Jejak Kolonial di Balik Boemeltrein, dari Angkut Hasil Perkebunan hingga Jalur Militer Priangan
Buku Boemeltrein: Sejarah Jalur dan Stasiun Kereta Api Padalarang–Cicalengka karya Atep Kurnia mengungkap cerita di balik jalur kereta api Padalarang - Cicalengka.
Penulis Yoan Aditya13 Mei 2026
BandungBergerak - Pembangunan jalur kereta api lokal Padalarang–Cicalengka pada masa kolonial Belanda tidak semata ditujukan untuk memenuhi kebutuhan transportasi masyarakat. Jalur yang dikenal sebagai boemeltrein atau “kereta lambat” itu sejak awal dibangun untuk menopang kepentingan ekonomi kolonial, terutama mempercepat distribusi hasil perkebunan seperti kopi, teh, dan kina dari wilayah Priangan menuju jalur perdagangan.
“Kereta api itu bisa membantu mengangkut hasil-hasil produksi terutama yang dimiliki atau diusahakan oleh pemerintah kolonial. Karena semula itu kan menggunakan pedati,” kata Atep Kurnia dalam diskusi buku Boemeltrein: Sejarah Jalur dan Stasiun Kereta Api Padalarang–Cicalengka bertema “Dari Padalarang ke Cicalengka: Menelusuri Sejarah Jalur dan Stasiun Kereta Api” di Perpustakaan Bunga di Tembok, Sabtu, 9 Mei 2026.
Menurut Atep, sebelum jalur kereta api dibangun, distribusi komoditas dari wilayah Priangan ke arah barat memerlukan waktu yang sangat lama. Hasil perkebunan diangkut menggunakan pedati menuju kawasan Cikawao di wilayah yang kini termasuk Purwakarta, kemudian dilanjutkan melalui jalur sungai hingga menuju laut, dan berakhir di Tomo, Sumedang.
Kehadiran kereta api menjadi terobosan teknologi yang mampu memangkas waktu tempuh distribusi secara signifikan dibandingkan sistem transportasi sebelumnya.
Selain berdampak pada distribusi ekonomi kolonial, keberadaan rel kereta api lokal juga membawa perubahan bagi masyarakat bumiputra. Menurut Atep, operasional kereta api mengubah cara pandang masyarakat terhadap jarak dan perjalanan. Jika sebelumnya mobilitas hanya mengandalkan sado, delman, kendaraan berbasis kuda, atau bahkan berjalan kaki, kereta api menghadirkan alternatif transportasi yang lebih cepat dan efisien.
Meski demikian, sistem perkeretaapian kolonial tetap memperlihatkan praktik segregasi rasial. Orang Eropa ditempatkan di gerbong utama, kelompok Timur Jauh berada di kelas kedua, sementara masyarakat pribumi menempati kelas ketiga, kecuali mereka yang berasal dari kalangan bangsawan atau priyayi.
Selain kepentingan ekonomi kolonial, pembangunan jalur kereta api Padalarang–Cicalengka juga dilatarbelakangi kepentingan pertahanan militer Hindia Belanda. Sejak dekade 1840-an, pemerintah kolonial mulai mendorong pemindahan pusat pertahanan dari wilayah pesisir utara Jawa, seperti Semarang dan Surabaya, menuju kawasan pedalaman, termasuk wilayah Priangan atau Bandung Raya.
Kebijakan tersebut ditandai dengan pendirian pusat latihan artileri di Batujajar pada 1879, pembangunan Kota Garnisun Cimahi pada 1894–1898, hingga pemindahan Departemen Peperangan Kolonial dari Batavia ke Bandung secara bertahap antara 1901 sampai 1916. Pembangunan jaringan rel kereta api kemudian menjadi penunjang penting untuk mendukung mobilitas pasukan dan distribusi logistik militer. Jalur kereta api lokal bahkan dilengkapi simpangan menuju sejumlah pusat pertahanan dan instalasi militer di kawasan Priangan.
“Latar belakang pertahanan militer itu sudah mulai mengemuka sejak tahun 1840-an. Jadi perlunya pemindahan instalasi yang ada di sekitar pesisir utara, di sekitar Semarang, Surabaya, dan lain-lain ke wilayah pedalaman Jawa, di antaranya ke Magelang termasuk Priangan. Dan itu berkaitan dengan kereta karena untuk transportasi, kemudian untuk logistik ada jalur simpangan ke pusat-pusat militer,” ujar Atep.
Baca Juga: Menengok Nasib Stasiun Cicalengka
CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #71: Stasiun Cicalengka, Ketika Sejarah Luruh di antara Pilar-pilar Modern

Pengetahuan Sejarah Kereta Api Lokal
Penulisan buku ini dilatari oleh kegiatan komuter yang dijalani Atep setiap hari sejak tahun 2020 dari Cicalengka-Kiaracondong. Ia kemudian terinspirasi untuk menyusun sejarah pembangunan jalur kereta api Padalarang-Cicalengka pada masa Kolonial.
