Kopi dan Masagi
Proses menjadikan kopi sebagai sajian yang pas berarti pula suatu yang “tepat pada tempat dan waktunya”. Ibarat sebuah bangun segi empat atau sebuah lingkaran.

Stephanus Djunatan
Ketua Center for Philosophy, Culture and Religious Studies (CPCReS) Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung
4 Mei 2026
BandungBergerak – Secangkir kopi yang mungkin sedang Anda nikmati sekarang ini mengandaikan tahapan yang kompleks. Kemudian, kopi itu tersaji melibatkan banyaknya tangan yang mempersiapkannya. Tak ketinggalan tersirat dari secangkir kopi tersebut terdapat banyaknya kepentingan yang mengambil manfaat (dapat dibaca: kapital).
Sejak abad ke-8, bangsa-bangsa di kawasan Afrika Timur, sudah menikmati kopi. Sejak abad ke-16 kopi sudah diperdagangkan secara “global” dari Semenanjung Arab ke dunia Timur Tengah (Mediterania). Di Nusantara, bangsa-bangsa di kepulauan ini sudah mengenal kopi karena perjalanan ziarah haji sebelum bangsa-bangsa Eropa menancapkan tongkat kuasa di tanah-tanah yang dianggap sebagai koloni mereka. Hindia Belanda sendiri memproduksi kopi Arabica, kemudian Robusta sejak abad ke-17.
Kopi termasuk salah satu sajian minuman yang mendorong penikmatnya mengonstruksi dan merekonstruksi gaya hidup di tanah mereka. Proses (re)konstruksi kultur ini terjadi di hampir semua bangsa di semua benua. Proses transformasi gaya hidup ini tumbuh menjadi warisan sekaligus juga bentukan baru yang terjadi seiring dengan perjumpaan dan interaksi aktif dan pasif di antara bangsa-bangsa.
Hampir pada semua bangsa, kopi telah mempengaruhi bidang-bidang budaya mulai dari yang paling profan/fana/sekuler sampai yang paling sakral. Agama kristen dan Islam harus ‘mengadili’ dulu minuman kopi sebelum menjadikannya bagian dari ritual keagamaan yang rutin. Dalam dunia yang sekular, bangsa-bangsa dari semua lapisan dan golongan menerima kopi sebagai ‘ritual’, sesuatu yang mau tidak mau ada dan dinikmati sebagai ‘upacara’ sebelum melakukan sesuatu yang rutin, atau sebelum lahirnya ide-ide kreatif. Kopi juga menjadi sarana ritual untuk menjalin relasi dengan yang lain dalam keseharian.
Baca Juga: Imlek dan Evolusi Identitas Sosial Setempat
Sambal, Rasa, dan Memori
Burger dan Dunia Rasa Kita
“Tidak Lebih dan Tidak Juga Kurang”
Proses panjang kopi dari pembenihan sampai pengepakan dan penyajian di cangkir mengandaikan sebuah prinsip, yaitu “tidak lebih dan tidak juga kurang”. Biji kopi disemai, pohonnya ditanam di kawasan yang tidak panas, dan juga tidak juga dingin. Buahnya dipanen dalam kondisi tidak terlalu matang, dan juga tidak mentah.
Setelah dipanen, biji itu juga diolah sedemikian rupa sehingga menghindari kondisi polaristik, tidak lebih dan tidak juga kurang. Begitu pula dengan proses pemanggangan biji, tidak lebih dan tidak juga kurang. Ketika barista mempersiapkan kopi Anda, ia juga berupaya agar kopi yang disajikan tidak lebih dan tidak juga kurang. Anda pun yang menikmatinya, sebaiknya, tidak berada dalam kondisi ekstrem: yang lebih atau yang kurang.
Karena itu, setiap produsen, penyicip, para “coffee master”, barista, pengolah, peracik dan penyaji kopi, perlu mengalami proses yang panjang, penuh pertimbangan, “mencoba-dan-salah/keliru” agar mereka menghasilkan kopi yang nikmat. Bahkan, dapat dikatakan, para konsumen, Anda dan saya pun perlu “belajar” menikmati kopi.
