• Kolom
  • SUDUT LAIN BANDUNG: Di Bawah Lampu Merah Pasirkaliki Mereka Hanya Boleh Memeluk Bulan

SUDUT LAIN BANDUNG: Di Bawah Lampu Merah Pasirkaliki Mereka Hanya Boleh Memeluk Bulan

Selama anak-anak masih berdiri di bawah lampu merah hingga larut malam, sementara kota sibuk merayakan dirinya sendiri: untuk siapa sebenarnya kebudayaan dirayakan?

Abah Omtris

Musisi balada Bandung

Ilustrasi - Anak-anak yang hidup dalam kemiskinan juga punya mimpi dan cita-cita. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

23 Mei 2026


BandungBergerak“Soal nasib hari depan / siapa yang bisa menerka / sedang hidup hari ini pun / masih sebuah teka-teki / yang tak bisa dijawab penguasa negeri // mereka tak punya apa-apa / hanya boleh miliki mimpi / hanya boleh memeluk bulan...”–dari puisi “Simpang Jalan Pasirkaliki” (2019)Abah Omtris

Di simpang Jalan Pasteur–Pasirkaliki, anak-anak itu pernah–dan mungkin masih–menjadi bagian dari wajah kota yang nyaris dianggap biasa. Mereka menghampiri kendaraan yang berhenti di bawah lampu merah, membawa gitar kecil dengan suara yang belum benar-benar matang, atau sekadar menadahkan tangan dengan tatapan yang terlalu dini mengenal letih. Sebagian menyanyi terbata-bata di tengah asap kendaraan dan bunyi klakson yang saling bersahutan.

Ketika lampu hijau menyala, mereka segera menepi. Kota kembali bergerak. Kendaraan melaju. Orang-orang kembali sibuk menuju tujuan masing-masing. Tetapi tidak bagi mereka. Sebagian dari anak-anak itu seperti tertinggal di persimpangan, hidup di antara debu jalanan, kemacetan, dan ketidakpastian yang terlalu cepat mereka pelajari.

Tidak hanya kepada pengendara mobil, kepada para pengendara motor pun mereka menyodorkan rasa iba dan miris. Tangan-tangan kecil itu terulur di sela deru mesin dan kepulan asap knalpot, berharap ada recehan yang jatuh bersama belas kasih yang singkat. Di wajah mereka, kota seperti memperlihatkan sisi yang paling sunyi: masa kecil yang kehilangan ruang untuk tumbuh dengan wajar.

Bahkan ketika malam semakin larut dan anak-anak lain seusia mereka telah terlelap di rumah, sebagian dari mereka masih berada di bawah cahaya lampu jalan dan lampu kendaraan yang tak pernah benar-benar padam. Mereka masih berjalan dari kaca ke kaca, menyanyikan lagu yang entah sudah berapa kali diulang, atau hanya berdiri menadahkan tangan sambil menunggu belas kasih yang datang sesekali. Masa kecil mereka seperti habis terlalu cepat di jalanan.

Beberapa waktu lalu, tanah Sunda kembali merayakan hari jadinya dengan gegap gempita. Panggung kebudayaan digelar, simbol-simbol tradisi diangkat, pidato tentang keharmonisan dan warisan leluhur kembali diucapkan. Kota dihias dengan semangat kesundaan: someah, silih asih, silih asuh, silih wawangi. Namun di tengah perayaan itu, pertanyaan sederhana justru terasa menggantung: apakah kebudayaan masih sungguh hidup di tengah masyarakat, atau hanya hidup di panggung-panggung seremoni?

Sebab kebudayaan sejatinya bukan hanya perkara pakaian adat, festival, atau slogan romantik tentang masa lalu. Kebudayaan juga seharusnya tampak dari bagaimana sebuah masyarakat memperlakukan mereka yang paling rentan. Dari bagaimana sebuah kota memandang anak-anak yang tumbuh di bawah lampu merah. Dari bagaimana ruang hidup dibagikan secara adil kepada warganya.

Baca Juga: SUDUT LAIN BANDUNG: Jejak Juang Perempuan Kota Bandung
SUDUT LAIN BANDUNG: Dari Ruang Diskusi ke Ruang Komando
SUDUT LAIN BANDUNG: Bandung, Jawa Barat, dan Warisan Politik Paramiliter

Kota yang Gemar Membangun

Ironisnya, Bandung hari ini semakin sering merayakan dirinya sendiri sebagai kota kreatif, kota budaya, dan kota festival, tetapi pada saat yang sama masih menyimpan wajah-wajah muram di sudut-sudut persimpangan. Pengamen-pengamen cilik tetap hadir sebagai bagian dari lanskap kota yang perlahan dianggap lumrah. Mereka ada, tetapi jarang benar-benar dilihat. Nyanyian kecil mereka sering hanya menjadi suara latar di tengah kaca mobil yang tertutup rapat dan pendingin udara yang menyala dingin.

