CERITA GURU: Bukan Kami yang Salah Hitung
Guru honorer bergelut dengan kondisi keuangan yang penuh perjuangan. Bukan tentang mengelola keuangan yang minus atau mencari tambahan untuk menutupi biaya hidup.

Laila Nursaliha
Desainer Kurikulum. Berminat pada Kajian Curriculum Studies, Sains dan Teknologi pendidikan, serta Pendidikan Guru.
20 Mei 2026
BandungBergerak – Menurut salah satu akun media sosial, orang yang bekerja lebih dari lima tahun namun tidak memiliki tabungan minimal lima juta rupiah adalah kesalahan pengelolaan keuangan. Saya dan rekan saling terdiam. Pasalnya, penghasilan 10 persen dari jumlah UMR itu tidak cukup untuk menutupi kebutuhan hidup apalagi menabung. Kami masih untung karena pergi ke tempat kerja tanpa perlu biaya transpor kendaraan.
Kami sudah memastikan hitungan itu valid setelah berbulan-bulan bahkan bertahun lamanya. Beruntung saja, kami masih lajang dan memiliki tempat untuk berteduh. Lokasi sekolah pun masih terjangkau dengan jalan kaki. Berbagai biaya sehari-hari seperti biaya tempat tinggal, transportasi, listrik, air, dan kebutuhan sehari-hari sudah dipangkas dari perhitungan pengeluaran operasional bulanan.
Hanya saja, kok rasanya masih kurang? Apa kami yang salah hitung? Atau kami yang salah mengelola keuangan? Beberapa kali kami pernah melalui hari dengan perasaan bersalah karena tak bisa menyisihkan penghasilan. Tapi, setelah kami rembuk bersama, kami tahu bahwa ini bukan salah kami. Perasaan menggelikan itu muncul dan kami tertawa bersama. Akhirnya lega, karena bukan kami yang salah hitung.
Baca Juga: CERITA GURU: Melawan Lupa Lewat Sastra
CERITA GURU: Invisible Labor MBG
CERITA GURU: Euforia Kelulusan Sekolah
Redefinisi Hubungan dengan Uang
Menjadi guru yang memulai kariernya menjadi honorer adalah sebuah perjalanan yang cukup menantang. Perjalanan ini dimulai dari posisi karier yang akan cukup lama bergelut dengan kondisi keuangan yang bisa dikatakan penuh perjuangan. Bukan soalan tentang mengelola keuangan yang minus atau mencari tambahan untuk menutupi biaya hidup. Tapi ada kondisi di mana dengan mode survival mode alias bertahan hidup, tidak melihat sesuatu yang lebih jauh daripada bertahan hidup.
Ada konsep yang belakangan saya pahami dari Mullainathan dan Shafir: scarcity mindset. Mereka menjelaskan bahwa kelangkaan–bukan hanya kemiskinan materi, tapi rasa kekurangan secara umum–menyita perhatian seseorang hingga mengurangi kapasitas kognitif untuk berpikir jangka panjang. Pikiran menjadi sempit, atau dalam istilah mereka, tunneling: hanya mampu fokus pada yang mendesak, sementara konsekuensi yang lebih jauh terabaikan begitu saja.
Yang paling mencolok dari argumen Mullainathan adalah ini: kemiskinan membebankan semacam "pajak bandwidth" pada pikiran. Siapa pun orangnya–bukan soal karakter, bukan soal kedisiplinan moral–ketika seseorang terus-menerus berada dalam kondisi kekurangan, kemampuan berpikirnya akan terdampak. Artinya, nasihat "kelola keuanganmu dengan baik" yang dilontarkan kepada orang yang penghasilannya tidak mencukupi kebutuhan dasar bukan hanya tidak berguna–ia juga tidak adil.
Kami merasakannya tanpa tahu namanya. Setiap kali uang datang dalam jumlah sedikit, pikiran langsung berlomba: mana yang paling mendesak? Mana yang kalau tidak dibayar sekarang akan jadi masalah lebih besar? Tidak ada ruang untuk berpikir tentang bulan depan, apalagi tahun depan. Yang ada hanya hari ini, dan hari ini saja sudah cukup menyita segalanya.
Permasalahan yang datang dan menjadi langganan, tampaknya perlu diperbaiki dengan menakar hubunganku dengan uang. Saya mencoba meneladani seorang tokoh Sufi yang berkata “bahwa hidupku tergantung kepada bagaimana Tuhan akan memberikan skenario-Nya. Jadi, kita manusia hanya menjalani saja.” Nyatanya menjalani hidup dengan hati yang lapang memang tak semudah kelihatannya.
Perasaan cemas tak berdaya ketika tidak memiliki uang dan merasa aman ketika memiliki uang, tampaknya perlu melalui sebuah pergeseran mindset. Apa pun keadaannya, kami memang perlu menyimpan uang berada di tangan, bukan di hati yang menjadikannya lebih sempit.
