• Kolom
  • SUDUT LAIN BANDUNG: Ketika Reformasi Kehilangan Jiwanya

SUDUT LAIN BANDUNG: Ketika Reformasi Kehilangan Jiwanya

Pada akhirnya, kekuasaan yang paling kuat adalah kekuasaan yang membuat masyarakat merasa bahwa diam adalah pilihan paling aman.

Abah Omtris

Musisi balada Bandung

Alarm untuk demokrasi. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

30 Mei 2026


BandungBergerak – Ada kemungkinan yang lebih berbahaya daripada kembalinya otoritarianisme secara terang-terangan: ketika masyarakat tidak lagi merasa terkejut terhadap gejala-gejalanya sendiri.

Pembatalan forum Peringatan 28 Tahun Reformasi beberapa waktu lalu seharusnya menjadi alarm bagi kehidupan demokrasi Indonesia. Namun peristiwa semacam itu kini terasa berlalu begitu saja. Publik bereaksi sesaat, lalu kembali tenggelam dalam rutinitas, lini masa media sosial, dan kesibukan sehari-hari. Seolah pembungkaman ruang diskusi bukan lagi sesuatu yang cukup penting untuk dipersoalkan secara serius.

Mungkin persoalannya bukan karena masyarakat tidak peduli. Bisa jadi kita sedang hidup dalam zaman ketika rasa takut bekerja dengan cara yang jauh lebih halus. Tidak selalu melalui larangan terbuka atau represi yang kasar, melainkan melalui suasana yang perlahan membuat orang belajar menyesuaikan diri. Orang-orang mulai memahami bahwa berbicara terlalu keras dapat menghadirkan risiko, sementara diam terasa lebih aman.

Dalam situasi seperti itu, masyarakat tidak benar-benar dibungkam. Mereka hanya dibuat lelah.

Kelelahan itulah yang perlahan melahirkan kompromi-kompromi kecil terhadap keadaan. Orang mulai menganggap pembatalan ruang diskusi sebagai sesuatu yang wajar, pembatasan kritik sebagai risiko biasa, bahkan ketakutan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Padahal demokrasi tidak hanya hidup melalui pemilu dan pergantian kekuasaan. Demokrasi hidup dari keberanian warga untuk mempertanyakan, meragukan, dan mengoreksi kekuasaan tanpa rasa takut.

Ketika keberanian itu memudar, yang tersisa hanyalah prosedur, sementara jiwanya perlahan menghilang.

Baca Juga: SUDUT LAIN BANDUNG: Dari Ruang Diskusi ke Ruang Komando
SUDUT LAIN BANDUNG: Bandung, Jawa Barat, dan Warisan Politik Paramiliter
SUDUT LAIN BANDUNG: Di Bawah Lampu Merah Pasirkaliki Mereka Hanya Boleh Memeluk Bulan

Kemunduran Demokrasi

Barangkali situasi hari ini juga tidak dapat dibaca hanya sebagai kemunduran demokrasi semata. Ada persimpangan yang semakin nyata antara krisis politik dan tekanan ekonomi yang perlahan membentuk watak kekuasaan menjadi semakin sensitif terhadap gejolak sosial.

Dalam keadaan ketika ketidakpastian ekonomi meningkat, lapangan hidup semakin sempit, dan kepercayaan publik terhadap institusi terus mengalami erosi, stabilitas akhirnya menjadi kata yang paling sering dipertahankan oleh kekuasaan. Dan atas nama stabilitas itulah ruang kritik perlahan mulai dipersempit.

Sejarah menunjukkan bahwa setiap kekuasaan yang menghadapi krisis legitimasi akan cenderung berusaha mengendalikan ruang publik agar ketidakpuasan sosial tidak berkembang menjadi kesadaran kolektif. Sebab bagi kekuasaan, gerakan masyarakat bukan hanya dianggap sebagai ekspresi demokrasi, tetapi juga potensi ancaman terhadap kestabilan politik dan ekonomi yang sedang rapuh.

Dalam situasi seperti itu, pembungkaman tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan terbuka. Ia dapat muncul melalui tekanan informal, pembatalan ruang diskusi, pengawasan terhadap kritik, hingga penciptaan suasana takut yang membuat masyarakat perlahan memilih diam.

Situasi ini semakin rumit ketika gerakan sosial sendiri mengalami fragmentasi. Solidaritas yang dahulu menjadi fondasi perjuangan perlahan tergantikan oleh polarisasi, kecurigaan, dan perasaan saling berjauhan meski berada dalam isu yang sama. Sebagian orang tetap bergerak dengan tulus, sebagian lain hadir sekadar mengikuti momentum, sementara publik semakin sulit membedakan mana perjuangan yang lahir dari kegelisahan nyata dan mana yang sekadar menjadi panggung sementara.

Akibatnya, skeptisisme sosial mulai tumbuh terhadap hampir semua bentuk gerakan. Masyarakat perlahan memandang perjuangan dengan sinisme yang sama: seolah setiap gerakan pada akhirnya hanya akan berujung pada konflik internal, perebutan pengaruh, atau kepentingan kelompok tertentu.

Menunggu Keberanian Lahir

Ini adalah situasi yang sangat berbahaya bagi demokrasi. Sebab demokrasi tidak dapat bertahan hanya melalui institusi formal. Ia membutuhkan kepercayaan sosial bahwa warga negara masih mampu bergerak bersama demi sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan dirinya sendiri. Ketika kepercayaan itu runtuh, masyarakat perlahan berubah menjadi kumpulan individu yang sama-sama kecewa, tetapi berjalan sendiri-sendiri.

Dan dalam situasi seperti itulah kekuasaan sering kali menjadi paling kuat–bukan karena seluruh kritik berhasil dibungkam, melainkan karena publik kehilangan keyakinan bahwa persatuan dan perubahan masih mungkin diperjuangkan bersama.

Mungkin bahaya terbesar dari kemunduran demokrasi bukan terletak pada represi yang tampak besar di permukaan, melainkan pada kebiasaan masyarakat untuk terus menunggu. Menunggu situasi memburuk sepenuhnya, menunggu keberanian lahir dari orang lain, atau menunggu momentum besar yang dianggap cukup layak untuk bergerak.

Padahal sejarah sering menunjukkan bahwa otoritarianisme tumbuh perlahan melalui hal-hal kecil yang terus dibiarkan: ruang diskusi yang dibatalkan, kritik yang dipersempit, ketakutan yang dinormalisasi, dan masyarakat yang perlahan terbiasa untuk diam.

Dan ketika masyarakat mulai terbiasa hidup dalam keadaan seperti itu, mungkin demokrasi belum benar-benar mati–tetapi perlahan sedang kehilangan jiwanya.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//