• Opini
  • Jika Bus Umum Jadi Prioritas Warga Bandung, Jalur Sepeda dan BOSEH Harus Diperkuat

Jika Bus Umum Jadi Prioritas Warga Bandung, Jalur Sepeda dan BOSEH Harus Diperkuat

Perbaikan transportasi publik sering kali berfokus pada armada, koridor, atau halte. Padahal, persoalan utama justru muncul pada akses menuju layanan tersebut.

Angga Marditama Sultan Sufanir

Dosen Teknik Sipil di Politeknik Negeri Bandung. Sedang menempuh Studi doktoral (S3) Teknik Sipil di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung.

Jalur sepeda di Dago (Ir. H. Djuanda), Bandung, Selasa (14/12/2021)). Dago merupakan kawasan yang terus bersolek, miliaran APBD mengalir di jalur wisata ini. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak.id)

22 Mei 2026


BandungBergerak – Hasil polling Instagram @bandungbergerak.id pada 16–17 Desember 2025 menunjukkan arah aspirasi transportasi warga Bandung. Dari 275 responden, sebanyak 49 persen memilih perbanyak bus umum yang terkoneksi sebagai prioritas utama. Sebanyak 37 persen memilih pengaturan ulang pengelolaan angkot, 12 persen memilih pembatasan kendaraan pribadi, dan hanya 2 persen memilih menghidupkan kembali jalur sepeda.

Hasil tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat semakin menyadari pentingnya transportasi publik di tengah kemacetan dan tingginya ketergantungan pada kendaraan pribadi. Namun, kecilnya dukungan terhadap jalur sepeda tidak berarti infrastrukturnya tidak dibutuhkan. Justru ketika bus umum menjadi prioritas, kota perlu memastikan masyarakat dapat menjangkaunya dengan mudah, aman, dan terjangkau.

Perbaikan transportasi publik sering kali berfokus pada armada, koridor, atau halte. Padahal, persoalan utama justru muncul pada akses menuju layanan tersebut. Banyak warga masih bergantung pada sepeda motor karena halte sulit dijangkau dengan berjalan kaki, trotoar belum nyaman, dan koneksi dari kawasan permukiman menuju transportasi publik masih terbatas.

Kondisi ini membuat transportasi publik belum sepenuhnya praktis untuk mobilitas sehari-hari. Dalam kajian transportasi perkotaan, persoalan tersebut dikenal sebagai first-mile dan last-mile problem, yaitu tantangan perjalanan dari rumah menuju titik transportasi publik dan sebaliknya.

Karena itu, sistem bus yang baik membutuhkan moda pendukung untuk perjalanan jarak pendek. Zimmerman (2015) menyebut bahwa “Public Transport Runs Efficiently When It Operates as a Seamless, Integrated System.” Transportasi publik akan berjalan efektif ketika terhubung secara menyeluruh dan memudahkan perpindahan antarmoda.

Baca Juga: Pengguna Sepeda dalam Kontestasi Ruang Perkotaan
Selter Sepeda di Bandung akan Dibangun, Fasilitas Tanpa Budaya Bersepeda akan Jadi Ornamen Semata
Bandung Smart City dan Realitas Jalur Sepeda

Jalur Sepeda sebagai Pendukung Bus Umum

Di banyak kota dunia, sepeda tidak diposisikan sebagai pesaing transportasi publik, melainkan pelengkapnya. Amsterdam dan Copenhagen mengembangkan jalur sepeda untuk membantu warga menjangkau halte bus maupun stasiun transportasi massal.

Pendekatan ini memungkinkan perjalanan jarak pendek dilakukan tanpa kendaraan bermotor sekaligus memperluas jangkauan transportasi publik. Sistem bike sharing di berbagai kota juga umumnya ditempatkan di dekat halte dan stasiun untuk memudahkan perpindahan moda. Jalur sepeda relatif lebih murah dibanding pelebaran jalan dan memiliki dampak lingkungan yang lebih rendah.

Bandung sebenarnya memiliki potensi serupa. Banyak perjalanan dalam kota berjarak pendek dan cukup ideal ditempuh menggunakan sepeda menuju titik transportasi publik terdekat. Namun, jalur sepeda di Bandung masih belum terhubung secara utuh dan di banyak titik belum memberikan rasa aman bagi pengguna.

Bandung juga pernah memiliki modal penting melalui Bike on the Street Everybody Happy (BOSEH). Program sepeda sewa publik ini sempat hadir di berbagai titik kota dan menjadi simbol upaya mobilitas berkelanjutan. Sayangnya, banyak shelter BOSEH kini tidak lagi aktif.

Persoalan utamanya tampaknya bukan sekadar rendahnya minat masyarakat bersepeda, melainkan belum kuatnya integrasi dengan sistem transportasi kota. Shelter BOSEH belum terhubung secara optimal dengan koridor bus, kawasan permukiman, maupun pusat aktivitas warga. Di sisi lain, jalur sepeda yang belum berkesinambungan membuat sepeda belum menjadi pilihan mobilitas harian.

Padahal, BOSEH berpotensi menjadi moda pengumpan transportasi publik. Warga dapat menggunakan sepeda untuk perjalanan pendek menuju halte, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan bus umum. Pola seperti ini jauh lebih realistis dibanding menjadikan sepeda sebagai moda utama untuk seluruh perjalanan kota.

Transportasi Bandung Perlu Terintegrasi

Hasil polling warga menunjukkan bahwa masyarakat menginginkan sistem transportasi yang lebih baik dan lebih terhubung. Aspirasi tersebut seharusnya tidak dimaknai sebatas kebutuhan menambah armada bus, tetapi juga membangun konektivitas antarmoda.

Karena itu, bus umum, jalur sepeda, trotoar, dan BOSEH seharusnya dipandang sebagai bagian dari satu ekosistem mobilitas. Bus tidak perlu dipertentangkan dengan sepeda. Keduanya justru dapat saling mendukung untuk mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.

Jika bus umum benar-benar ingin dijadikan prioritas, maka Bandung perlu memperkuat jalur sepeda dan menghidupkan kembali BOSEH sebagai bagian dari sistem transportasi yang terintegrasi.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//