Kenangan Anak tentang Ibunya: Mia Bustam, Ingatan yang Tak Pernah Dipenjara
Dari penangkapan pada 1965, tercerainya keluarga, hingga upaya anak-anaknya merawat ingatan tanpa dendam, kisah Mia Bustam menyingkap sejarah yang lama dibungkam.
Penulis Muhamad Rafi 8 Mei 2026
BandungBergerak - Pagi 23 November 1965, dunia Mia Bustam dan anak-anaknya runtuh ketika truk tentara merangsek ke rumah kecil mereka di tepi Sungai Tunjang, Yogyakarta. Tanpa perlawanan, Mia melangkah naik ke atas truk dengan kepala tegak dan tak sekali pun menoleh ke belakang, meski harus meninggalkan anak-anaknya dalam ketakutan.
Hari itu menjadi awal dari penahanan tanpa pengadilan selama 13 tahun yang membawanya berpindah dari Benteng Vredeburg, Lembaga Pemasyarakatan Wirogunan, Plantungan di Kendal, hingga LP Bulu Semarang, sebelum dibebaskan pada 27 Juli 1978.
Di tengah penangkapan itu, putri sulung Mia Bustam, Sri Nasti Rukmawati, nyaris ikut dibawa. Ia bahkan sudah berada di atas truk tentara ketika seorang prajurit bertanya kepada adik-adiknya siapa yang akan menjaga mereka jika kedua orang tua mereka ditahan. Sang adik kemudian menunjuk Nasti. Tentara itu pun memintanya turun dan menjaga saudara-saudaranya.
“Waktu itu, pas ditahan saya sudah naik ke truk. Terus adik-adik ditanya salah satu tentara, ‘Kalau ibu kami pinjam sebentar, nanti sama siapa?’,” cerita Sri Nasti Rukmawati di diskusi “Mengenang Mia Bustam: Mewariskan Ingatan Tanpa Mewariskan Luka” di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Minggu, 3 Mei 2026.
Dalam diskusi yang dipandu pegiat literasi Cimahi Boomates, Kemal Ramdahan Putra Yusuf, Nasti mengenang kembali tahun-tahun pahit yang dialami keluarganya pada masa geger 1965. Sebelum penangkapan itu terjadi, keluarga Mia Bustam sebenarnya telah lebih dulu diguncang persoalan rumah tangga.
Pernikahan Mia Bustam dengan pelukis Sindoedarsono Sudjojono atau biasa disebut S Sudjojono, yang melahirkan delapan anak—Tedjabayu, Sri Nasti Rukmawati, Watu Gunung, Sekartunggal, si kembar Lanang Daya dan Lanang Gawe, Sri Shima, serta Abang Rahino—berakhir pada 1959. Rumah tangga mereka kandas setelah Sudjojono mengakui hubungannya dengan penyanyi Rose Sumabrata, sementara Mia menolak dimadu.
Perceraian itu justru menjadi titik balik kehidupan Mia. Lahir dengan nama Sasmiyati Sri Mojoretno di Purwodadi, Jawa Tengah, 4 Juni 1920, Mia mulai menekuni dunia seni rupa, menulis, dan aktif di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Ia dipercaya memimpin Lekra cabang Yogyakarta, berkirim surat dengan sesama seniman perempuan seperti Kartika Saptohoedojo, serta lantang menyuarakan kesetaraan perempuan.
"Tuntutan kita, kaum wanita minta persamaan hak adalah kebenaran," demikian Mia Bustam di salah satu tulisannya, seperti diceritakan Nasti.
Meski dikenal sebagai istri Sudjojono, pelukis yang dijuluki “Bapak Seni Lukis Modern Indonesia”, jejak Mia Bustam sebagai seniman, penulis, penerjemah, dan pejuang kerap luput dari buku-buku sejarah. Padahal, kontribusinya dinilai tak kalah penting dibanding nama besar mantan suaminya.
Setelah ditangkap pada 1965, kehidupan keluarga mereka tercerai-berai. Nasti yang paling dekat dengan sang ibu harus menjalani hari-hari penuh ketidakpastian sambil menunggu kabar perpindahan penahanan Mia. Beruntung, suaminya membantu memudahkan akses untuk menjenguk.
“Kebetulan kan saya itu tinggal di Semarang ya waktu itu ya, sejak tahun 1967 ya. Menikah juga di Semarang. Dan ibu kan waktu itu di tahannya kan di Jogja ya. Karena saya dekat, jadi tiap hari selalu nunggu, nunggu ibu gitu,” tutur Nasti.