Bandung sejak lama memang dikenal sebagai kota yang gemar membangun citra tentang dirinya sendiri. Dari kota kembang, kota mode, kota kreatif, hingga kota wisata, Bandung seperti terus menerus berusaha tampil menarik di hadapan publik. Festival demi festival digelar, ruang-ruang kota dipercantik, dan identitas budaya terus dipromosikan sebagai kebanggaan daerah. Dalam batas tertentu, hal itu tentu bukan sesuatu yang keliru. Sebuah kota memang membutuhkan kebanggaan kolektif untuk menjaga ingatan dan identitasnya.

Namun persoalannya muncul ketika kebudayaan lebih sibuk dipertontonkan daripada dihidupi. Nilai-nilai kesundaan perlahan berubah menjadi slogan yang nyaman dipasang di baliho, tetapi terasa semakin jauh dari kenyataan sosial sehari-hari. Kata someah terdengar indah dalam pidato-pidato resmi, tetapi keramahan sebuah kebudayaan semestinya juga tercermin dari bagaimana kota memperlakukan mereka yang hidup di lapisan paling bawah.

Di titik inilah perayaan kebudayaan menjadi terasa kontroversial. Bukan karena tradisinya yang salah, melainkan karena kebudayaan perlahan direduksi menjadi peristiwa seremonial tanpa keberpihakan sosial yang nyata. Nilai-nilai luhur Sunda yang dahulu lahir dari kedekatan antarmanusia, gotong royong, dan penghormatan terhadap martabat hidup, kini lebih sering hadir sebagai dekorasi simbolik daripada praktik keseharian.

Perayaan akhirnya berubah menjadi panggung besar yang berdiri di atas kegelisahan yang belum selesai. Kota merayakan harmoni, sementara di sudut-sudut jalan masih ada anak-anak yang tumbuh bersama asap kendaraan dan kerasnya jalanan. Kita merayakan warisan leluhur, tetapi sering lupa bahwa inti paling mendasar dari kebudayaan adalah penghormatan terhadap martabat manusia.

Barangkali karena itu, pemandangan di simpang Jalan Pasteur–Pasirkaliki terasa begitu kontras dengan gegap gempita perayaan hari jadi Sunda. Di satu sisi, kita menyaksikan panggung-panggung kebudayaan dengan tata cahaya yang meriah. Di sisi lain, ada anak-anak kecil yang bahkan mungkin tidak benar-benar mengerti apa yang sedang dirayakan oleh kotanya sendiri.

Mereka hanya mengenal lampu merah sebagai tempat bertahan hidup.

Di Bawah Lampu Merah Pasirkaliki

Bandung tampaknya sedang mengalami paradoks: kota ini semakin pandai merayakan identitasnya, tetapi semakin kesulitan mendengarkan suara-suara kecil yang tercecer di jalanan. Kebudayaan akhirnya berubah menjadi panggung citra, sementara realitas sosial berjalan di belakang layar.

Mungkin masalah terbesar kita hari ini bukan karena kebudayaan Sunda kehilangan simbol-simbolnya, melainkan karena kehilangan daya empatinya. Kebudayaan akhirnya lebih sering hadir sebagai estetika ketimbang kesadaran sosial. Kita sibuk menjaga bentuk luarnya, tetapi perlahan melupakan ruh kemanusiaan yang dahulu membuat kebudayaan itu hidup.

Padahal sebuah kota tidak diukur hanya dari megahnya perayaan atau indahnya slogan tentang tradisi. Kota juga diukur dari bagaimana ia memastikan anak-anak tidak tumbuh terlalu cepat di jalanan. Dari bagaimana masa kecil tidak dipaksa akrab dengan klakson, asap knalpot, dan tatapan iba orang-orang yang berlalu lalang.

Dan selama anak-anak itu masih berdiri di bawah lampu merah hingga larut malam, sementara kota sibuk merayakan dirinya sendiri, mungkin ada pertanyaan yang belum selesai dijawab: untuk siapa sebenarnya kebudayaan itu dirayakan?

Sebab di simpang Jalan Pasteur–Pasirkaliki itu, kebudayaan sedang diuji dengan cara yang paling sederhana: apakah anak-anak itu akan terus dibiarkan hanya boleh memiliki mimpi—dan memeluk bulan.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//