Suatu hari, ketika kami mulai ada panggilan dari dinas untuk mengikuti diklat. Imbasnya, kami memiliki uang saku. Masalahnya, ke mana uang saku kami lari? Apakah saku kami bocor? Bolong? Atau uang-uang itu sudah dipesan agar tidak betah berada di kantong kami? Atas nama kebutuhan, semua uang itu lari begitu saja. Kami baru sadar ketika sudah menjadi kenangan.
Maka, kami membuat kesepakatan bahwa “rencanakan dengan baik”. Tidak boleh semua yang diterima pergi begitu saja. Apalagi tanpa pamitan dan proposal yang jelas. Beberapa guru memiliki pekerjaan lain untuk menambal kebutuhan pokok. Secara matematis, memang masih kurang.
Awalnya saya tidak percaya kepada teman yang selalu cerewet tentang alokasi keuangan. Katanya kuncinya pada budgeting. Masalahnya, apa yang mau dikelola jika sesuatu yang dikelolanya itu tidak ada?
Menghadapi Tunjangan Profesi Guru (TPG)
Setelah tadi bertahan dalam survival mode, masuklah sebuah babak baru dalam kehidupan guru yaitu pemasukan lain bernama Tunjangan Profesi Guru. Sesuai namanya, tunjangan ini berfungsi untuk meningkatkan kesejahteraan hidup guru yang belum mencapai batas standar sama sekali. Tapi, masalahnya adalah dana tersebut tak bisa dialokasikan secara khusus untuk menunjang keprofesian. Ia cukup untuk menambal biaya hidup guru yang kurang. Bahkan, sebagian guru hanya memiliki satu pemasukan itu saja. Karena yayasan tempatnya bekerja tidak mau memberikan honor bulanan sebelumnya.
Memang, babak ini tidak serta merta mengubah scarcity mindset menjadi berubah. Diperlukan banyak adaptasi perasaan dan manajemen. Namun, penerimaan yang ditotal sekian seolah menimbulkan perasaan seperti memiliki banyak sumber daya. Sehingga, semuanya bisa ditutupi oleh biaya TPG. Padahal, TPG pun memiliki banyak ketidakpastian.
Jelang penerbitan sertifikat pendidik, tawaran dari berbagai lembaga keuangan mulai berdatangan. Bank-bank menawarkan pembiayaan khusus untuk guru dengan sertifikat pendidik sebagai jaminan. Saya mendengar beberapa rekan yang sudah mencari “sekolah” tempat TPG nanti cair. Keperluannya macam-macam, ada yang untuk cicilan kendaraan, ada yang untuk renovasi rumah, dan alokasi lain-lain. Saya hanya terkesima melihatnya. Mungkin itu gambaran perasaan yang tak terbiasa, ditambah saya juga tak tahu kebutuhan guru-guru itu seperti apa.
Saya teringat pertanyaan dosen saya, Dr. Aziz Mahfuddin, yang pernah dilontarkan di tengah kelas : "Berapa sih angka honor guru yang cukup? Saya pikir, pendapatan berapa pun tidak akan pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat gaya hidup."
Kalimat itu diam-diam menetap di kepala saya. Pak Aziz tidak sedang membela sistem yang tidak adil. Beliau juga mengakui bahwa honor guru honorer itu sangat tidak layak. Tapi ada sesuatu yang beliau coba tunjukkan bahwa kemampuan mengelola keuangan bukan hanya soal punya uang banyak atau sedikit. Ia adalah kebiasaan yang perlu dibangun, apa pun pekerjaannya, berapa pun penghasilannya. Termasuk, ketika penghasilannya masih kecil.
Maka ketika TPG akhirnya datang, kami tidak menyambutnya dengan euforia yang berlebihan. Kami menyambutnya dengan daftar. Kewajiban apa yang harus diselesaikan lebih dulu? Dana darurat berapa yang perlu disiapkan? Alokasi harian seperti apa yang masuk akal dan bisa dijalankan? Tabungan–meski kecil–tetap harus ada.
Bukan karena kami tiba-tiba menjadi ahli keuangan. Tapi karena kami sudah terlalu sering menyaksikan uang datang lalu pergi tanpa meninggalkan apa-apa dan kami tidak ingin mengulangi rasa itu lagi.
Di akhir semua perhitungan itu, kami hanya bisa berdoa dengan sungguh-sungguh
“Tuhan, berkahilah penghasilan kami dan selamatkan kami dari mara bahaya yang timbul akibat ketidaktahuan atau ketidakcermatan kami dalam berhubungan dengan uang."
***
*Kawan-kawan dapat menikmati tulisan-tulisan lain Laila Nursaliha, atau membaca artikel-artikel lain tentang Cerita Guru