Sementara itu, enam adiknya terpaksa tumbuh lebih cepat di tengah situasi mencekam. Mereka kemudian dibawa pamannya pindah ke Jakarta demi menghindari teror dan stigma terhadap keluarga tahanan politik. Perpisahan panjang dengan sang ibu membuat hubungan emosional dalam keluarga perlahan berubah.
Selepas bebas pada 1978, Mia berusaha memulai hidup baru bersama sesama mantan tahanan politik. Melalui bantuan modal dari kelompok perempuan Belanda yang diterima sahabatnya, Heriani Busnoyo, mereka membangun komunitas usaha kecil. Para perempuan menjahit, membatik, dan menyulam, sedangkan para lelaki membuat mainan anak-anak.
”Sudah bebas itu, ibu dapat itu, terus mengajak teman-temannya. Untuk bisnis usaha, apa yang bisa kita lakukan,” ujar Nasti.
Mia Bustam wafat pada 2 Januari 2011 di Limo, Depok, pada usia 91 tahun. Ia meninggalkan empat buku memoar: Sudjojono dan Aku, Dari Kamp ke Kamp, Kelindan Asa dan Kenyataan, serta Mutiara Kisah Masa Lalu. Karya-karya itu baru banyak dicari setelah bertahun-tahun ia meninggal.
Kini, Nasti menjadi wajah publik keluarga Mia Bustam. Rambutnya sudah memutih, mencerminkan perjalanan hidup yang panjang dan berliku.
Nasti memilih mewariskan ingatan tanpa membawa dendam. Salah satu jalannya adalah bergabung dengan paduan suara Dialita yang beranggotakan anak-anak dan keluarga eks tahanan politik 1965. Di sana, ia menyanyikan lagu-lagu ciptaan para tahanan tentang kehidupan di balik penjara, termasuk lagu tentang Plantungan, tempat ibunya pernah ditahan.
“Memang butuh belajar ya untuk menghadapi apa pun. Semua orang pasti hidup, pasti punya masalah. Tapi bagaimana kita menjalani itu, bikin solusi supaya tidak menjadi beban. Kalau ibu (Mia Bustam) kan bisa nulis, bisa nyulam gitu kan. Jadi ya jalanin aja. Itu memang sudah diwariskan kayaknya dari turun-temurun,” jelas Nasti.
Bagi keluarga Mia Bustam, pengakuan publik bukan lagi hal utama. Yang kini mereka impikan justru sebuah perpustakaan kecil di rumah Mia sebagai ruang belajar dan diskusi.
“Biar orang lain yang membuat ibu dikenal. Kalau kami sendiri ya, paling saya ya mungkin ingin perpustakaan Mia Bustam. Itu saja. Saya kepengin kita bikin perpustakaan di rumah ibu. Rumah ibu itu kecil sekali. Tapi ya, meskipun kecil mungkin bisa untuk diskusi anak-anak gitu ya,” kata Nasti.
Baca Juga: Mia Bustam dan Kehendak untuk Terus Melawan
Membaca Sejarah Bibliosida dari Penyitaan Buku di Rumah Delpedro Marhaen

Cerita Tokoh Sejarah dari Anak-anaknya
Diskusi itu juga meninggalkan kesan mendalam bagi peserta. Robi, salah seorang peserta, menilai forum semacam ini penting untuk menghadirkan sudut pandang sejarah yang lebih manusiawi.
“Acara-acara kayak gini tentu pengalaman baru. Dalam artian, kita dapat mendengar cerita tokoh sejarah dari anak-anaknya. Dalam pengalaman meneliti, terkadang anak dari tokoh sejarah ini lelah hanya dijadikan token untuk mengetahui kisah orang tuanya. Sementara kisah mereka terpinggirkan,” ujarnya.
Peserta lain, Eva, mengaku bersimpati pada nasib para mantan tahanan politik yang menurutnya kerap disalahpahami.
“Aku meyakini kalau orang-orang yang tertangkap tuh orang yang disalahpahami dan itu biasanya akan ada kemiripan tuh diantara orang-orang tapol ini. Sebenarnya tuh orang-orang tapol ini tuh ada apa sih dengan mereka gitu? Karena kayaknya dari dulu sampai sekarang tuh kayaknya gak ada yang berubah gitu,” ungkap Eva.
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp Kami


