Cerita Angkot Tak Seindah Kisah Dilan dan Milea
Di saat hegemoni ojol memadati jalanan, keberadaan angkot di Bandung kurang lebih seperti kura-kura melawan kelinci. Mereka tidak buru-buru tetapi konsisten.

Sandewa Jopanda
Penulis dan Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran (Unpad).
11 Mei 2026
BandungBergerak – Ketika takdir mengharuskan saya menempuh studi pascasarjana di Bandung, saya mempelajari akomodasi. Saya kira, urusan transportasi tak perlu dipikirkan karena akan selesai dengan ojol. Tapi saya keliru, rupanya angkot masih menjamur di Bandung. Sejak itu niat untuk menuliskannya sudah terpikirkan, walau jenis luarannya belum pula saya putuskan.
Mengapa ini menarik? Karena pada dasarnya perubahan teknologi amat mempengaruhi perilaku dan budaya manusia, transportasi online tentu mengubah pola perilaku kita dalam memilih moda transportasi. Dari transportasi publik luring yang bisa diakses kolektif menjadi transportasi online yang seperti siluman, sifatnya publik namun penggunaannya sering kali privat. Sukar rasanya mempercayai angkot bisa bertahan di Bandung sebagai The capital City of Asia Africa, tempat para pelancong dalam dan luar negeri singgah.
Kehadiran transportasi online itu mengeksploitasi sifat buruk manusia, malas dan egois. Sifat malas itu ditunjukkan dengan banyaknya orang yang merasa lebih baik berdiam diposisinya saja menunggu jemputan datang ketimbang harus pergi ke pangkalan ojek atau ke pinggir jalan. Menurut mereka itu tidak efisien dan di sinilah letak keegoisan pertama yang jarang tersorot. Ego kedua, lebih umum diketahui ialah keengganan berbagi tempat duduk dengan orang lain, tentu dengan alasan tidak nyaman, kurang aman, dsb.
Kemalasan sukar dilawan, tetapi egoisme masih bisa dihentikan. Egoisme bergantung pada pola pikir. Misalnya soal efisiensi, pergi ke pangkalan ojek memang membuang energi, memakan waktu, dan biayanya kadang bisa berbeda tipis. Sayangnya menggunakan angkot bukan hanya menghemat lebih banyak energi dan menjaga bumi rendah polusi dan emisi, melainkan juga memberi kita waktu bersosialisasi, yang tidak dapat diukur dari nominal di kertas. Bila alasannya efisiensi waktu, di mana Bandung macet sementara angkot selalu berhenti mengambil penumpang, mengapa kita tidak mulai bijak mengatur waktu? Argumentasi ini hanya saya temui ketika berhadapan dengan anak muda yang boleh jadi telah terkooptasi oleh dunia yang mulai terburu-buru ini.
Sifat individualis manusia tersebut telah menggerus euforia bertransportasi publik. Moda transportasi seperti angkot mau tidak mau akan tenggelam seiring waktu. Jadi pada saat mengetahui angkot masih eksis di Bandung, saya bergumam, “Wah anomali apa ini?”
Baca Juga: Wacana Angkot Pintar Bandung di Tengah Predikat Kota Paling Macet di Indonesia
Wajah Baru Angkot Bandung: Feeder MTJ Hadir, Belum Semua Sopir Bisa Ikut
Dari Trayek Angkot ke Titik Baca: Ketika Sopir, Komunitas, dan Pegiat Literasi Membicarakan Arah Transportasi Publik Bandung
Eksistensi Angkot di Kota Bandung dalam Studi Demografi
Katanya, orang Bandung enggan meninggalkan kotanya. Meski di sekitarnya banyak kota industri mereka lebih senang mencari penghidupan di dalam Bandung sendiri. Sempat saya bertanya ke teman mengenai cerita itu. “Semua ada di Bandung, jadi buat apa merantau?” tanggapnya.
Bagi saya cerita itu dapat menjelaskan alasan eksisnya angkot hingga sekarang. Eksistensi suatu perilaku bergantung pada karakteristik individu atau masyarakatnya. Orang yang senang belajar akan terus belajar, masyarakat yang suka berkumpul akan terus begitu. Maka, mereka yang akrab dengan angkot, akan terus menggunakannya. Kebetulan masyarakat yang mengenal angkot itu tidak keluar dari wilayah di mana angkot itu berada. Keduanya akhirnya saling hidup menghidupi.
Bandung tidak aman dari migrasi penduduk. Lalu lalang manusia tidak mungkin dihindari. Terlebih, Bandung menarik ribuan pelajar dan jutaan wisatawan setiap tahunnya. Namun kehadiran mereka tidak lantas menggeser orang asli Bandung. Sebaliknya keinginan keluar dari Bandung oleh penduduk aslinya tidak setinggi daerah lain di Jawa Barat atau di Indonesia pada umumnya. Wajar saja angkot tetap eksis.
