• Opini
  • Mencintai Kota yang Tak Sesuai Ekspektasi

Mencintai Kota yang Tak Sesuai Ekspektasi

Setiap tempat memiliki ceritanya sendiri dan kita hanya perlu datang dengan pikiran terbuka untuk benar-benar mendengarnya.

TH Hari Sucahyo

Pegiat pada Laboratorium Kajian Sosial Lingkungan (LKSL) “NODES”

Ilustrasi. Jalan Braga, salah satu tempat di Bandung yang memiliki kedai-kedai kopi, 11 Desember 2021. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak.id)

14 Mei 2026


BandungBergerak – Pertama kali saya mengenal Bandung bukan dari perjalanan nyata, melainkan dari bayangan yang samar namun hangat; sebuah kota yang seolah hidup dalam cerita orang-orang, dalam lagu, dalam potongan film, dan dalam bisik nostalgia mereka yang pernah singgah. Nama “Bandung” bagi saya saat itu terasa seperti janji: tentang udara sejuk, jalanan yang dipayungi pepohonan, serta ritme kehidupan yang lebih pelan dibandingkan hiruk-pikuk kota besar lain. Imajinasi itu tumbuh tanpa saya sadari, membentuk gambaran yang romantis dan sedikit berlebihan, seolah kota ini bukan sekadar tempat, melainkan pengalaman batin.

Ketika akhirnya saya benar-benar menginjakkan kaki di Bandung beberapa tahun lalu, ada perasaan ganjil yang sulit dijelaskan. Di satu sisi, saya merasa seperti sedang mengunjungi tempat baru; di sisi lain, ada keakraban yang tak wajar, seolah saya sedang kembali ke tempat yang pernah saya kenal lama. Barangkali inilah kekuatan imajinasi: ia mendahului kenyataan, menciptakan versi sendiri tentang dunia, lalu diam-diam menunggu untuk dibandingkan dengan apa yang benar-benar ada.

Bandung menyambut saya dengan udara yang memang lebih sejuk, meskipun tidak sedingin yang saya bayangkan. Jalanan kota dipenuhi kendaraan, lebih padat dari yang saya kira, namun tetap memiliki karakter yang berbeda. Ada semacam ketidakteraturan yang justru terasa hidup. Warung kecil berdampingan dengan kafe modern, bangunan lama berdiri di antara pusat perbelanjaan baru, dan orang-orang yang bergerak dengan santai namun tetap sibuk. Kota ini seperti tidak ingin memilih antara masa lalu dan masa kini; ia merangkul keduanya sekaligus.

Baca Juga: 215 Tahun Bandung: Kota dengan Dua Wajah
Dari Kereta Cepat ke Layar Gawai: Bandung di Persimpangan Kecepatan dan Imajinasi
Di antara Akar Budaya dan Etalase Pertokoan, Bandung yang Terombang-ambing Tren

Bahasa, Rasa, dan Suasana

Salah satu hal yang paling membekas adalah bahasa yang digunakan sehari-hari. Bahasa Sunda, dengan intonasinya yang lembut dan mengalir, menghadirkan nuansa yang sangat berbeda dari bahasa Indonesia yang saya gunakan. Ada kesan kesopanan yang melekat, bahkan dalam percakapan yang sederhana. Kata-kata seperti “punten” atau “mangga” bukan sekadar ungkapan, melainkan cerminan cara pandang terhadap orang lain, bahwa interaksi harus dijalani dengan rasa hormat dan kehalusan. Saya sempat merasa kikuk karena tidak sepenuhnya memahami, namun justru di situlah letak keindahannya: bahasa ini mengajarkan saya untuk lebih memperhatikan cara berbicara, bukan hanya isi pembicaraan.

Menariknya, meskipun banyak orang menggunakan bahasa Sunda dalam percakapan sehari-hari, mereka dengan mudah beralih ke bahasa Indonesia ketika berbicara dengan pendatang. Ada fleksibilitas yang menunjukkan keterbukaan, tanpa harus meninggalkan identitas. Ini memberi kesan bahwa Bandung adalah kota yang ramah, yang tidak memaksa orang luar untuk sepenuhnya menyesuaikan diri, tetapi tetap mempertahankan jati dirinya dengan tenang.

Jika bahasa adalah pintu masuk menuju budaya, maka makanan adalah cara paling cepat untuk benar-benar merasakannya. Bandung menawarkan pengalaman kuliner yang beragam, dari yang sederhana hingga yang cukup eksperimental. Saya masih ingat pertama kali mencicipi batagor yang dijual di pinggir jalan; hangat, gurih, dengan saus kacang yang kental. Rasanya sederhana, tetapi justru itu yang membuatnya berkesan. Ada juga siomay, nasi timbel, dan berbagai jajanan lain yang seolah tidak pernah habis untuk dijelajahi.