Inilah uniknya kopi: kompleksitas tersebut membutuhkan pengondisian yang tidak terjebak pada ekstrem. Kondisi, yang berangkat dari prakondisi prinsip tersebut, justru memadukan kedua kondisi ekstrem sedemikian rupa sehingga, hadirlah kopi yang nikmat dengan berbagai nuansa dan variasi rasa yang kompleks dan komplikatif. Prinsip tersebut secara tidak langsung membawa kita pada dunia yang kompleks dan komplikatif, yang hadir dalam sajian sederhana yang “pas”: secangkir kopi.
Kopi, Pas, dan Masagi
Proses menjadikan kopi sebagai sajian yang pas berarti pula suatu yang “tepat pada tempat dan waktunya”. Ketepatan tersebut ibarat sebuah bangun segi-empat atau dapat juga sebuah lingkaran. Bangun segi empat tersebut tepat serasi di semua sisi dan sudutnya, atau sebuah lingkaran yang ‘utuh-sempurna’ tanpa ada goresan yang “keluar” dari jalurnya. Demikian pas tersebut menjadi sempurna. 360 derajat sebagai sudut ruang geometris.
Demikianlah makna denotatif dan konotatif kata Sunda: “masagi”. Kata yang diturunkan dari bentuk kata benda “pasagi”, menjadi kata sifat (dan dapat dianggap kata kerja juga): “masagi”. Kata ini mempunyai konteks dengan manusia, walaupun analogi yang digunakan bernuansa ruang geometris. “Manusia yang masagi” demikian sebuah frasa yang kerap kali menjelaskan kata ini. Manusia yang masagi menunjuk pada pengalaman menjadi insan yang “sampurna”. Ia adalah insan yang “penuh-utuh”.
Masagi, sebagai kata sifat, dan mungkin juga kata kerja, merujuk pada proses, atau menjadi sempurna. Masagi adalah perjalanan panjang, sebuah ziarah lahir-batin, pikiran-tindakan, kata-aksi, teori-pengalaman. Manusia tidak “ujug-ujug”, serta merta sempurna. Proses menjadi ini mengandaikan proses pengolahan, perjuangan, dan pencapaian hidup dari bayi sampai lanjut usia. dalam hal ini, lahir-batin bukanlah dua hal terpisah. Kebijaksanaan Sunda tentang keberadaan (ontologi) manusia menempatkan masagi atau keutuh-sempurnaan diri sebagai perpaduan yang erat antara aspek lahiriah diri sebagai bungkus/cangkang dan aspek batiniah diri sebagai isinya. Perpaduan itu bersifat “pas”: “cangkang reujeung eusina kudu sarua lobana”. Lahir adalah bagian cangkang diri yang berpadu secara pas dengan batin, bagian isi diri. Perpaduan yang pasagi itu kemudian disebut sebagai “cageur, baheula, bener, printer, singer” (sehat lahir-batin, hati/akhlak baik/mulia, benar sesuai aturan dan norma, pintar berwawasan ilmu, teliti-mawas-diri-cekatan-kreatif).
Kembali kepada cerita perjalanan secangkir kopi yang Anda nikmati kapan dan di mana saja. Kopi menjadi analogi yang menyimbolkan perjalanan seorang pribadi dan sebuah komunitas, karena manusia yang masagi bukan hanya individual; juga sekumpulan spesies Homo Sapiens. Perjalanan spesies yang mengandaikan pergumulan setiap pribadi mendapatkan inspirasinya dari proses kopi. Seperti halnya perjalanan “tidak lebih dan tidak juga kurang” dari kopi yang layak untuk dinikmati, manusia yang masagi pada dasar juga “pas”, berwujud pasagi, dan berproses menjadi masagi dalam perjalanan hidupnya.
***
*Artikel ini pernah dipresentasikan dalam Seminar Food for Fud III di Café Masagi, Jalan Gunung Kareumbi no. 1-B, Ciumbuleuit, Bandung, 27 Februari 2026, pkl. 15.30-17.30 WIB.
**Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


