul kegelisahan yang jauh lebih konkret: bagaimana kita memperlakukan ruang, sejarah, dan arah pembangunan itu sendiri.

Rencana pembangunan plaza yang mencakup kawasan Gedung Sate dan Lapang Gasibu, misalnya, tidak bisa dibaca semata-mata sebagai proyek penataan kota. Ia menyentuh sesuatu yang lebih dalam–cara kita memahami sejarah dan memaknai ruang. Ketika sebuah kawasan yang terbentuk dari lapisan sejarah panjang diubah dengan pendekatan yang seragam dan fungsional, pertanyaannya bukan lagi soal estetika, melainkan soal kesadaran.

Apakah kota ini masih membaca dirinya sendiri?

Jalan Jalan Diponegoro–yang dahulu dikenal sebagai Rembrandtstraat–bukan sekedar jalur lalu lintas. Ia adalah bagian dari narasi kota, jejak dari berbagai zaman yang saling bertumpuk. Ketika wacana pemenggalan jalan itu muncul demi sebuah ambisi pembangunan, maka yang terancam bukan hanya fungsi ruang, tetapi juga kesinambungan sejarah.

Namun permasalahan ini tidak berhenti di ruang.

Di balik dalih mengurai kemacetan, rencana tersebut justru membuka pertanyaan yang lebih mendasar: apakah persoalan kota ini benar-benar dipahami dengan jernih? Sebab kemacetan di Bandung bukan semata-mata persoalan bentuk kota, melainkan kegagalan dalam mengelola sistem mobilitas secara menyeluruh.

Di satu sisi, pemerintah mendorong penggunaan transportasi umum massal sebagai solusi. Namun di sisi lain, kota ini seolah tidak memiliki keberanian untuk mengatur secara tegas keberadaan angkutan berdasarkan aplikasi–baik ojek maupun taksi online–yang jumlah operasionalnya terus bertambah tanpa kendali yang jelas.

Tidak ada rasio yang transparan antara jumlah kendaraan dan kebutuhan pengguna. Tidak ada batasan yang benar-benar ditegakkan. Kebijakan berjalan dalam dua arah yang saling meniadakan.

Baca Juga: BULAN ASIA-AFRIKA #1: Sutan Sjahrir dan Sosialisme Asia yang Terlupakan
BULAN ASIA-AFRIKA #2: Semangat Bandung dan Indonesia di Persimpangan Keseimbangan Kekuatan Dunia
BULAN ASIA-AFRIKA #3: Palestina sebagai Cermin yang Menguji Bandung Hari ini

Menghapus Makna Perjuangan

Kita berbicara tentang modernisasi transportasi, tetapi membiarkan pasar bekerja tanpa arah. Kita mendorong masyarakat beralih ke angkutan massal, namun pada saat yang sama membiarkan sistem transportasi alternatif tumbuh liar tanpa regulasi yang memadai.

Di titik ini, solusi yang diambil justru beralih ke pendekatan yang paling mudah terlihat: mengubah ruang, membangun ulang, merancang ulang kota seolah-olah persoalan utamanya adalah bentuk–bukan sistem.

Padahal tanpa keberanian untuk menata akar permasalahan, perubahan fisik hanya akan menjadi kosmetik. Ini mungkin tampak sebagai kemajuan, tetapi sebenarnya hanya menghilangkan masalah pada bentuk yang berbeda.

Dan di cermin itu kembali bekerja.

Apa bedanya kita mengkritik ketidakadilan global, jika pada saat yang sama kita menghapus makna di ruang kita sendiri? Apa arti lantang berbicara tentang kolonialisme, jika jejak sejarah yang lahir dari perjuangan panjang perlawanan justru kita abaikan?

Semangat Konferensi Asia-Afrika 1955 tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari kota yang memiliki kesadaran–bahwa ruang bukan hanya tempat, tetapi juga ingatan. Bahwa sejarah bukan sekadar masa lalu, melainkan fondasi untuk menentukan arah.

Jika ruang-ruang itu mulai diperlakukan hanya sebagai objek pembangunan, maka yang hilang bukan hanya bentuk fisiknya, tetapi juga makna yang dikandungnya.

Bandung hari ini, dengan segala ambisinya, sedang berdiri di persimpangan.

Di satu sisi, ia ingin tampil sebagai kota modern yang bergerak cepat. Di sisi lain, ia memikul warisan sebagai kota yang pernah berbicara kepada dunia tentang keadilan dan kesetaraan.

Pertanyaannya sederhana, tetapi menentukan: apakah Bandung masih setia pada dirinya sendiri? Sebab tanpa kejujuran untuk menjawabnya, semua yang tersisa hanyalah simbol–yang megah di permukaan, tetapi kosong di dalam.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//