Saya mengidentifikasi cara bicara, bahasa pengguna, bahkan rute yang mereka lalui, termasuk melakukan wawancara kecil. Ada yang pulang pergi dari pasar, berangkat sekolah, dan sebagainya. Rata-rata memang dari Bandung (Bandung Raya). Meskipun ada sedikit orang bukan asli Bandung yang juga terlihat menggunakannya.
Pengguna rutin angkot umumnya berusia mendekati paruh baya, paruh baya, dan lansia. Kebanyakan ibu-ibu yang walaupun barangnya seabrek dan kesulitan menaiki angkot, memori tentang angkot lebih mempengaruhi keputusannya menggunakan angkot. Alasan logis lainnya karena kurang mahir menggunakan teknologi di gawai. Di sisi lain, pengguna ojol didominasi kalangan muda yang melek teknologi dan mobilitasnya cenderung tinggi, yang mempengaruhi pemilihan moda.
Saya sebetulnya tidak anti pada ojol dan sesekali menggunakannya juga, bahkan teman sepermainan futsal saya dahulu ya para ojol. Alih-alih mendiskreditkannya, saya justru hendak mengutarakan betapa luar biasanya angkot Kota Bandung bisa bertahan di tengah gempuran ojol, sementara bagi pihak ojol mereka harus terus bertransformasi, termasuk mengaktifkan paket hemat agar bisa bersaing dengan angkot yang lebih terjangkau. Jika selisih biaya terlalu jauh, masyarakat yang demografinya masih didominasi kalangan menengah dan kalangan bawah pasti enggan menggunakannya.
Romantika Angkot dan Riwayatnya Kini
Saya kira angkot itu tinggal cerita belaka seperti kisah Dilan & Milea. Anyway, memang dari film itulah keberadaan angkot di Kota Bandung dapat saya identifikasi. Adegan rayuan Dilan pada Milea dalam angkot (Dilan 1990), sudah pasti membuat banyak orang senyum-senyum sendiri. Bisa saya duga, kebanyakan memaknainya sebagai romantika remaja semata. Lain hal bagi saya yang juga menyukai sastra, justru teringat bagaimana romantika di kota-kota Eropa yang memiliki stasiun kereta. Mereka terbiasa berkencan menggunakan transportasi publik baik saat pergi maupun pulang. Peron stasiun atau koridor, kerap kali digunakan sebagai tempat pengambilan adegan perpisahan atau pertemuan termasuk pada kisah bapak teknologi kita (Film Habibie & Ainun 2) di mana saat itu Ilona menunggu Rudy di stasiun kereta.
Sayangnya kalau dibandingkan, penggunaan transportasi publik di Eropa jauh lebih bertahan ketimbang penggunaan angkot di Indonesia. Kalau pergi ke Petersburg, Berlin, Paris, dsb., kita bisa menjumpai adegan romantis pasangan kekasih di dalam kereta hingga kini. Di Bandung, penampakan itu belum saya jumpai dalam angkot. Secara sosiologis, fungsi kontrol sosial akan berjalan ketimbang menggunakan kendaraan pribadi, karena tindakan menyimpang lebih dapat diminimalisir.
Alih-alih menjalankan kontrol sosial, angkot harus melawan berbagai hal. Angkot-angkot ini pada umumnya berusia puluhan tahun, sehingga kondisi mesin mengalami penurunan kinerja, terdapat korosi rangka & kerusakan sparepart menjadi tantangan tersendiri. Sementara pendapatan terus menurun. Seorang sopir sempat mengeluhkan fitur paket hemat transportasi online yang hanya berbeda 2-3 ribu rupiah. Apalagi stigma kurang aman, baik kalau ada barang tertinggal yang susah dilacak, tindakan pelecehan, dan tidak dapat mengevaluasi pelayanan. Sementara itu bisa dengan mudah dilakukan pada transportasi online.
Transportasi online yang tadinya hanya satu itu berhasil menumbuhkan pesaingnya sendiri. Di saat hegemoninya memadati jalanan, keberadaan angkot di Bandung kurang lebih seperti kura-kura melawan kelinci. Mereka tidak buru-buru tetapi konsisten. Walaupun penggunanya terus menurun dan mengancam kehidupan para sopir, optimisme mereka terjaga sepanjang hari, seolah-olah berprinsip seperti Dilan saat merayu Milea, “Gak tahu kalau sore, tunggu saja (mungkin akan banyak penumpang).”
Paling tidak, angkot lebih mampu bertahan ketimbang hubungan Dilan dan Milea.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