Yang paling menarik adalah bagaimana makanan di Bandung tidak hanya soal rasa, tetapi juga soal suasana. Banyak tempat makan yang dirancang dengan konsep tertentu, menghadirkan pengalaman yang lebih dari sekadar makan. Kafe-kafe dengan dekorasi unik, restoran dengan pemandangan alam, hingga tempat-tempat kecil yang tersembunyi di gang sempit; semuanya menawarkan cerita masing-masing. Ini membuat makan di Bandung terasa seperti petualangan, bukan rutinitas.

Budaya Bandung sendiri terasa sebagai perpaduan antara tradisi dan modernitas. Di satu sisi, kita masih bisa melihat nilai-nilai lama yang dijaga, seperti kesopanan dalam berinteraksi dan penghargaan terhadap seni lokal. Di sisi lain, kota ini juga sangat dinamis, terutama dalam bidang kreatif. Bandung sering disebut sebagai kota kreatif, dan itu bukan tanpa alasan. Banyak anak muda yang terlibat dalam berbagai bidang, mulai dari desain, musik, hingga kuliner, menciptakan sesuatu yang baru tanpa sepenuhnya meninggalkan akar budaya mereka.

Saya melihat ini sebagai bentuk keberanian: keberanian untuk berubah tanpa kehilangan identitas. Tidak semua kota mampu melakukan itu. Banyak yang terjebak antara mempertahankan tradisi atau mengejar modernitas, tetapi Bandung tampaknya menemukan cara untuk menjalani keduanya secara bersamaan. Hal ini tercermin dalam berbagai acara seni, komunitas kreatif, dan bahkan dalam cara orang-orang berpakaian atau menjalani gaya hidup mereka.

Ruang Hidup yang Kompleks

Di balik semua pesona itu, ada satu hal yang cukup mengejutkan bagi saya: biaya hidup. Sebelum datang, saya membayangkan Bandung sebagai kota yang relatif terjangkau, terutama jika dibandingkan dengan kota-kota besar lain. Kenyataannya tidak sepenuhnya demikian. Memang, masih banyak pilihan yang murah, terutama untuk makanan dan transportasi tertentu. Tetapi, jika kita mulai masuk ke gaya hidup yang lebih “Bandung”, seperti mengunjungi kafe-kafe, tempat wisata populer, atau tinggal di lokasi strategis, biayanya bisa meningkat dengan cukup cepat.

Harga makanan di tempat-tempat tertentu bisa menyamai bahkan melebihi kota besar lain. Begitu juga dengan penginapan di area wisata atau pusat kota. Hal ini mungkin disebabkan oleh popularitas Bandung sebagai destinasi wisata, yang membuat permintaan tinggi dan harga ikut menyesuaikan. Bagi saya, ini menjadi pelajaran bahwa persepsi tentang sebuah kota tidak selalu sejalan dengan realitas ekonominya.

Meski demikian, saya tidak merasa kecewa. Justru, pengalaman ini membuat saya melihat Bandung dengan lebih jujur. Kota ini bukan sekadar tempat yang indah dan romantis seperti dalam bayangan saya dulu, tetapi juga sebuah ruang hidup yang kompleks, dengan segala dinamika dan tantangannya. Ada sisi yang menyenangkan, tetapi juga ada sisi yang menuntut penyesuaian.

Ketika pada saatnya saya harus meninggalkan Bandung, saya akan membawa pulang dua versi kota itu: yang ada dalam imajinasi saya sebelum datang, dan yang saya alami secara langsung. Keduanya berbeda, tetapi tidak saling meniadakan. Justru, perbedaan itulah yang membuat pengalaman saya menjadi lebih kaya. Saya belajar bahwa sebuah tempat tidak harus sesuai dengan bayangan kita untuk bisa dicintai. Kadang-kadang, justru ketidaksesuaian itulah yang membuka mata kita terhadap hal-hal yang sebelumnya tidak kita perhatikan.

Bandung, bagi saya, bukan lagi sekadar kota di peta atau tujuan wisata. Ia menjadi semacam ruang refleksi, tentang bagaimana kita membentuk ekspektasi, bagaimana kita menghadapi kenyataan, dan bagaimana kita belajar menerima keduanya. Dalam bahasa yang lembut, dalam makanan yang beragam, dalam budaya yang hidup, dan bahkan dalam biaya hidup yang mengejutkan, Bandung mengajarkan saya satu hal penting: bahwa setiap tempat memiliki ceritanya sendiri dan kita hanya perlu datang dengan pikiran terbuka untuk benar-benar mendengarnya.

Jika suatu saat nanti saya kembali ke Bandung, pasti dengan bayangan yang baru dan harapan yang berbeda. Tetapi kali ini, saya tidak akan terlalu sibuk membandingkan antara imajinasi dan kenyataan. Saya hanya ingin berjalan, mendengar, mencicipi, dan merasakan; membiarkan Bandung sekali lagi memperkenalkan dirinya, dengan caranya sendiri yang tenang namun penuh makna.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//