Atep berharap bukunya dapat menambah pengetahuan sejarah para pengguna kereta api lokal, khususnya kereta api commuter line dengan rute Padalarang-Cicalengka. Di samping itu, ia mengajak peserta melihat jalur kereta api Padalarang–Cicalengka bukan sekadar sebagai infrastruktur transportasi, melainkan sebagai bagian dari warisan sejarah yang merekam perubahan sosial, ekonomi, dan politik di tanah Priangan.
Menurutnya, keberadaan rel kereta api menunjukkan bagaimana sebuah pembangunan selalu lahir dari kepentingan tertentu, mulai dari ekspansi ekonomi kolonial, kebutuhan mobilitas militer, hingga perubahan pola hidup masyarakat. Infrastruktur yang kini dianggap biasa sesungguhnya merupakan hasil dari proses sejarah panjang yang membentuk wajah wilayah dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.
“Apa yang kita nikmati hari ini mempunyai riwayat yang sangat panjang. Dan kita dapat belajar dari situ, misalnya soal pentingnya mempelajari latar belakang. Ketika kita melihat satu fenomena katakanlah pembangunan, pasti itu ada sejarah di belakangnya. Motivasinya apa pembangunan tersebut, kemudian bagaimana itu difungsikan, dan bagaimana nasib bangunan tersebut.” ujar Atep.
Diskusi ini menghadirkan penanggap Hafidz Azhar, penulis sejarah. Menurutnya buku Boemeltrein karya Atep Kurnia menyajikan data yang cukup banyak dan tidak hanya menjelaskan dan menggambarkan sejarah jalur dan stasiun dari Padalarang-Cicalengka.
Walaupun buku Boemeltrein ini didasarkan untuk penyajian data, tetapi Hafidz menyatakan bahwa kekayaan data yang termuat dalam buku ini menjadi suatu hal yang menarik dari buku Boemeltrein. Bahkan buku ini bisa menjadi referensi bagi orang-orang ketika ingin mencari data mengenai sejarah jalur dan stasiun kereta api Padalarang-Cicalengka.
Namun, Hafidz mengatakan kekayaan data yang disajikan dalam buku ini memberikan sedikit celah. Penyajian data dalam buku ini berbanding terbalik dengan argumen yang dilontarkan dan dituangkan oleh Atep sang penulis buku Boemeltrein.
“Jadi kalau untuk argumen sih enggak terlalu banyak sih. Cuma kalau data, karena banyak banget datanya, jadi tinggal kembali lagi ke si pembacanya. Kalau untuk itu, apakah sepakat dengan data itu atau memang si pembaca punya data baru, terkait apa yang dijelaskan oleh orang lain,” ungkap Hafidz.
Hafidz juga mengakui bahwa perkembangan kereta apa sudah sangat signifikan dibandingkan masa kolonial dahulu, baik dari segi teknologi dan kenyamanannya. Tetapi ia cukup mengkhawatirkan mengenai masalah palang jalan kereta api di Bandung.
Palang jalan kereta api di Bandung masih banyak yang kurang optimal dan bahkan masih banyak yang tidak ada palangnya, terkhususnya di daerah pinggiran. Perhatiannya terhadap permasalahan ini dikarenakan bahaya yang bisa menimpa warga sekitar jika hal ini terus dibiarkan.
Selain itu, Hafidz juga menyebutkan masih kurangnya kehadiran penjaga pada setiap palang jalan kereta api. Dengan masih banyaknya warga yang kurang menyadari terhadap berbahaya jalan yang dilintasi jalur kereta api diperlukan penjaga.
“Sejauh ini yang paling jadi acuan untuk dia perbaiki itu tuh palang pintu sih. Itu membahayakan. Coba kamu punya jalan-jalan ke daerah pinggiran yang itu ada rata apinya. Tapi lewat gitu. Tidak ada palang pintu, termasuk di rumah saya juga sama,” ujar Hafidz.
Hafidz juga menjelaskan bahwa buku Boemeltrein kurang membahas sisi gelap pembangunan jalur kereta api yang memakan banyak korban. Pembahasan ini hanya disinggung pada awal buku.
Salah satu audiens disekusi, Dyah, mengaku pernah menaiki commuter line Padalarang-Cicalengka. Dengan pengalaman tersebut, ia menjadi tertarik mengikuti acara ini dan mengenal lebih dalam sejarah dari commuter line Padalarang-Cicalengka.
“Dan saya pernah mainlah ke KRL Cicalengka untuk menemui teman saya,” ujar Dyah.
Audiens lainnya, Triana Sundaya, merasa termotivasi untuk mengikuti acara diskusi yang serupa setelah mengikuti acara diskusi buku ini.
“Kesannya pesannya Uu=ntuk diri saya sendiri aja sih mungkin harus bisa rajin gitu aja terkait acara eh terkait berjalannya diskusi kan terkait berjalannya diskusi,” ujar Triana.
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp Kami


