• Kolom
  • SUDUT LAIN BANDUNG: Sampah dan Kegagalan Membangun Peradaban Kota

SUDUT LAIN BANDUNG: Sampah dan Kegagalan Membangun Peradaban Kota

Sampah adalah cermin peradaban. Dan cara sebuah kota memperlakukan sampahnya sering kali menunjukkan seberapa jauh kota itu berhasil membangun kesadaran warganya.

Abah Omtris

Musisi balada Bandung

Aktivis mengusung poster di atas hamparan sampah yang menutupi permukaan Sungai Citarum di Oxbow Bojongsoang, Kabupaten Bandung, 22 Mei 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

6 Juni 2026


BandungBergerak – Ketika Pemerintah Kota Bandung menyatakan bahwa persoalan sampah membutuhkan keterlibatan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, banyak orang melihatnya sebagai persoalan teknis. Kapasitas tempat pembuangan akhir terbatas, volume sampah terus meningkat, sementara kemampuan pengangkutan dan pengolahan belum mampu mengimbangi laju produksi sampah warga.

Namun sesungguhnya persoalan sampah di Bandung tidak pernah berhenti pada urusan teknis semata.

Bertahun-tahun lalu saya pernah menyampaikan sebuah pernyataan sederhana: bila masih ada masyarakat Kota Bandung yang membuang sampah ke sungai, berarti pemerintah kota gagal membangun peradaban.

Pernyataan itu masih saya yakini hingga hari ini.

Sebab ukuran kemajuan sebuah kota bukan hanya terlihat dari banyaknya jalan yang dibangun, taman yang dipercantik, atau gedung-gedung yang menjulang tinggi. Peradaban kota justru tampak dari hal-hal yang paling sederhana: bagaimana warganya memperlakukan ruang bersama.

Sungai adalah ruang bersama.

Trotoar adalah ruang bersama.

Taman kota adalah ruang bersama.

Saluran air adalah ruang bersama.

Ketika ruang-ruang tersebut diperlakukan sebagai tempat membuang masalah pribadi, maka yang sedang bermasalah bukan hanya sistem pengelolaan sampah. Yang sedang bermasalah adalah kesadaran kolektif tentang kehidupan bersama.

Karena itu saya selalu melihat sampah sebagai gejala, bukan akar persoalan.

Baca Juga: SUDUT LAIN BANDUNG: Bandung, Jawa Barat, dan Warisan Politik Paramiliter
SUDUT LAIN BANDUNG: Di Bawah Lampu Merah Pasirkaliki Mereka Hanya Boleh Memeluk Bulan
SUDUT LAIN BANDUNG: Ketika Reformasi Kehilangan Jiwanya

Ironi yang Berulang

Bandung selama ini dikenal sebagai kota pendidikan, kota kreatif, dan salah satu pusat perkembangan kebudayaan di Jawa Barat. Namun di balik berbagai predikat tersebut terdapat ironi yang terus berulang. Setiap musim hujan saluran air tersumbat sampah, sungai dipenuhi limbah rumah tangga, dan berbagai kawasan masih menjadi titik pembuangan liar. Fenomena ini menunjukkan bahwa pembangunan fisik tidak selalu berjalan seiring dengan pembangunan kesadaran warga.

Di sinilah persoalan sampah bertemu dengan persoalan yang lebih besar: mentalitas urban yang belum sepenuhnya matang.

Bandung Raya hari ini bukan lagi sekadar Kota Bandung. Ia telah berkembang menjadi kawasan metropolitan yang terhubung dengan Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, hingga Sumedang. Setiap hari jutaan orang bergerak melintasi batas-batas administratif untuk bekerja, belajar, berdagang, dan mencari penghidupan.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan daya tarik Bandung sebagai pusat ekonomi, pendidikan, dan jasa. Namun pada saat yang sama, pertumbuhan itu juga memperlihatkan persoalan lain yang jarang dibicarakan: pembangunan fisik kawasan metropolitan berlangsung jauh lebih cepat dibanding pembangunan budaya kewargaan metropolitan.

Banyak orang hidup di kota, bekerja di kota, dan menikmati fasilitas kota, tetapi belum tentu merasa memiliki kota.

Akibatnya, ruang publik sering diperlakukan sebagai sesuatu yang berada di luar dirinya. Sungai dianggap tempat membuang sampah. Trotoar dianggap ruang yang bisa digunakan sesuka hati. Kebersihan dianggap semata-mata tanggung jawab pemerintah. Hubungan antara warga dan ruang hidupnya menjadi renggang.

Sampah kemudian menjadi jejak yang paling mudah terlihat dari hubungan yang rapuh tersebut.

Persoalan ini juga tidak dapat dilepaskan dari ketimpangan pembangunan kawasan Bandung Raya. Selama Bandung tetap menjadi magnet utama ekonomi, pendidikan, dan layanan publik, arus urbanisasi akan terus berlangsung. Kota akan terus menerima tekanan penduduk, sementara daerah-daerah di sekitarnya belum sepenuhnya berkembang secara seimbang.

Dalam kondisi seperti itu, Bandung menjadi pusat harapan sekaligus pusat beban. Pertumbuhan ekonomi meningkat, tetapi tekanan terhadap lingkungan juga semakin besar. Aktivitas manusia bertambah, konsumsi meningkat, dan volume sampah terus membengkak.

Kita kemudian menyaksikan sebuah paradoks. Kota tumbuh semakin modern, tetapi sebagian perilaku sosial masih tertinggal. Infrastruktur bertambah, tetapi kesadaran kolektif tidak selalu ikut berkembang. Gedung-gedung baru bermunculan, namun sungai masih diperlakukan seperti halaman belakang yang boleh dikotori.

Barangkali karena itu, krisis sampah Bandung sesungguhnya juga memperlihatkan batas-batas pertumbuhan kota.

Membangun Kebudayaan Kota

Selama bertahun-tahun, Bandung berusaha menjadi kota yang kompetitif, kreatif, dan modern. Tetapi setiap pertumbuhan selalu memiliki konsekuensi. Setiap kota memiliki daya dukung yang tidak tak terbatas. Ketika persoalan sampah terus berulang, pertanyaannya bukan lagi sekadar bagaimana mengangkut sampah lebih cepat atau memindahkannya ke tempat lain.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: sampai sejauh mana Bandung mampu menopang pertumbuhannya sendiri?

Karena itu, saya tidak percaya persoalan sampah akan selesai hanya dengan memperluas tempat pembuangan akhir, menambah armada pengangkut, atau memindahkan sebagian tanggung jawab kepada pemerintah provinsi. Semua itu mungkin diperlukan, tetapi tidak menyentuh akar persoalan.

Akar persoalannya terletak pada kegagalan membangun kebudayaan kota.

Peradaban tidak dibangun oleh alat berat. Peradaban dibangun melalui pendidikan, keteladanan, partisipasi warga, dan pembiasaan yang berlangsung dalam waktu panjang. Peradaban lahir ketika warga merasa bahwa sungai adalah bagian dari dirinya sendiri. Ketika kebersihan tidak lagi dipandang sebagai kewajiban pemerintah, melainkan sebagai tanggung jawab bersama.

Mungkin karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan Bandung hari ini bukan lagi ke mana sampah harus dibuang. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana membangun kesadaran bahwa kota ini adalah rumah bersama yang harus dirawat bersama.

Sebab selama kesadaran itu belum tumbuh, persoalan sampah hanya akan berpindah dari satu institusi ke institusi lain, dari satu program ke program berikutnya, tanpa pernah benar-benar selesai.

Pada akhirnya, sampah bukan sekadar persoalan kebersihan. Sampah adalah cermin peradaban. Dan cara sebuah kota memperlakukan sampahnya sering kali menunjukkan seberapa jauh kota itu berhasil membangun kesadaran warganya sebagai warga kota yang sesungguhnya.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//